Brother, I Love You

Brother, I Love You
258. Membuat aku cemburu



Sabina melangkahkan kakinya ke arah Jhonatan dan Agam.


"Beri aku rhidomu, jangan buat aku menjadi istri durhaka bang Jho" Sabina meraih tangan Jhonatan lalu mengecupnya.


Jhonatan terdiam memandangi wajah Sabina yang meneduh. Entah apa yang membuat wajah istrinya itu bersedih. Jhonatan tak tega melihat wajah itu. Dia tidak menyukai raut wajah sedih Sabina.


"Kalau Bang Jho tidak mengijinkannya sama sekali, aku tidak akan pergi" ucap Sabina lagi lirih tanpa melepas netranya dari wajah Jhonatan yang memandanginya.


Jhonatan mengangkat satu tangannya, menepis cairan bening yang sempat menetes di pipi istrinya itu. Lalu mengecup kening Sabina dengan perasaan begitu dalam.


"Aku meridhoimu bekerja, kejarlah mimpimu. Tapi jangan lupakan kami. Kami juga membutuhkanmu" ucap Jhonatan setelah melepas kecupannya dari kening Sabina.


Hati suami mana yang tidak luluh, ketika istri memandangnya teduh lalu meminta ridhanya?.


Sabina langsung menghambur memeluk Jhonatan." Aku minta maaf atas sikapku" lirihnya.


"Pasti besok di ulangi lagi" rajuk Jhonatan.


Istrinya itu sudah sering minta maaf, tapi masih sering juga berkata pedas kalau kemauannya tidak di turuti.


"Kenapa di masukin ke hati lagi?. Masa masih gak paham dengan sikapku" balas Sabina melepas pelukannya.


"Iya deh, nanti aku masukinnya ke kantong plastik" gurau Jhonatan. Sudahlah, suami istri tidak baik marahan berlama lama.


Cup!


Satu kecupan pu mendarat di pipi Jhonatan. Senangnya hati Jhonatan.


"Lopiu!" ucap Sabina tersenyum manis.


"Masya Allah!" gumam Jhonatan, hatinya meleleh.


"Mama kalau marah selam kaya singa, ops!" celetuk Agam menutup mulutnya yang keceplosan.


Sabina langsung saja menatal horor pada Agam yang berdiri di samping Jhonatan.


"Udah Nak, jangan di pancing lagi. Mumpung singanya berubah jadi marmut dan imut" ujar Jhonatan.


"Hihihihi...!" Cengir Agam menampakkan gigi giginya yang terlihat coklat.


Sabina pun memutar tubuhnya, melangkah ke arah pintu.


Hap!


"Aaa...!" jerit Sabina, karna Jhonatan tiba tiba menangkap tubuhnya dan menggendongnya.


"Kita berangkat bareng, aku akan mengantarmu. Dan nanti pulangnya juga akau akan menjemputmu" ucap Jhonatan membawa istrinya itu menuruni tangga ke lantai bawah.


"Bang Jho, nanti kita bisa jatuh, turunin" Sabina menatap ngeri anak tangga dibawahnya.


"Baiklah" Benar yang di katakan istri muka datarnya itu. Mereka bisa dalam bahanya, jjka menggendong Sabina menuruni anak tangga.


Sampai di ruang makan. Sabina langsung menyiapkan makanan ke piring Jhonatan dan Agam. Membuat Jhonatan terus memandangi istrinya itu, wajahnya terlihat sangat bersemangat setelah di ijinkan kerja. Sampai Jhonatan berpikir, apakah istrinya itu tidak kawatir dengan bayi di dalam kandungannya?. Dan Jhonatan juga berpikir, apa iya, ada perusahaan yang menerima karyawan baru yang sedang hamil?."


"Ehem..! sebenarnya kamu memasukkan lamaran ke perusahaan mana?" tanya Jhonatan setelah memperbaiki pita suaranya dengan berdehem.


Sontak Sabina menghentikan kegiatan tangannya yang menuang air minum ke gelas Jhonatan dan menoleh ke arah Jhonatan.


