
"Bagaimana jika Queen yang mati lebih dulu ?" tanya Queen.
"Abang tidak berniat menikah lagi !" jawab Orion.
"Bagaimana jika abang jatuh cinta lagi setelah Queen tiada ?. Bagaimana jika burung hantu bang Orion minta di lepas ?. Apa bang Orion yakin bisa menahan diri untuk tidak menikah lagi ?" cerca Queen.
Orion menghetikan pijatannya, dan menajamkan tatapannya ke wajah Queen."Di setiap abang berdo'a, abang tidak pernah lupa meminta, supaya kita tetap di persatukan di Dunia dan diakhirat. Abang selalu meminta kepada Tuhan, supaya cinta abang tetap terpelihara hanya untukmu Queen. Supaya Tuhan tidak merobah takdirku, untuk tidak menghadirkan wanita manapun kedalam hidupku. Hanya kamu Queen, hanya kamu yang kuinginkan selamanya, sampai di kehidupan kita yang kedua" jawab Orion.
matanya nampak berkaca kaca, hatinya sedih, karna Queen sering kali meragukan cintanya. Sering tak percaya padanya karna masalalu gelapnya itu, sehingga hadirnya Boy di tengah tengah pernikahan mereka.
"Tapi aku hanya manusia biasa Queen, aku tidak punya kuasa untuk menentukan takdirku sendiri. Sudah ada Tuhan yang menentukan skenario hidupku" ucap Orion lagi.
"Trus abang Orion sendiri kenapa memintaku untuk tetap menjadi bidadari bang Orion sendiri ?" tanya Queen lagi, egois sekali suaminya itu !.
"Abang kan meminta Queen, berharap, mendoakan sayang !" jawab Orion tersenyum, melihat wajah kesal Queen. Pijatan tangan Orion pun perlahan semakin naik ke atas.
.
.
Di kamar lain
Sirin yang merajuk tidur membelakangi Arsen. Ia sudah capek capek hidup susah selama ini. Ternyata Arsen memiliki tabungan yang banyak dari Mama Bunga. Arsen tidak mengatakannya padanya.
"Sirin !" Arsen menggoyang goyang lengan Sirin dari belakang.
Coba saja Sirin lagi tidak hamil besar, sudah pasti Arsenio menindih tubuh Sirin. Sampai Sirin mengeluh karna sesak bernapas.
"Selama ini aku juga gak tau soal tabungan itu Sirin !. Dan Mama juga memberikannya padaku setelah aku baikan dengan Papa" jelas Arsenio.
"Setelah Mama memberikamnya kenapa kamu gak memberitahuku ?" cetus Sirin.
"Itu uang Mamaku !, kenapa kamu harus tau ?. Apa kamu ingin menguasai harta dari orang tuaku ?."
Sontak Sirin membalik badannya ke arah Arsenio yang duduk di belakangnya, menatap Arsenio dengan tatapan menghunus. Tidak terima dengan tuduhan Arsenio terhadapnya. Ia juga anak orang kaya, tentu ia juga pasti mendapat harta warisan dari orang tua dan kakek neneknya.
Arsenio malah tersenyum melihat kemarahan Sirin, Arsenio pun mengusap wajah Sirin. Dan Sirin langsung menepisnya.
"Anggap uang tabungan itu tidak ada Sirin. Kita simpan untuk masa depan anak kita kelak. Aku akan berusaha mencari uang yang banyak untukmu !" ucap Arsenio lagi. Kemudian membarikan tubuhnya, memeluk Sirin dan mengecup keningnya.
"Aku capek hidup susah, kapan kamu akan memberiku uang yang banyak !" berenggut Sirin.
"Masih banyak yang lebih susah dari kita Sirin !. Kita belum pernah tidak makan. Kita masih sanggup membayar kontrakan rumah. Kita masih bisa naik mobil, kita masih bisa sekolah. Seharusnya kamu bersyukur Sirin, bukan mengeluh" ucap Arsenio.
"Apa kamu tidak pernah melihat ada orang yang kelaparan karna tidak makan. Tidak bersekolah karna tidak ada biaya. Mencari uang harus dengan mengorek ngerek sampah. Tinggal di rumah berlantai tanah dan atapnya bocor bocor. Tidur hanya beralaskan tikar tipis. Hidup kita masih bisa dikatakan layak Sirin" ucap Arsenio.
Arsenio mengulurkan tangannya, menepis air mata Sirin yang sempat mengalir dari sudut matanya.
"Maaf !" ucap Arsenio, karna ia terlalu cerewet kepada Sirin. Dia yang membuat Sirin mengalami hidup susah. Seandainya seandainya, ya sudahlah ! tak ada guna berandai andai, semua sudah terjadi.
