
Arsenio yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, mengambil baby Arsi dari dalam box bayi, kemudian meletakkannya di atas tempat tidur. Arsenio membuka perlahan bedong dan baju baby Arsi dari tubuhnya. Karna Baby Arsi akan di mandikan Ayah Arsenio.
"Arsen ! benaran kamh sendiri yang akan memandika Arsi ?." Sirin ragu Arsenio tak bisa. Mengingat ini pengalaman pertama mereka memiliki anak.
"Jangankan mandiin Arsi, mandiin kamu aja aku bisa !" jawab Arsenio. Tanpa melepas netranya dari baby Arsi yang sudah polos, dan menggeliat geliatkan tubuhnya.
Sirin mencebikkan bibirnya," tubuhnya masih rawan, aku kawatir kamu patahin lehernya" cetus Sirin. Dia aja yang ibunya masih tidak berani menggendong baby Arsi kalau tidak dipakaikan bedong.
Arsenio memutar bola matanya malas, tidak mungkinlah ia mematahkan leher anaknya sendiri. Tentu Arsenio akan melakukannya dengan hati hati. Dan juga saat di rumah sakit, Arsenio sudah belajar cara memandikan bayi.
"Arsi mandi dulu ya Mama Sirin !"Arsenio berbicara menirukan suara anak kecil, sambil melambaikan sebelah tangan baby Arsi yang sudah ada di dalam dekapannya.
Sirin melebarkan senyum bahagianya, matanya nampak berbinar melihat kedua jagoan tampannya.
"Kesayangan Mama !" ucap Queen meraih tangan baby Arsi, kemudian mengecupnya.
"Kesayangan Ayah ! cup !" Arsenio membalas mengecup kening Sirin yang duduk di atas kasur, lalu membawa baby Arsi ke dalam kamar mandi.
Sirin semakin mengulas senyumnya tanpa melepas netranya sampai Arsenio dan anaknya menghilang di balik pintu kamar mandi. Siapa yang tau ? dibalik sifat Arsenio yang keras, suka berantem dan sok jagoan. Arsenio memiliki sifat sangat penyayang, Arsenio adalah laki laki yang bertanggung jawab. Sirin merasa tidak salah menjatuhkan hati kepada Arsenio, meski Reyhan lebih baik menurut orang orang di sekitarnya. Laki laki yang pernah di jodohkan Papanya kepadanya.
Tak lama kemudian Arsenio keluar dari kamar mandi, dengan membawa baby Arsi yang sudah di balut handuk di dalam dekapannya. Arsenio membaringkan baby Arsi di atas tempat tidur tanpa melepas handuknya. Kemudian memakaikan pakaian yang sudah di siapkan Sirin di atas kasur.
"Mandilah ! aku sudah menyiapka air hangat untukmu !" suruh Arsenio kepada Sirin, sambil mengoleskan minyak telon ke tubuh baby Arsi. kemudian memberikan sedikit bedak di wajahnya.
Sirin menganggukkan kepalanya dan langsung turun dari atas tempat tidur. Sirin melangkahkan kakinya mendekati Arsenio, memeluk Arsenio dari belakang.
"Ada apa ?Hm..!" Arsenio menegakkan tubuhnya yang membungkuk, kemudian menarik Sirin berpindah ke depannya.
"Gendong !" manja Sirin tersenyum.
"Kamu itu manja sekali !, padahal usiamu lebih tua dari aku !" ujar Arsenio.
Sirin langsung melepas pelukannya, dan melongos pergi ke kamar mandi dengan bibir mengerutu.
"Bedanya juga cuma setahun aja !, dan juga wajar aja kalau istri manja sama suami !. Uh ! ternyata mulutnya masih suka pedas kalau bicara !" Sirin berjalan menghentak hentakkan kakinya dan menutup pintu kamar mandi agak kencang, sampai membuat baby Arsi terlonjak kaget dan langsung menangis.
"Sepertinya Arsen gak benaran cinta sama aku !. Dia hanya membuatku wanita mesin pencetak anak untukya !" gerutu Sirin lagi, kemudian membuka seluruh pakaiannya di depan cermin kamar mandi, memandangi tubuhnya yang sudah kendor karna banyak lemak bergelambir di mana mana setelah melahirkan.
