Brother, I Love You

Brother, I Love You
112.Rencana membuat adik



"Orion ! dengarkan Papa Orion !. Queen sedang hamil, hamil anakmu !, mungkin saja dia menginginkan perhatian lebih darimu. Kalian sudah dekat dari kalian masih anak anak, masa kamu masih tidak bisa mengambil hati Queen ?. Cobalah nak !, jangan gegabah mengambil keputusan. Jangan kamu sampai menyesal nantinya nak !." mohon Papa Arya mengiba.


Papa Arya heran, kenapa anaknya itu tidak pintar menaklukkan hati wanita sepertinya. Padahal kalau wajah, mereka sama sama tampan.


"Jika kamu bisa sayang dan perduli dengan Boy ?, kenapa dengan anakmu yang berada di kandungan Queen kamu bisa tidak perduli Orion ?. Kamu melakukan apa saja demi menyelamatkan Boy, padahal dulu kamu sendiri tidak tau apakah Boy itu anakmu atau tidak Orion !. Kenapa kamu tidak melakukan apapun demi anakmu Orion ?. Dimana otakmu Orion ?. Papa tidak pernah mendidikmu untuk menjadi bodoh !. Kenapa kamu tidak bisa menurunkan egomu ?. Queen lagi hamil Orion !, perubahan hormon kehamilan, bisa membuatnya tidak bisa menahan emosi. Bisa saja juga ia tidak menginginkannya marah terhadapmu, tapi ia tidak bisa menahan emosinya. Ayolah Orion !, bukankah kamu sangat menyayangi dan mencintai Queen ?. Masa kamu juga belum paham, kalau wanita itu suka jual jula mahal, suka di perjuangkan, di bujuk dan di rayu. Apa karna Queen terlalu mencintaimu selama ini ?, sehingga kamu menjadi bodoh dan tidak tau cara memperjuangkan wanita ?." Cerca Papa Arya, gemas melihat kebodohan anaknya, ingin rasanya Papa Arya menonjok wajah tampan yang mirip dengannya itu.


Orion pun terdiam sambil berpikir, tidak menyangka Papanya itu bisa cerewat seperti ratu sejagat. Bisa mengucapkan kalimat begitu panjang hanya dengan sekali tarikan napas.


"Kalau kamu tidak berhasil membujuk Queen !, Papa akan coreng namamu dari ahli waris Papa. Dan tidak akan mengijinkanmu bertemu dengan Ibumu selamanya." ancam Papa Arya, kemudian memutar tubuhnya keluar dari ruang kerja Orion.


.


.


Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, Dokter Aldo langsung keluar. Dokter Aldo melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumah dengan wajah berbinar.


"Bu ! istri saya dimana Bu ?" tanya Dokter Aldo saat berpapasan dengan pembantu di rumahnya.


"Lagi memasak di dapur Pak !" jawab pembantu yang memegang sapu itu.


"Trimakasih Bu !" balas Dokter Aldo, langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur.


"Sayang !"


Diana yang sibuk mengaduk aduk masakannya di dalam panci, memutar tubuhnya ke arah belakang, tersenyum kapada Dokter Aldo.


"Istri Om yang cantik ini masak apa ?"tanya Dokter Aldo, memeluk Diana dari belakang, menjatuhkan dagunya di bahu Diana, matanya mengarah ke masakan Diana di atas kompor.


"Masak gulai kambing, Sirin menginginkannya !" jawab Diana.


"Sirin lagi di sini sayang ?" tanya Dokter Aldo.


"Hm..! dia lagi tidur di kamarnya !" jawab Diana.


Dokter Aldo mengeratkan pelukannya ke tubuh Diana, dengan satu tangannya mengelus perut Diana.


"Kapan rencananya kita ngasih adik buat Sirin dan Ghissam ?" tanya Dokter Aldo.


