Brother, I Love You

Brother, I Love You
178. Tausiah pagi



Hari sudah malam, kini hanya tinggal Sirin dan Arsenio di ruang perawatan itu. Arsenio membaringkan tubuhnya di samping Sirin, merapatkan tubuhnya,memeluk Sirin, lalu mengecup pipinya.


"Aku tidak menyangka, di usiaku yang belum lulus SMA, aku sudah menjadi seorang Ayah" ucap Arsenio, memindahkan kepalanya ke atas dada Sirin.


"Tidak menyangka bagaimana ?, kita sudah sering melakukan hubungan badan !" balas Sirin.


"Kira kira berapa lama Arsi meminjam hak milikku ini ?." Arsenio memengang sebelah gundukan Sirin yang berukuran jumbo setelah mengandung baby Arsi.


"Dua Tahun " jawab Sirin, mengusap usap kepala Arsenio yang berada di atas dadanya. Entah !, suaminya itu berobah sedikit manja sebulan terakhir ini. Sepertinya Arsenio merasa memiliki saingan sekarang.


"Lama banget !"


"Selebihnya untukmu !" ucap Sirin.


"Baiklah !" pasrah Arsenio.


Tok tok tok !


Setelah pintu di ketuk, pintu ruang perawatan itu pun terbuka dari luar. Seorang perawat nampak mendorong brankar bayi. Arsenio langsung mendudukkan tubuhnya, turun dari atas brankar.


"Waktunya baby nya menyusu ya Bu !" ucap perawat wanita itu.


Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dan berusaha mendudukan tubuhnya.


Arsenio yang melihat langsung membantu Sirin duduk, memberi bantal di punggung Sirin, lalu menyuruhnya bersandar.


Perawat wanita itu memberikan baby Arsi kepada Sirin dan langsung pergi.


"Anak Ayah rakus banget sih ?, lapar banget ya ?." Arsenio yang duduk di pinggir brankar menghadap Sirin, mengelus pipi cabi anaknya itu dengan jari telunjuknya.


Arsenio tersenyum, hatinya sangat bahagia, masih tidak menyangka dia dan Sirin sudah memiliki anak. Kemudian Arsenio mendongakkan kepalanya ke arah wajah Sirin yang juga memperhatikan anak mereka menyedot sumber nutrisinya dengan rakus.


Cup !


Arsenio mengecup kening Sirin, sontak Sirin mendongakkan wajahnya.


"Trimakasih dulu sudah mempertahankannya !. Trimakasih sudah bersabar mengandungnya selama ini. Trimakasih sudah rela menahan rasa teramat sakit saat berjuang melahirkannya." Arsenio mengelus pipi Sirin dengan jempolnya saat mengatakan itu.


Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Mintalah sesuatu kepadaku Sirin, sebagai balasan dari pengorbananmu itu" tawar Arsenio.


Sirin semakin mengembangkan senyumnya, semakin hari Arsenio semakin pintar berbicara manis padanya. Apa pernikahan membuat suaminya itu tambah pintar merayu ?.


Sirin mengambil tangan Arsenio dari pipinya, lalu mengecupnya."jadilah peminpin yang baik untuk kami !" jawab Sirin.


Arsenio mengangguk sembari mengulas senyum manis di bibirnya.


Setelah Sirin selesai menyusui, Arsenio pun mengambil baby Arsi dari pangkuan Sirin. Sebelum perawat tadi menjemputnya, Arsenio ingin bermain main dengan anaknya sebentar.


"Anak ayah kok matanya merem terus sih ?" tanya Arsenio, melihat mata anaknya dari tadi jarang terbuka.


"Arsi 'kan gak suka begadang Yah !. Kata Dokternya, Arsi harus banyak bobo biar cepat besar." Sirin menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


"Nyindir nih ?"


"Ayah kok sensitif banget sekarang ?." Sirin masih berbicara menirukan suara anak kecil.


"Aku gak mau kamu lebih menyayangi Arsi dari pada aku" ujar Arsenio.


Sirin tertawa cekikikan," masa kamu cemburu sama anak sendiri ?, ada ada aja !."