Ceklek !
Pintu kamar mandi itu terbuka dari luar, Arsenio masuk, melangkahkan kakinya ke arah Sirin. Kemudian Arsenio mengangkat tubuh Sirin meletakkannya perlahan ke dalam bathtub.
"Trimakasih ya sudah berkorban melahirkan Arsi untukku !" ucap Arsenio, tersenyum lalu mengecup kening Sirin yang memandanginya.
Arsenio pun mengosok tubuh Sirin menggunakan spon mandi, tak lupa memberi sampo ke rambut Sirin. Setelah selesai, Arsenio menyuruh Sirin keluar dari dalam bathtub, kemudian membilasnya hingga bersih.
Setelah memakaian handuk ke kepala dan ke tubuh Sirin. Arsenio menggendong tubuh Sirin membawanya keluar dari kamar mandi, menurunkannya di atas sofa.
"Pakai baju sendiri !, aku sudah hampir telat !" Arsenio menarik handuk yang melilit di kepala Sirin sampai terbuka, dan melemparkanya ke wajah Sirin, lalu pergi.
"Arsenio !!!" teriak Sirin, gemas dengan kejahilan Arsenio kepadanya.
Oe oe oe !
Baby Arsi yang mendengar ceritan ibunya langsung menangis kencang di dalam box bayi. Sirin langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati box bayi.
"Sayang ! kaget ya ! maafin Mama ya !. Ayah sih suka menggoda Mama !" ucap Sirin lembut, mengambil baby Arsi dari dalam box bayi, membawanya ke dekapannya.
Sirin mengecup kedua pipi cabi baby Arsi yang di poles sedikit pedak oleh Arsenio. Sirin mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur, lalu membuka sedikit handuknya, untuk memberi baby Arsi asi, supaya anaknya itu berhenti menangis.
"Papa nakal sama Mama !" adunya kepada bayi yang tak paham apa apa itu.
Sirin mengulas senyumnya, tak percaya jika sekarang dia sudah menjadi seorang ibu.
Pintu kamar itu terbuka dari luar, nampak Arsenio masuk dengan membawa nampan berisi sarapan dan segelas susu ibu menyusui. Arsenio meletakkannya di atas meja nakas, kemudian mengecup kening Sirin dan baby Arsi bergantian.
"Ayah pergi sekolah dulu ya, kesayangan kesayangan Ayah !. Doain Ayah supaya menjadi Ayah yang pintar !" pamit Arsenio tersenyum. Semangatnya untuk menuntut ilmu bertambah berkali kali lipat melihat anak dan istrinya yang harus ia pertanggung jawabkan masa depannya.
"Iya Ayah !" balas Sirin, berbicara menirukan suara anak kecil.
"Kalian ikut kesekolah yuk !" ajak Arsenio, rasanya berat sekali jika harus meninggalkan anak dan istrinya meski hanya ke sekolah saja.
"Mana bisa Ayah !, nanti Ayah gak pokus belajarnya" jawab Sirin. Ada ada aja suaminya itu.
"Hei jagoan ! enak sekali dirimu mengambil bagian Ayah !." Arsenio mencolek dagu baby Arsi yang naik turun, karna sibuk menimati nutrisinya dengan hikmat.
"Sana pergi sekolah !, nanti Kamu bisa terlambat !." Sirin mendorong kepala Arsenio yang mendekat ke dada sebelahnya.
"Sedikit aja Sirin !" ucap Arsenio, mendekatkan lagi wajahnya ke dada Sirin.
"Gak ! sana pergi, baby Arsi sudah tanda tangan kontrak dua Tahun, untuk menikmati buah pepayanya." Sirin mendorong kepala Arsenio lagi dari dadanya.
Cup !
Akhirnya Arsenio menjatuhkan satu kecupan di pipi Sirin."Rasanya berat sekali aku ninggalin kalian. Rasanya aku kengen sama kalian berdua, padahal aku masih di sini !" ucap Arsenio memeluk Sirin.
Sirin mengulas senyumnya, satu tangannya terangkat mengusap rambut Arsenio." Arsi juga kangen Ayah !" ucapnya menirukan suara anak kecil.
