
"Ternyata Paman Ali belum meninggal" ucap Papa Arya.
Mama Bunga pun menajamkan pandangannya ke arah orang yang berada di dalam vidio.
"Dari mana kamu mendapat vidio ini Aaryan ?" tanya Mama Bunga.
"Aku menyuruh orang mengikuti Naysila" jawab Papa Arya mengela napasnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Aaryan ?. Dan trus kalau Paman Ali belum meninggal, lantas yang menikahkan Elang dengan Naysila siapa ?. Dan surat yang kemarin itu..?."
"Elang sudah di tipu Naysila !, dan mencoba menipu kita" jawab Papa Arya.
"Lihat vidio itu !" Papa Arya menunjukkan vidio rekaman kamera tersembunyi kepada Mama Bunga.
Di dalam vidio itu nampak Naysila masuk ke toko perhiasan yang berbahan perak, dan memesan kalung yang mirip denga kalung yang di berikan Mama Bunga kepadanya. Setelah mendapatkan kalungnya, Naysila menemui seorang kakek kakek dan memberikan sebuah kalung kepada Kakek itu. Yang ternyata Paman Ali.
"Aku tidak akan membiarkan anak itu lolos kalau anak itu benar menipu kita Aaryan !" ucap Mama Bunga.
"Sabar sayang !" Papa Arya menarik Mama Bunga untuk bersandar di dadanya.
"Maaf Aaryan !, aku sudah melakukan kesalahan !" tangis Mama Bunga, memeluk tubuh Papa Arya.
"Sssttt...! jangan menangis sayang !, gak apa apa. Itulah gunanya aku, untuk melindungimu dan anak anak kita" balas Papa Arya.
"Apa mereka ingin menguras harta kita lewat Elang ?. Dan bagaimana kita mengatakannya kepada Elang, kalau Naysila sudah menipunya ?" tanya Mama Bunga.
Papa Arya menghapus air mata Mama Bunga dengan jari tangannya." Biarkan aku yang membereskan semuanya ya !" ucapnya lembut, dan wajah Papa Arya terlihat tenang mengatakan itu.
"Kasihan Elang !" ucap Mama Bunga lagi.
"Dia pasti kuat menghadapinya" balas Papa Arya." Yuk kita keluar, dan juga sudah waktunya kita makan malam !" ajaknya, mama Bunga menganggukkan kepalanya, dan turun dari pangkuan Papa Arya. Mereka berdua pun segera keluar dari kamar, berjalan ke arah ruang makan. Di sana sudah ada Yumna dan Sirin menghidangkan makanan di meja makan. Reyhan, Bilal dan Darren, sudah duduk di kursi, siap untuk makan.
"Darren ! sana panggil bang Elangnya ke kamar !" suruh mama Bunga kepada anak ke limanya.
"Bang Elang datang Ma ?" tanya Darren, berdiri dari kursinya dan langsung melangkah.
"Iya !" jawab Mama Bunga mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki, begitu juga dengan Papa Arya.
Tak lama kemudian, Darren sudah kembali ke ruang makan, bersama Elang dan Naysila.
"Selamat malam Ma !" sapa Naysila menyalam tangan Mama Bunga.
"Selamat malam juga sayang !" balas Mama Bunga tersenyum ramah.
Kemudian Naysila beralih menyapa Papa Arya yang duduk di sebelah Mama Bunga. Naysila mengulurkan tangannya dengan kepala menunduk kepada Papa Arya.
"Se..selamat malam Paman !" gugub Naysila.
"Selamat malam nak !" balas Papa Arya menerima tangan gadis yang ternyata keponakannya itu.
Naysila mengulas senyumnya mendengar Papa Arya menyebutnya nak, dan Papa Arya menerima uluran tangannya. Itu artinya kehadirannya sudah di terima di rumah itu.
"Ayo duduklah !" ucap Papa Arya lagi.
"Trimakasih Paman !" balas Naysila.
