Brother, I Love You

Brother, I Love You
66. Aku pergi



"Oek oek oek ....!"


Ya ampun ! aku kenapa ?, kenapa tiba tiba aku mual banget. Gak mungkin 'kan aku hamil, aku baru selesai datang Bulan ?. batin Sirin, sambil mengeluarkan isi perutnya.


Setelah mualnya mereda, sirin keluar dari dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Sirin sudah rapi dengan seragam sekolahnya, ia pun keluar dari dalam kamarnya. Sampai di ruang makan, Sirin mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Sirin menghela napasnya, rumah mereka sangat sunyi, tidak ada sosok Ibu yang menemaninya sarapan lagi. Papa dan abangnya, sama sama mendapat shif malam tadi malam, dan pagi ini belum pulang.


Sirin memakan sarapan yang di siapkan pembantu di meja makan untuknya. Meski ia tak selera, Sirin tetap memakannya. Baru suapan ke tiga, Sirin merasakan perutnya mual lagi. Sirin berlari ke whastapel yang berada di dapur, memuntahkan isi perutnya di sana. Sirin merasa perutnya sangat mual, kepalanya mendadak pusing, tubuhnya melemah, rasanya ia ingin pingsan.


Dokter Aldo yang baru pulang kerja, lansung menuju dapur. Ia sengaja pulang lebih cepat dari rumah sakit, karna kebetulan tak ada pasien pagi ini. Dokter Aldo melangkahkan kakinya ke arah ruang makan. Untuk menemui Sirin yang pasti sarapan di meja makan.


"Sirin !" gegas Dokter Aldo berlari ke arah Sirin, menangkap tubuh Sirin yang hampir tumbang.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Dokter Aldo, namun Sirin sudah tak sadarkan diri. Dokter Aldo pun membopong tubuh Sirin, membawanya ke kamar.


Dokter Aldo langsung memeriksa keadaan putri kesayangannya itu. Ada apa dengan tubuh putirnya itu, sehingga tiba tiba pingsan.


Ya Tuhan !, batin Dokter Aldo.


Dokter Aldo memejamkan matanya, menengadahkan wajahnya ke atas. Kemudian Dokter Aldo mengusap wajahnya kasar.


Aku susah gagal menjaga dan mendidik putriku !, batin Dokter Aldo.


Apa yang harus ia lakukan sekarang, Putrinya Sirin di perkirakan hamil. Dokter Aldo sudah bisa menebak, Ayah dari calon cucunya itu pasti Arsenio. Dan bagaimana ia harus meminta pertanggung jawaban kepada Arsenio yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dokter Aldo memandangi wajah putrinya yang masih pingsan.


kapan kalian melakukan itu nak ?, batin Dokter Aldo. Apa putrinya dan Arsenio sudah sering melakukannya selama ini ?. Oh Tuhan !, batin Dokter Aldo, memikirkan apa yang sudah di perbuat putrinya itu.


Dokter Aldo pun membangunkan Sirin dari pingsannya, dengan mengoleskan minyak kayu putih ke ujung hidung Sirin.


Sirin perlahan mengerjapkan kelopak matanya, karna mencium mau menyengat menusuk ke rongga hidungnya. Sirin pun membuka matanya perlahan.


"Papa !" ucap Sirin,Melihat Dokter Aldo duduk di sampingnya.


"Sirin kenapa Pah ?" tanya Sirin melihat tubuhnya terbaring di atas tempat tidur, dengan memakai seragam sekolah.


"Jujur sama Papa nak !" Dokter Aldo meneduhkan tatapannya ke arah Sirin.


Sirin mengerutkan keningnya" jujur apa Pah ?" tanya balik Sirin, bingung.


Dokter Aldo menghela napasnya, dan satu tangannya terangkat mengusap kepala Sirin."Apa yang sudah kamu lakukan dengan Arsen ?."


Sirin membeku, Kenapa Papa bisa tau kalau aku sudah melakukan dengan Arsen ?. Batin Sirin


Sirin menggigit bibir bawahnya, menundukkan pandangannya.


"Kamu hamil Sirin !" ucap Dokter Aldo, menyesal sudah gagal mendidil putrinya.


Duarr !!!


Sirin yang kaget sontak mengalihkan pandangannya kembali ke arah Papanya. Aku sudah mendapat bulananku, bulan ini. Kenapa masih bisa di nyatakan aku hamil. Gak mungkin, sepertinya pemeriksaan Papa Salah. Papa bukan Dokter kandungan, pasti Papa salah diagnosa. Batin Sirin


"Ba..bagaimana bisa pah ?, Sirin baru dua hari selesai datang bulan ?" tanya Sirin gugub, sirin kembali menundukkan pandangannya.


Dokter Aldo mengusap wajahnya kasar, benar !, putrinya sudah melakukan dosa besar itu.


"Kenapa kamu tidak berpikir sebelum melakukannya Sirin ?. Sekarang Arsen masih koma, bagaimana bisa kamu meminta pertanggung jawabannya ?. Ya Tuhan !, kenapa kalian melewati batas nak ?" lirih Dokter Aldo.


Sedih, kecewa bercampur amarah menjadi satu. Sedih akan nasib putrinya ke depan, kecewa dengan apa yang sudah di perbuat putrinya dan anak sahabatnya itu, marah, entah sama siapa. Mungkin kepada Arsen yang sudah menodai putrinya, tapi tidak bisa di mintai pertanggung jawaban saat ini. Jika saja Arsen dalam keadaan sehat, mungkin Dokter Aldo sudah memberi pelajaran bocah itu sampai babak belur.