"Jika aku nanti sudah banyak uang, aku akan membelikanmu apa saja yang kamu inginkan. Membawamu keliling Dunia, bahkan membelikanmu pesawat pribadi. Apa pun yang kamu minta. Tapi sekarang kita bermimpi dulu, mana tau besok pagi kita bangun tidur, kita sudah berada di salah satu kamar istana megah, bak di negri dongeng" rayu Arsenio tersenyum, kemudian mengecup bibir Sirin.
Melelehlah hati Sirin mendengar rayuan maut Arsenio, yang sangat jarang ia dengar.
"Ayo tidur !, atau kamu ingin kita bersenang senang dulu ?" tanya Arsenio tersenyum. Semenjak hamil besar, istrinya itu sangat suka di ajak bercinta, dan tidak pernah menolaknya. Istrinya itu sangat akresif, dan ingin selalu menguasai permainan.
Sirin menggeleng gelengkan kepalanya, tubuhnya sangat lelah, ia tak punya tenaga untuk bersenang senang. Lagian tadi sore mereke sudah melakukannya sekali.
"Ya udah ! tidurlah !"
Seperti biasa Arsenio akan mengusap usap perut Sirin, sampai Sirin ketiduran.
.
.
Pagi hari, Setelah selesai sarapan, semua anggota keluarga besar Alfarizqi itu pun kembali ke aktifitas masing masing. Jika Orion dan Queen sama sama pergi ke kampus, Arsenio pergi kesekolah. Dan Papa Arya mengantar Darren dan Bilal ke sekolah, sekalian mengurus masalah Bilal di sekolah.
Reyhan, sebentar lagi akan segera melangsungkan pernikahan. Ia tak kemana mana, ia hanya di rumah saja, mempersiapkan diri untuk menikahi Yumna. Dengan memperlanjar hapalan surah Ar rahman sebagao syarat menilahi Yumna.
Elang, dia pergi ke sorum motor miliknya, nanti siang baru ia akan ke kampus.
Sirin dan ratu sejagat, mereka tidak memiliki aktifitas selain mengelus elus perut buncit mereka yang sering gatal, karna bayi di dalam perut mereka sudah berambut.
"Darren ! kamu kenapa nak ?" tanya Papa Arya, kepada Darren yang duduk di kursi penumpang belakang mobilnya.
"Bagaimana perasaan Papa jika ada orang yang menyembunyikan mama ?" tanya Darren tanpa melihat ke arah Papa Arya.
Papa Arya diam dan menghela napasnya.
"Darren tau ! Papa menyuruh orang menghentikan wanita itu berjualan di depan sekolah. Dan mengirim wanita itu entah kemana ?. Punya hak apa Papa mengirim wanita itu ?, mengurusi hidup wanita itu ?" tanya Darren sinis.
"Papa memang tidak berhak atas hidup wanita itu. Tapi Papa berhak atas masa depan anak Papa" jawab Papa Arya santai, pokus dengan jalan di depannya.
"Papa keterlakuan !, Papa egois !, Papa ingin slalu menang sendiri" lirih Darren, karna tak bisa melawan Papanya. Karn hidupnya masih bergantung kepada Papanya.
"Kenapa Papa tidak membiarkanku bisa melihat wanita itu ?" tanya Darren.
"Pokuslah dengan pendidikanmu !, tidak sepantasnya kamu memikirkan seorang wanita di usiamu yang masih beranjak remaja" jawab Papa Arya.
"Bagaimana dengan Queen yang menikah di usia yang tidak wajar ?. Bukankah Papa mengijinkannya ?" tanya balik Queen.
"Mereka hanya menikah saja, tidak melakukan perkawinan sampai Queen dewasa. Dan saat itu usia Orion sudah dewasa, dia sudah mampu bertanggung jawab menafkahi Queen. Beda ceritanya dengan kamu Darren..!" jawab Papa Arya.
"Apa bedanya Pah ?" Darren tidak terima.
"Apa kamu pikir mempertanggung jawabkan hidup seorang wanita itu gampang ?. Apa lagi wanita itu adalah seorang janda beranak satu. Yang itu artinya wanita itu sudah cacat untuk kamu nikahi. Apa kamu yakin bisa menerima kecacatan wanita itu ?, menerima anaknya ?. Dan usia wanita itu lima Tahun di atasmu. Jelas wanita itu akan lebih dulu terlihat tua darimu. dan kamu tau !, wanita lebih cepat menua di banding laki laki, apa lagi wanita yang sudah pernah melahirkan. Apa kamu yakin, bisa menerima wanita itu, setelah menua lebih dulu dari kamu ?. Dan apa kamu sudah sanggup menjalankan kewajiban seorang suami ?. Memberi nafkah lahir batin istri, dan juga membingbinya ?. Pikirkan itu Darren..!" cerca Papa Arya.
Darren pun terdiam memikirkan penuturan Papanya.