"Aku juga butuh di sayang sayang tau !, kamu gak pernah melakukan itu sama aku !."


"Mana ada preman manja !" cibir Sirin tersenyum.


"Aku bukan preman, tapi laki laki itu harus kuat, supaya bisa melindungi orang orang yang di sayanginya" balas Arsenio.


Tak lama kemudian perawat yang membawa baby Arsi tadi pun masuk, untuk mengambil baby Arsi mengembalikannya ke ruang bayi.


"Trimakasih suster !" ucap Arsenio, saat memberikan baby Arsi kepada perawat itu.


"Sama sama !" balas perawat wanita berhijab itu tersenyum ramah, lalu pergi.


Arsenio langsung saja membaringkan tubuhnya kembali di samping Sirin, memeluk Sirin erat.


.


.


Reyhan mengusap kepala Yumna dari belakang dengan sebelah tangannya, sebelah tangannya lagi sibuk mengendalikan setir mobilnya. Dari rumah sakit tadi istrinya itu kebanyakan diam. Reyhan tau istrinya itu lagi bersedih, karna belum juga hamil.


"Almira ! jangan bersedih terus, aku jadi merasa bersalah sama kamu !. Di antara kita aku yang bermasalah" ucap Reyhan.


Yumna langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Reyhan yang sibuk memperhatikan jalan di depannya.


"Maaf Habib !" ucap Yumna, lalu menundukkan pandangannya.


Jelas hatinya sedih, melihat baby Syauqi dan baby Arsi di rumah sakit tadi begitu menggemaskan. Membuat hatinya menggebu gebu untuk segera hamil. Namun bulan ini dia masih kedatangan tamu bulanannya.


Reyhan menarik kepala Yumna supaya bersandar di lengannya. Reyhan mengecup ujung kepala Yumna dengan sayang.


"Kamu gak bersalah sayang !,tidak perlu minta maaf. Akulah yang seharusnya minta maaf, karna sudah menyebabkanmu bersedih" ucap Reyhan setelah melapas kecupannya.


"Apa kamu pengen kita makan di luar ?." tanya Reyhan.


Yumna langsung menganggukkan kepalanya.


Reyhan lagi lagi mengecup ujung kepala Yumna. Kemudian memindahkan kepala Yumna supaya bersandar di dadanya.


"Pengen makan apa cinta ?"


Yumna langsug mendongankkan kepalanya ke wajah Reyhan yang tersenyum.


"Makan kamu !" jawab Yumna tersenyum.


"Nanti di rumah sayang, kita saling memakan" balas Reyhan." Yuk ! turun !" ajak Reyhan setelah memarkirkan kenderaannya di parkiran sebuah cafee.


Reyhan menyibak kain yang menutupi wajah Yumna, lalu mengecup kilas bibir yang selalu menggoda imannya itu.


"Ikh ! nanti nampak orang Habib !" tegur Yumna.


"Gak ada yang lihat Almiraku sayang !" gemas Reyhan, menarik hidung mancung Yumna. Mereka berada di dalam mobil, dan semua kacanya tertutup, lampunya pun di matikan, jadi tidak mungkin ada orang yang lihat, kecuali sengaja mengintipnya.


Yumna mengerucutkan bibirnya, Reyhan mengecupnya lagi, kemudian mencium keningnya.


Turun dari dalam mobil, mereka pun berjalan ke arah bagian luar cafee dengan bergandengan tangan, mendudukkan tubuh mereka di salah satu meja kosong di sana.


Salah satu pelayan cafee langsung mendatangi mereka. Dan Reyhan pun memesan steak untuk mereka berdua dan minumnya orenjus.


Reyhan meraih satu tangan Yumna, membawanya ke pangkuannya, mengelus elus punggung tangan Yumna dengan jempol tangannya.


"Habib !" panggil Yumna


Reyhan langsung menoleh.


"Aku kangen sama Papaku dan Momy !" ucap Yumna meneduhkan pandangannya. Semenjak menikah Yumna belum pernah sama sekali bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Apa kamu ingin kita kesana ?, tapi sekarang aku lagi banyak pekerjaan. Apa Almira sabar menunggu bulan depan ?" tanya Reyhan.


