Brother, I Love You

Brother, I Love You
212. Wanita murahan



Hani melangkahkan kakinya, berjalan masuk ke rumah sang kakek yang masih berada di lingkungan pesantern itu. Hani ingin meminta tolong kepada Kakeknya kiayi Husen untuk menjodohkannya dengan Bilal. Namun saat Hani akan mengucap salam, ia mengurungkan niatnya saat mendengar pembicaraan Kakeknya dengan sang Umi.


"Ada seorang anak muda yang mengatakan niatnya kepada saya. Anak muda itu ingin mengkhitbah putrimu Hani. Bagaimana menurutmu Fatimah ?" tanya Kiyai Husen kepada menantunya.


"Kalau saya terserah Hani, Kiyai !" jawab Fatimah.


"Hani gak mau di jodohka Umi !. Hani sudah memiliki pilihan Hani sendiri."


Kiyai Husen dan Umi Fatimah yang kaget, pun langsung menoleh ke arah Hani yang tiba tiba saja masuk.


"Astagfirullohal azim !" Umi Fatimah mengusap dadanya." Kalau masuk rumah itu ngucap salam Hani !" tegur Umi Fatimah lembut, mengingatkan putrinya yang sudah yatim semenjak usia lima Tahun itu.


"Maaf Umi ! Kakek Kiayi !, Assalamu alaikum !" ucap Hani menundukkan kepalanya."Hani gak mau di jodohkan Kakek Kiyai, Umi !" ucap Hani lagi.


"Kakek tidak menjodohkanmu !. Kakek hanya mengatakan kepada Umi kamu, ada seorang anak muda yang berniat mengkhitbah kamu untuk di nikahinya, jika kamu setuju" terang Kiayi Husen.


"Kalau kamu tidak setuju !, ya ! Kakek akan sampaikan kepada anak muda itu, kalau kamu menolaknya" tambah Kiyai Husen lagi.


"Maaf Kakek ! Hani gak mau !" tolak Hani.


Kiyai Husen mengehela napasnya.


"Kalau kamu tidak mau, kalau begitu jangan mengganggu Ustadz Bilal lagi"tegas Kiyai Husen.


Membuat Hani tidak berani membantah.


Kiyai Husen pun berdiri dari tempat duduknya, karna sudah mendengar azhan ashar. Kiyai Husen pun berjalan ke arah pintu setelah mengucap salam.


"Hani ! sudah berapa kali Umi bilang, jangan mengganggu Ustadz Bilal. Kamu seorang perempuan, tidak bagus Nak !" Nasehat Umi Fatimah.


Hani mengerucutkan bibirnya, lalu melangkahkan kakinya mendekati Umi Fatimah, dan duduk di sampingnya.


"Ustadz Bilal ganteng ya Umi !." Hani menyandarkan kepalanya ke lengan Umi Fatimah." Gantengan mana Umi.. Abah dibanding Ustadz Bilal ?."


Umi Fatimah mengulas senyumnya, lalu menarik gemas hidung Hani." Jelas gantengan Abahmu dong ! bagi Umi !" jawabnya tersenyum.


"Ayo shalat ! waktu ashar sudah masuk !"ajak Umi Fatimah kepada putrinya.


"Hani lagi kedatangan tamu Umi. Kalau begitu, Hani balik ke asrama Umi. Assalamu alaikum !." Hani pun berdiri dari samping Uminya, setelah sempat mengecup pipi sang Umi, Hani langsung pergi.


"Sudah tiga hari Ustadz Bilal gak kelihatan, kemana dia ya ?. Apa dari kemarin Ustadz Bilal belum pulang ke pesantren ?" gumam Hani saat melintas di depan warung makan milik Bilal. Hani hanya melihat karyawannya saja yang bekerja di warung itu.


Hani pun memanyunkan bibirnya, lalu melanjutkan langkahnya pulang ke asrama putri, dengan hati bertanya tanya dimanakah si Habibi ya nurul qolby berada.


"Kenapa bibirnya di tekuk gitu ?" tanya Susi saat Hani masuk ke kamar asrama mereka.


"Ustadz Bilal gak kelihatan batang hidungnya !" jawab Hani cemberut.


Susi berdecak, sehari saja temannya itu, tidak pernah absen menyebut nama Bilal.


"Bagaimana ya caranya aku bisa mendapatkan alamat Ustadz Bilal ?. Aku ingin menyusulnnya ke rumahnya"tanya Hani yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur mengahadap atas.


"Kenapa gak minta aja sama Kiyai Husen ?" tanya balik Susi.


Hani menghela napas lemah," gak mungkinlah kakek mau ngasih" jawabnya.


