
Keluar dari dalam mobilnya, lagi lagi satpam penjaga pos gerbang sekolah, mendekatinya.
"Nak Queen ! ini ada kiriman bunga untuk nak Queen lagi" ucap satpam itu.
Queen menghentikan langkahnya, dan menghela napasnya, kemudian menerima bunga mawar dari pak satpam tersebut, dan langsung pergi. Queen pun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kelasnya. Ia sudah tau siapa yang mengirim bunga mawar itu untuknya.
Masuk ke dalam kelasnya, Queen langsung memeriksa laci mejanya, apakah masih ada kiriman bunga untuknya. Ternyata masih ada lagi. Queen langsung mengambil bunga itu, dan langsung berjalan ke arah orang yang mengirim bunga itu untuknya.
"Apa maksud dari bunga bunga ini Mail ?"tanya Queen, meletakkan bunga di tangannya di atas meja Mail.
Sontak saja siswa dan siswi yang ada di kelas, menoleh ke arah Queen dan Mail.
"A..a..apa maksudmu ?" gagap Mail, yang memang bicaranya gagap.
"Jangan pura pura gak tau Mail !" ujar Queen. Kemudian mengeluarkan handphonnya dari saku roknya, kemudian menunjukkan vidio kepada Mail. Disana nampak jelas kalau dialah pelaku yang meneror Queen dengan bunga.
"Da..da..darimana kamu dapat vidio itu ?" heran Mail.
"Tidak perlu kamu tau !, dan jangan mengirim bunga untukku lagi, dan jangan menggangguku, apa lagi mengharapkanku !, karna aku tidak menyukaimu sedikit pun !" ucap Queen, kemudian memutar tubuhnya melangkah angkuh kembali ke bangkunya.
Wajah Mail memerah, sakit hati, malu dan emosi, untuk kedua kalinya mendapat penolakan dari Queen. Seorang siswi tercantik dan terpopuler di sekolah SMA HARAPAN. Gadis yang di sukainya semenjak mereka SMP.
"Hei Mail ! kamu percaya diri banget sih ! suka sama Queen. Gak lihat tuh muka jerawat semua, gayanya culun lagi !" ejek salah satu siswi teman satu kelas Queen.
"Huuuu.....!" sorak satu kelas kepada Mail.
"Emang apa yang salah aku menyukai Queen ?!!" murka Mail tiba tiba. Ia memang tidak tampan apa lagi kaya, apa salah dia menyukai dan mencintai seorang cewek cantik idola no satu sekolah.
"Salah banget !" jawab salah satu siswi." kamu gak selevel dengan Queen !" ujar siswi itu lagi.
"Sudah sudah ! tidak boleh bicara seperti itu. Mail tidak salah jika menyukaiku, itu hak dia" sela Queen, bagaimana pun juga ia harus menghargai orang yang menyukainya, lebih tepatnya tak ingin membuat siapa pun sakit hati.
Kamu harus menjadi milikku Queen, lihat saja !. batin Mail, emosinya bergemuruh di dalam dada. Memandang Queen dari belakang, dengan mata dan wajah merah padam.
"Apa Mail masih sering mengganggumu ?" tanya Sirin, ia baru datang saat Queen menyamperin Mail.
"Selama ini gak pernah lagi, tapi akhir akhir ini, dia sering mengirimku sekuntum mawar merah" jawab Queen.
"Kok kamu gak bilang sama aku ?" kesal Sirin, kenapa sahabat yang sudah seperti saudaranya itu, main rahasia rahasiaan darinya. Bukankah selama ini mereka sering saling curhat.
"Buat apa ?" tanya Queen, membuat Sirin tambah kesal.
"Semenjak bang Orion sudah di sini, kamu sepertinya sudah tak membutuhkanku lagi" jawab Sirin, memanyunkan bibirnya.
"Kaya iya aja !, kamu aja kerjaannya pacaran mulu sama Arsen !" dengus Queen.
"Queen !" Panggil Diana yang duduk tepat du bangku belakang Queen.
"Hm !" jawab queen.
Diana mencebikkan bibirnya," gimana ? apa ponakanku udah jadi ?" tanyanya.
"Belum !" jawab Queen.
"Lama banget ?"
"Ya elah !, nikah juga baru, masa langsung jadi !" jawab Queen.
"Kalau di lihat lihat, bang Orionmu, wajahnya ganteng kebagetan juga ya !" sambung Kania, yang duduk di samping Diana.
"Emang !" bangga Queen.
"Bagaimana kalau bang Orionmu itu kakinya gak sembuh sembuh !. Kamu yakin sanggup mempertahankan pernikahan kalian ?" tanya Kania.
Queen, Sirin dan Diana refleks menajamkan pandanga mereka ke wajah Kania.
"Maksudku, kamu pasti membutuhkan pria yang normal.Pria yang bisa melindungimu !"ucap Kania lagi.
Diana yang duduk di sampingnya, menyikut lengannya, karna melihat raut wajah Queen yang berubah sendu.
Queen menghela napas beratnya, benar yang di katakan Kania. Tidak di pungkiri, Queen pasti membutuhkan pendamping hidup yang bisa berjalan normal, dan yang pasti bisa melindunginya. Tapi cinta sudah mengalahkan segalanya bagi Queen. Ia tidak perduli seperti apa Orion, Queen mencintainya, titik !.
"Aku mencintainya !" ucap Queen pelan, matanya sudah berkaca kaca. Tentu ia sedih dengan keadaan Orion sekarang.