Elang yang sudah mengembalikan Sabina kecil kepada Mama Bunga pun menarik kursi untuk Naysila, menuntun Naysila duduk. Kemudian menarik kursi untuknya duduk di samping Naysila.
Makan malam pun di mulai, tidak ada pembicaraan. Semuanya sibuk dengan makanan masing masing. Hingga membuat suasana sedikit menjadi janggung tak seperti biasanya.
Sirin yang sudah selesai makan, mengambil piring kosong di depannya, mengisinya dengan sedikit nasi dan sayur bening. Kemudian mengambil gelas kosong mengisinya dengan air putih, menarohnya di atas nampan.
"Ma ! Pa ! Sirin duluan ke kamar, mau ngasih Arsen makan !" pamit Sirin, langsung meninggalkan ruang makan yang terasa canggung itu.
"Dimana kamu dan kakekmu tinggal selama ini ?" tanya Papa Arya, setelah Papa Arya selelsai makan dan meneguk air putih di depannya.
"Si kota S Paman !" jawab Naysila, sadar kalau dialah yang di tanya Papa Arya.
"Kapan kalian pindah ke kota ini ?" tanya Papa Arya lagi.
"Sudah dua Tahun lebih Paman !" jawab Naysila menunduk. Ia merasa Papa Arya akan mengintrogasinya.
"Jadilah menantu yang baik !, dan paggil aku Papa mulai sekarang. Dan kalian tinggallah di rumah ini !" ucap Papa Arya.
Sontak semua yang berada di meja makan itu menoleh ke arahnya. Terutama Mama Bunga, Elang dan Naysila.
Papa Arya pun berdiri dari kursinya, mengambil Sabina dari gendongan istrinya lalu pergi meninggalkan meja makan, tanpa bicara apa apa lagi.
.
.
"By ! berhenti sebentar Hubby !" ucap Diana.
Dokter Aldo yang sedang melajukan kenderaannya langsung meminggirkan mobilnya, parkir di pinggir jalan.
"Ada apa sayang ?" tanya Dokter Aldo.
"Aku pengen makan itu !" tunjuk Diana ke arah penjual sate keliling.
Dokter Aldo mengangkat satu tangannya, mengacak acak ujung kepala Diana sambil tersenyum. Dokter Aldo senang karna Diana menginginkan makanan.
"Tunggu di sini, biar aku aja yang beliin" ucap Dokter Aldo.
"Satenya jangan pake lontong, Diana maunya satenya banyak, dua puluh tusuk. Trus Diana maunya di kasih kerupuk ubi, dan bihun gereng" pinta Diana tanpa berpikir sama sekali.
"Penjual satenya gak jual krupuk ubi sama mie goreng sayang !" ucap Dokter Aldo frustasi di dalam hati. Istri cabe cabeannya itu benar benar mengerjainya dan sering membuatnya susah semenjak hamil.
"Harus ada !" kekeh Diana
Ya Allah !, Batin Dokter Aldo.
"Krupuk sama mie gorengnya di suruh dimasak pembantu di rumah aja ya !" bujuk Dokter Aldo.
"Diana pengen makannya di sini !, kalau sampe di rumah gak enak !" cetus Diana, memanyunkam bibirnya.
"Si Bapaknya penjual sate keliling sayang !, dia gak bawa kuali dan kompor. Jadi dia gak bisa goreng kerupuk sama biat mie goreng" jelas Dokter Aldo, supaya Diana mengerti, kalau yang dia minta itu tak mungkin ada.
"Tapi Diana pengen makan sate pake krupuk ubi sama mie goreng !" tangis Diana tiba tiba.
"Ampuni aku ya Tuhan !" gumam Dokter Aldo.
"Kita beli satenya sama si Bapak itu. Krupuk sama mie gorengnya kita cari ke tempat lain gimana ?" tawar Dokter Aldo, mencoba mengajak kompromi kemauan istri labilnya yang lagi ngidam itu.
"Gak mau !" tangis Diana lagi.