"Maafin Sirin Pah !" lirih Sirin, air mata sudah merembes dari sudut matanya.


Dokter Aldo memijat pelipisnya, kepalanya terasa pusing, memikirkan masa depan putrinya yang sudah hancur. Apa yang harus ia lakukan sekarang ?.


.


.


Queen mengeluarkan handphonnya dari saku rok seragamnya, mencoba menghubungi Siri.


"Selamat pagi anak anak !" sapa seorang guru yang masuk ke dalam kelas.


"Selamat pagi Bu..!" seru semua murid murid.


Queen menghela napasnya, terpaksa mematikan sambungan telephonnya yang belum sempat tersambung.


Apa dia sakit ?, batin Queen lagi, biasanya Sirin akan selalu memberinya kabar, jika lagi sakit atau lagi apa. Sirin pasti curhat kepadanya, jika terjadi sesuatu.


"Queen ! Sirin kok gak datang ?" bisik Diana dari belakang, sambil mencolek punggung Queen.


"Gak tau !" balas Queen berbisik.


Proses belajar mengajar pun segera di mulai, sepertinya Sirin benar benar tidak hadir.


Kemana anak itu ?, batin Queen, tidak pokus mendengarka guru yang menjelaskan pelajaran di dalam kelas, karna kepikiran Sirin sahabatnya.


.


.


Sementara itu di tempat lain, Sirin berjalan lunglai di lorong rumah sakit, menuju kamar rawat inap Arsenio. Sirin membuka pinti kamar itu, dan langsung melangkahkan kakinya masuk. Ia baru selesai USG, benar dia positif hamil, dan kandungannya sudah berusia lima minggu.


Sirin menyentuh tangan Arsenio, menggenggamnya erat, kemudian membawa tangan Arsenio menyentuh perutnya yang masih rata.


"Arsen ! bangunlah !, aku mohon demi anak kita !" lirih Sirin berurai air mata, berharap Arsenio mendengarnya dan langsung terbangun dari tidur panjangnya.


"Di sini sudah ada buah cinta kita Arsen, bangunlah !, katamu, kamu akan bertanggung jawab" ucap Sirin lagi.


"Arsen ! bangun !, Papa akan mengirimku ke rumah kakek."


Ceklek !


Pintu ruang perawatan Arsenio terbuka dari luar. Siri melihat Papanya lah yang masuk.


Dokter Aldo menghela napasnya melangkahkan kakinya mendekati Sirin yang menangis di samping brankar.


"Maafin Papa Sirin, terpaksa Papa harus mengirimmu ke rumah kakekmu untuk sementara nak !. Jika kamu tetap tinggal di sini dalam keadaan hamil tanpa suami, kamu nanti akan malu nak !" ucap Dokter Aldo, mengusap kepala Sirin yang terisak.


"Setelah anak itu lahir, kamu boleh kembali ke sini, melanjutkan sekolahmu di sini." tambah Dokter Aldo lagi.


Sirin hanya bisa menangis, meratapi nasibnya yang malang, karna kesalahannya sendiri. Yang di katakan Papanya benar !, jika dia masih tinggal di kota itu, dia pasti malu nantinya, hamil tanpa suami. Sudah pasti nanti dia akan menjadi bahan gunjingan orang orang. baik di lingkungan tempat tinggalnya ataupun di sekitar orang orang yang mengenalnya.


"Ayo nak !, jangan sampai kita terlambat sampai di bandara" ajak Dokter Aldo kepada putrinya." Sesekali nanti Papa akan mengunjungimu !" ucapnya lagi.


Sirin menghapus air matanya, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dokter Aldo.


"Pah ! bisa tinggalkan aku sebentar ?" mohon Sirin, mengiba.


Dokter Aldo menajamkan tatapannya ke wajah putrinya itu. Menatap intens wajah Sirin, apa yang akan di lakukan putrinya itu ?.


Sirin meneduhkan pandangannya, memohon, berharap Papanya mengerti." Sebentar saja Pah !."


"Baiklah !" Dokter Aldo menghela napasnya, kemudian memutar tubuhnya, melangkahkan kakinya keluar.


Sepeninggal Dokter Aldo, Sirin semakin mendekatkan tubunya ke arah Arsenio. Sirin membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Arsenio, sangat dekat, sampai bibir mereka bersentuhan. Sirin memejamkan matanya, perlahan menyapu permukaan bibir Arsenio dengan lembut, dan menyesapnya.


"Baiklah Arsen !, kita putus !. aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan mayat hidup sepertimu, dengan manusia yang tak berguna sepertimu. Dengan Orang pembohong sepertimu. Aku akan pergi Arsen, pergi jauh membawa anak ini darimu. Nanti jangan menyalahkanku, jika aku tidak memberi hak anak kita kepadamu. Aku akan memilikinya sendiri Arsen. Aku akan mencari Papa baru untuknya." ucap Sirin menangis, dengan rasa putus asa.


Sirin kembali menegakkan tubuhnya, memandangi wajah Arsenio, kemudian perlahan memutar tubuhnya, dan meninggalkan Arsenio yang tertidur pulas di atas brankar.


Aku pergi Arsen !, batin Sirin, menghapus air matanya yang tidak berhenti menangis.


"Ayo sayang !" Dokter Aldo melingkarkan satu tangannya ke leher Sirin, menuntunnya berjalan.