"Ya udah ! Ayah berangkat sekolah dulu !, mauh muah muah muah !." pamit Arsenio sekali lagi lalu mengecupi seluruh wajah baby Arsi. Terakhir mengecup bibir Sirin.
"Aku berangkat dulu sayang !, maaf aku gak bisa menyuapimu sarapan pagi ini." Arsenio pun pergi melangkahkan kakinya ke luar dari kamar itu berangkat ke sekolah.
.
.
"By ! nanti makan siang jemput aku ya !" ucap Diana kepada Dokter Aldo yang sedang menyetir di sampingnya.
"Iya sayang !" Dokter Aldo menjawab tanpa melihat ke arah Diana.
"Nanti siang aku pengen makan urap kembang pepaya. By yang ambil sendiri kembang pepayanya. By juga yang memasaknya" ujar Diana tanpa berpikir.
"Iya sayang !, itu kembang pepaya cari dimana ?" tanya Dokter Aldo bernada frustasi.
Dokter Aldo menghela napasnya, kemudian merapatkan gigi giginya, gemas dengan istrinya itu. Suka suka istrinya itu aja menyuruhnya."Iya sayang !" jawabnya gemas.
"Aduh !" keluh Diana tiba tiba memegangi perutnya.
"Ada apa sayang ?" refleks Dokter Aldo menoleh ke arah Diana, dengan raut wajah kawatir melihat Diana mengernyit. Dokter Aldo pun menepikan mobilnya." Apa perutnya sakit ?" tanya Dokter Aldo lagi, mengusap perut Diana.
"Dede bayinya sakit hati !" jawab Diana cemberut.
Dokter Aldo menghela napasnya, ternyata istrinya itu hanya menjahilinya saja." Hubbymu ini 'kan sudah bilang iya sayang !" ucap Dokter Aldo.
"Terpaksa !" cetus Diana
Lagi lagi Dokter Aldo menghela napasnya, karna semua keinginan istriny itu harus di turuti dengan lapang dada, dan jangan lupa selalu tersenyum setiap mengatakan iya, untuk menyetujui perintahnya.
"Iya sayangku ! nanti hubbymu ini yang akan mengambil kembang pepayanya dan memasaknya !" ucap Dokter Aldo mengulas senyum di bibirnya.
Diana semakin mengerucutkan bibirnya melihat senyum Dokter Aldo yang tidak tulus menurut pandangan matanya.
"By senyumnya masih terpaksa !" rajuk Diana.
Ya Tuhan ! tolong hambamu ini !, beri hamba kesabaran menghadapi istri cabe cabeanku ini. Dia sungguh menyebalkan, rasanya aku ingin memasukkannya ke dalam karung melemparnya ke empang. Batin Dokter Aldo
"Lihat sayang ! senyum hubbymu ini gak terpaksa lagi !" ujar Dokter Aldo, mengulas senyum manisnya, semanis buah manggis.
"Senyumnya masih kurang tulus !" ucap Diana, memperhatikan senyum Dokter Aldo masih terlihat di paksa.
Senyum Dokter Aldo langsung hilang sekektika, Dokter Aldo pun memutar kembali tubuhnya ke arah depan, dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit karna dirinya hampir terlambat.
"By !" rengek Diana.
"Hm..!" Jawab Dokter Aldo, kesal dengan istrinya itu.
"Jahat !" Diana mengalihkan pandangannya ke arah kaca di sampingnya.
"Iya ! By jahat !" balas Dokter Aldo.
"By tua ! jelek !" ejek Diana
"Tapi banyak duitnya !" balas Dokter Aldo lagi, tidak memasukkan ke hati perkataan Diana.
"By kakek kakek !" ucap Diana lagi.
"Kamu nenek nenek !, nenek nenek kecil !" balas Dokter Aldo lagi tersenyum.
"By brondong tua !"maki Diana.
"Kamu genit genit cabe rawit !" balas Dokter Aldo tersenyum, mengingat bagaimana lincahnya istri kecilnya itu menari perut saat menganiaya masa depannya.
"By abg tua !"
"Nenek nenek tekdung !"
"By saudaranya kera sakti !"
"Kamu istrinya !"
"By gak mau ngalah ! nanti malam Diana gak kasih jatah !" sungut Diana, karna Dokter Aldo tidak juga membujuknya.
