
Prankk !!!
"Aaa...!!!" jerit semua karyawan toko itu, kagey karna ada yang melempar batu ke dalam, sampai mengenai rak yang berbahan kaca.
Arsenio yang berada di ruangan belakang toko itu langsung bergegas keluar.
"Ada apa ?" tanya Arsenio kepada karyawannya yang sudah bersembunyi di balik meja kasir.
"Ada yang melempar batu ke dalam toko bang !" jawab karyawan wanita yang bekerja sebagai kasir itu.
Prankk !!!
Arsenio langsung berlari keluar toko mengejar orang yang melempar batu ke dalam. Arsenio yang berhasil menangkap salah satu orang yang mencari masalah itu. Langsung menarik krah bajunya. Dan melayangkan bogeman bertubi tubi ke wajahnya.
"Apa kau ingin mati ? Ha !!! beraninya kau mencari masalah denganku !."
Bukh bakh bukh bakh bukh...!
Arsenio memukuli laki laki seusianya itu sampai babak belur, tergeletak di jalan aspal.
Bukh !
"Aw !"keluh Arsenio, kaget, tiba tiba ada yang menendangnya dari belakang.
Arsenio memutar tubuhnya, melihat ada empat orang yang siapa siaga melawannya. Arsenio hanya diam, menajamkan pandangannya ke arah ke empat orang itu satu persatu, mencoba mengenali wajahnya.
"Siapa bos kalian ?" tanya Arsenio.
"Tidak ada !" jawab salah satu cowok yang berdiri siap untuk melakukan penyerangan itu.
Arsenio kembali memutar tubuhnya ke belakang, kemudian menarik orang yang sudah babak belur di pikulinya itu. Kemudian mendorongnya ke arah empat orang yang siap melakukan penyerangan kepadanya.
"Kalian berempat silahkan maju !" Arsenio menarik sebelah sudut bibirnya ke samping.
Ke empat laki laki remaja itu pun langsung maju dan menyerang Arsenio. Arsenio langsung menendang salah satunya, kemudian melayangkan tinju kepada orang yang di sampingnya. Tidak lupa kakinya sekalian menendang lawannya yang lain.
Baku hantam pun terjadi, meski Arsenio mampu melawan ke empat orang itu. Yang namanya satu lawan empat, tentu Arsenio tidak bisa menghindari serangan yang beruntun kepadanya. Sesekali tendangan dan bogeman berhasil mengenainya.
Orang orang di pasar pun tidak ada yang berani menghentikan perkelahian itu. Begitu juga karyawan toko laki laki yang bekerja di toko sembako milik Arsenio. Karna laki laki itu masih kecil. Masih anak SMP yang bekerja paru waktu.
Priiiiiiittttt.......!!!!
"Berhenti !!!"
Ke empat remaja yang menyerang Arsenio itu langsung kabur. Saat mendengar suara piluit, dan suara besar seorang pria. Sedangkan teman mereka yang terkapar, masih terbaring di atas jalan aspal, tidak bisa melarikan diri.
Arsenio melap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, dengan dada yang naik turun, bernapas ngosngosan. Kemudian menendang sekali lagi orang yang sudah babak belur yang tak sanggup melarikan diri.
"Ada apa ?, kenapa kalian berantem ?" tanya security kawasan pasar itu.
"Toko saya di lempar mereka sampai kacanya pecah !" jawab Arsenio, kemudian kembali masuk ke dalam toko miliknya.
"Maaf bang ! aku gak berani membatu !" ucap karyawan laki laki yang tubuhnya kecil dan kurus.
"Gak apa apa !" balas Arsenio." Kalian bereskan pecahan kaca itu, kalian tutup toko ini dan pulanglah. Pasti kalian trauma kejadian tadi. Besok kalian kembali bekerja seperti biasa" ucap Arsenio lagi. Melangkahkan kakinya ke ruangan belakang toko itu.
Arsenio mengambil handphon dan dompetnya yang sempat ia letakkan di atas meja, dan langsung keluar. Arsenio masuk ke dalam mobilnya, melajukannya meninggalkan toko itu. Sesekali Arsenio meringis, merasakan perih di sudut bibirnya.
Beraninya kalian menggangguku, cari mati kalian.Batin Arsenio, melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi.
Sampai di rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Arsenio langsung masuk ke gedung rumah sakit tempat Sirin di rawat. Arsenio melangkahkan kakinya ke arah lif, untuk naik ke lantai dimana Sirin di rawat inap. Sampai di depan pintu ruang perawatan Sirin, Arsenio membuka pintunya sedikit kasar, Sampai membuat orang orang di dalamnya terlonjak kaget, Arsenio masih terbawa emosi.
