
"Apa yang terjadi Elang !, apa benar kamu sudah menikah ?."
Elang dan Naysila sama sama mengalihkan pandangan mereka ke arah Reyhan yang berdiri di dekat mereka bersama istrinya Yumna.
"Iya bang !" jawab Elang menunduk.
"Kapan ?" tanya Reyhan lagi.
"Enam bulan yang lalu bang ?" jawab Elang.
Reyhan terdiam, ternyata Elang lebih dulu menikah darinya. Reyhan sudah dua kali di langkahin adik adiknya.
"Kenapa kamu menikah diam diam Elang ?. Kenapa kamu baru sekarang memberitahunya ?. Ya ampun Elang !, Papa sama Mama pasti kecewa sama kamu." cercah Reyhan, menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku menikahi secara mendadak Bang !. Dan bahkan aku tidak menyangka akan menikah saat itu. Nay adalah anak yatim piatu yang hanya tinggal berdua dengan kakeknya. Saat itu kakeknya sakit parah. Kekek Nay memohon padaku supaya aku menjaga Nay, memintaku menikahinya. Aku gak tega menolaknya bang, apa lagi Nay orang yang aku cintai, dan kami sudah setahun berpacaran. Dan ternyata Nay adalah cucu dari pamannya Papa. Aku baru tau itu setelah mendiang kakeknya meninggal. Selama ini aku menyembunyikan pernikahan kami, karna kemarin bang Reyhan lagi frustasi karna di tinggal kawin. Aku tidak tega jika karna mendengar kabar aku melangkahi abang, bang Reyhan tambah frustasi. Dan juga aku ragu apakah Papa sama mama merestui pernikahanku atau tidak. Karna kakeknya Nay, pernah menyakiti Papa di masa lalu" jelas Elang panjang kali lebar.
"Apa ? bang Elang sudah menikah ?."
Mendengar ribut ribut di luar kamar, Arsenio dan Sirin pun keluar kamar. Yang bertepatan kamar mereka di dekat ruang keluarga.
"Iya !" jawab Elang
"Kalian berdua itu benar benar adik durhaka, kalian sama sama melangkahiku. Kalian tidak menghargaiku sedikit pun sebagai abang kalian. Kalian berbuat semau kalian saja" kesal Reyhan, menatap tak suka kedua adiknya itu.
"Habiby ! jangan bicara seperti itu. Jodoh sama halnya dengan kematian. Kita tidak tau siapa yang lebih dulu bertemu jodoh atau ajal. Karna itu sudah ketentuan dari Allah, tidak ada yang dapat merobahnya" ucap Yumna, mengusap bahu suaminya yang sedang kesal itu.
"Betul itu apa yang di katakan kak Yumna !" ujar Arsenio, mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Diam kau balam !, kau itu lebih tidak berpesaan lagi !" cetus Reyhan.
"Move on dong bang Reyhan !, sudah ada tuh kak Yumna yang cantik jelita sebagai pengganti Sirin dan Diana" canda Arsenio, lalu tertawa cekikikan.
"Di larang memuji istriku !. Istriku tidak kurang pujian dariku !" cetus Reyhan lagi, menatap sinis Arsenio.
"Idih ! bang Reyhan posesif amat dah !." Sirin ikut ikutan menggoda Reyhan.
"Posesif itu tanda cinta, dari pada situ ! istri kurang perhatian. Hampir setiap malam di tinggal begadang sama suami, emang enak ?" balas Reyhan mencibir Sirin.
"Habiby !" tegur Yumna, karna suaminya itu mengompori si bumil yang sudah cemberut.
"Gak usah di dengarin sayang !" Arsenio memeluk Sirin dari samping, dan mengelus elus perutnya.
"Kembali ke kamar yuk ! Almira kusayang !. Habiby sudah ingin bobo ganteng !" ajak Reyhan kepada Yumna, merangkul pinggang Yumna dari belakang, menuntunnya berjalan ke arah tangga, naik ke lantai dua rumah itu.
Mendengar ucapan lebay si burung unta, Arsenio dan Sirin sama sama memutar bola matanya malas. Sedangkan Elang dan Naysila, hanya diam dengan pikiran masing masing.
.
.
Di dalam kamar papa Papa Arya dan Ratu sejagat. Mama Bunga mengusap usap kepala Papa Arya yang berada di atas pangkuannya. Memandangi wajah yang tak lagi muda itu, tapi masih tetap terlihat tampan dan berkarisma.
"Aaryan ! cobalah berlapang dada untuk menerimanya. Bagaimana pun juga, gadis itu masihlah keponakanmu. Lupakanlah kesalahan Paman Ali itu. Bukankah Tuhan sudah mengganti hartamu yang hilang dengan yang lebih banyak lagi ?. Dan gadis itu tidak punya siapa siapa lagi. Apa kamu tega jika harus membiarkannya hidup sendiri ?. Kita pernah di posisi gadis itu, hidup tanpa keluarga kandung, kita tau rasanya bagaimana Aaryan !" bujuk Mama Bunga, supaya merestui pernikahan Elang dan Naysila.