Dokter Aldo memejamkan matanya, tubuhnya sudah lelah kerja seharian. Dan juga menggendong Diana kalau pas lagi jam istrirahat. Sekarang istrinya itu masih membuat kepalanya pusing.
"By ! jahat ! Diana mau pulang ke rumah Diana aja !" tangis Diana.
Namun Dokter Aldo diam saja pokus dengan jalan di depannya, tubuhnya sudah lelah dan terasa remuk. Ia pengen istirahat segera, Dokter Aldo sudah tidak sanggup menghadapi kemanjaan istrinya itu.
"By jahat !" marah Diana
Dokter Aldo tidak mengindahkannya.
Sampai di peralatan rumah mereka, Dokter Aldo memarkirkan mobilnya langsung ke garasi. Dokter Aldo membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.
Begitu juga dengan Diana, ia pun membuka pintu di sampingnya, dan langsung turun berlari ke arah gerbang. Yang langsung di kejar Dokter Aldo, menangkap tubuh Diana.
"Lepasin By !! Diana mau pulang ke rumah Diana. By jahat sama Diana !!!, Diana gak mau lagi sama By !!!" teriak Diana, meronta ronta do gendongan Dokter Aldo.
"Diam sayang ! nanti kamu bisa jatuh !" ucap Dokter Aldo, karna Diana meronta minta di turunkan.
"Diana gak suka lagi sama By !!!, lepasin !!!" teriak Diana lagi.
"Tapi hubbymu ini masih suka sama kamu !" ucap Dokter Aldo lembut.
"By itu tua !!, sudah jelek !!, wajahnya sudah mulai keriput !!" maki Diana.
"Gak apa apa ! yang penting istriku ini cantik !" balas Dokter Aldo lagi.
"Diana gak mau lagi sama kakek kakek !!!" teriak Diana lagi.
"Kakek kakeknya 'kan masih gagah !" balas Dokter Aldo lagi.
"Lepasin Diana !!!, Diana mau pulang ke rumah orang tua Diana. Diana gak mau tinggal di sini lagi !!!, By jahat !!!."
Diana terus meronta ronta minta di turunkan dari gendongan Dokter Aldo yang akan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Sayang ! nanti kamu jatuh !" ucap Dokter Aldo lembut.
"By jahat !" tangis Diana cigukan.
"Iya ! By jahat !, By jelek !, By tua, keriput, kakek kakek !, apa lagi ?. Hm..!, tapi pikirkan anak kita sayang !, jangan asal berlari. Bagaimana kalau tadi kamu terjatuh ?. Kamu dan anak kita bisa dalam bahaya !" cerca Dokter Aldo, gemas melihat istrinya yang kelewat manja.
"Diana pengen makan sate pake krupuk sama mie goreng !" lirih Diana menagis cigukan sambil tangannya melap air matanya.
Dokter Aldo mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, membiarkan Diana di atas pangkuannya. Dokter Aldo merapikan anak rambut Diana yang berantakan di wajahnya kebelakang.
"Bapak penjual sate keliling tadi, hanya menjual satu sayang !. Tidak mungkin Hubbymu ini menyuruh si Bapak tadi menggoreg krupuk dan membuatkan mie goreng untukmu, sedangkan si Bapak tadi tidak membawa kompor dan kuali" jelas Dokter Aldo lagi, sambil tangannya melap air mata yang membasahi wajah Diana.
"Bagaimana kalau hubbymu ini yang masak mie goreng dan krupuknya. Nanti kira bisa mencari satenya, dan memakannya di luar. Apa kamu ingin kita piknik di taman malam ini ? Hm !" tawar Dokter Aldo membujuk Diana.
"By gak pintar masak, pasti gak enak !" ucap Diana di selah selah cigukannya.
"Istriku ini 'kan bisa mengajarinya !"balas Dokter Aldo tersenyum. Ia harus memaklumi sifat istrinya yang manja dan ke kanak kanakan.
"Diana lagi malas !" ucap Diana.