Dokter Aldo melebarkan senyumnya, lalu tertawa cekikikan. Dokter Aldo pun menarik kepala Diana dan langsung mencium dalam bibir Diana yang cemberut.
"Aku bisa mengambil jatahku nanti siang, kalau istriku ini tidak memberinya nanti malam !" ucap Dokter Aldo setelah melepas ciumannya.
"Diana gak mau !" Diana melap sendiri bibirnya yang basah karna ciuman Dokter Aldo.
"Tapi aku mau !" Dokter Aldo mencium bibir Diana lagi." Di sini pun gak apa apa !" bisik Dokter Aldo, setelah melepas pagutannya kembali. Jangan lupakan satu tangannya sudah merem** gundukan kecil Diana.
"By genit !"maki Diana.
Dokter Aldo berpindah mencium telinga Diana hingga basah." Ayo turun sayang ! kita sudah sampai !" bisik Dokter Aldo tersenyum kepada Diana yang menikmati ciuman dan belaian tangannya.
Istri kecilnya itu hanya bisa mengatainya genit, tapi dirinya tidak sadar kalau dia sangat menyukai di genitin suaminya.
"Nanti kita lanjut !" Dokter Aldo mengacak acak gemas ujung kepala Diana sembari tersenyum. Kemudian mengecup sayang kening Diana yang merah merona karna salah tingkah.
"Diana 'kan mau menjenguk baby Arsi !, kenapa Diana di bawa ke rumah sakit ?" ujar Diana manja.
"Hubbymu hampir telat sayang, nanti jam istrirahat aku antar kesana !" jawab Dokter Aldo membuka pintu di sampingnya, dan langsung turun, melangkahkan kakinya ke arah pintu di samping Diana.
Dokter Aldo membuka pintunya dan membatu Diana keluar dari dalam mobil. Mereka pun sama sama berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan bergandengan tangan.
"Aldo !"
Suara itu langsung menghentikan langkah Dokter Aldo dan Diana. Mereka pun memutar tubuh mereka ke arah wanita yang berjalan cepat ke arah mereka.
"Pelakor lansia itu lagi !" gumam Diana, melihat Melia tantenya Sirinlah yang datang.
"Ada apa ?" tanya Dokter Aldo, setelah Melia berdiri tepat di depan mereka.
"Shasa memintaku untuk menarik sahamnya dari rumah sakit ini !. Dia ingin mengalihkan sahamnya ke hotel milik orang tua kami. Shasa mengatakan tak ingin bersangkutan apa pun lagi denganmu !" jawab Melia, melirik tajam Diana yang berdiri di samping Dokter Aldo.
"Baiklah !" balas Dokter Aldo, kemudian membalik tubuhnya menaril tangan Diana.
"Saham milik Shasa 30% Aldo !!!. Ingat Aldo !, kamu tidak akan mampu mendirikan rumah sakit ini !! jika bukan karna bantuan keuangan Shasa !! uang orang tauku !!!. Dan wanita di sampingmu itu !!! hanya menikmati hasil manisnya saja !!!. Shasa lah yang menemanimu dari nol !, dari kamu tak memiliki apa apa !!!" teriak Melia, sampai orang orang yang berada di sekitar rumah sakit menoleh ke arahnya, Dokter Aldo dan Diana.
"Hanya 30% 'kan ?" balas Dokter Aldo datar."Bahkan sampai sekarang orang tuaku masih mengirim uang ke rekeningku lebih banyak dari 30% dari saham rumah sakit ini !" ucap Dokter Aldo dengan mengeraskan rahangnya." Jadi jangan katakan ! kalau dulu aku tidak punya apa apa saat menikahi Shasa !. Rumah sakit ini tak seberapa untukku di banding harta warisan yang di siapkan orang tuaku untukku !. Dan bahkan di hotel milik orang taumu, orang tuaku juga memiliki saham !. jadi tutup mulutmu ! jangan coba coba untuk mempermalukanku !. Karna harta kalian tidak ada bandingnya dengan apa yang aku punya !."
Dokter Aldo kembali memutar tubuhnya menarik Diana yang berdiri menundukkan kepalanya.
"Awas kamu Aldo !!!" teriak Melia, melempar handphon di tangannya ke lantai sampai hancur berantakan.