Brother, I Love You

Brother, I Love You
149. Minta di hukum



"Oh ya ! perkenalkan Pak Arya, Bu Bunga !, ini Mr Rico, suami dari adik istrinya, dan yang di sampingnya istrinya, adik dari istri saya" ucap Pak Yudhi memperkenalkan keluarganya. Sekarang mereka semua sudah duduk bersama bawah pelaminan. Karna memang sudah di penghujung acara.


Papa Arya pun berdiri mengulurkan tangannya ke arah adik ipar dari besannya itu." Arya !" ucapnya tersenyum.


"Rico !" balas Mr Rico menerima uluran tangan Papa Arya.


Dan Mama Bunga pun bersalaman dengan adik dari besannya itu." Bunga !" ucap Mama Bunga ramah.


"Salma !" balas dari adik besannya itu tidak kalah ramahnya.


Kemudian Papa Arya menangkupkan tangannya di depan dada kepada istri Mr Rico tersebut, menganggukkan kepala sembari tersenyum.Begitu juga dengan mama Bunga kepada Mr Rico.


"Yang sebelahnya, ipar saya, Abang dari mendiang istri kedua saya, bersama istrinya" ucap Pak Yudhi lagi.


"Arya !" ucap Papa Arya kepada paman kandung dari anak kembar kedua dari Pak Yudhi tersebut.


"Jefry !" balas Mr Jefry.


Mama Bunga dan Istri dari Mr Jefry pun melakukan hal yang sama. Mereka berkenalan dan berpelukan.


"Dan di sebelahnya lagi, sepupu saya dan suaminya" ucap Yudhi lagi.


"Arya !" lagi Arya memperkenalkan dirinya kepada keluarga dari besannya itu.


"Zeyn !" balas Mr Ze sembari tersenyum ramah.


"Bunga !" ucap Bunga menyalam wanita yang berwajah cantik yang berdiri di samping Mr Ze.


"Ashalina !" balas wanita itu ramah.


Dan kini bergantian, sekarang giliran Papa Arya yang memperkenalkan keluarga besarnya. Mulai dari kakek Fariq, sampai dengan para sahabat mereka. Akhirnya semua para orang tua itu pun berkenalan satu persatu.


Usai berkenalan, mereka pun mengobrol, Tentunya mereka lebih tertarik membicarakan Dunia bisnis. Sesekali mereka saling memuji, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Sehingga sesekali mereka tertawa bersama.


Sedangkan kaum ibu ibu, mereka tentunya lebih tertarik membicarakan anak anak, dan Dunia fasion.


Di meja lain, para anak muda dari keluarga Alfarizqi dan keluarga Tama, pun berkumpul. Saling berkenalan satu sama lain, bersama pasangan masing masing bagi yang sudah memiliki pasangan. Mereka pun mengobrol layaknya anak muda. Saling berbagi cerita dan pengalaman masing masing.


Di atas pelaminan, pasangan penganten baru itu sudah mulai lelah. Nampak Yumna sudah gelisah di tempat duduknya. melihat itu, Reyhan pun mengusap punggung Yumna dari belakang.


"Sudah capek ?" tanya Reyhan, dan Yumna menganggukkan kepalanya.


Reyhan pun mengeluarkan handphonnya dari dalam saku jasnya. Kemudian langsung melakukan panggilan telepon.


"Ma ! kami istirahat ya ! Yumna sudah lelah" ucap Reyhan. Ternyata Reyhan menelepon sang mama yang masih berada di dalam aula, bergabung dengan kelompok para orang tua.


"Ya sudah ! kalian istirahatlah, sepertinya tamu juga sudah tidak ada lagi yang datang" balas Mama Bunga dari sebrang telepon.


"Iya Ma ! salam buat yang lainnya" ucap Reyhan, dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Reyhan pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengulurkan tangannya, supaya Yumna meraihnya." Ayo sayang !" ajaknya.


