Brother, I Love You

Brother, I Love You
232. Rujuk



Bilal duduk termenung di teras balkon kamarnya. Bilal menengadahkan wajahnya ke arah langit yang bertabur bintang.


Papa ! Mama ! Bilal harus bagaimana ?. Siapa yang lebih Bilal utamakan ?. Bilal Bingung Pah !. Hati Bilal lebih cenderung memilih Hani. Tapi Annisa tidak mengijinkan Bilal menikahi wanita lain Pah !. Dia ingin Bilal rujuk dengan Ibunya Pah !. Batin Bilal, berharap di antara bintang bintang yang bertebaran di langit itu, ada kedua orang tuanya yang sudah tiada.


Bilal meneteskan air matanya, hatinya gundah dan dilema. Kenapa begitu rumit kisah cintanya. Dulu keluarga Hani lah yang menolak lamarannya. Setelah puluhan Tahun, Tuhan seperti memberinya kesempatan untuk meraih cinta pertamanya. Tapi di kesempatan sekarang, putrinya sendirilah yang menjadi penghalangnya.


Ya Tuhan ! jika memang jodoh !, mudahkan urusannya ya Rob !. Jika bukan, ikhlaskan hati ini !, tutup perasaan ini untuk berhenti mencintai seorang Hani !. Batin Bilal lagi


Malam ini, Bilal pun memutuskan untuk melakukan shalat malam, untuk meminta petunjuk kepada Ilahi robby.


.


.


Esok harinya, Bilal mengunjungi rumah abangnya Orion. Ia ingin meminta masukan, atau pendapat dari abang dan kakak iparnya. Mungkin dengan bercerita dengan orang tertua dari keluarga mereka itu. Bilal mendapatkan jawaban dari doanya, atau setidaknya ia mendapat pencerahan hati dari abang dan kakak iparnya.


"Wah pak Ustadz datang !" ucap Orion tersenyum melihat adiknya yang terkenal tampan luar dalam itu datang mengunjungi rumahnya.


Orion pun mendudukkan tubuhnya di samping Bilal yang duduk di sofa ruang tamu. Orion menepuk nepuk bahu Bilal, ia begitu mengagumi kesolehan adiknya itu.


"Ada apa Ustadz kemari ?" tanya Orion.


Kini usianya sudah sangat tua, kepalanya sudah memutih di usianya yang mencapai 69 Tahun.


Bilal menghela napasnya pelan, bingung harus mulai bercerita dari mana." Bilal bingung Bag !" ucapnya.


"Bingung kenapa ?" Orion mengerutkan keningnya ke arah Bilal. kenapa adiknya itu bisa bingung, bukankah adiknya itu orang yang bijak dalam menasehati orang ?.


"Bilal ingin menikah lagi dengan wanita lain, tapi Annisa tidak mengijinkannya, malah dia berharap aku rujuk dengan Aqeela"jawab Bilal.


Orion terseyum, rupanya adiknya yang soleh itu lagi gundah hatinya karna cinta." Wanita yang mana yang sudah berhasil mencuri hati seorang Bilal Albiruni Aaryan Putra Alfarizqi ini ?." Orion menepuk pelan bahu adiknya itu. Nama adiknya itu panjang sekali, sampai lima suku kata.


"Hani !" jawab Bilal


"Hani ?" ulang Orion


"Ummu Hani !, gadis dulu yang selalu menggangguku di pesantren" jelas Bilal.


Orion mengerutkan keningnya.


"Seminggu yang lalu aku ke persantren, aku bertemu dengannya di sana. Kata abangnya Ustadz Amar dan Ustadz Ikbal. Semenjak kematian suaminya, Hani masih menjadi seorang janda." Bilal menjeda kalimatnya sebentar, kemudian lanjut bicara lagi." Hatiku terketuk kembali setelah bertemu dengannya. Aku rasa, aku mencintainya kembali. Makanya aku ingin melamarnya kembali. Tapi Annisa tidak mengijinkanku menikah dengan wanita lain" lanjut Bilal


Orion menghela napasnya menyimak cerita adiknya itu. Sungguh rumit memang, jika urusan cinta, di tantang oleh anak sendiri.


"Bagaimana dengan Aqeela ? apa dia sudah setuju kamu ajak rujuk?" tanya Orion.