"Lagian kamu itu gak ada malunya ngejar ngejar cowok !" cibir Susi.


"Cowok seperti Ustadz Bilal itu, sayang di lewatkan" balas Hani.


Susi menggeleng gelengkan kepalanya.


.


.


Darren memarkirkan mobilnya di parkiran Rumah sakit. Darren membuka pintu di sampingnya dan langsung turun membawa kotak makanan dan sekuntum Bunga mawar di atasnya. Darren melangkahkan kakinya masuk ke gedung Rumah Sakit itu, berjalan ke arah lif untuk naik ke lantai di mana Jean dan Khanza di rawat.


Sampai di depan pintu ruang perawatan Jean dan Khanza. Darren mengetuknya dan langsung membukanya sembari melangkah masuk.


"Ayah !" seru Khanza dengan wajah cerianya.


Darren tersenyum dan melangkahkan kakinya ke arah Khanza yang masih terbaring di atas brankar.


"Apa kabar putri Ayah ?" sapa Darren, kemudian mengecup kening Khanza.


"Baik Yah !" jawab Khanza." Ayah bawa apa ?" tanyanya.


Darren pun membuka kotak makanan di tangannya." Ini Ayah bawain pudding buat Khanza" ucapnya, memberikan satu cup pudding kepada Khanza.


"Wah ! rasa strawbary !" seru Khanza senang, mengambil pudding strawbery itu dari tangan Darren.


Darren pun mengacak acak ujung kepala Khanza dengan sayang. Meski Khanza bukanlah putri kandungnya, Darren sangat menyayangi anak itu. Darren sangat bersyukur, Tuhan mempertemukannya dengan anak dan Ibu itu.


Darren pun berpindah ke arah brankar sebelahnya. Darren tersenyum, melihat pujaan hatinya memanyunkan bibirnya. Sepertinya wanitanya itu sedang cemberut karna tak di sapa duluan.


"Apa kabar cinta ?" sapa Darren." ini untukmu !" ucapnya memberikan sekuntum mawar merah di tangannya kepada Jean.


"Apa seperti ini cara orang kaya mencintai wanitanya ?" tanya Jean mengambil sekuntum mawar merah itu dari tangan Darren, lalu mencium aromanya.


"Lebih dari ini !" jawab Darren mendudukkan tubuhnya di samping Jean yang masih terbaring."Cepatlah sembuh, setelah aku menikahimu, aku akan menunjukkan bagaimana caraku mencintaimu" ucap Darren tersenyum penuh arti kepada Jean.


"Asalkan Pak Darren tidak menyesal saja nantinya mencintai wanita sepertiku" ucap Jean, pokus memperhatikan bunga di tangannya.


"Jean !" tegur Darren lembut, ia tidak suka Jean berkata seperti itu. Darren mengambil tangan Jean lalu mengecupnya.


Tok tok tok !


"Jean !"


Darren langsung melepas tangan Jean dari genggamannya, dan langsung turun dari atas brankar melihat Nadia datang.


"Eh ! Pak Darren di sini !" cengir Nadia."Pak Ibu Endang, Yanto dan yang lainnya datang menjenguk Jean Pak !" ucap Nadia yang masih berdiri di pintu.


"Oh ! silahkan masuk !" balas Darren, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sofa yang ada di ruangan itu.


"Iya Pak !" ucap Nadia, lalu mengajak teman temannya masuk.


"Ada Pak Darren !" bisiknya ke telinga Ibu Endang.


"Kok bisa ?" tanya Bu Endang pelan.


"Gak tau !" jawab Nadia, lalu memberikan jalan kepada rombongannya supaya masuk ke ruang perawatan Jean.


Aduh ! bagaimana ini ?, kenapa mereka datang menjengukku pas Pak Darren ada di sini. Pasti mereka penasaran, dan bertanya tanya. Batin Jean


"Jean ! apa kabar ?, maaf ya ! kami baru bisa datang menjengukmu sekarang" sapa Bu Endang ramah kepada Jean, namun matanya melirik ke arah Darren yang duduk di sofa sambil bermain phonsel.


"Alhamdulillah sudah mulai baikan Bu Endang !" jawab Jean menerima tangan Bu Endang yang menyalamnya.


Apa hubungan Pak Bos dengan Jean ya ?. Kenapa Pak Bos bisa berada do sini ?. Tidak mungkin 'kan bos besar mau menyempatkan diri untuk menjenguk karyawan biasa di perusahaannya. Mungki jika menjenguk pun, pasti hanya sekedarnya saja. Tapi ini kelihatan Pak Bos sepertinya bukan menjenguk, tetapi menunggui. Batin Bu Endang curinga


"Cepat sembuh ya Jean !" ucap Bu Endang lagi.