Yumna pun meraih tangan Reyhan, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Reyhan menuntunnya berjalan turun dari atas pelaminan, keluar dari aula, berjalan masuk ke dalam lif untuk mengantar mereka kelantai kamar yang sudah di siapkan untuk mereka.


"Aaaa !!!" pekik Yumna kaget, karna Reyhan tiba tiba mengangkat tubuhnya tanpa permisi, setelah pintu lif tertutup. Tanpa sadar, Yumna pun melingkarkan kedua tangannya ke leher Reyhan, karna takut terjatuh.


Reyhan mengembangkan senyumnya," bagaimana rasanya di gendong suami ?" tanyanya.


Yumna tidak menjawab, ia menundukkan pandangannya. Tentu enak !, tapi Yumna masih malu untuk mengatakan itu.


"Hm..?"


Gemas sekali Reyhan melihat Yumna yang malu malu. Gak sabar jadinya Reyhan untuk mengajak istrinya itu berkasih sayang.


Yumna yang malu, pun menggigit bibir bawahnya di dalam nikapnya.


Pintu lif terbuka, Reyhan melangkahkan kakinya keluar dari dalam lif, tanpa menurunkan Yumna dari gendongannya. Sampai di depan kamar pengantin mereka, Reyhan baru menurunkan Yumna. Karna ia harus mengambil kunci dari saku celananya. Reyhan membuka pintu di depannya dengan kunci di tangannya. Setelah pintu terbuka, mereka berdua pun langsung masuk.


Yumna tersenyum melihat kamar pengantin mereka yang di hias dengan begitu indah. Ranjang yang di beri kelambu warna putih di ikat rapi di setiap sudut ranjang dan di beri bunga bunga berwarna warni. Dan di atas ranjang di taburi kelopak bunga mawar berwarna merah. Pencahayaan kamar di buat temaran, membuat suasana menjadi rimantis dengan beberapa nyala lilin lilin kecil yang di letakkan di lantai.


"Katanya lelah ! kenapa masih berdiri di sini ?" tanya Reyhan, memeluk Yumna dari belakang, dan menjatuhkan dagunya di bahu Yumna.


"Aku menyukai hiasan kamarnya" jawab Yumna tersenyum.


Reyhan melepas pelukannya, kemudian membuka ikatan kain yang menutupi wajah Yumna di belakang kepalanya. Kemudian memutar tubuh Yumna ke arahnya.


"Tapi aku lebih menyuakai perhiasan Duniaku ini, ini lebih menarik perhatianku" gombal Reyhan tersenyum, memandangi wajah Yumna dengan intens.


Yumna menundukkan kepalanya, wajahnya bersemu, karna Reyhan memandanginya. Reyhan pun perlahan mengangkat satu tangannya, menangkup dagu Yumna, mendongakkan wajah Yumna ke arahnya, supaya Yumna melihatnya. Perlahan Reyhan menaikkan jemarinya ke pipi Yumna dan mengelusnya dengan lembut. Reyhan pun mendekatkan wajahnya ke wajah Yumna.


"Habiby ! kita shalat isya dulu !" Yumna mendorong pelan dada Reyhan, membuat Reyhan berhenti untuk mencium bibir Yumna.


"Maaf ! aku hampir lupa, karna tidak tahan dengan godaanmu" balas Reyhan tersenyum.


"Aku tau kalau aku ini cantik, tapi kalau tidak shalat, kecantikanku bisa luntur" ucap Yumna narsis.


Reyhan semakin mengembangkan senyumnya. Gemas melihat istrinya yang memiliki tingkat kepedean yang sangat tinggi. Reyhan pun menarik hidung Yumna, dan sedikit memencetnya.


"Kalau ayo kita cepat shalat" Reyhan menarik tangan Yumna ke arah kamar mandi.


"Baiklah bidadariku !, apa butuh bantuanku ?" tanya Reyhan.


