
Pandangan Reyhan tak putus memperhatikan Yumna yang melangkah anggun ke arah dapur restoran itu. Reyhan tersenyum, wanita yang akan di nikahinya itu adalah wanita soleha.
Yumna ! kamukah wanita yang menunggu cintaku ?. Kenapa lama sekali kamu baru muncul di hadapanku. Setelah aku patah hati kepada wanita lain. batin Reyhan.
Reyhan berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu dengan langkah yang pasti. Sampai diparkiran Reyhan langsung membuka pintu mobilnya.
"Stop !"
Reyhan refleks mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil miliknya karna ada yang mencegahnya. Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah orang yang memegang pintu mobilnya. Reyhan pun mengerutkan keningnya ke arah orang yang memakai seragam restoran itu.
"Anda belum membayar minuman anda tuan !" ucap laki laki yang perkiraan usianya sebaya dengan Reyhan.
"Oh ! maaf !" Reyhan mengeluarkan dompet dari saku bagian belakang celananya, setelah membuka dompetnya, ia pun menarik tukaran uang sepuluh ribu." Kembaliannya ambil saja !" ucap Reyhan, langsung masuk ke dalam mobilnya, dan segera melajukannya meninggalkan tempat itu.
"Cih ! Kembaliannya cuma empat ribu" cibir laki laki itu. Namun Reyhan tak mendengarnya lagi." Bisa bisanya Yumna mau di jodohkan sama laki laki pelit itu"ocehnya."Aku harus bilang sama Papa, kalau calon suami Yumna itu pelit" ucapnya lagi. Berjalan masuk ke dalam restoran.
.
.
Ceklek !
Refleks Diana mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. Diana mengembangkan senyumnya, dan segera berdiri dari kursi meja rias, berjalan mendekati Dokter Aldo yang baru masuk ke kamar mereka. Diana menyalam Dokter Aldo, dan menempelkannya ke keningnya. Yang langsung di balas Dokter Aldo dengan mengecup keningnya.
Dokter Aldo merekahkan senyumnya, memandang wajah Diana dengan intens. Sungguh Dokter Aldo terpesona malam ini, melihat kecantikan Diana yang di rias dengan make up tipis. Dari alis yang di arsil dengan eyebro berwarna coklat, kelopak mata di beri eyeshadow berwarna pink dengan sedikit gliternya, di lengkapi dengan eyyeliner mempertajam lingkar matanya, bulu mata dipertebal dengan maskara, menambah keindahan mata Diana. Tulang pipi di beri sedikit sentuhan blus on berwarna pink, bibir di beri lipgloss berwarana pink juga, dan rambutnya di biarkan terurai.
Di tambah Diana memakai baju tidur berbahan satin berwarna biru muda, dengan dada bermodel terbuka, sampai menampakkan belahan dada Diana. Dan baju itu sangat pendek, hanya sampai setengah paha Diana. Membuat Dokter Aldo tak sabar untuk menggagahi tubuh kecil istrinya itu. Sepertinya sangat renyah dan gurih.
"Kamu sangat cantik Darling !, tunggu Om membersihkan diri dulu sebentar" ucap Dokter Aldo, setelah puas memperhatikan penampilan Diana.
Diana menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu malu. Diana pun mengambil tas dan almatera Dokter Aldo dari tangannya, untuk menyimpannya. Kemudian mengambil sepatu Dokter Aldo yang baru di bukanya, dan menyimpannya di tempat biasa menyimpannya.
Setelah menyiapkan pakaian santai untuk Dokter Aldo. Diana mendudukan tubuhnya di pinggir kasur, menunggu Dokter Aldo selesai mandi. Tentu dengan jantung yang berdetak tak karuan. Malam ini Diana akan memberikan tubuhnya kepada Papa dari sahabatnya itu. Diana menggigit bibir bawahnya, meyakinkan dirinya akan menjadi milik Dokter Aldo seutuhnya malam ini.
Tidak terlalu lama menunggu, pintu kamar mandi itu pun terbuka, refleks Diana menoleh. Nampak Dokter Aldo keluar dari dalam hanya menggunakan handuk di lilit di pinggang.
Diana menelan air ludahnya dengan bersusah payah, detang jantungnya semakin berdetak kencang, menunggu detik detik Dokter Aldo akan merubah statusnya dari gadis menjadi seorang wanita. Diana melihat dada Dokter Aldo yang begitu berotot dan di tumbuhi bulu bulu. Di tabah lagi perut Dokter Aldo yang terlihat kotak kotak. Meski tak muda lagi, namun tubuh Dokter Aldo terlihat sangat gagah. Membuat Diana semakin menggigit bibir bawahnya, karna otak kotornya sudah traveling ke bawah tubuh Dokter Aldo.
Dokter Aldo yang sudah berada tepat berdiri di depan Diana tersenyum. Ia tau gadisnya itu sedang gugub. Dokter Aldo membungkukkan tubuhnya, mencium ujung kepala Diana. Sontak menyadarkan Diana dari lamunannya, Diana mendongakkan kepalanya ke wajah Dokter Aldo yang menatap wajahnya.
