
"Apa Mama sama Papa boleh masuk ?" tanya Mama Bunga berdiri di depan pintu bersama Papa Arya.
"Silahkan Ma !" jawab Arsen.
Mama Bunga langsung melangkahkan kakinya masuk, dan memeluk Arsenio menagis terisak.
Arsenio pun langsung membalas pelukan Mama Bunga."Ma ! kenapa Mama menangis ?" tanya Arsenio, meski ia tau alasannya.
"Mama sangat merindukan anak Mama yang nakal ini" jawab Mama Bunga dalam tangisnya.
Arsenio berdecak," baru juga tiga hati Ma !" ucapnya.
"Menantu Mama mana ?, kita pulang ya !" Mama Bunga melepaskan pelukannya, memutar pandangannya kesekeliling. Sungguh miris, melihat tempat tinggal anak menantunya.
"Di kamar Ma !" jawab Arsenio.
Mama Bunga langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar berwarna coklat yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
" Biar Arsenio aja yang memanggilnya Ma !" cegah Arsenio, Arsenio takut, kamar mereka masih dalam keadaan berantakan.
"Kenapa ?"Mama Bunga menaikkan sebelah alisnya.
"Masa Mama masih gak paham, mereka baru selesai urusan pribadi. Gak lihat tuh Arsenio gak pakai baju, tubuhnya lengket, rambutnya acak acakkan kaya sarang burung balam yang lagi bertelor" celetuk Reyhan.
Langsung saja Mama Bunga memperhatikan anaknya itu dari atas sampai ke bawah." Anak sama Bapak sama saja genitnya" ocehnya.
Tiba tiba pintu kamar itu pun terbuka, Arsen mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar, karna Sirin sudah keluar.
"Mama ! Papa ! bang Reyhan" sapa Sirin, ternyata yang bertamu ke rumah mereka adalah kedua mertua dan kakak iparnya.
"Bagaimana kabarmu Nak ?, Kamu baik baik saja 'kan ?." Mama Bunga memeluk Sirin dan menangis kembali.
"Iya Mah ! Sirin baik kok Ma !" jawab Sirin.
"Maafin Mama sama Papa ya Nak !" ucap Mama Bunga lagi.
"Mama sama Papa tidak salah Ma !. Kami lah yang bersalah" balas Sirin dengan suara lembutnya.
Mama Bunga pun melepas pelukannya, kemudian melangkahkan kakinya Mama Bunga masuk ke dalam kamar anak dan menantunya itu. Memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan kecil itu. Miris !, hati mama Bunga sangat sedih melihat isi kamar itu. Kamar yang hanya ada kasur tipis, kipas angin kecil di gantung di langit langit kamar, lemari pakaian berbahan kain untuk gantungan baju, dan ada dua koper terletak di dinding kamar, sebagia tempat baju baju.
Tidak hanya di situ, Mama bunga keluar kamar berjalan ke arah dapur, daput yang sangat kecil. Ada kompor gas satu tungku, dengan tabung berwarna hijau, bertulisan untuk masyarakat miskin. di samping washtapel ada rak piring kecil berbahan plastik. ada gelas dua biji, piring dua biji, mangkok dua biji, dan kawan kawannya yang lain serba dua biji.
Di ruang tamu, Papa Arya yang duduk diam dari tadi di sofa bersama Reyhan. Berdiri dari tempat duduknya, mendekati Arsenio dan Sirin, dan langsung memeluk kedua anak remaja itu, dan menangis terisak.
"Papa minta maaf !" lirihnya. Mencium ujung kepala keduanya bergantian.
Sirin dan Arsenio yang berada di pelukan Papa Arya, pun ikut menangis.
"Kami yang salah Pa !" ucap Arsenio.
"Papa juga bersalah karna sudah terlalu egois" balas Papa Arya. Meski pun dia marah dan kecewa. Tentu hati kecilnya sangat merindukan anak nakalnya itu.
"Kalian ikut pulang ya !" ajak Papa Arya.
Arsenio melepaskan pelukan Papa Arya, memandang Papa wajah Papa Arya." gak Pah !" tolak Arsenio.
"Bukan begitu Pah !, biarkan aku belajar mandiri, belajar bertanggung jawab Pah !. Aku sudah berumah tangga, Sudah mempunyai tanggungan sendiri. Tidak pantas lagi aku membebani Papa" jawab Arsenio.
Begitu terharu dan kagumnya Papa Arya mendengar alasan dari Arsenio. Papa Arya tidak menyangka anak bandelnya itu, memiliki pemikiran se dewasa itu. Sekali lagi Papa Arya menarik Arsenio ke dalam pelukannya. Bangga dengan anaknya itu, anak yang sering membuatnya naik darah, dan bahkan berurusan dengan polisi karna tertangkap rajia, tauran dengan anak SMA lain. Dan sering membayar pengobatan korban orang yang di pukul Arsenio berantem sampai babak belur.
