Brother, I Love You

Brother, I Love You
38.Tak pantas untukmu



"Maaf Pak Arya, Pak Orion harus kami tahan, karna sudah bermain hakim sendiri, dengan melakukan penembakan sembarangan" ucap ketua polisi itu, menjeda kalimatnya sebentar,kemudian berbicara lagi." Semoga nyawa korban bisa tertolong, mungkin bisa menjadi pertimbangan nanti di pengadilan."


"Beri saya waktu untuk menemui istri saya Pak !. Saya janji tidak akan kabur !" pinta Orion.


"Baiklah !" balas Polisi itu." Tapi kami harus tetap mengawal Pak Orion" ucapnya lagi.


Papa Arya hanya bisa menghela napas pasrah, mendengar anaknya harus di tahan. Orion tidak bisa di salahkan, ia hanya ingin menyelamatkan nyawa dan kehormatan istrinya. Tapi menggunakan senjata api itu sembarangan, adalah hal yang melanggar hukum.


"Kenapa abang saya harus di tahan Pak Polisi ?. Abang saya tidak bersalah, dia hanya beniat menyelamatkan istrinya yang terancam bahaya" tanya Reyhan, tidak terima.


"Tangkap saya aja Pak Polisi, biarkan saya yang bertanggung jawab apa sudah di lakukan abang saya. Saya bisa menjamin, abang saya tidak melakukan kesalahan kedua kalinya" sambung Elang.


"Seandainya Pak Polisi berada di posisi abang kami. Apa Pak polisi akan diam saja, membiarkan istri Bapak mempermalukan dirinya, dan membiarkan nyawa istri Bapak terancam ?" Arsenio, ikut menimpali.


"Iya Pak Polisi, abang kami juga korban di sini. Lihatlah wajahnya, babak belur di pukuli suruhan si brengse*k itu. Lihatlah abang kami yang dalam keadaan lumpuh dan tak berdaya. Di begal suruhan laki laki pengecut itu !. Itu ganjaran yang setimpal untuk si brengs*ek itu" Sambung Calixto, anak sulung Leo dan Tari, yang usianya sebaya dengan Queen.


Para polisi itu terdiam, mendengar cercaan ke empat anak muda di depannya. Benar yang di katakan ke empat anak muda itu. Siapa pun suaminya pasti akan gelap mata, melihat istrinya terancam bahaya.


"Pak polisi !, tolong pertimbangkanlah kesalahan keponakan saya ini. Bukankah selama ini, Pak Arya dan anak anaknya sudah banyak membantu kalian, melindungi data data kalian. Queen istrinya juga sekarang lagi bertaruh nyawa, karna obat sialan yang di berikan laki laki itu. Istrinya membutuhkannya sekarang. Setidaknya biarkan dia bebas, sampai pengadilan memberi keputusan. Kami bisa menjamin, Orion tidak akan kabur dari kota ini." Leo juga ikut menimpali.


Ketua polisi itu pun mengalihkan pandangannya kepada beberapa anggotanya yang tinggal. Kemudian mengalihkannya kepada Orion dan keluarganya.


"Baiklah !, tapi Pak Orion wajib lapor sekali dua puluh empat jam" ucap ketua polisi itu. Mereka percaya, orang yang bekerja sama dengan mereka selama ini, bisa di percaya." Kita berdo'a saja, semoga nyawa si korban terselamatkan" ucapnya lagi." Kalau begitu, kami pamit, dan selamat malam !" Pamit ketua polisi itu kemudian.


"Kalau begitu, trimakasih Pak Polisi atas bantuannya, pengertian dan kepercayaannya. Saya bisa menjamin anak saya tidak akan kabur, dan akan bertanggung jawab" balas Papa Arya, menjawab ketua polisi dan para anggotanya yang ikut membantu.


"Sama sama Pak Arya, kita sudah lama bekerja sama, pasti kami pecaya dengan Pak Arya" balas Polisi itu." Sekali lagi kami permisi Pak Arya, Pak Orion dan Pak Leo" pamit pak Polisi itu lagi. Kemudian undur diri bersama anggotanya.


Orion tersenyum, terharu dengan pembelaan aduk adiknya. Orion merentangkan kedua tangannya, supaya adik adiknya datang memeluknya.


Reyhan, Elang, Arsen dan Calixto yang paham pun, langsung saya menghambur memeluk Orion. "Kami tidak akan membiarkanmu menghadapi masalah sendiri bang !" ucap Reyhan, diangguki Elang, Arsenio dan Calixto.


"Trimakasih !" balas Orion


Arya menghapus sudut matanya yang sedikit berair. Terharu, sungguh hatinya bahagia melihat anak anaknya yang saling menyayangi. Memiliki banyak anak hal yang sangat menyenangkan bagi seorang Arya. Selain rumah mereka selalu ramai, Arya dan istrinya sudah tidak kesepian lagi.


"Anak anak ! ayo kita menyusul Queen ke Rumah Sakit !" ajak Papa Arya. Meski anak anaknya sudah pada dewasa, bagi Arya tetaplah anak anaknya itu, bocah bocah nakal.


"Iya Pah !" jawab Ke lima anak muda itu kompak, kemudian melepas pelukan mereka.


Dan tanpa aba aba, Reyhan langsung saja mengangkat tubuh Orion seperti karung beras, membawanya masuk ke dalam mobil, dan langsung menutup pintunya. Kemudian berjalan ke arah motor kesayangannya, yang ia dapat dari menang lomba balap motor tinggat propinsi, dan langsung melajukannya, yang langsung di ikuti Elang dan Calixto bersama Ayahnya Leo duduk di belakangnya.Sedangkan Papa Arya dan Arsen masuk ke dalam mobil mereka tadi.


.


.


Sampai di Rumah Sakit milik Dokter Aldo, mereka semua langsung berjalan ke arah ruang perawatan Queen. Karna mereka sebelum sampai sudah mendapat informasi dari Gandi, Queen sudah di pindahkan ke ruang perawatan setelah mendapat penanganan.


Papa Arya mendorong pintu ruangan perawatan Queen sembari melangkah masuk, di ikuti Ayah Leo dan para anak anak, setelah terlebih dahulu mengetuknya. Nampak Queen sudah tenang tertidur di atas brankar, setelah mendapat penanganan di ruang IGD tadi. Di sana juga ada Papa Gandi dan Dokter Aldo.


"Queen ! maafin abang Queen !, Karna abang gak bisa melindungi Queen. Abang benar benar laki laki yang tak berguna. Seharusnya Queen tidak jatuh cinta dengan abang !" lirih Orion, dengan air mata membanjiri wajahnya. Semua yang ada di ruangan itu, diam, menatap iba kepada Orion yang tak berdaya.


"Abang gak pantas untukmu Queen !"lirih Orion lagi. Menangis sampai tubuhnya bergetar, menandakan kepiluan yang mendalam. Mengingat akan nasibnya yang harus mempertanggung jawabkan kesalahannya yang melakukan penembakan kepada Ismail. Jika ia harus mendekam di penjara, akan seperti apa nasib pernikahan mereka. Apakah Queen masih sanggup menunggunya selama belasan Tahun.


Brankk !


Sontak semua mengalihkan pandagan mereka ke arah pintu, mendengar ada yang membukanya kasar.


"Queen !" tangis Vani berlari ke arah Queen yang terbaring di atas brankar, ia datang bersama Ghaisan dan Arcilla setelah mendapat kabar dari Gandi. Vani langsung memeluk Queen dan menciumi wajah Queen.


"Siapa yang menjahatimu sayang ?, biar Mama beri pelajaran" tanya Vani, kepada Queen yang tertidur pulas.


Brankk !


Lagi, ada yang membuka pintu ruang perawatan Queen dari luar dengan kasar.


"Queen...! siapa yang berani menyakitimu sayang ?, katakan sama Mama !, biar mama habisi orangnya !" Oceh Ratu Sejagat sambil berlari ke arah brankar Queen. Ia datang bersama Darren dan Bilal anak bontotnya. Tadi Ratu sejagat langsung gegas berangkat ke Rumah Sakit, setelah di kabari Vani, sahabat sekaligus besannya.


Brankk !


Lagi lagi, pintu ruangan perawatan Queen di buka kasar dari luar.


"Queen !" tangis Sirin, berlari ke arah brankar, ia datang bersama Diana dan Kania sahabat mereka." Sirin ! kamu baik baik aja 'kan ?. Jangan mati ya !, nanti aku sedih !." ujar Sirin Konyol.


"Iya Queen !,jangan mati ya !" timpal Diana.


"Kalau kamu mati, sama siapa dong aku sama Diana mencontek PR matematika. Kamu tau sendiri Sirin itu pelit, gak mau berbagi PR" ujar Kania.


"Ehem !" Dehem Papa Arya.


"Ops !" Kania langsung menutup mulutnya dengan tangan, karna sudah keceplosan, membuka kedoknya dan Diana yang selalu mencontek kepada Queen. Kania lupa kalau guru matematika mereka ada di ruangan itu.


"Kalian mendoakan aku mati" ucap Queen dengan suara lemah. mendengar banyaknya suara di ruangan itu, membuatnya terbangun. Perlahan Queen pun membuka kelopak matanya.


"Queen ! sayang !" ucap Orion, melihat Queen sudah terbangun, mengecup tangan Queen, yang di genggamnya dari tadi.


"Alhamdulillah !, ternyata kamu gak mati Queen" ucap Kania lagi.


"Kalau aku sudah mati, pasti aku sudah di kamar mayat Lola !(loding lambat)" geram Queen. Enak saja, sabahatnya itu mengiginkannya mati.


"Kenapa si culun itu bisa menculikmu ?. Sekarang si culun dimana ?" tanya Diana.


Sontak semua yang ada di ruangan itu, teringat dengan Ismail. Bagaimana kabar si brengs*ek itu ?. Apakah nyawanya tertolong ?.


.


.