Begitu juga dengan yang lainnya kecuali Nadia, mereka menyapa Jean, dan mengucapkan 'semoga cepat sembuh' dengan ramah. Tapi mata mereka melirik ke arah Darren penuh curinga.


"Selamat sore Pak Darren !" sapa Bu Endang sekedar berbasa basi kepada Direktur perusahaan tempatnya bekerja itu.


"Selamat sore juga !" balas Darren tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya, tapi terlihat berwibawa.


"Makanya Jean ! kamu itu jangan sok mandiri, sok bisa sendiri, merasa menjadi wonder women. Di ajak nikah gak mau, kamu itu butuh pendamping Jean. Khanza putrimu pasti membutuhkan sosok Ayah" ujar Yanto.


Sontak saja Darren menolehkan pandangannya ke arah Yanto. Yang di ketahuinya, hanya sebagai teman Jean. Dan ternyata Yanto menyukai Jean, dan pernah mengajak nikah.


"Iya lah ! Jean gak mau, kalau kamu yang ngajak nikah !" sela Nadia.


Nadia pun berpindah ke brankar Khanza, di ikuti Yanto.


"Baik Tante !" jawab Khanza.


"Cepat sembuh ya !, nanti kalau Khanza sembuh. Tante akan bawa Khanza jalan jalan kemana yang Khanza inginkan"tawar Nadia, kasihan melihat anak sahabatnya itu.


"Paling juga tante lagi merayu Khanza !" balas Khanza tersenyum.


Nadia berdecak," kamu itu !" ucapnya gemas menarik hidung Khanza." Buat apa aku merayumu ? Hm !, yanga ada duitku habis setiap membawamu jalan jalan" gemas Nadia lagi.


"Sakit tau Tante Nadia !" Khanza mengerucutkan bibirnya.


Jika Nadia asyik bercanda dengan Khanza. Ibu Endang dan yang lainnya sibuk mengobrol dengan Jean.Sedangkan Yanto ia diam saja, matanya selalu melirik lirik curiga ke arah Darren dan Jean bergantian.


*Aku rasa pasti mereka punya hubungan. Aku pikir Jean adalah wanita polos, ternyata aku salah. Ternyata dia wanita murahan dan matre, dan aku rasa Jean sudah melempar tubuhnya kep*ada Bos baru itu. Sehingga bos baru itu patuh kepadanya. Batin Yanto


.


.


"Almira ! kamu kenapa sayang ?, kepalamu pusing lagi ?" kawatir Reyhan, melihat Yumna yang lagi memasak, mengernyit dan memijat keningnya. Reyhan mendekati Yumna, dan langsung mematikan kompor, membawa Yumna untuk duduk ke kursi meja makan.


"Bisa gitu sih sayang ?. kita periksa ke Dokter ya !" tanya Reyhan, memijit mijit pelipis Yumna.


"Gak usah Habib !, aku baik baik aja. Mungkin karna di sini udaranya dingin, jadi sedikit agak masuk angin" tolak Yumna.


"Aku kawatir sayang !" ucap Reyhan.


"Aku gak apa apa Habib !, kalau udah minum air hangat, nanti pusingnya bisa hilang kok !" balas Yumna.


"Ya udah ! aku buatin air jahe mau !" tawar Reyhan.


Yumna menganggukkan kepalanya.


Reyhan pun berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah kompor untuk membuatkan air jahe. Setelah selesai, Reyhan membawanya ke meja makan. Meletakkan segelas air jahe di atas meja.


"Trimakasih Habib !" ucap Yumna.


"Sama sama sayangku !, cintaku !" balas Reyhan, mendudukkan kembali tubuhnya di samping Yumna, dan memijit mijit kening Yumna.


Setelah air jahenya hangat, Yumna pun meminumnya pelahan lahan sampai habis.


"Bagaimana ? sudah enakan ?"tanya Reyhan.


"Susah Habib, tapi aku gak kuat lagi untuk masak" jawab Yumna.


"Gak apa apa sayang !, biar Habib aja yang ngelanjutin masaknya" balas Reyhan." Almira mau nunggu di sini apa di kamar ?."


"Di kamar Habib !"


"Mau di gendong apa jalan sendiri ?."


"Gendong !" manja Yumna menyandarkan kepalanya ke dada bidang Reyhan.


"Manjanya istriku !" gemas Reyhan, mencium pipi Yumna.


Reyhan pun berdiri dari kursinya, kemudian mengangkat tubuh Yumna. Menggendongnya ala bridal style, membawanya ke kamar, dan meletakkannya di atas kasur dengan hati hati.