"Iya ! sepertinya aku akan ke susahan membuka riasan di kepalaku. Bisakah aku minta tolong ?."


"Tentu sayang !, aku suami mu siap melayani permintaan sang permaisuri." Reyhan pun membawa Yumna ke arah meja rias di kamar pengantin itu, dan membantu Yumna duduk.


"Maaf sudah merepotkanmu Habiby !." Yumna merasa tidak enak hati karna sudah meminta tolong kepada Reyhan. Yumna kawatir Reyhan tidak suka di suruh. Bagaimana pun juga mereka belum mengenal sifat masing masing.


Reyhan mengulas senyumnya, kemudian mengusap kepala bagian belakang Yumna." Tak perlu merasa tidak enak hati, hal yang wajar jika seorang istri meminta tolong kepada suami. Aku pun nanti pasti akan sering meminta tolong kepadamu" balas Reyhan. Meletakkan mahkota kecil dan riasan riasan lainnya di atas meja rias. Kemudian Reyhan mengecup ujung kepala Yumna dengan penuh rasa kasih sayang.


"Jangankan membuka apa yang membungkus kepalmu. Membuka seluruh yang melekat di tubuhmu, aku sangat bersedia dengan senang hati istriku !" goda Reyhan.


Bukh !!!


"Aw !" keluh Reyhan, karna Yumna memukul lengannya.


"Ma..maaf !" gugub Yumna menunduk, karna tangannya keceplosan memukul Reyhan. Mereka belum sedekat itu, tapi Yumna sudah berani memukul Reyhan, meski itu hanya refleks saja.


"Apa kamu minta di hukum sayang ? Hm..!. Kamu sudah berani memukulku." Reyhan langsung mengagkat tubuh Yumna, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Maaf Habiby ! aku gak sengaja."


"Sama saja sayang !, ayo cepat bersihkan tubuhmu. Atau kamu ingin kita mandi bersama ?" goda Reyhan lagi menaik turunkan alisnya ke arah Yumna yang masih berada di gendongannya.


"Habiby !" rengek manja Yumna, karna Reyhan terus menggodanya. Jelas Yumna mudah salah tingkah jika di goda. Ini pertama kalinya ia dekat dan intim dengan seorang laki laki.


"Mmmuahh !"


Reyhan pun mengecup pipi Yumna dengan gemas. Karna tak tahan melihat wajah cantik dan manja istrinya itu. Kemudian menurunkan Yumna dari gendongannya.


"Mandilah ! aku akan menunggu di kamar" ucap Reyhan, mengusap kepala Yumna lalu keluar kamar. Meski sudah halal baginya untuk melihat tubuh Yumna, tapi Reyhan tak ingin melihatnya untuk pertama kali di dalam kamar mandi.


Sepeninggal Reyhan, Yumna langsung memegangi dadanya dan pipinya yang di cium Reyhan.Yumna memandangi wajahnya yang memerah di kaca yang berada di atas washtapel. Senyum Yumna mengembang, ia menyukai perlakuan Reyhan yang menciumnya seperti mencuri, tapi menurut Yumna itu sangat romantis.


Di dalam kamar, Reyhan juga mengembangkan senyumnya. Ia tak menyangka, kalau dirinya secepat itu bisa mencintai Yumna. Wanita yang baru di kenalnya belum genap tiga minggu, yang baru di nikahinya tadi pagi. Yumna wanita berparas cantik, sudah berhasil mengalihkan perasaannya dari keterpurukan di tinggal kawin.


Ceklek !


Refleks Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Di lihatnya Yumna keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai kimono panjang dan berlengan panjang juga. Dan Yumna menutup kepalanya dengan handuk. Seperti masih malu untuk menampakkan auratnya kepada Reyhan.


Reyhan pun segera bangkit dari sofa, langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai urusan kamar mandi, Reyhan pun keluar, sudah memakai baju lengkat di tubuhnya. Di lihatnya Yumna yang duduk di sofa sudah memakai mukena, menunggunya untuk shalat berjamaah.