Dokter Aldo meraih dagu Diana, lalu mengecup bibir Diana kilas. Dokter Aldo mendudukkan tubunya di samping Diana. Kemudian menangkuap wajah Diana dengan kedua telapak tangannya, kembali mencium kening Diana cukup lama, refleks Diana memejamkan matanya. Ciuman itu pun turun mengabsen kedua kelopak mata indah Diana, turun lagi mencium kedua pipi Diana, berpindah ke ujung hidung, dan terakhir menempelkan bibirnya ke bibir Diana.
"Om mencintaimu Putri Diana !" ucap Dokter Aldo, mencium kembali bibir Diana. Menciumnya mesra, perlahan tapi pasti. Diana pun menyambut ciuman Dokter Aldo dengan tidak kalah mesranya. Ciuman itu pun semakin dalam, lidah mereka saling membelit, saling menyesap bergantian, sehingga menimbulkan suara decapan yang bersahut sahutan di dalam kamar itu.
Dokter Aldo melepas pagutan mereka, memandang wajah Diana dengan tatapan berkabut gairah. Begitu juga dengan Diana, menatap Dokter Aldo tidak kalah bergairah dan mendamba. Dokter Aldo meneduhkan pandangan, kembali mencium bibir Diana, langsung di balas Diana.
Ciuman bibir itu berlangsung cukup lama. Dokter Aldo perlahan menjulurkan tangannya ke leher belakang Diana, mencengkram rambut Diana dari belakang, sehingga wajah Diana mendongak ke atas. Perlahan Dokter Aldo pun menurunkan ciumannya ke leher jenjang Diana, menyapunya dengan lidah basah dan hangatnya, di iringi dengan sapuan bulu bulu diwajahnya. Membuat Diana mabuk kepanyang, tanpa sadar mengeluarkan suara falsetnya. Tidak sampai di situ, Dokter Aldo juga mencium telinganya sampai basah, Membuat Diana semakin melenguh dan mendesah panjang.
Dokter Aldo tersenyum, melihat Diana sudah mulai terhayut dalam permaiannya. Dokter Aldo melepas ciumannya, dan membuka kain yang melekat di tubuh Diana hingga tak tersisa.
Tanpa membaringkan tubuh Diana, Dokter Aldo mengabsen setiap inci tubuh Diana dengan tangan dan bibirnya tanpa ada yang terlewatkan.
"Om !!!" teriak Diana, saat tubuhnya menegang, karna ulah tangan Dokter Aldo di bagian tersembunyi tubuhnya.
"Panggil namaku Diana!" ucap Dokter Aldo dengan suara beratnya, tak ingin Diana memanggilnya Om lagi.
"Aldo...!!! ah !!!, aku mencintaimu Aldo..!!!" teriak Diana, saat surga Dunia itu ia dapatkan.
Dokter Aldo langsung membaringkan tubuh Diana ke kasur. Tak ingin buru buru, Dokter Aldo masih ingin terus memberikan Diana kenikmatan dengan cara yang istimewa ke tubuh bagaian tersembunyi Diana.
"Aldo..!!! aku gak tahan lagi..!!!" teriak Diana, hampir menangis, karna terlalu merasakan nikmat.
Dokter Aldo menghiraukannya, ia terus menyalurkan rasa cintanya kepada Diana. Ia ingin membuat Diana benar benar puas.
"Aldo...!!!" Diana menggeliat geliatkan tubuhnya tak karuan, sambil tangannya meremas kuat rambut Dokter Aldo.
Ini terlalu nikmat!, batin Diana.
Sampai Diana mendapatkan kenikmatan untuk yang ke dua kali, barulah Dokter Aldo menghentikan ciumannya. di lihatnya tubuh Diana sudah mulai berkeringat. Nampak napas Diana memburu, dilihat dari dadanya yang naik turun, Tubuhnya pun lemah tak berdaya.
Dokter Aldo melepas handuk yang melilit di pinggangnya melemparnya ke sembarang arah. Dokter Aldo mengambil kedua kaki Diana, lalu menciumnya bergantian. Jantuk Dokter Aldo berdebar, hatinya bergetar. Sekarang gilirannya untuk mencari kenikmatannya, kenikmatan yang sudah lama tidak dapatkan. Mata Dokter Aldo berkaca kaca, dengan perlahan ia pun merangkak di atas Diana, mengecup kening Diana lalu berbisik.
"Tahan ya !, aku akan melakukannya dengan pelan."
Diana meringis kesakitan saat benda tumpul milik Dokter Aldo, perlahan menerobos tubuhnya." Sakit Aldo !"
"Sabar ya !" ucap Dokter Aldo lembut, mengecup kening Diana dan mengusap usap kepalanya.
"Sakit..!" ringis Diana lagi, air matanya pun luruh dari sudut matanya.