Bilal menggelengkan kepalanya.


"Saran abang saja, utamakanlah kebahagiaan anak anakmu. Rujuklah dengan Aqeela, perbaiki semuanya, abang rasa tidak sulit untuk kalian memulai hidup baru. Abang rasa kalian masih saling mencintai" usul Orion.


"Kita sebagai orang tua, tidak ada yang lebih penting dari anak anak. Perasaan kita, kebahagiaan kita itu, bahkan menjadi no dua. Karna kebahagiaan kita ada pada anak anak kita." Orion menjeda kalimatnya, kemudian bicara lagi." Lain cerita jika Aqeela menolaknya !" ucapnya tersenyum.


"Kenapa harus mengajak Aqeela rujuk ?. Bukankah dia sendiri yang meminta cerai dari Bilal. Kalau sudah cerai, itu artinya bebas mencari kebahagiaan masing masing. Soal anak anak, berjalan seiring waktu, pasti bisa mengerti dengan posisi orang tuanya." sanggah Queen yang baru keluar dari dalam kamar, ia pun mendudukkan tubunya di samping Orion.


"Annisa nya tidak mengijinkan Bilal menikahi wanita lain sayang !" ujar Orion, melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Queen.


"Seharusnya dulu Aqeela memahami pekerjaanmu. Seharusnya dia sudah tau, kalau menjadi istri seorang pendakwah itu sering di tinggal tinggal. Lagian Bilal meninggalkannya hanya tiga hari tiga hari saja, paling lama seminggu, gak sampai tujuh Tahun !" ujar Queen.


"Sayang !" tegur Orion, tak suka istrinya itu mengungkit masa lalu.


"Pulang pulang malah sudah punya anak !" cibir Queen lagi.


"Ya ! tapi anak itu sangat menyayangimu !" balas Orion.


"Tapi anak itu sekarang lupa pulang, dia lebih betah di luar Negri dari pada di sini !" cetus Queen.


Karna anak tirinya itu sudah lama sekali tak pulang karna kesibukannya mengurus perusahaan peninggalan kakek dan neneknya di luar Negri. Dan.. usia Boy sekarang sudah 37 Tahun, namum belum juga menikah. Queen kawatir, jangan jangan anaknya itu sudah meniru perangai paman jhonnya, yang jajan sembarangan sehingga tak berniat untuk menikah lagi.


"Kalau dia ada waktu, pasti dia mengunjungi kita !" bela Orion.


"Aku kawatir di sana dia menjadi orang bebas !" ujar Queen.


"Insya Allah gak sayang, sebelum kita melepasnya ke sana. Kita sudah membekalinya dengan Agama. Dan Juga di sana dia tidak sendiri, ada Sabeel, ada Arsi yang menemaninya"terang Orion, megusap kepala istrinya itu.


"Semoga saja !" desah Queen.


"Jadi menurut Bang Orion dan Kak Queen, aku harus bangaimana ?" tannya Bilal, jengah melihat keromantisan abangnya itu yang merasa dirinya masih muda.


Orion dan Queen langsung megalihkan pansangan mereka ke arah Bilal yang sempat hampir mereka lupakan.


Ehem !


Orion berdehem, untuk memperbaiki kondiri pita suaranya."Abang sarankan ! ajaklah Aqeela rujuk. Lakukanlah demi kebahagiaan putrimu !" jawab Orion.


.


.


Tuhan ! ini yang kutakutkan jika aku jatuh cinta lagi. Aku takut merasakan sakit hati karna tak dapat memiliki orang yang kucintai. Tuhan ! bantu aku saat ini, aku jatuh cinta lagi dengan Ustadz Bilal. Aku takut tak bisa mengendalikan diriku untuk memilikinya. Aku kawatir rasa cinta ini merusak keimananku, jika takdir tidak sesuai keinginanku !. Batin Hani termenung sambil melangkahkan kakinya.


Pertemuan malam itu, ternyata berhasil menggetarkan kembali hati Hani.


"Assalamu alaikum Ustadzah !" sapa seorang santri kepada Hani.


"Walaikum salam !" basa Hani tersadar dari lamunannya.


"Ustadzah mau kemana ?, aku melihat dari tadi Ustadzah berjalan sambil melamum !" tanya Santri itu.