Yumna berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah Reyhan memberikan kain sarung dan kopiah berwarna putih kepada Reyhan.


"Trimakasih sayang !" ucap Reyhan, karna Yumna sudah menyiapkan alat shalat untuknya.


Yumna menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Kemudian berjalan ke arah sajadah yang sudah di siapkannya. Setelah Reyhan selesai memakai kain shalatnya, ia pun menyusul Yumna, berdiri di atas sajadah yang berada di depan kiri Yumna. Setelah selesai melasanakan shalat wajib, Reyhan pun berdiri kembali di atas sajadahnya, mengajak Yumna untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat setelah menikah. Memohon kepada Tuhan, supaya pernikahan mereka senantiasa menjadi pernikahan yang harmonis dan bahagia ke depannya, amin !.


Usai berdoa, Reyhan memutar tubuhnya ke arah Yumna. Yumna pun langsung mengulurkan tangannya menyalam Reyhan. Kemudian Reyhan pun membalasnya dengan mencium kening Yumna, kemudian mencium kedua pipi Yumna, dan terakhir mengecup bibinya kilas, membuat Yumna terlonjak kaget.


Reyhan merekahkan senyumnya sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi. Melihat wajah Yumna yang merah merona. Kemudian Reyhan menarik Yumna ke atas pangkuannya, mendekap tubuh Yumna ke dalam pelukan hangatnya. Reyhan tak ingin buru buru melakukan MP mereka. Ia ingin mengajak Yumna bersantai, melakukan pendekatan terlebih dahulu. Supaya nanti Yumna tidak begitu kaget saat mereka akan bercinta. Mengingat mereka yang belum pernah dekat sama sekali.


Cup !


Lagi, Reghan mengecup pipi Yumna, karna tak tahan melihat kecantikan alami wajah istrinya itu.


"Aku menyukai wajah cantikmu ini, trimakasih sudah menutupinya dari orang lain" ucap Reyhan, mengulurkan tangannya ke kaki Yumna, lalu memijat dan mermas jari jarinya.


Yumna menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, menikmati pijatan Reyhan di kakinya yang lelah seharian.


Saat Reyhan menaikkan pijatannya ke lutut Yumna. Tiba tiba Yumna menggeliat, merasakan geli, meski Reyhan memijatnya dari luar mukena.


"Kenapa ?" tanya Reyhan tersenyum, melihat Yumna mengalihkan pandangannya ke arah lain. Padahal Reyhan tau, kalau Yumna kegelian saat tangannya memijat lutut Yumna.


Reyhan pun menghentikan pijatannya di kaki Yumna. Kemudian mengulurkan tangannya ke kepala Yumna.


"Almira ! boleh aku membuka mukenamu ini ?" taya Reyhan. Penasaran dengan mahkota istrinya itu.


"Kamu berhak atasku Habiby !" jawab Yumna menunduk.


"Trimaksih sayang !"


Reyhan pun perlahan menarik mukena Yumna ke atas sampai terlepas dari kepalanya. Reyhan meletakkan mukana itu di atas sajadah, tanpa melepas nentranya dari wajah Yumna. Kemudian Reyhan pun mengulurkan tangannya ke belakang kepala Yumna, menarik gulungan rambutnya, mengerainya ke depan. Ternyata rambut Yumna sangat panjang dan tebal, warnanya pun kepirangan, dan ikal bergelombang, sangat indah. Kecantikan Yumna bertambah berkali lipat saat rambut itu tergerai indah. Reyhan pun membelai rambut indah milik istrinya itu.


Reyhan menelan air ludahnya bersusah payah, dan merasakan sesuatu di balik celananya berkedut. Burung untanya seketika meminta ingin di lepas segera ke sangkarnya.


"Almira !" Panggil Reyhan lembut dengan suara beratnya.


.


.


Visual Yumna