"Perusahaan Surya Anak Bangsa."


"Uhuk uhuk uhuk...!" Jhonatan langsung terbatuk batuk mendengar nama perusahaan yang di sebutkan Sabina." Gak gak gak! aku gak ngijinin kamu kerja di sana."


"Emang kenapa?" Sabina mengerutkan keningnya ke arah Jhonatan.


Pasti Mama sama Papa akan berantem lagi nih. baru juga baikan, batin Agam menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Kalau aku bilang gak ya nggak!."


Pantas saja orang hamil pun akan di terima bekerja. Ternyata dia memasukkan lamarannya ke perusahaan keluarga milik si songong itu, batin Jhonatan.


"Kalau aku kerja kan lumayan buat nambah nambah uang kita. Apa lagi nanti aku di sana akan menjabat sebagai manager" ucap Sabina berharap Jhonatan akan mempertimbangkannya lagi.


"Gak Sabina sayang. Apa kamu mau membuat aku cemburu setiap hari?. Dia itu menyukaimu dari dulu sampai sekarang. Kalau kamu bekerja di perusahaannya, itu artinya kamu akan bertemu setiap hari dengannya. Bisa aja kan akal akalannya menerimamu bekerja, supaya dia bisa dekatin kamu" oceh Jhonatan.


"Ya ampun Bang Jho. Bima itu udah punya istri. Gak mungki dia mau dekatin aku lagi. Lagian aku gak pernah suka sama dia" jelas Sabina.


"Kamu mau membuat aku bersaing sama dia?. Pokoknya aku gak ngijinin kamu bekerja sama dia tiktik!."


Ya Tuhan! apa cuma uang aja yang ada di pikirannya?, batin Jhonatan frustasi.


Uang uang uang dan uang, hanya itu trus yang menjadi pertengkaran di rumah tangga mereka.


Jhonatan menghela napasnya, ia pun menyusul Sabina ke dalam kamar. Sampai di kamar, Jhonatan melihat Sabina terbaring miring di atas kasur.


"Sabina" panggil Jhonatan menyentuh lembun lengan istrinya itu.


"Bukan aku gak berusaha, tapi sampai sekarang aku belum mampu. Dan mungkin aku gak pernah mampu memberikan kehidupan seperti kehidupan yang di berikan orang tuamu. Sebelum menikah pun, kamu sudah tau seperti apa kondisi keluargaku. Tapi kamu masih mau menerimaku sebagai suamimu. Kalau kamu menyesal...." Jhonatan tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Karna sebagai suami, dia harus bisa menjaga perkataannya. Jangan sampai talak jatuh begitu saja pada istrinya. Jhonatan pun menarik napasnya dalam, lalu mengeluarkannya perlahan." Aku akan berikan kamu waktu untuk berpikir"ucapnya langsung pergi keluar kamar itu.


Sabina yang terbaring membelakangi Jhonatan, terdiam dan membeku. Apa maksud suaminya itu memberinya waktu untuk berpikir?. Jantung Sabina seketika berdetak sangat kencang, seperti ada yang meronta ronta ingin keluar.


**


Di Alam lain.


Seorang pria yang sudah tua menangis memeluk istrinya. Nampak sekali wajah pria itu sangat sedih dan menyesal.


"Putri kita Bunga, kenapa dia seperti itu?. Kenapa putri kita keras kepala, kenapa dia tidak patuh sama suaminya?" tangis pria itu.


"Ini salah kita Aryan, kita terlalu memanjakannya, menuruti semua keinginannya sejak kecil. Jadi dia keras kepala" balas wanita itu tak kalah sedihnya dengan suaminya.


"Trus apa yang kita lakukan sayang?" tanya Pria itu.


"Aku juga gak tau Aryan" jawab wanita itu lesu.


Sepasang suami istri yang sudah tau itu pun hanya bisa menangis memandangi putri mereka dari alam lain.


"Dulu kamu memang nakal, tapi kamu tidak pernah melawan sama aku Bunga. Kamu selalu patuh sama suami. Itu sebabnya aku semakin cinta sama kamu setiap harinya." Pria tua itu mengulas senyumnya sambil tangannya mengusap usap kepala wanita di sampingnya.


