
Sore hari Dokter Aldo datang keruang perawatan Sirin. Dokter Aldo membuka pintunya tanpa mengetoknya terlebih dahulu, dan langsung masuk berjalan ke arah brankar. Dokter Aldo pun mengecup kening Diana dan Sirin bergantian yang duduk di atas brankar. Kemudian mengusap kepala Queen dengan sayang.
"Gimana keadaan putri Papa ?" tany Dokter Aldo, sambil mengecek kesehatan Sirin.
"Sudah baikan Pah !, Sirin pulang aja ya Pa !" jawab Sirin.
Dokter Aldo tersenyum, mengusap kepala Sirin." Tapi putri Papa ini janji, gak sakit seperti ini lagi. Gak berpikir yang macam macam, dan harus menjaga kesehatan dan pola makan yang sehat" ucapnya.
"Iya Pah !" balas Sirin.
Dokter Aldo menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Siri. Kemudian mencium kening Sirin lama, tak terasa air mata Dokter Aldo mengalir dari sudut matanya. Tak sanggup melihat perasaan putrinya yang hancur, karna perbuatan Shasa mantan istrinya.
"Maafin Papa nak !, Papa sudah membuatmu kecewa dan bersedih seperti ini" ucap Dokter Aldo kepada Sirin, setelah melepas ciumannya.
"Papa adalah Papa yang baik untuk Sirin. Papa tidak salah, dan Sirin tidak menyalahkan Papa. Hanya saja Sirin terkadang masih shok dengan keadaan sekarang. Sirin tau Papa selama ini menderita dengan sikap Mama. Sirin tau selama ini Papa mengorbankan perasaan Papa demi kebahagiaan Sirin dan bang Ghissam. Sekarang Papa tak perlu melakukannya lagi, sudah saatnya Papa memikirkan kebahagiaan Papa bersama Mama kecil" balas Sirin tersenyum, meski air mata membanjiri Pipinya.
"Trimakasih sayang !, tapi kamu juga harus bahagia. Jangan trus berlarut larut dalam kesedihan. Kamu juga kebahagiaan Papa, kesayangan Papa. Papa juga tidak bisa bahagia, jika melihat putri Papa tidak bahagia."
Dokter Aldo pun memeluk erat tubuh putri kesayangannya itu.
"Maaf ! sudah membuat Papa kawatir. Sirin janji akan mengontrol emosi Sirin Pa. Sirin janji tidak akan membuat Papa bersedih lagi." tangis Sirin membalas pelukan Dokter Aldo.
Queen, Diana, Mama Bunga, Papa Arya, Orion, Arsenio, dan Reyhan pun, ikut merasakan kesedihan anak dan Ayah itu.
Arsenio pun berdiri dari sofa, berjalan ke arah brankar, mengambil Sirin dari pelukan Dokter Aldo, membawanya ke pelukannya.
Begitu pun dengan Diana, menarik Dokter Aldo ke dalam pelukannya, mengusap punggung Dokter Aldo dari belakang, dan mengecup ujung kepala laki laki yang tidak bisa menyembunyikan kelemahannya lagi.
"Sssttt....!" Arsenio menepis cairan bening yang mengalir di pipi istrinya, kemudian mencium keningnya." Aku berjanji akan membahagiakanmu Sirin, berusaha tak membuatmu bersedih" ucap Arsenio, mengerti dengan apa yang membebani hati istrinya itu.
Mama Bunga pun berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah brankar. Mama Bunga pun mengelus lengan Dokter Aldo dan Sirin bersamaan.
"Sudah sudah sudah ! kalian jangan menangis lahi. Kalian membuat sedih semua orang di ruangan ini. kalian ingat, kalian tidak sendirian dalam menghadapi masalah" ucap Mama Bunga." Aldo ! apa yang kamu sedihkan sekarang ?, sudah ada Diana di sampingmu" ucap Mama Bunga lagi.
Mama Bunga pun mengusap kepala Sirin yang berada di dekapan Arsenio." Ambil hikmah sayang !, Jangan bersedih lagi, bukankah dengan kejadian itu, membuat Shasa Ibumu berobah lebih baik?. Dan Papamu mendapat kebahagiaannya, meski bukan bersama Ibumu Shasa"ucapnya.
Sirin masih menangis pilu di dalam pelukan Arsenio. Hati anak yang mana yang tak menginginkan orang tuanya bahagia ?. Mengiginkan orang tua kandungnya bisa hidup bersama selamanya dalam ikatan cinta.