"Bilang sama Elang untuk membawa gadis itu keluar dari rumah ini Bunga. Aku rasa darah maling akan mengalir pada keturunannya. Aku tak ingin kecolongan lagi Bunga. Luka ini rasanya berdarah lagi setelah puluhan Tahu aku mencoba untuk menyembuhkannya" ucap Papa Arya dengan mata terpejam, cairan bening keluar dari sudut matanya.
"Kejadian itu sudah sangat lama Aaryan !, dan juga anak itu tak berdosa, dan tidak tau apa apa. Dan yang kamu katakan itu benar, darah maling mengalir kepada keturunannya. Seperti yang kamu lakukan padaku, merampasku begitu saja tak berperasan. Kita sudah tak muda lagi Aaryan !, masih saja kamu keras kepala" balas Mama bunga lembut.
"Bagaimana jika gadis itu mengandung cucumu ?. Apa kamu juga tak bisa menerimanya ?, tidak menganggapnya cucumu ?. Mereka sudah terlanjur menikah, kita sebagai orang tua wajib memberi restu. Mendo'akan semoga rumah tangga anak anaknya di berkahi" ucap Mama Bunga lagi.
Papa Arya membuka kelopak matanya, memandang wajah Mama Bunga yang berada di atas wajahnya. Mama Bunga mengulas senyumnya, sambil tangannya membelai lembut wajah Papa Arya.
"Aku yakin gadis itu anak yang baik, sehingga anak kita jatuh cinta padanya" ucap Mama Bunga lagi.
"Aku tak marah sama mereka, aku hanya marah dengan paman Ali" balas Papa Arya.
"Lantas kenapa kamu menyuruhku, menyuruh Elang membawa gadis itu keluar dari rumah ini ?."tanya Mama Bunga.
"Kali ini mengertilah dengan perasaanku Bunga !" jawab Papa Arya. Mama Bunga menghela napasnya.
"Aku mengerti dengan perasaanmu Aaryanku sayang !, tapi apakah aku harus menjadi mertua yang jahat ?" Ucap Mama Bunga dengan suara lembut dan lambat.
Papa Arya diam, dan kembali memejamkan matanya. Papa Arya memeluk pinggang Mama Bunga yang duduk bersandar di kepala ranjang.
Papa Arya ingin tidur, ia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya. Akhir akhir ini lelah memikirkan masalah anak anak mereka.
Buar buar buar !
"Ma ! Pa ! Bilal sama Boy ! tidurnya sama Mama sama Papa ya !!?" sahut dari luar.
"Anak itu !" kesal Papa Arya, mendengar suara Bilal yang masih sering minta tidur dengan mereka. Di tambah lagi Boy, aduh ! sudah pasti mereka berempat akan tidur sempit sempitan.
"Kakek ! Nenek !" sahut Boy ikut ikutan.
mendengar suara Boy cucu mereka, jadi luluh lah hati Papa Arya yang sempat kesal. Papa Arya pun mengangkat kepalanya dari pangkuan Mama Bunga, mendudukkan tubuhnya.
"Kamu yang menginginkan rumah ini rame, memintaku untuk memberi anak yang banyak untukmu. Dan mengharapkan cucu yang banyak dari anak anakmu. Ini cucu kita baru dua, gimana nanti kalau sudah sepuluh atau dua puluh. Kamu harus siap di ganggu cucu cucumu nanti" ucap Mama Bunga tersenyum, mengusap kepala suami tampan bin gantengnya.
"Tapi anak anak kita sering menyebalkan sepertimu sayang !. Mereka semua sering membuatku sakit kepala" sungut Papa Arya, turun dari atas kasur.
"Sana cepat buka pintunya, anak itu tidak akan berhenti menggendor gendor pintu, kalau gak di bukain. Bilal itu sangat berbeda dengan anak kita yang lainnya" ujar Mama Bunga.
Papa Arya melangkahkan kakinya ke arah pintu, untuk membukakan pintu untuk Bilal dan Boy. Setelah pintu di buka, Bilal dan Boy langsung berlari masuk ke dalam kamar, naik ke atas tempat tidur.
"Pa ! boleh Elang ikut masuk ?."Ternyata Elang juga berada di depan pintu kamar mereka.
Papa Arya tidak langsung menjawab, ia pun menajamkan pandangannya ke wajah Elang, yang memandangnya teduh dan seperti memohon.
"Masuklah !" Papa Arya memutar tubuhnya, melangkahkan kakinya ke arah sofa di kamar itu. Di ikuti Elang dari belakang.
"Ayo Boy ! Bilal ! kalian cuci tangan sama kaki dulu ke kamar mandi !" ajak Mama Bunga kepada anak dan cucunya.
"Sudah nenek !" jawab Boy !.
"Iya Ma ! tadi di kamar bang Darren kami sudah cuci tangan sama kaki, sikat gigi juga !" sambung Bilal.
"Ya udah ! ayok kalian tidur, Bilal ! geser ke tengah biar nanti Papa muat !" ujar Mama Bunga, sambil memperbaiki posisi tidur Boy di sampingnya.
Di sofa, Elang mendekati Papa Arya, dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, meletakkan kepalanya di pangkuan Papa Arya.
