Brother, I Love You

Brother, I Love You
101. Takdir



Arsenio menghentikan laju kenderaannya tepat di depan rumah mertuanya. Tadi pagi pagi sekali, Dokter Aldo mengabari, untuk menyuruh Sirin datang kerumahnya, untuk menemani Diana yang tidak mau keluar kamar sama sekali.


Sirin menyalam tangan Arsenio, lalu menempelkannya ke keningnya, sebagai tanda hormatnya kepada suami.


"Nanti malam baru aku jemput ya !, soalnya pulang sekolah aku harus mengecek usaha kita" ucap Arsenio, mengusap kepala Sirin, kemudian mengecup keningnya.


Sirin menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil tangan Arsenio, meletakkannya di perutnya, supaya Arsenio mengelusnya.


Arsenio pun memgelus perut Sirin, sembari tersenyum. Kemudian Arsenio membungkukkan tubuhnya untuk mencium perut Sirin yang mulai nampak menonjol.


"Aku menyayangi kalian !" ucap Arsenio, mendongakkan kepalanya ke wajah Sirin.


Sirin mengusap kepala Arsenio, membungkukkan sedikit tubuhnya, mencium ujung kepala Arsenio." Kami juga menyayangimu !" balas Sirin.


Keduanya pun sama sama merekahkan senyum mereka. Mereka saling memandang dengan wajah yang sama sama berbinar.


Tit ! tit ! tit !


Arsenio dan Sirin sama sama tersadar dari lamunan mereka. Arsenio berdecak, setelah melihat mobil milik Dokter Ghissam berada di belakang mobilnya, yang akan memasuki gerbang rumah.


"Hati hati Papa !, nanti jangan lupa bawa oleh oleh ya !" ucap Sirin kepada Arsenio, sambil tangannya membuka pintu di sampingnya.


"Oke kesayangan kesayangan Papa !, doain banyak rejekinya ya hari ini !" balas Arsenio, satu tangannya mengacak acak ujung kepala Sirin.


Tit tit !!!


Arsenio memutar bola matanya malas, mendengar klakson mobil dari abang iparnya itu.Gak sabaran sekali !, gerutunya dalam hati.


Sirin pun segera turun dan langsung menutup pintu mobilnya, berjalan masuk ke halaman rumah orang tuanya . Dan Arsenio langsung melajukan kenderaannya menuju sekolah.


Sirin menghela napasnya, mengingat ibu kandungnya sudah tak ada di rumah itu lagi. Suasana rumah itu sudah sangat berbeda, tidak sama lagi saat ada ibunya di rumah.


"Sirin !" panggil Dokter Ghissam setelah keluar dari dalam mobilnya.


Sirin membalik badannya ke arah Dokter Ghissam yang berjalan mendekatinya.


"Apa ?" Sirin berbicara dengan bibir mengerucut.


Dokter Ghissam melingkarkan satu tangannya ke leher Sirin, dan mengecup kilas pelipis Sirin." Abang kangen denganmu !"


"Kenapa gak pernah menemuiku ?, apa karna sekarang aku miskin ?" sungut Sirin.


"Emang kapan kamu kaya ?, perasaan gak pernah !" cibir Dokter Ghissam.


Sirin melepaskan tangan abangnya dari lehernya, berjalan cepat dengan bibir mengerucut, masuk ke dalam rumah.


"Abang hanya bercanda !" seru Dokter Ghissam, menyusul masuk ke dalam rumah.


Sirin tidak mengindahkannya, ia pun berjalan ke arah pintu kamar orang tua mereka. Sirin membuka pintu kamar orang tuanya setelah mengetuknya terlebih dahulu, karna Sirin tau papanya tidak ada di dalam, sudah berangkat bekerja.


"Diana ! ops ! sory ! Mama kecil !" Sirin langsung meralat nama panggilannya, lalu tertawa cekikikan. Sirin melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur.


Diana yang terbaring di atas tempat tidur, hanya diam saja, seperti tidak mendengar panggilan Sirin.


Sirin mendudukkan tubuhnya di samping Diana. Mengambil tangan Diana sedikit meremasnya." Aku paham dengan apa yang kamu rasakan Diana !. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan terpuruk sepertimu, dan mungkin bisa saja lebih parah darimu" ucap Sirin.


"Aku mencintai bang Reyhan Sirin !" lirih Diana, tak terasa air matanya mengalir begitu saja di pipinya.