Meski Diana sudah banyak perubahan, sudah menerima pernikahan mereka. Sudah menjadi istri yang baik, mengurus semua keperluannya. Namun untuk kewajiban Diana di atas ranjang belum juga siap. Diana masih enggan untuk menyerahkan tubuhnya kepada Dokter Aldo.


Diana diam tidak menjawab, ia pun menggigit bibir bawahnya. Dokter Aldo menghela napasnya. Sudah tiga bulan usia pernikahan mereka. Masih saja kehangatan ranjang yang sudah lama dingin itu belum menghangat, meski ia sudah memeluk Diana setiap malam.


"Gak apa apa kalau kamu belum siap !" ucap Dokter Aldo, mencium kening Diana dari samping." Om ke kamar dulu, untuk membersihkan diri."


Dokter Aldo pun melepaskan pelukannya dari tubuh Diana, kemudian meutar tubuhnya berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Diana menghela napasnya, kemudian menelan air ludahnya bersusah payah, mendengar nada kecewa yang sudah entah ke berapa kali dari mulut Dokter Aldo.


Aku benar belum siap !, batin Diana.


Selesai memasak, Diana pun meninggalkan dapur, menyusul Dokter Aldo ke dalam kamar mereka. Diana melihat tidak ada Dokter Aldo di dalam kamar. Mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Diana bisa menebak suaminya itu belum selesai mandi. Diana pun berjalan ke arah lemari, untuk menyiapkan baju untuk Dokter Aldo, dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Kemudian Diana membuka lemari pakaiannya, untuk menyiapkan baju ganti untuknya. Karna ia juga belum mandi sore.


Ceklek !


Refleks Diana mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi, Di lihatnya Dokter Aldo keluar dari dalam dengan memakai jubah mandi. Diana mengulas senyumnya, kemudian menundukkan sedikit pandangannya saat tak sengaja, melihat sedikit dada Dokter Aldo yang di tumbuhi bulu bulu.


Dokter Aldo yang menyadari itu, mengulum senyumnya, dan melangkahkan kakinya ke arah Diana. Dokter Aldo meraih satu tangan Diana, membawanya ke dadanya, dan memasukkannya ke dalam selipan jubahnya. Kemudian Dokter Aldo menarik pinggang Diana, sampai tubuh mereka menempel.


"Apa kamu menyukai dada Om ini sayang ?. Ini milikmu sayang !, jangankan melihatnya, memegangnya pun boleh. Dan bahkan menikmati seluruh tubuh suamimu ini !" ucap Dokter Aldo lembut, dengan suara beratnya.


Wajah Diana langsung merah merona, dan mengalihkannya ke arah lain. Karna sudah ketahuan mengagumi tubuh Dokter Aldo yang terlihat masih gagah.


Dokter Aldo meraih dagu Diana, mengarahkan wajah Diana ke arahnya. Dokter Aldo tersenyum, melihat Diana yang tidak berani melihatnya. Nampak sekali istrinya itu malu salah tingkah. Perlahan tangan Dokter Aldo yabg masih menahan tangan Diana di dadanya, meremaskan tangan Diana ke buah dadanya.


"Bantu Om melepaskan hasrat ini Diana !, Om sudah tak kuat menahannya!." Dokter Aldo mendecis merasakan geleyar di dalam tubuhnya, saat meremaskan tangan Diana di dadanya.


"Kamu bisa membantu Om dengan cara lain, jika kamu belum siap Om sentuh !" ucap Dokter Aldo.


Sontak Diana mengarahkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo, yang terlihat menderita.


"Bantu Om ya !" pinta Dokter Aldo. Diana menganggukkan kepalanya, maski tidak tau dengan cara apa yang di katakan Dokter Aldo.


Dokter Aldo langsung menarik Diana masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintunya rapat rapat. Dokter Aldo langsung mengambil satu tangan Diana lagi. Menyentuhkannya ke senjata pamungkasnya.


Sontak Diana pun menarik tangannya, yang langsung di tahan Dokter Aldo.


"Gak apa apa sayang !, kamu hanya membantuku memegangnya" ucap Dokter Aldo.


Diana mengalihkan pandangannya ke arah lain. Semburat merah di wajahnya sangat terlihat. Yang membuat kecantikannya semakin bertambah di mata Dokter Aldo. Diana menelan salivanya, tangannya yang menyentuh senjata kebanggaan suaminya itu, bergetar, Diana tidak berani melihatnya.


"Kamu sangat cantik Diana !" puji Dokter Aldo, merapikan rambut Diana ke belakang, dan membelai wajah Diana. Satu tangan dan tangan Diana, jangan di tanya lagi. Kedua tangan itu lagi sibuk bekerja sama.


.


.


Setengah jam lebih berlalu, Dokter Aldo keluar terlebih dahulu dari kamar mandi itu. Wajahnya tampak lelah dan lega sekalian. Meski kenikmatan yang ia dapatkan tak sempurna, tapi lumayanlah !.


Diana yang masih berada di kamar mandi, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mengingat yang baru saja terjadi dengan dokter Aldo di kamar mandi.


Ya Tuhan ! aku sudah melihat dan memegang punya Om Aldo. Batin Diana, wajahnya terasa panas dan pasti sudah nampak merah, mengingat hal yang menurutnya gila.


Punya Om Aldo besar sekali , batin Diana lagi, bergidik ngeri membayangkan benda tumpul milik Dokter Aldo. Asal usul terjadinya sahabatnya Sirin.


Sebagai wanita normal, membayangkan proses terjadinya sahabatnya itu. Seketika hasrat menyelimuti tubuh Diana. Dia tiba tiba mnginginkannya. Sepertinya otaknya sudah berhasil di cemari suami tuanya itu.


Di luar kamar, Dokter Aldo mengulum senyumnya, sambil memakai pakaian yang sudah di sediakan Diana di atas kasur. Dokter Aldo sengaja melakukan itu, karna sudah tidak tau cara membujuk Diana supaya menginginkan berhubungan badan dengannya. Perlahan Dokter Aldo akan memancing Diana, berharap Diana menyerahkan diri kepadanya.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi di kamar itu terbuka. Diana keluar, dengan handuk melilit tubuhnya, karna tidak membawa baju ke kamar mandi, karna Dokter Aldo yang tiba tiba menariknya. Dan Dokter Aldo juga sudah biasa melihat pemandangan itu, meski tubuh kutus itu belum bisa di milikinya seutuhnya.


Melihat tubuh kurus itu, Dokter Aldo yang duduk di sofa kamar sambil menonton tv. Berpikir bagaimana caranya supaya ia bisa memancing ke inginan untuk bercinta Diana, dan tidak menolaknya lagi.


.


.


"Bagaimana ? apa kamu sudah menemui gadis itu ?" tanya ratu sejagat kepada Reyhan yang mendudukkan tubunya di sampingnya, lalu bersandar di lengannya bergelayut manja, dan mengusap usap perut besarnya.


"Tapi Reyhan tidak bisa mengenali wajahnya, karna cewek itu memakai cadar !" sungut Reyhan, tangannya mengejar ngejar adiknya yang bergerak gerak dalam perut ratu sejagat.


Mama Bunga tersenyum, mengusap kepala anak paling manjanya itu."Jadi bagaimana ?, apa kamu masih tetap mau di jodohkan dengan cewek itu ?" tanya Mama Bunga, Reyhan mengangguk anggukkan kepanya.


Reyhan yakin, Papa Arya pasti menjodohkannya dengan wanita baik dan tentunya cantik. Reyhan membungkukkan tubuhnya, lalu mencium adiknya yang masih berada di perut ratu sejagat dengan sayang.


"Nanti Reyhan juga ingin memiliki banyak anak seperti Mama dan Papa" ucap Reyhan, kembali mengelus elus perut ratu sejagat.


.


.