"Arsen ! kamu kenapa ?"tanya Mama Bunga, langsung berdiri dari tempat duduknya mendekati Arsenio yang baru masui, dengan wajah memar dan bengkak.
"Brantam lagi ?" tanya Papa Arya, lalu menghela napasnya. Anaknya itu sudah menikah sebentar lagi akan menjadi Ayah, masih saja belum berobah, masih suka berkelahi.
"Orang yang memulainya duluan Pa !, ada orang yang menyerang toko dengan melemparnya dengan batu. Jelas Arsen marah" jawab Arsenio.
"Arsen ! apa anak SMA TUNAS BANGSA itu lagi ?" tanya Sirin. Ia sudah mengenal semua musuh musuh Arsenio.
"Gak tau ! aku belum pernah melihat mereka sebelumnya" jawab Arsenio, memegangi wajahnya yang terasa kaku dan berdenyut.
"Ya ampun sayang ! kamu itu kenapa selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan ?. Lihatlah wajahmu sudah tak tampan lagi kalau seperti ini" Mama Bunga menarik Arsenio ke arah sofa, menyuruhnya duduk.
"Orion ! ambilin es batu dulu, biar wajah adikmu mama kompres" susuh ratu sejagat kepada anak sulungnya yang tidur di atas sofa.
"Orion lagi tidur Ma !" guman Orion.
"Mana ada orang tidur bisa bicara, ayo cepat ambil !" galak ratu sejagat.
Kalau sudah seperti itu, Orion terpasa bangun dari sofa, berjalan ke arah kulkas yang ada di ruangan itu. Mengambil es batu dari dalam freezer. Kemudian membawanya ke arah mama Bunga dan Arsenio, dan langsung menempelkan batu es di tangannya ke wajah Arsenio dengan kasar.
"Sakit bang Orion !!!" pekik Arsenio.
"Makanya kalau mau lulus jadi preman, belajar dong sama abang!"ucap Orion.
"Cih ! belajar jadi pecundang, bisanya melawan musuh dengan menyuruh orang. Apa itu gak buang buang uang ?. Gak jentel !" cibir Arsenio.
"Cih ! gaya kalian aja sok jagoan. Kemarin di dalam pesawat kalian ciut takut mati" balas Papa Arya mencibir kedua anakanya.
"Kami kan masih muda Pa ! wajar dong takut mati. Kami belum bosan urusan pribadi" sahut Orion, kembali membaringkan tubuhnya di sofa kosong sebelahnya.
Mama Bunga pun mengompres luka memar di pipi Arsenio dengan pelan pelan, dengan penuh kasih sayang.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah, tidak bagus sering sering berantem" ucap Mama Bunga lembut.
"Bukan Arsen yang duluan Ma !. Arsen gak pernah duluan cari masalah sama orang Ma !. Masa Arsen diam aja, kalau ada orang yang mengganggu Arsen ?" balas Arsenio.
"Gak usah di ladeni, menjauh aja" ucap Mama Bunga.
"Meski Arsen di tonjok atau di tendang orang ?. Dan tadi ada orang yang melempar toko dua kali dengan batu, sampai kaca rak barang barang pecah. Masa Arsen diam aja, mengelus dada ?."
Benar juga !, batin Mama Bunga.
.
.
Diana keluar dari ruangan Dokter Aldo, ia ingin kembali ke ruang perawatan Sirin. Diana melangkahkan kakinya ke arah lif di lantai satu rumah sakit itu. Saat hendak masuk ke dalam lif, Diana menghentikan langkahnya sebentar, kemudian melangkahkan kakinya masuk dengan kepala sedikit menunduk, karna melihat Reyhan dan Boy berada di dalam lif.
"Hai tante Diana !" sapa Reyhan tersenyum kepada Diana.
"Hai juga bang Rey !" balas Diana tersenyum hambar.
Kemudian keduanya pun saling diam, dan mendadang suasana menjadi canggung, meski ada orang lain di dalam lif itu. Sampai di lantai lima rumah sakit itu, mereka pun keluar dari dalam lif, berjalan ke arah yang sama.
"Aku senang melihatmu baik baik saja !" ucap Reyhan kepada Diana yang berjalan di depannya.
Sontak Diana memperlambat jalannya, dan menghela napasnya. Tidak di pungkiri Diana, kalau Reyhan masih ada di hatinya. Tidak mudah bagi Diana menyingkirkan nama Reyhan dari hatinya. Dan mungkin nama itu selamanya akan bertahta di hati dan di ingantannya. Karna Reyhan adalah cinta pertamanya, pengalaman pertamanya mengenal seorang laki laki.