Pandangan Yumna semakin meneduh, ia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya, terutama sama Papanya tercinta.


Reyhan mengangkat satu tangannya, mengusap kepala Yumna yang terbalut hijab." Bagaimana kalau aku mengantarmu kesana ?, tapi aku langsung pulang. Nanti kalau rindumu sama orang tuamu sudah sembuh, aku akan menjemputmu ?."


"Gak usah Habib ! aku bisa pulang sendiri. Nanti habib capek jika harus bolak balik" tolak Yumna, memikirkan suaminya yang lelah harus mengurus pekerjaannya.


"Aku gak akan tenang membiarkanmu pulang sendiri Almiraku sayang !."


"Kalau begitu terserah Habib saja !."


"Tapi nanti mengobati rindunya di sana jangan lama lama. Karna nanti di sini juga akan timbul penyakit rindu !." Reyhan menunjuk dadanya dengan telunjuknya sembari tersenyum.


"Tiga hari !" ucap Yumna


"Apa itu cukup ?, bukankah kamu nanti akan kr Negri sebrang menemui kakak sepupumu ?" tanya Reyhan.


"Kalau begitu..satu minggu !" ucap Yumna.


"Jangan sayang ! itu terlalu lama !."


"Lima hari pas !" ucap Yumna lagi.


"Silahkan Pak ! Bu !" ucap seorang pelayan yang mengantar pesanan mereka, meletakkannya di atas meja.


"Trimakasih !" ucap Reyhan.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah, dan langsung undur diri.


Reyhan langsung memotong motong kecil steak di depannya, lalu memberikannya kepada Yumna. Kemudian menarik piring steak yang satunya lagi untuknya. Dan langsung menikmatinya dengan menggunakan pisau dan garpu. Mereka pun menikmati makanan mereka sampai habis tak tersisa.


.


.


Tengah malam Reyhan yang terbangun dari tidurnya, mendengar sayup sayup isak tangis seseorang. Reyhan membuka matanya, ia tidak melihat Yumna di sampingnya. Reyhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Reyhan melihat Yumna berdo'a sambil menangis.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Berikanlah kesembuhan kepada suami hamba. Hamba tau sebenarnya hatinya sedih meski dia berpura pura tegar di depan hamba. Berpura pura kuat, meski sebenarnya hatinya rapuh."


"Ya Allah, jadikanlah hamba menjadi wanita penghapus kesedihannya, penghibur hatinya yang lara.Istri yang ikhlas menerima segala kekurangannya. Istri yang bisa menjaga aib suaminya, dan menjaga harga diri dan martabatnya."


"Ya Allah ya rohman ya rohim, hamba memohon, segerakanlah kami zuriat(anak)yang saleh dan soleha amin !."


Sontak Yumna menoleh ke samping, karna merasakan ada yang memeluknya dari belakang.


"Habib !" ucap Yumna menghapus air matanya.


"Aku akan kuat asalkan kamu selalu ada di sisiku !." Reyhan menjatuhkan dagunya di bahu Yumna yang tertutup mukena.


"Aku akan semakin sedih, jika lelehan ini terus membasahi wajah cantik istriku ini setiap malam." Reyhan menghapus cairan bening yang keluar dari sudut mata Yumna.


"Aku akan semakin rapuh, melihat istriku lemah seperti ini !." Reyhan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Yumna.


Reyhan tau Yumna menangis, selain iba kepadanya, Yumna sudah sangat ingin dirinya hamil.


"Maaf Habib !" ucap Yumna.


Reyhan mengulas senyumnya, istrinya itu selalu saja minta maaf, setiap merasa membuatnya tersinggung atau merasa melakukan kesalahan.


"Aku maafkan !, tapi jangan menangis lagi saat mendo'akanku. Aku ini masih sehat, masih kuat, bukan sakit parah. Hanya saja aku belum berhasil menghamilimu" balas Reyhan.