Wanita tua itu pun tersenyum meski air mata masih mengalir di pipinya." Karna kamu adalah surgaku Aryan. Bagaimana aku mau melawan, jika setiap perlakuanmu terhadapku adalah cinta. Kamu sosok yang bisa menggantikan kedua orang tuanku. Kamu bisa menjadi Ayah bagiku sekaligus menjadi Ibu. Kamu bisa menjadi Kakak dan sekaligus menjadi Adik. Bisa menjadi teman dan sahabat."


Pria tua itu pun mengecup kening wanita di sampingnya." Karna kamu adalah tulang rusukku. Seperti anggota tubuhku yang lain, aku menjaganya dan menyayanginya. Begitu juga aku menjaga tulang rusukku ini. Aku menyayangimu, seperti aku menyayangiku."


Wanita tua itu tersenyum bahagia.


**


Sudah tiga hari, Jhonatan tidak pulang ke rumah bersama Agam. Jhonatan sengaja pulang ke rumah orang tuanya, untuk memberikan Sabina waktu untuk berpikir. Apakah masih bisa menerimanya apa adanya, atau tidak. Sebagai suami, Jhonatan juga lelah jika harus di tuntut uang uang dan uang setiap saat. Jhonatan tidak mampu. Bukan Jhonatan tidak berusaha, tapi hasil usaha itu sangat jauh di bawah hasil perusahaan perusahaan saudara istrinya dan hasil usaha peninggalan orang tua Sabina.


"Pulanglah Jho, kasihan istrimu sendirian di rumah" suruh wanita paru baya itu pada anaknya.


"Jhonatan lelah Ma, Sepertinya Jhonatan gak sanggup lagi menjadi suaminya."


"Hus! kamu gak boleh asal bicara" tugur Ibunya Jhonatan.


"Mama malah malah terus" celetuk Agam mengompori Neneknya.


"Lihat Ma, Agam aja anaknya, berpihak sama Bapaknya" ucap Jhonatan.


"Sabina itu mulutnya memang pedas, tapi hatinya itu baik. Dia itu orangnya terlalu pemikir. Wanita memang seperti itu Nak" Nasehat wanita itu pada anaknya.


"Tapi aku gak sanggup Bu, kalau trus di tuntut uang uang dan uang" balas Jhonatan dengan kening berkerut dan wajahnya nampak sangat frustasi.


"Seharusnya dulu kamu memikirkan itu. Kamu tau dia berasal dari keluarga kaya. Biasa hidup mewah, kami gak mikir apakah kamu sanggup jika menjadi Suaminya. Sekarang kenapa kamu mengeluh?."


Jhonatan terdiam mendengar ucapan Ibunya. Bukankah dia juga mengatakan itu pada Sabina.


"Kamu langsung menerimanya tanpa berpikir. Apakah kamu mampu atau tidak" lanjut wanita itu lagi.


"Seharusnya dia juga harus menerima kekurangan suaminya dong Ma."


"Itulah kekurangan istrimu, keras kepala dan mulutnya pedas. Buktinya, dia masih bertahan menjadi istrimu. Itu artinya dia masih menerima kekuranganmu. Apa kamu juga gak lihat, kepeduliannya terhadap adik adikmu?."


Jhonatan terdiam lagi, berpikir yang di katakan Ibunya.


"Dia hanya ingin di ijinkan bekerja, tapi kamu menghalanginya. Jangan terlalu mengekangnya. Dia itu wanita yang pintar, dia pasti punya cita cita dan impian."


"Tapi Ma, dia ingin bekerja di perusahaan orang yang paling Jho gak suka. Dan juga dia lagi hamil Ma. Jho kawatir dia akan kelelahan. Dan kalau dia kerja, pasti dia akan bertemu dengan banyak laki laki setiap hari. Pasti banyak laki laki yang mengganggunya" rajuk Jhonatan terlihat seperti anak anak.


Wanita paru baya itu mengulas senyumnya.


.


.