"Tahan sayang !, nanti tidak akan sakit lagi, sabar ya ! sebentar lagi" bujuk Dokter Aldo.
"Sakit...! Huaaaaa......!!!" tangis Diana Akhirnya, membuat Dokter Aldo tak tega, dan berhenti mendorong tubuhnya.
"Maaf sayang !, sssstttt.....!"Dokter Aldo menghapus cairan bening yang mengalir dari sudut mata Diana, kemudian mengecup kedua mata itu bergantian." Tahan ya !, sedikit lagi !" bujuk Dokter Aldo.
"Sakit ! Diana gak mau lagi...huaaaa....!" tangis Diana.
"Jangan dong sayang !, tahan sedikit lagi, selesai nanti gak sakit lagi kok !" bujuk Dokter Aldo, mengusap ngusap kepala Diana.
"Sakit...!"
"Iya sayang ! Om tau, makanya Om pelan pelan. Di tahan ya !, sedikit lagi sayang !."
Dokter Aldo pun mendorong tubunya, membiarkan Diana menangis.
"Sakiiiit....! Huaaaa.....!!!" tangis Diana menjerit, mencengkram kuat tangan Dokter Aldo yang berada di samping tubuhnya. Saat Dokter Aldo mendorong kuat tubuhnya." Om jahat !, Om menyakiti Diana ! huaaaa.....!!."
Dokter Aldo bernapas lega, karna sudah berhasil merubah status Diana dari gadis menjadi wanita. Dokter Aldo terseyum, sambil tangannya menghapus air mata Diana yang terus mengalir dari sudut matanya.
"Om jahat !" tangis Diana memukul mukul dada Dokter Aldo dengan kedua tangannya.
"Iya Om jahat!" balas Dokter Aldo tersenyum, kemudian mengecup kening Diana.
"Om menyakiti Diana !" tangis Diana cigukan.
"Maaf sayang !" balas Dokter Aldo.
Melihat Diana mulai tenang, Dokter Aldo pun pelahan menggerakkan tubunya, mencari kenikmatan. Perlahan tapi pasti, merubah rasa sakit Diana menjadi rasa nikmat. Merubah tangisan Diana menjadi sebuah nyanyian merdu bernada nada cinta.
Malam yang panjang pun terus berlanjut, Dokter Aldo yang sudah lama menginginnya. Peluh sudah sangat membanjiri tubuh mereka berdua, dan tubuh keduanya sudah mulai lelah. Namun keduanya masih enggan untuk menyudahi permainan mereka.
Hingga akhirnya, tubuh keduanya sama sama menegang. Keduanya pun saling mengucapkan kata cinta. Saat puncak kenikmatan itu sama sama mereka dapatkan. Tubuh keduanya pun melemas, dan Dokter Aldo ambruh di atas tubuh Diana.
"Trimakasih sayang !" ucap Dokter Aldo, kemudian mengecupi seluruh wajah Diana sampai tak tersisa.
Kemudian Dokter Aldo menjatuhkan tubuhnya di samping Diana, dengan napas yang masih memburu.
Akhirnya setelah sekian lama, Dokter Aldo merasakan kembali surga Dunia itu. Bersama gadis kecil, yang pantas menjadi putrinya. Tapi bagaimana lagi, rejeki tak bagus di tolak. Dokter Aldo tidak memintanya, tapi Tuhan memberikannya begitu saja kepasanya.
Setelah menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, Dokter Aldo menarik tubuh Diana ke dalam pelukannya.
"Trimakasih Diana !, Aku sangat bahagia malam ini. Kamu sangat nikmat sayang !"ucap Dokter Aldo lagi, mengecup pipi Diana dari samping, yang masih berusaha menormalkan napasnya yang memburu.
"Kamu berhak mendapatkannya Aldo !" ucap balas Diana.
"Oh sayangku !" Dokter Aldo memindahkan kepala Diana ke atas lengannya, dan mengeratkan pelukannya. Ia sangat suka Diana memanggil namanya."Mulai sekarang jangan panggil Om lagi ya !, panggil aja namaku" ucap Dokter Aldo.
Diana melingkarkan tangannya ke perut Dokter Aldo, lalu berbicara." akan sangat tidak sopan jika di dengar orang lain. Usia kita sangat terpaut jauh."
"Jadi istriku ini mau memanggilku apa ?, aku tidak suka di panggil Om lagi, aku sangat suka, kamu memanggil namaku" tanya Dokter Aldo.
Diana diam sambil berpikir," bagaimana kalau aku memanggilmu By aja ?" ujar Diana.
"Kok By ?"
"Singkatan Hubby atau habyby" jawab Diana tersenyum ke arah Dokter Aldo.
Dokter Aldo tersenyum, menyetujui nama panggilan Diana kepadanya."Lagi dong sayang !."
Diana tersenyum, mengangguk malu malu meong. Dokter Ado langsung berpindah ke atas tubuh Diana. Dan langsung membuat Diana bernyanyi lagu cinta dengan suara merdunya.
.
.