Hani mengulas senyumnya," mau pulang ke rumah dek !" jawabnya.


"Tapi jalan pulang ke rumah Ustadzah kan ! kesana !. Ini jalan ke rumah makannya Ustadz Indra !" ucap Santri itu.


"Oh ! iya ! Ustadzah ingin membeli lauk sebentar ke sana !" balas Hani.


Duh ! kenapa bisa aku lupa jalan pulang sih ?, batin Hani.


"Tapi di sana pasti banyak santri laki laki Ustadzah ?. Kenapa Ustadzah gak ke warung makan khusus santriwati aja ?" tanya Santri itu, heran dengan wanita paru baya di depannya.


"Oh ! sekalian Ustadzah ada urusan sebentar dengan Ustadz Indra!. Kalau begitu Ustadzah pergi dulu, Assalamu alaikum !" pamit Hani.


"Walaikum salam !" balas santri itu.


Hani pun melangkahkan kakinya meninggalkan santri itu.


"Ustadzah Hani kenapa ya ?." Santri itu mengerutkan keningnya menatap punggung Hani yang semakin menjauh dari pandangannya.


Hani tidak pergi ke rumah makan milik Ustadz Indra, melainkan ke rumahnya. Hani memutuskan untuk menemui sahabatnya Susi.


'Siapa yang menelepon Abi !' tanya Susi.


'Ustadz Bilal !' jawab Ustdaz Indra.


Dug dug dug....!


Jantung Hani berdetak kencang seketika, mendengar percakapan suami istri itu dari liar rumah. Hani pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu rumah sahabatnya itu.


'Ustadz Bilal mengatakan akan mengajak istrinya rujuk atas permintaan putrinya !' ucap Ustadz Indra.


'Oh ! gitu ya !' terdengar Susi menghela napasnya.


'Mungkin Ustadz Bilal dan Ukhti Hani memang tidak berjodoh !. Meski mereka berdua saling mencintai !' ucap Ustadz Indra lagi.


Terdengar Susi menghela napasnya lagi.


Tanpa mereka ketahui, di depan pintu rumah mereka, Hani sudah meneteskan air matanya mendengar percakapan mereka.


'Dulu paman Hamzah lah yang menjadi penghalang mereka. Sekarang penghalangnya putri dari Bilal sendiri !' ujar Susi.


Hani yang masih berdiri di depan pintu rumah mereka, memutar tubuhnya, berlari meninggalkan rumah sahabatnya itu. Ia mengurungkan niatnya untuk bertamu ke rumah sahabatnya itu.


Sampai di rumahnya, Hani langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Hani menangis sejadi jadinya. Ternyata sampai saat ini, cintanya kepada Bilal tidak pernah hilang. Ia hanya menguburnya dalam dalam selama ini.


Tuhan ! aku sudah bilang !, aku tak ingin jatuh cinta lagi, kenapa KAMU masih membiarkan cinta tumbuh di hati ini Tuhan !, batin Hani.


Selama ini, Hani sudah berusaha untuk menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta lagi. Tapi karna kehadiran Bilal hari itu, berhasil menggetarkan hatinya kembali. Kehadiran Bilal sudah berhasil mengacaukan perasaannya yang bersusah payah ia jaga selama ini.


"Tuhan ! bantu aku menghilangkan rasa cinta ini kepada Ustadz Bilal. Ini sangat menyiksaku Tuhan !" rintih Hani dalam tangisnya.


Kenapa Takdir begitu kejam menghukumnya, seolah olah jatuh cinta itu adalah kesalahan besar ?.


"Hanya satu caranya, bukalah hatimu kepada laki laki lain !. Jangan membiarkan hatimu terkurung oleh cintamu sendiri kepada Ustadz Bilal. Seperti yang pernah kamu lakukan, kamu bisa mencintai Mendiang suami mu Hidayah !."


Hani langsung menghentikan tangisnya, mengarakan pansangannya ke arah sumber suara itu.


"Bang Ikbal !" gumam Hani, lalu mendudukkan tubuhnya dan menghapus air matanya.


Ustadz Ikbal mendudukkan tubuhnya menghadap Hani." Jika Ustadz Bilal bisa melakukannya, kenapa kamu tidak ?."


Hani terdiam, memikirkan perkataan abangnya.


.


.