"Papa akan menghargai keputusanmu, tapi tolong jangan menolak bantuan Papa, jika benar kamu sudah memaafkan Papa" ucap Papa Arya, sembari melepas pelukannya.
Arsenio diam, dan menghela napasnya. Mendengar tawaran Papanya yang seperti memaksa.
"Papa akan memberikan kamu modal, bukalah usaha, supaya ada penunjang kehidupan kalian" ucap Papa Arya lagi.
"Arsen belum tau caranya berbisnis Pa !" tolak Arsenio secara halus.
"Ada abang abangmu yang akan mendampingimu !" ucap Papa Arya lagi.
"Iya sayang ! terimalah bantuan dari Papamu, jika kalian tidak mau kembali pulang ke rumah. Hati mama menangis melihat kehidupan kalian seperti ini. Buat apa Mama punya banyak uang, jika anak anak Mama ada yanga melarat. Itu tidak ada artinya buat Mama. Jangan buat Mama bertambah sedih Nak !" timpal Mama Bunga, membujuk anaknya.
"Apa kamu gak kasihan melihat istrimu, tidur di kasur setipis itu. Mama yakin tidur di situ pasti tidak nyaman.Terimalah demi istrimu nak !" bujuk Mama Bunga lagi, memandang wajah Arsenio dengan tatapan memohon.
Arsenio menghela napas beratnya, tidak tega melihat Mama Bunga menatapnya sendu.
"Baiklah !" pasrah Arsenio, meski rasanya ia enggan untuk menerima bantuan dari Papa Arya.
Memaafkan , ya ! Arsenio sudah memaafkan orang tauanya sebelum orang tuanya meminta maaf. Tapi yang namanya hati sudah tergores, tidak semudah itu untuk menyembuhkannya. Hati lebih sakit berkali kali lipat jika di lukai keluarga sendiri, jika di banding orang lain yang melukainya. Itulah yang di rasakan Arsenio saat ini.
Bohong ! jika dengan memaafkan, sakit hati langsung sembuh. Memaafkan hanya bisa menyambung silaturrahmi kembali, sedangkan mengiklaskan hanya bisa melapangkan dada. Dan untuk mengobati hati yang terluka, butuh waktu lama.
.
.
"Sekarang juga ceraikan Queen bang Orion !." Queen berbicara dengan merapatkan giginya, bibirnya bergetar, air matanya bercucuran.
Queen berhasil memancing Orion, supaya jujur padanya, menceritakan apa hubungannya dengan Boy dan wanita yang melahirkan Boy. Ternyata ucapan Queen untuk menerima Boy, hanyalah cara Queen untuk memancing Orion supaya jujur.
"Queen jijik, memakai laki laki bekas ****** !" decih Queen.
Orion diam, memejamkan matanya dengan menengadahkan wajahnya ke atas. kemudian Orion mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. hati Orion begitu sakit, mendengar Queen jijik kepadanya. Yang di takutkan Orion selama ini akhirnya terjadi. Queen tidak menerimanya dengan masa lalunya yang menjijikkan itu.
"Baiklah Queen !" pasrah Orion, air matanya tak kalah derasnya dari Queen. Jika Orion sendiri juga jijik dengan dirinya, bagaimana dengan orang lain." Sebelum aku menjatuhkan talak kepadamu, bolehkah aku menciummu untuk yang terakhir kalinya ?" tanya Orion.
Queen menajamkan pandangannya ke wajah Orion, diam sambil berpikir, kemudian menganggukkan kepalanya.
Dengan tangan bergetar, Orion pun megangkat kedua tangannya, menangkupkannya di kedua sisi wajah Queen. Memandangi wajah Queen dengan intens, bibir Orion bergetar menahan isak tangis. Betapa ia sangat mencintai wajah di depannya itu. Perlahan Orion pun mendekatkan wajahnya, menempelkan benda kenyal miliknya di kening gadis kecilnya itu. Kecupan itu sangat lama, setelah lepas kecupannya itu, lepas jugalah gadisnya itu dari genggamannya.
Setalah melapas ciumannya dari wajah Queen, Orion pun berdiri dari sofa yang dia duduki bersama Queen, dan menjauh.
"Abang membebaskanmu Queen !" ucap Orion, langsung pergi dari kamar itu.
Orion pun masuk ke dalam ruang kerjanya, menguncinya rapat rapat. Menjatuhkan tubuhnya ke lantai, menangis sejadi jadinya.
.
.