"Bukankah aku harus berdamai dengan takdir ?. Bang Reyhan juga mengatakan itu padaku. Aku harus menerima Om Aldo" jawab Diana.
"Terkadang takdir itu memang aneh, suka mempermainkan perasaan manusia" ucap Reyhan lagi.
Diana menggigit bibir bawahnya, mendengar apa yang di katakan Reyhan.
"Apa menurut bang Reyhan pernikahanku dengan Om Aldo, adalah permainan takdir ?" tanya balik Diana.
"Bukan ! tapi hubungan kitalah yang menjadi permainan takdir" jawab Reyhan.
"Apa bang Reyhan sudah menyukai calon istri bang Reyhan ?" tanya Diana.
Reyhan tersenyum, paham dengan pertanyaan Diana. Yang sebenarnya mempertanyakan posisinya sendiri di hati Reyhan.
"Aku menyuakainya dan akan mencintainya" jawab Reyhan." Bagaimana denganmu ?, apa kamu sudah mencintai Om Aldo ?" tanyanya.
"Mungkin sudah !" jawab Diana." Om Aldo sangat baik memperlakukanku, dia menyanyangiku sepenuh hatinya. Om Aldo membuatku nyaman berada di sampingnya. Dia berhasil masuk ke Duniaku, membuatku tersenyum dan tertawa. Dia berhasil masuk ke dalam hatiku, melukiskan kata rindu di dalamnya. Dia berhasil mencuri hatiku, membuatku kehilangan jika tak bersamanya."
"Apa itu artinya aku sudah tak ada di hatimu ?" tanya Reyhan lagi.
"Bang Reyhan pernah menjadi bagaian dalam kisah hidupku. Mungkin selamanya itu takkan terhapus dari hati dan pikiranku, bang Rey. Kamu adalah kenangan indah dalam hidupku, mengukir kisah cinta di masa remajaku. Kamu akan tetap tersimpan rapi di hati ini, sebagai masa laluku" jawab Diana, menatap Reyhan sebentar yang berjalan di sampingnya, dengan mata berkaca kaca.
"Aku pun akan menyimpan rapi namamu di hati ini, sebagai kenangan indah dihidupku. Sebagai orang pertama yang menerima cintaku" balas Reyhan." Semoga masa lalu kita, tidak menjadi mala petaka dikemudian hari" ucap Reyhan lagi tersenyum.
"Aku yang kawatir, bang Reyhan menghabisi Om Aldo, karna sudah merebutku darimu" balas Diana.
"Aku sudah mendapatkan gantimu, aku tak perlu melakukan itu" ucap Reyhan.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai pernikahan bang Reyhan nanti. Aku turut senang, mendengar bang Reyhan akan menikah."
"Trimakasih !, kamu juga selalulah berbahagia. Om Aldo pria yang baik, aku sangat tau itu."
Diana pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah Reyhan. Kemudian membuka pintu perwatan Sirin dan langsung masuk di ikuti Reyhan yang menggendong Boy yang ketiduran di pundaknya.
"Wah ! sepasang mantan kekasih sama sama datang !, mencurigakan" ucap Orion, melihat Diana dan Reyhan datang bersama.
"Ini anakmu !" Reyhan meletakkan Boy ke atas pangkuan Orion." Bang Orio dan Queen bebas terbang kemana mana. Boy kalian tinggalkan dari tadi. Dia sangat menyebalkan, dan terus mengganggu pekerjaanku" cetus Reghan. Mendudukkan tubuhnya di samping ratu sejagat, bergelayut manja di lengannya, sambil tangannya mengelus elus perutnya.
Sedangkan Diana, Ia mendekati Sirin dan Queen yang sama sama berbaring di atas brankar, sama sama sibuk bermain handphon.
.
.
# **Menurut kalian kebanyakan pemeran gak novel ini ?.
#Kok menurut othor lama kelamaan, jadi kaya sinetron ya ?.
#Maklumi lah ya !, kalau ceritanya antah berantah. Sebenarnya othor ini bukanlah penulis. Othor hanyalah seorang emak emak yang halunya ketinggian, dan gak punya kerjaan. Othor pun menulis cerita ini hanya sekedar membunuh kebosanan, menunggu suami pulang kerja. Dari pada othor ngerumpi ame tetangga yang pasti nambah dosa, karna mulut othor terkadang suka gibah. Mending othor ngehalu ria membuat hiburan untuk para pecinta baca. Betul gak readers ?
#Ayo yang mau ceritanya masih ingin lanjut ?, mana jemponya ?. Kasih semangat othor dong !. udah kapalan nih jempol tangan, ngetik tiga ribuan kata perhari di layar HaPe.ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜**