Brother, I Love You

Brother, I Love You
175. Oma kecil



"Bang Ghissam ! Sirin kenapa ?, kenapa dia tidak bergerak ?" tanya Arsenio kawatir. Arsenio menelan air ludahnya susah payah, membayangkan hal hal yang buruk.


"Bu Bidan ! tolong bersihkan bayinya !." Dokter Ghissam memberikan bayi di tangannya kepada bidan yang mendampinginya. Kemudian segera memeriksa keadaan Sirin. Meski ia merasa sangat kawatir dan waswas, Dokter Ghissam berusaha untuk tetap tenang.


"Sirin pingsan !, biarkan dia istirahat dulu, sepertinya ia kelelahan" jawab Dokter Ghissam. Kemudian menghela napasnya, lega.


Setelah Bidan itu membersihkan bayinya, Bidan pun memberikannya kepada Arsenio untuk di azhankan.


"Ini Pak ! bayinya silahkan di azhankan !, bayinya laki laki, sehat dan sempurna ya Pak !" ucap Bidan itu tersenyum.


Arsenio pun menerima anaknya yang masih merah di pakaikan pakaian itu dengan kedua tangannya, membawanya ke dalam dekapannya. Mata Arsenio berkaca kaca, terharu melihat buah cintanya dengan Sirin. Dia sudah menjadi Ayah sekarang. Arsenio tersenyum, kemudian mencium kening bayi berwarna putih kemerahan itu dengan lembut. Bayi itu sangat tampan, wajahnya perpaduan wajahnya dan Sirin, badannya sangat berisi meski baru lahir, karna bayi itu lahir empat kilo.


Arsenio juga mengecup pipi cabi kedua bayi itu, kemudian mengazhankannya dengan suara sedikit bergetar, karna menahan tangis, terharu.


Setelah selesai di azhankan, Dokter Ghissam pun mengambilnya dari tangan Arsenio. Ia pun mencium bayi menggemaskan itu dengan sayang.


"Keluarlah !, tunggu di ruang perawatannya. Kamu juga istirahatlah, pasti kamu lelah dan kurang istirahat" ucap Dokter Ghissam kepada adik iparnya itu.


"Iya bang !, trimaksih sudah membantu kelahiran anakku !" balas Arsenio, sambil menghapus air matanya, yang tak bisa ia tahan.


"Bayi ini keponakanku ! kalau kamu lupa !" dengus Dokter Ghissam.


"Iya aku memang hampir lupa kalau kamu pamannya !" balas Arsenio tersenyum.


Arsenio pun mendekati Sirin yang masih belum sadarkan diri di atas brankar. Arsenio mengecup kening Sirin dan juga kedua pipinya, lalu pergi keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar bahagia.


"Bagaimana ? anak kalian kali laki apa perempuan ?" cerca Queen antusias.


Ternyata di depan pintu ruang bersalin keluarga sudah rame menunggu, dan juga ada sahabat sahabat Arsenio, Evan, Adi, Rangga, Fikri, Calixto dan Ghaisan. Dan tidak ketinggalan rombongan Ibu Pur, dari pengajian majelis taklim dari perumahan kontrakan mereka dulu. Meski pun mereka tidak tinggal di kontrakan perumahan sederhana itu lagi, Sirin masih aktif mengikuti pengajian sekali seminggu.


"Laki laki !" jawab Arsenio mengembangkan senyumnya.


"Selamat Sen ! kamu sudah menjadi Bapak !, anggota geng kita nambah satu" gurau Evan memeluk Arsenio.


"Enak aja ! anakku itu nanti anak yang baik dan soleha, bukan seperti Ayahnya !" cetus Arsenio.


Membuat semuanya tertawa terbahak bahak mendengar Arsenio menyadari dirinya bukan anak baik.


"Selamat nak ! kamu sudah menjadi Ayah !" ucap Dokter Aldo, memeluk Arsenio dengan rasa haru.