" Uuuu..u..u..u..!!! uhuk uhuk uhuk Oek oek oek !."Siri menangis sampai terbatuk batuk dan muntah, mengenai bajunya dan Arsenio. Makanan yang di makannya tadi keluar semua dari dalam perutnya.
Meski Sirin senang melihat Papanya bahagia sekarang dengan istri barunya. Tapi hati Kecil Sirin pasti lebih sedih, karna kedua orang tuanya tak bisa bersatu lagi.
"Sayang..!" lirih Arsenio, membersihkan mulut Sirin dengan tissu.
"Sayang ! minum dulu !" ucap Mama Bunga, memberikan Sirin minum air kemasan botol dengan menggunakan sedotan. Sirin pun langsung meminumnya.
Tambah sakitlah hati Dokter Aldo melihat putri kesayangannya menangis pilu. Kenapa Shasa mantan istrinya dulu tidak memikirkan dampak terhadap anak anak mereka sebelum bertindak.
"Sudah menangisnya sayang !, nanti kamu muntah lagi. Ingat ! kamu sedang hamil, tidak bagus untuk kesehatan bayi kalian. Tenangkanlah hati dan pikiranmu sayang, semua yang terjadi itu adalah takdir" ucap Mama Bunga, sambil tangannya mengusap usap kapala Sirin yang masih menangis cigukan.
"Ayo Arsen ! bawa Sirin ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, biar kita pulang" suruh mama Bunga kepada anak ke empatnya itu.
"Iya Ma !" patuh Arsen langsung menggendong tubuh Sirin, membawanya masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Arsenio langsung membuka semua pakaian Sirin, dan kemudian membuka baju atasannya menarohnya ke dalam plastik tempat baju kotor mereka. Kemudian memandikan Sirin sampai bersih.
Cup !
Arsenio menjatuhkan satu kecupan di kening Sirin, saat ia melilitkan ganduk ke tubuh badutnya itu.
"I love You badut !" ucap Arsenio tersenyum.
Sirin hanya diam saja, wajahnya nampak bersedih meski tak mengangis lagi.
Setelah selesai mengeringkan tubuh Sirin, Arsenio pun memakaikan baju ganti ke tubuh Sirin. Setelah selesai, Arsenio menggendong tubuh Siri kembali keluar dari dalam kamar mandi.
Di dalam kamar, nampak Diana dan Queen sedang membereskan barang barang Sirin dan Arsenio. Sore ini mereka semua akan pulang, karna keadaan Sirin sudah membaik.
Arsenio mendudukkan kembali Sirin ke atas brankar.
"Papa rasa kalian tidak usah kembali lagi ke kontrakan kalian" ujar Papa Arya. Sontak semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arahnya, terutama Arsenio.
Papa Arya menghela napasnya, melihat pandangan Arsenio begitu tajam ke arahnya." Dengan kondisi Sirin seperti itu, tidak bagus kalau kamu membiarkannya sendirian" ucap Papa Arya kepada Arsenio." Kalian kembalilah ke rumah, Biar Sirin ada yang menjaganya. maafkan Papa yang sudah mengusir kalian" ucap Papa Arya lagi.
"Bukankah bang Reyhan yang akan tinggal di rumah ? Bang Reyhan malah sudah membangun rumah kucing calon istrinya di belakang rumah. Dan juga, bagaimana bisa tiga kepala rumah tangga tinggal di rumah itu ?" tanya Arsenio.
"Kenapa ?, kalian sama sama anak anak Papa. Hak kalian sama di rumah itu. Papa dan Mama kalian lebih senang kalau kalian tinggal di dekat kami semua. Kalau perlu, kita bangun saja rumah itu menjadi delapan lantai. Satu lantai satu kepala rumah tangga" jawab Papa Arya, menaikkan satu alisnya ke atas.
"Ide bagus Pah !, kita buat aja rumah itu seperti apartemen" sambung Reyhan.
"Kalau Orion sih setuju setuju saja !, tapi masalahnya sekarang, Orion gak punya dana" timpal Orion, sambil tangannya mengelus elus perut Queen yang dudul bersandar di dadanya.
"Buat dana kampus" jawab Orion.
"Sahammu ?" tanya Reyhan lagi.
"Tidak jadi di ambil"
"Hasilnya ?"
"Di tabung"
"Tabungan kelapa sawit ?"
"Bianya hidupku dan Queen"
"Penghasilan counter ?"
Orion memutar bola matanya jengah, kenapa adiknya itu pengen tau kemana semua uangnya.
"Buat Queen" jawabnya malas.