"Pa ! Elang minta maaf !" lirih Elang." Elang sudah membuat Papa tersinggung. Pa ! Elang mencintai Naysila. Sebelum Elang mengetahui siapa dia sebenarnya. Dan setelah mengetahuinya pun, Elang masih mencintainya" ucap Elang lagi.
"Aku menyayangi Papa sama Mama, tapi sekarang Naysila sudah menjadi tanggung jawab Elang. Apa yang harus Elang lakukan Pa ?, supaya Papa memberikan restu kepada kami ?." Elang mengambil tangan Papa Arya, meletakkannya di atas kepalanya.
Papa Arya menghela napasnya dalam, apa yang harus ia lakukan ?. Sungguh hati Papa Arya sangat berat menerima gadis itu sebagai menantunya. Tapi melihat Elang membujuknya seperti itu, Papa Arya tak sanggup melihatnya. Papa Arya pun menggerakkan tangannya mengusap kepala anak ke tiganya itu. Elang tidak salah, gadis itu tidak salah, yang salah adalah Pamannya.
"Papa tidak akan menyuruhmu meninggalkan tanggung jawabmu. Tapi Papa tidak bisa menerimanya menjadi anggota keluarga di rumah ini. Papa mohon mengertilah dengan Papa !" ucap Papa Arya.
"Aaryan !" tegur Mama Bunga dari atas tempat tidur. Suaminya itu benar benar tidak bisa menerima gadis itu. Mama Bunga pun turun dari atas tempat tidur, berjalan mendekati suami dan anaknya.
Elang mengangkat kepalanya dari pangkuan sang Papa. Menatap Papa Arya dengan berderai air mata.
"Saat kalian menikah, kalian tidak melibatkan Papa dan satupun keluargamu. Itu artinya kamu tak membutuhkan restu dari Papa nak !. Kamu anak Papa, aku yang lebih berhak atasmu. Tapi kamu melupakan posisi Papamu ini. Dan kamu memberitahu Papa setelah berbulan bulan kamu menikah. Padahal kamu bisa mengabari Papa sebelum terjadi pernikan kalian" balas Papa Arya.
"Maafin Elang Pa !" tangis Elang terisak.
"Papa memaafkanmu nak !, kamu tidak bersalah. Hanya saja jika melihat gadis itu, luka hati Papa berdarah kembali. Jagalah dia, jadilah suami yang bertanggung jawab."
"Pah !" tangis Elang, hatinya sakit, papanya tidak bisa menerima istrinya. Tapi Elang bisa mengerti dengan rasa sakit hati Papanya.
"Maafin Papa nak !" ucap Papa Arya.
Elang pun menangis sampai cigukan, ia tak mungkin memaksa Papanya menerima istrinya. Karna salahnya juga, sudah menyembunyikan pernikahannya selama berbulan bulan. Seharusnya sebelum pernikahan itu terjadi, Elang bisa memberitahu Papanya.
Mama Bunga menurunkan tubuhnya, memeluk Elang yang menangis di bawah kaki Papa Arya. Mama Bunga kasihan melihat anaknya yang menangis memohon. Tapi Mama bunga mengerti dengan hati suaminya yang lagi terluka.
"Sssttt...!, Papamu lagi sakit hati. Nanti kalau kalau sakit hatinya sudah sembuh, Papamu pasti menerima istrimu. Papamu hanya butuh waktu saja sayang" ucap Mama Bunga, mengusap usap kepala Elang." Kalian cepatlah berikan cucu yang banyak buat Papamu. Mungkin itu nanti yang bisa membuat sakit hatinya terobati" ucap Mama Bunga lagi, mengecup kening Elang dengan sayang.
"Maafin Elang Ma !, Elang sudah menjadi anak yang durhaka. Elang tak sengaja Ma !" ucap Elang lagi.
"Iya sayang !, Mama akan selalu memaafkan anak anak Mama" balas Mama Bunga, sambil tangannya menyugar nyugar rabut Elang ke belakang.
"Jangan marah sama Papamu ya !, apa lagi sampai membenci dan dendam padanya" ucap Mama Bunga lagi.
"Elang yang salah Ma !"
"Sudah sudah ! jangan menangis lagi. Kamu sekarang sudah jadi suami, sebentar lagi jadi Papa, jadi tidak boleh cengeng. Ayo sana ! jangan biarkan istrimu menunggu kelamaan. Bawalah istrimu pulang ke rumah kalian, besok Mama akan mengunjungi kalian kesana" ucap Mama Bunga lagi, menghapus air mata yang membasahi wajah anak ketiganya itu.
"Iya Ma ! trimakasih !"
"Iya sayang !, kamu adalah anak Mama. Sana ! dan sampaikan salam Mama buat mantu mama itu" usir Mama Bunga, supaya Elang segara keluar dari dalam kamar meraka. Karna Mama Bunga harus mengurus suaminya itu lagi.
"Iya Ma !"
Elang pun beranjak dari lantai, dan menyalam Papa Arya." Pa ! malam ini Elang gak tidur di rumah. Elang pergi dulu Pa !" pamitnya. Kemudian pergi dari kamar itu.
.
.