"Papa juga selamat, sudah menjadi kakek !" Arsenio tersenyum,membalas pelukan Dokter Aldo.


Setelah melepas pelukan mereka, Dokter Aldo langsung masuk ke dalam ruang persalinan bersama Diana, karna tak sabar ingin melihat cucunya.


"Selamat Arsen menjadi Ayah Arsen !" ucap Queen, menyalam tangan Arsenio.


"Trimakasih !" balas Arsenio, menerima tangan Queen.


"Selamat ya dek! atas kelahiran anak kalian !" ucap Bu Pur, mengulurkan tangannya menyalam Arsenio, sembari tersenyum ramah.


Arsenio pun menyambutnya dengan senyum tidak kalah ramahnya."Trimakasih Bu !" balas Arsenio


IBu Pur pun menyerahkan rantang makanan di tangannya kepada Arsenio." Ini dek ! kami membawa sedikit makanan !" ucap Bu Pur lagi.


"Sekali lagi trimakasih Bu !, ini sudah merepotkan !." untuk menghargai ibu ibu geng istrinya itu, Arsenio pun menerima rantang makanan dari tangan Bu Pur.


Semua yang hadir di lorong rumah sakit itu pun, mengucapkan selamat kepada Arsenio. Karna mereka mereka semua tidak mungkin masuk ke ruangan perawatan Sirin nanti. Ibu Pur dan rombongannya pun memutuskan untuk pulang.


"Kalau begitu kami pulang dulu ya dek !, salam buat Sirin. Besok kami akan datang menjenguknya lagi" pamit Ibu Pur, sekali lagi menyalam Arsenio.


"Iya Bu ! akan saya sampaikan, sekali lagi trimakasih makanannya" balas Arsenio lagi.


"Sama sama dek !, kalau begitu kami pamit, Assalamu alaikum !" ucap Ibu pur, lalu pergi bersama rombongannya.


Di ruang persalinan, Dokter Aldo memeriksa keadaan Sirin yang belum sadarkan diri.


"Aku terpaksa melakukan Vakum, karna Siri tidak pandai mengedan Pa !. Dan bayinya lahir empat kilo, itu juga menjadi pemicu bayinya susah lahir" jelas Dokter Ghissam.


"Apa kamu tidak menyarankannya untuk makan tidak banyak menjelang ke lahiran ?. Dan juga, sudah tau bayinya besar kenapa kamu tidak melakukan cesar aja ?" tanya Dokter Aldo, tidak tega membayangkan putrinya itu kesakitan sampai pingsan.


"Sirin pingsan hanya karna kelelahan Pa !, dan juga dia itu di ajarin ngedan, gak mau !. Dia terus berteriak mencakar dan menarik rambut" jawab Dokter Ghissam.


"Jadi Nenek cantik dan muda, Mama kecil !" Sambar Dokter Ghissam.


"Masa nanti aku di panggil nenek ?" ucap Diana lagi.


"Bagaimana lagi sayang !, Putrimu Sirin sudah melahirkan cucu untukmu !" Dokter Aldo tersenyum, satu tangannya mengusap kepala Diana dari belakang dengan sayang.


"Nanti aku di panggil apa ?, aku gak mau di panggil nenek !" ujar Diana.


"Nanti kamu akan di panggil Ocil sayang !. Oma kecil !" jawab Dokter Aldo tersenyum. Kemudian mengambil bayi itu dari gendongan Diana, memandangi wajah bayi yang ada mirip dengannya itu.


Dulu Dokter Aldo sempat memiliki impian memiliki anak dengan Bunga kekasihnya dulu. Tapi malah impian itu terkabul kepada putrinya dengan anak Bunga mantan kekasihnya. Apakah rasa cinta itu masih tersisa di hati seorang Aldo ?, itu hanya Dokter Aldo sendirilah yang tau. Yang pasti, Bunga memiliki tempat khusus di hatinya. Terkadang takdir memang suka mempermainkan perasaan manusia.


.


.


"Aaryan ! cucu kita sudah lahir !" ucap Mama Bunga, membangunkan Papa Arya yang ketiduran di pangkuannya. Mama Bunga mengusap usap rambut Papa Arya yang mulai di tumbuhi uban.


Papa Arya yang sudah bangun mengerutkan keningnya, karna kepalanya terasa pusing.


"Barusan Queen mengirim pesan, kalau Sirin sudah melahirkan. Cucu kita laki laki" ucap Mama Bunga lagi.


"Sayang ! kepalaku sangat pusing !" Papa Arya memindahkan tangan Mama Bunga ke keningnya, supaya mama Bunga memijatnya.


Mama Bunga pun segera memijatnya. Ia tau suaminya itu kepalanya pusing karna memikirkan ucapan Paman Ali kepada suaminya. Suaminya shok mendengar kenyataan tentang dirinya.


"Sayang ! jika Tuhan menjemputku lebih dulu dari kamu. Tolong didik putri kita menjadi wanita yang soleha ya !" ucap Papa Arya dengan mata terpejam, menikmati pijatan tangan Mama Bunga di keningnya.


"Kamu bicara apa Aaryan !, aku gak paham maksudmu !." Mata mama Bunga langsung berkaca kaca mendengar penuturan suaminya.


"Usiaku sudah 55 Tahun Bunga !, aku sudah tua, sisa umurku sudah tidak lama lagi di Dunia ini" ujar Papa Arya lagi.


"Jika kamu mati, aku pun ikut mati. Aku gak mau kamu tinggalin Aaryan !."


Air mata Mama Bunga langsung mengalir deras dari pipinya. Membayangkan suaminya meninggalkannya selamanya.


Papa Arya membuka kelopak matanya, tersenyum melihat betapa besar cinta istrinya kepadanya. Papa Arya sangat bahagia untuk itu. Papa Arya pun mengulurkan tangannya menghapus air mata murid teristimewanya itu.


"Aku pun maunya begitu sayang!, tapi jika kita sama sama mati, siapa yang mengurus putri kita Sabina, Bilal dan Darren ?."


"Ada Orion, Reyhan, Elang dan Arsen !. Aku gak mau kamu tinggal Aaryan !, aku gak mau !" tangis Mama Bunga.


"Jangan menangis seperti itu sayang !, aku masih hidup, nanti Sabina terbangun" ucap Papa Arya tersenyum.


"Makanya jangan bicara soal mati !"


Papa Arya mendudukka tubuhnya sambil memegang dadanya yang sedikit terasa sakit sejak tadi. Kemudian Papa Arya menarik Mama Bunga ke dalam pelukannya, dan mencium ujung kepalanya dengan penuh perasaan.


"Ayo kita ke rumah sakit !, aku juga sudah sangat ingin melihat cucuku !" ajak Papa Arya, melepas pelukannya dari mama Bunga.


"Apa kamu kuat kita ke rumah sakit, bukankah dadamu masih terasa sakit ?." Mama Bunga menajamkan pandangannya ke wajah Papa Arya.


"Obat ampuh seorang kakek adalah melihat cucunya sayang !. Ayo kita berangkat !." Papa Arya tersenyum, lalu menarik gemas hidung Mama Bunga.


Tak terasa waktu berlalu, sekarang mereka berdua sedah menjadi kakek dan nenek.


Karna kesakitan, Mama Bunga pun membalas menarik hidung Papa Arya, suami tampannya. Meski sudah tak muda lagi, di usia lima puluhan, suaminya itu terlihat semakin karismatik.


"Sakit sayang !" keluh Papa Arya, melepas hidung Mama Bunga.


"Kamu yang duluan !" wajah mama Bunga berbinar menatap wajah Papa Arya.


Cup !


Satu kecupan pun mendarat di pipi mama Bunga. Yang langsung di balas Mama Bunga mencium pipi Papa Arya.


.


.