"Trus bagaimana dong ?" tanya Dokter Aldo
Diana pun diam sambil berpikir,"ya udah ! Diana ajarin masaknya" pasrah Diana setelah berpikir seperkian detik.
Dokter Aldo langsung mengembangkan senyumnya, kemudian mengecup pipi Diana.
"Yuk !" ajaknya
Dokter Aldo pun berdiri dari sofa sambil menggendong Diana. Meski tubuhnya lelah, tapi tak apa, demi kedamaian hati si belahan jiwa, Dokter Aldo rela memasak mie goreng dan krupuk.
Sampai di dapur, Dokter Aldo mendudukkan Diana di samping washtapel. Lalu mengambil panci mengisinya dengan air dan meletakkannya di atas kompor sesuai intruksi dari sang ratu Putri Diana.
"Setelah airnya mendidih siram ke bihun yang berada di dalam baskom" ucap Diana." mumpung menunggu airnya mendidih, By bisa siapin bumbu bumbunya" ucapnya lagi.
"Bumbu bumbunya apa aja sayang ?" Dokter Aldo mendekati Diana, lalu mengecup bibirnya dengan tersenyum.
"Bawang merah, bawang putih, seledri, daun bawang, lada, cabe rawit, cabe merah dan penyedap rasa, semua di haluskan" jawab Diana.
"Baiklah ! sesuai perintah Ratu !" pasrah Dokter Aldo, mengambil semua bumbu masakan dari dalam kulkas.
"Pak ! saya bantu ya !" tawar pembantu rumah itu yang tiba tiba datang ke dapur.
"Gak boleh Bu !" larang Diana, berbicara dengan bibir mengerucut.
"Gak usah Bu !, nanti Ibunda ratu makin kumat !" ucap Dokter Aldo pelan kepada pembantu rumah itu.
"Kalau begitu saya permisi Pak !" pamit pembantu itu, undur diri dari sapur, melangkahkan kakinya sembari mengulum senyum.
Ratu kecil rumah itu, benar benar sudah mengerjai Dokter Aldo.
"Apa lagi yang harus hubbymu ini lakukan sayang ?" tanya Dokter Aldo, setelah selesai membuatkan bumbu.
"Goreng krupuk !" jawab Diana.
"Baiklah !"
Dokter Aldo pun langsung melakukan perintah istri kecil menyebalkannya itu. Setelah selesai menggoreng krupuk, Dokter Aldo pun menumis bumbu yang sudah di haluskannya tadi, setelah wangi, baru Dokter Aldo memasukkan mie yang sudah di tiriskan, lalu mengaduk aduknya hingga matang.
Diana yang memperhatikan Dokter Aldo dari tadi, hanya tersenyum senyum. Suaminya itu sangat baik dan penyabar, dan terlihat tampan meski sudah tak muda lagi.
Setelah semua masakan di tarok di dalam kotak makan. Dokter Aldo pun mendekati Diana yang masih duduk di samping washtapel.
"Kenapa kamu senyum senyum ?, hm..!,apa kamu senang menyiksa hubbymu ini ?." Dokter Aldo mengelipka tubuhnya di selah kedua paha Diana, dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Diana.
"Bukan aku, tapi dedek bayinya !" jawab Diana, melingkarkan kedua tangannya ke leher Dokter Aldo.
"Apa anak kita senakal itu sayang ? hm..!." gemas sekali Dokter Aldo melihat istri kecilnya itu.
"Hm..!" Diana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Apa istriku ini harus di gendong lagi supaya turun dari sini ?" tanya Dokter Aldo lagi. Diana menganggukkan kepalanya lagi.
"Baiklah !" pasrah Dokter Aldo, tak ingin mood Putri Diananya rusak lagi.
Saat Dokter Aldo akan mengangkat bokongnya, Diana langsung mencium bibir Dokter Aldo dengan mesra. Diana melepasnya kembali, kemudian tersenyum memandangi wajah Dokter Aldo.
"Nakal !" gemas Dokter Aldo menarik hidung Diana sembari tersenyum.
.
.