"Aku tau !" balas Sirin."Dulu..Mama sama Papa juga saling mencintai. Sampai bang Ghissam dan aku lahir dan tumbuh besar, mereka saling mencintai. Tapi siapa menduga, cinta di hati mereka sama sama memudar di dalam ikatan pernikahan. Sampai mereka sering saling menyakiti, dan akhirnya mereka bercerai" Sirin menjeda kalimatnya, menghapus air matanya yang sempat mengalir, kemudian berbicara lagi." Aku sangat menyanyangi kedua orang tuaku Diana !, hati kecilku sakit, dengan perceraian mereka. Aku juga sangat ingin kedua orang tuaku hidup bersama selamanya Diana !. Tapi apa yang bisa kulakukan, jika jodoh mereka sampai di situ saja."


Sirin menangis terisak, tidak tahan memendam kegundahannya lagi selama ini. Meski dia terlihat tegar dari luar, bukan berarti hatinya tidak terpukul dengan perceraian kedua orang tuanya.


"Itu semua takdir Diana !" isak Sirin.


"Kenyataan ini terlalu mengagetkanku Sirin !. Aku butuh waktu untuk menata hatiku menerima takdir ini" ucap Diana. Dadanya sangat terasa sesak, mengingat kenyataan dirinya dan Reyhan tidak berjodoh. Malah ia sudah menjadi istri dari Papa sahabatnya sendiri.


Tidak ada yang berbicara lagi, akhirnya kedua sahabat itu pun sama sama menangis terisak, dan saling berpelukan.


Di luar kamar, Dokter Ghissam menghela napasnya, sambil menghapus air matanya dari sudut matanya, kenapa takdir yang menimpa keluarga mereka begitu rumit ?. Dokter Ghissam menutup pintu kamar itu kembali, melangkahkan kakinya ke arah tangga. Naik ke lantai dua menuju kamarnya.


.


.


Sore hari


Dokter Aldo memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, rumah warisan orang tuanya kepadanya. Dokter Aldo mematikan mesin mobilnya dan langsung keluar. Dokter Aldo melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, berjalan ke arah kamarnya. Tanpa mengetuk pintunya terlabih dahulu, Dokter Aldo langsung membukanya dan melangkah masuk. Di lihatnya Sirin dan Diana sama sama tertidur pulas di atas tempat tidur.


Setelah meletakkan barang bawaannya di atas sofa. Dokter Aldo melangakahkan kakinya ke arah tempat tidur. Dokter Aldo membungkukkan tubuhnya, mencium kening Diana sambil tangannya mengusap ubun ubunnya.


"Ehem !"


Sontak Dokter Aldo mengalihkan pandangannya ke arah Sirin yang sudah membuka mata.


"Daun muda" ucap Sirin, menaik turunkan alisnya ke arah sang papa.


"Rejeki Papa !" balas Dokter Aldo, lalu tertawa cekikikan.


"Sepertinya Papa harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hatinya" ucap Sirin.


"Sepertinya begitu !, tapi Papa tidak akan menyerah" balas Dokter Aldo, mendudukkan tubunya di pinggir kasur menghadap Diana.


"Apa Papa menyukai Diana ?"tanya Sirin.


"Apa Papa harus menjawabnya ?" tanya balik Dokter Aldo tersenyum.


"Tidak perlu ! dari wajah Papa, Sirin sudah menemukan jawabannya" jawab Sirin, semakin menarik sudut bibirnya ke atas.


"Sekarang keluarlah dari kamar Papa, Papa mau berjuang sekarang !" usir Dokter Aldo kepada Sirin.


"Baiklah ! semoga Papa berhasil" Sirin mendudukkan tubuhnya, kemudian turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya keluar kamar.


Sepeninggal Sirin, Dokter Aldo naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Diana, menarik tubuh kurus itu ke dalam dekapannya.


"Putri Diana !" panggil Dokter Aldo.


Diana yang sudah bangun dari tadi pun diam saja, pura pura masih terlelap.


"Tubuhmu akan terasa pegal kalau kamu terbaring terus menerus" ucap Dokter Aldo, membalik tubuh Diana, mengarahkan punggung Diana ke arahnya. Dokter Aldo pun, memijat mijat permukaan punggung Diana.


Diana diam saja, tidak di pungkiri, ia sangat menikmati pijatan Dokter Aldo di punggungnya yang memang terasa pegal.


.


.


Yang minta visual Dokter Aldo dan Diana, ini othor kasi, semoga cocok ya !. Othor nyarinya sudah ini.




.


.