"Yakinlah ! kalau kaki bang Orion pasti bisa sembuh !" ucap Sirin. Pasti juga ia ikut bersedih dengan keadaan kaki Orion yang lumpuh sebelah, karan Orion sudah seperti kakak tertua baginya. Queen pun menganggukkan kepalanya, sambil menghapus air matanya yang sempat keluar.
"Kamu sih !" ujar Diana kesal.
"Iya ! aku mengaku salah !" balas Kania.
"Gak apa apa !" ucap Queen.
Bel pun berbunyi, pertanda sudah saatnya memulai pelaran hari ini. Tak lama kemudian guru yang akan mengajar pun masuk ke dalam kelas.
.
.
"Queen !"
Queen mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil miliknya yang terparkir di parkiran sekolah. Ia pun memutar tubuhnya ke arah orang yang memanggilnya.
"Ada apa ?" tanya Queen, mengernyitkan keningnya, karna silaunya terik matahari.
"Ini ada undangan ulang Tahun untukmu !, besok malam, jam tujuh tiga puluh aku mengadakan acara ulang Tahun di rumahku, kamu datang ya !" jawab Nala tersenyum ramah. Memberikan satu kartu undangan ulang Tahun kepada Queen.
Nala adalah saingan Queen di sekolah, bersaing menjadi siswi tercantik dan terpintar. Ya meski Queen kalah pintar, tapi kecantikannya belum ada yang mengalahkannya.
"Ya ! aku pasti datang !" ucap Queen menerima kartu undangan itu dan langsung masuk ke dalam mobilnya, tak ingin berbasa basi, atau beramah tamah, kepada orang yang tidak di sukainya itu.
Cih ! angkuh benar !, dia pikir saya gak tau, kalau dia menikah dengan pria lumpuh . Kena kutukan kali dia, yang selalu merasa sok yang paling cantik. Batin Nala, lobang hidungnya mengembang, memperhatikan mobil Queen sampau keluar dari gerbang sekolah. Kemudian memutar tubuhnya kembali ke arah mobilnya dan langsung masuk.
.
.
Di tempat lain
"Reyhan ! tolong kamu awasi anak ini. Beberapa hari ini, orang ini selalu mengirim sekuntum mawar merah kepada Queen" ucap Orion sambil menunjukkan photo laki laki yang ada di phonselnya.
"Cie cie cie...! yang lagi cemburu !" ejek Reyhan, tersenyum menggoda Orion abangnya sembari menyikut lengan Orion yang berdiri di sampingnya.
"Jelas cemburulah ! istriku 'kan cantik, pasti banyak yang menyukainya, aku gak suka itu !" ketus Orion.
Reyhan memutar bola matanya malas, lalu mencibir." Dulu aja nolak Queen !, bilang Queen sudah menganggap adik sendiri, sekarang malah dikawini !."
"Sudah jadi istri..ya ! di kawininlah !. Masa dilihatin aja ?" balas Orion sekalian bertanya.
"Kalau saja Papa gak mengatakan pernikahan kalian dulu. Aku sudah akan mendekati Queen setelah kamu pergi ke luar Negri.."
Pukh !
"Aw !" keluh Reyhan karna Orion memukul kakinya dengan menggunakan tongkat.
"Mau jadi adik durhaka kamu !?" cetus Orion, menajamkan indra penglihatannya ke wajah Reyhan.
"Bang Orion 'kan dulu gak menyukai Queen !" bela Reyhan.
"Tapi tidak ada yang boleh menyukainya selain aku !" ketus Orion, melangkahkan kakinya berjalan ke arah mobil.
"Kenapa dulu jual jual mahal ? haaa...!?" seru Reyhan, kemudian mengikuti Orion dari belakang.
Orion menghentikan langkahnya, membalik tubuhnya ke arah Reyhan." Aku gak jual mahal, hanya saja aku merasa aneh, karna menyukai Queen yang masih anak anak !. Apa lagi setelah aku menikahinya dulu, aku merasa seperti laki laki yang tidak normal. Makanya aku memutuskan tetap pergi ke luar Negri, aku tidak percaya dengan apa yang aku rasakan. Aku berpikir saat itu, kalau aku sudah gila. Aku tidak percaya dengan perasaanku. Setelah jauh dari Queen, baru aku menyadarinya, kalau aku memang mencintainya selama ini" jawab Orion tersenyum.
"Aku sudah menduga itu dari dulu !. Kamu sangat posesif kepada Queen. Kamu mengusainya sendiri, tidak membiarkan kami dekat dengannya" balas Reyhan." Dan lantas ! kenapa kamu selalu sering mengatainya jelek ?" tanya Reyhan lagi.
"Itu kebalikan dari kata cantik !. Dan aku hanya ingin bermaksud menggoda Mama Vani dan Papa Gandi !." jawab Orion tersenyum, yang sudah dari tadi duduk di kursi penumpang depan mobil Reyhan.
Reyhan menghela napas beratnya, mengingat Sirin yang menolak perjodohan mereka. Sirin yang tidak menyukainya sama sekali. Dan yang paling menyakitkan dia di tikung adiknya sendiri. Reyhan sangat menyukai Sirin dari dulu, tapi Sirinnya ?. Sakit hati Reyhan memikirkannya.
"Ayo cepat jalankan mobilnya, aku sudah kangen dengan kakak iparmu. Pasti dia sudah pulang dari sekolah !" suruh Orion kepada adiknya.
"Kangen ngapain ?, kangen dengan urusan pribadi ?" cibir Reyhan. kemudian melajukan kenderaannya dari area proyek pembangunan universitas HARAPAN milik pribadi Orion, dari hasil bekerja selama menjadi CEO di luar Negri.
"Iya dong !" jawab Orion tersenyum, dan Reyhan mendengus.
.
.