"Aku terhanyut dalam doa dan harapanku, hingga tak sadar aku menangis. Bagaimana lagi aku adalah hamba yang lemah. Meski aku tau !, cobaan ini adalah bentuk kasih sayang Allah, tapi tetap saja aku tak bisa menahan air mataku" ucap Yumna.


"Kamu tau Habib ?, setiap orang yang di berikan cobaan yang berat. Itu artinya Allah merindukan kita, merindukan hambanya merengek kepadaNYA" lanjut Yumna.


Reyhan mendudukkan tubuhnya di lantai, kemudian memindahkan Yumna ke atas pangkuannya. Reyhan melingkarkan kedua tangannya ke perut Yumna, meletakkan kembali dagunya di bahu Yumna. Reyhan ingin mendengar tausiah menjelang subuh dari istrinya itu.


"Ketika Nabi Zakaria berdoa meminta anak kepada Allah. Nabi Zakaria mengatakan 'kalau tulangnya sudah rapuh, kepalanya sudah di penuhi uban'. Nabi Zakaria memohon dengan penuh harap dan cemas. Nabi Zakaria memohon bersungguh sungguh dan Khusyu."


"Saat Nabi Zakaria berdoa, kemudian datang malaikat( jibril) memanggilnya dan berkata ' sesungguhnya Allah menghadiahkan kamu dengan kelahiran ( seorang putramu) Yahya. Menjadi pengikut, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang Nabi, termasuk keturunan orang orang yang soleh."


"Bagaimana bisa ?' tanya Nabi Zakaria, mengingat tuanya dan kemandulan istrinya."


" Allah berfirman : Demikianlah Tuhan melalukan apa yang Dia kehendaki"


"Nabi Zakaria berkata lagi ' beri aku suatu tanda ( bahwa istriku telah mengandung)."


"Allah berfirman:' tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama)Tuhanmu sebanyak banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari. Maka kami perkenankan do'anya, dan kami anugrahkan kepadanya Yahya. Dan kami jadikan istrinya dapat mengandung."


"Sesungguhnya mereka adalah orang orang yang bersegera ( mengerjakan) perbuatan perbuatan yang baik, dan mereka berdo'a kepada kami penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang orang yang khusyu kepada kami."


Yumna menyudahi tausiahnya subuh itu, setelah mendengar suara azhan berkumandang.


"Trimakasih umi tausiahnya pagi ini !" ucap Reyhan tersenyum lalu mengecup pipi bidadari surganya itu.


"Habib perbanyaklah berdoa !, meminta dan memohon kepada Allah dengan bersungguh sungguh. Dan jangan pernah putus asa. Karna ikhtiar juga harus di barengi dengan doa" ucap Yumna lagi.


"Iya sayang !, wudhu yuk !" ajaknya, melepas pelukannya dari tubuh Yumna, supaya Yumna bisa membuka mukenanya dan berdiri dari pangkuannya.


Selesai berwudu, mereka pun melaksakan shalat berjamaah. Saat berdoa, tak lupa Reyhan berdoa agar di karunia keturunan.


"Ya Allah Ya Tuhanku !, berilah aku keturunan yang baik dari sisimu, sesungguhnya Engkau maha mendengar doaku !."


"Amin !" gumam Yumna dari belakang.


Kemudian Reyhan pun memutar tubuhnya ke arah Yumna yang berada di belakang sebelah kanannya. Yumna langsung mengulurkan tangannya menyalam Reyhan dengan tangannya di lapisi mukena, menempelkannya ke keningnya yang di lapisi mukena juga, supaya wudhu Reyhan tidak batal. Karna selesai shalat subuh, Reyhan akan mengaji sebentar sebelum bersiap siap berangkat bekerja. Sebagai rutinitasnya semenjak menikah.


Dan Reyhan pun hanya membelai kepala Yumna dari samping.


"Love you !" ucap Reyhan lembut sambil tersenyum, sangat terasa sejuk ke hati Yumna.


"juga !" balas Yumna, melebarkan senyumnya, memandang Reyhan dengan binar cinta.


.


.


#Mana tim Reyhan dan Yumna ?