"Iya Arsen !, kalian tidak boleh lagi tinggal di kontrakan. Kalian harus tinggal di rumah, Kalau kamu tidak mau, biar Sirin aja yang tinggal sama mama. Dan kamu tinggal sendirian di kontarakan" ujar Mama Bunga, setuju dengan apa yang di katakan suaminya. Kawatir dengan kondisi Sirin yang terguncang.
Arsenio menghela napasnya pasrah, melihat kondisi Sirin, di tambah ia yang sangat sibuk dan jarang di rumah. Arsenio tidak bisa memasang keras kepalanya lagi, demi kebaikan istrinya.
"Ya sudah ! ayo kita pulang sekarang !" ajak Mama Bunga, berdiri dari tempat duduknya, yang langsung di ikuti Papa Arya dan yang lainnya. Mereka semua pun keluar dari ruang perawatan itu.
Jika keluarga Alfarizqi pulang ke rumah mereka. Dokter Aldo dan Diana pergi ke ruangan khusus Dokter Aldo.
.
.
Hari pun berlalu
Hari ini keluarga besar Alfarizqi akan berangkat ke kota B. Karna besok adalah hari pernikahan Reyhan dan Yumna akan dilaksanankan. Mereka semua pun memutuskan tetap akan naik pesawat. Meski masih merasa sedikit trauma dengan pesawat yang di naiki Papa Arya dan ketiga anaknya, hampir naas.
"Kalau semua sudah siap, ayo kita berangkat. Reyhan pastikan cincin kawinnya jangan sampai ketinggalan. Ayo periksa lagi barang bawaanmu. Seperangkat alat shalat untuk mahar Yumna, sudah di masukin koper belum ?" tanya Mama Bunga memastikan.
"Sudah Ma !, sudah tidak ada yang tinggal !" jawab Reyhan.
"Ya sudah ! ayo !" ajak Mama Bunga, melangkahkan kakinya keluar rumah, menghampiri suaminya yang sedang memasukkan koper mereka ke dalam bagasi mobil.
Ke enam anak mereka dan kedua menantu mereka pun keluar dari dalam rumah. Dan jangan lupakan Boy cucu pertama keluarga itu. Dia sudah berada di gendongan paman Elangnya.Mereka pun masuk ke dalam ke tiga mobil yang akan mengantar mereke ke bandara.
Tiba di bandara, di sana sudah ada Rania dan David suami beserta anak anaknya. Kakek Fariq dan Mama Indah, dan Sofia dan suaminya Andre beserta anak anak mereka. Tidak ketinggalan paran sahabat ratu sejagat, siapa lagi kalau bukan Mama Vani dan Papa Gandi, Tari dan Leo, Dokter Aldo dan Diana, beserta para penerus penerusnya.
Setelah mendengar pengumuman pesawat yang akan mereka tompangi bergema di penjuri bandara. Mereka semua pun masuk ke dalam bandara melakukan bording pas, dan langsung berjalan masuk ke dalam pesawat.
.
.
waktu berlalu
Hari ini adalah hari pernikahan Reyhan akan di laksanakan. Reyhan yang berada di salah satu kamar hotel akan berlangsungnya acara, sudah rapi dengan pakaian pengantinnya berwarna serba putih.
"Ma..!" tangis Reyhan, memeluk sang ibunda tercinta.
"Jangan menangis sayang !, hari ini adalah hari bahagiamu. Hari akan di mulainya hidup barumu" ucap Mama Bunga, mengusap kepala anak manjanya itu.
"Do'akan Reyhan ya Ma !"
"Pasti sayang !, sudah ! janga menangis lagi, kita harus segera ke aula. Sebentar lagi acaranya akan di mulai" ucap Mama Bunga lagi.
Setelah Reyhan melepas pelukannya, Mama bunga pun menghapus air mata Reyhan.
Reyhan berpindah memeluk Papa Arya yang berdiri di samping ratu sejagat. papa Arya langsung membalas pelukan anak keduanya itu denga rasa haru. Anak yang manjanya sama sepertinya dulu kepasa mendiang nenek Marni.
"Pa...!" tangis Reyhan kembali.
"Jadilah suami yang bertanggung jawab Dunia dan akhirat nak !. Karna istri itu juga adalah titipan Allah kepada seorang suami" ucap Papa Arya, menepuk pelan bahu Reyhan.
"Iya Pah !" balas Reyhan, melepas pelukannya, kemudian menghapus air matanya.
"Ayo sayang ! acara akan segera di mulai" ajak Mama Bunga, melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar hotel itu, di ikuti Reyhan dan Papa Arya dari belakang.
.
.