"Istirahatlah ! Habib lanjut masak dulu !" ucap Reyhan, dan langsung pergi ke dapur.


Selesai memasak, Reyhan pun membawa masakannya ke kamar. Mereka akan makan di kamar kalin ini, melihat Yumna yang sepertinya kurang enak badan. Reyhan meletakkan nampan di tangannya di atas meja nakas, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Yumna yang terbaring sambil membaca buku.


"Almira ! ayo makan !" ajak Reyhan.


"Tapi Yumna di suapin ya Habib !" ucap Yumna mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang dengan menggunakan bantal di punggungnya.


"Sesuai perintah ratu !" balas Reyhan. Istrinya itu kalau sudah mulai membaca, ya sudah lah !, buku itu akan susah lepas dari tangannya.


Reyhan pun menyuapi Yumna dengan tangannya, dan bergantian menyuapi dirinya sendiri. Sampai nasi beserta lauk pauk di piring mereka habis.


.


.


"Ocil ! tante Nora mana ?" tanya Arsi kepada Diana yang duduk di sofa ruang keluarga, yang sedang menonton tv sambil mengelus elus perutnya yang mulai membuncit.


"Di kamarnya !" jawab Diana.


"Ocil lagi nungguin Kakek ?" tanya Arsi lagi.


"Iya sayang !" jawab Diana.


"Kenapa ya Ocil, Ayah sama Mama Arsi harus tinggal di luar Negri ?" tanya Arsi dengan tatapan meneduh.


Diana pun menarik tangan Arsi supaya lebih dekat kepadanya. Kemudian membaringkan Arsi di pangkuannya." Asri kengen sama Ayah sama Mamanya ya ?" tanya Diana lembut.


Arsi menganggukkan kepalanya. Biar pun tinggal di Indonesia adalah keinginannya. Usianya masih kecil, tentu Arsi merindukan orang tua dan adiknya. Apa lagi ia sudah dua Tahun tidak bertemu keluarganya.


"Arsi ingin vc dengan Mama ?" tanya Diana lagi.


Lagi, Arsi menganggukkan kepalanya.


Diana pun mengambil HPnya dari atas meja sofa. Dan langsung melakukan panggilan ke no Sirin. Namun no yang di hubungi tidak aktif.


"Handphon Mamanya gak aktif, sepertinya Mamanya lagi sibuk. Tunggu sebentar lagi ya !" ucap Diana.


Arsi menganggukkan kepalanya lagi.


Diana pun mengusap usap kepala Arsi yang ada di pangkuannya, supaya Arsi tertidur, karna memang malam sudah menunjukkan jam sembilan.


By jam segini kok belum pulang ya?, katanya tadi akan pulang cepat. Batin Diana


Brumm !


Mendengar deru mobil di luar rumah, Diana bisa menebak kalau itu suaminya.


"Kakek sudah pulang, kita lihat yuk !" ajak Diana kepada Arsi yang hampir ketiduran.


"Arsi ngantuk Ocil" gumam Arsi, memeluk pinggang Diana.


"Ya udah ! kita tunggu Kakek di sini aja !." ucap Diana, kembali mengusap usap kepala Arsi.


Di luar rumah, Dokter Aldo turun dari dalam mobilnya. Kemudian kemudian berjalan ke arah pintu kursi penumpang depan mobilnya. Dokter Aldo membuka pintunya, kemudian membantu seorang wanita hamil keluar dari dalamnya.


"Pelan pelan sayang !" ucap Dokter Aldo.


"Iya Pah !" jawab Sirin, bersusah payah keluar dari dalam mobil, karna pergerakannya yang terbatas.


Setelah Sirin keluar, Dokter Aldo pun meraih cucu perempuannya dari baby sister yang keluar dari kursi penumpang belakang.


"Cucu Kakek udah besar !" ucap Dokter Aldo mencium pipi bocah perempuan yang berusia empat Tahun itu. Wajahnya sangat mirip dengan Arsenio, dan juga terlihat tomboy seperti sang mantan.


"Ini rumah Kakek ?" tanya Gaia menajamkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo.


"Iya sayang ! rumah Gaia juga" jawab Dokter Aldo, mengecup kembali pipi Gaia.


"Ocil ada di rumah ini ?" tanyanya lagi.


"Iya ! ayo kita cari Ocil " jawab Dokter Aldo lagi, membawa Gaia masuk ke dalam rumah.


"Arsi ! Mama kecil !" seru Sirin berjalan ke arah ruang tamu.


"Mama !" kaget Arsi langsung bangun dan berlari ke arah Sirin.


.


.