"Atau kamu akan mengajak wanita itu berpacaran seperti anak anak remaja seusiamu ?. Wanita itu tidak butuh itu Nak !, dia memiliki anak yang menjadi tanggung jawabnya." Papa Arya pun menjeda kalimatnya, kemudian berbicara lagi." Laki laki butuh usia dan pemikiran yang matang untuk menjalani pernikahan nak !, harus siap lahir dan batin, bukan hanya sekedar nafsu saja. Kamu masih terlalu muda untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita nak !."
"Bagaimana dengan bang Arsen dan Kak Sirin ?. Bukankah mereka menikah saat masih sekolah, bahkan bang Arsen masih kelas dua SMA ?" tanya Darren lagi.
"Mereka adalah contoh yang salah untuk kamu tiru. Papa terpaksa menikahkan mereka, karna mereka sudah melakukan kesalahan besar" jawab Papa Arya, kemudian menghela napasnya.
Sungguh susah menghadapi anak anak yang sedang jatuh cinta di usia masa puber. Hatinya sangat keras, tidak bisa berpikir jernih. Dan susah di beri pengertian.
"Kenapa kamu yakin kalau wanita itu akan menerima cintamu ?. Bagaimana jika dia menolakmu ?. Apa kamu pikir tidak sakit jika cinta di tolak ?" cibir Papa Arya. Percaya diri sekali anaknya itu, cintanya akan di terima wanita itu. Burungnya saja belum bisa lurus.
"Bukankah dulu Papa melakukan cara licik untuk mendapatkan Mama ?. Darren juga bisa melakukan cara licik seperti Pa !" ucap Darren.
"Lakukan saja ! jika kau berhasil menemuakannya. Semoga saja saat kau berhasil menemukannya, wanita itu sudah menikah dengan pria lain" jawab balas Papa Arya.
Setelah Papa Arya menghentikan kenderaannya di depan gerbang SMP HARAPAN, Darren langsung turun setelah menyalam tangan Papa Arya dengan kasar.
Papa Arya pun melajukan mobilnya ke sekolah SD di sampingnya. Melajukan mobilnya masuk ke halaman sekolah.
Turun dari dalam mobil, Bilal langsung mendekati Papa Arya, menggandeng tangan Papa Arya masuk ke dalam gedung sekolah. Dengan langkah yang begitu angkuh. Menunjukkan kepada semua murid murid di sekolah itu, kalau dia benar anak kandung dari pemilik sekolah itu.
Setelah mengantarkan Bilal ke kelasnya dan menjelaskan kepada teman teman Bilal, kalau Bilal akan kandungnya, seperti permintaan Bilal dari rumah. Tidak lupa Papa Arya akan membayar khas bon anak gajahnya itu. Setelah urusan di sekolah itu selesai, Papa Arya pun melajukan kederaannya keluar dari gerbang sekolah. Papa Arya tidak langsung pulang kerumah. Papa Arya melajukan kenderaannya ke salah satu kantor kepemerintahan, untuk merobah akte lahir Bilal. menambah nama belakangnya di ujung nama Bilal. Menjadi Bilal Albiruni Aaryan Putra Alfarizqi, sesuai permintaan Bilal juga.
.
.
Sementara itu di kampus HARAPAN, jika Orion sibuk memberikan tes kepada calon mahasiswa yang layak mendapatkan bea siswa. Queen sendiri sibuk menggambar, membuat desain taman kampus itu, di atas meja kerja di ruangan Orion. Ia akan merancang seluruh taman kampus itu dengan imajinasinya sendiri.
Meski perutnya besar, Queen terlihat sangat semangat. Kehamilan tidak membuatnya kesusahan untuk bergerak.
"Sayang ! makan siang dulu yuk !" ajak Orion masuk keruangannya.
"Sudah siap seleksinya ?" tanya Queen, menoleh sebentar ke arah Orion.
"Belum sayang ! nanti lagi setelah makan siang" jawab Orion, mengecup pelipis Queen. Tidak lupa tangannya mengelus perut Queen.
"Selesai makan kita singgah di kebun bunga ya !. Aku harus memesan bunga bunga dari sekarang. Aku membutuhkan bibit Bunga yang sangat banyak" ucap Queen mengambil kertas catatannya dari atas meja.
"Iya sayang !, ayok ! abang sudah lapar" balas Orion. Manarik tangan Queen ke luar dari ruangan itu.
Selesai makan siang di salah satu warung makan yang menjual ayam peyet. Kini mereka sudah berada di kebun bunga yang berada di pinggir jalan raya.
"Selamat datang Pak ! Bu !, silahkan di lihat lihat dulu Bunganya !" sapa si tukang kebun bunga itu.
"Iya Pak !" jawab Orion, sedangkan Queen, ia hanya tersenyum saja, kemudian memutar pandanganya kesetiap bunga bunga yang di tata dengan rapi. Sebagai pecinta tanaman Bunga, Queen sangat senang melihatnya, di sana juga udaranya sangat sejuk dan bersih.
Di kebun bunga itu banyak terdapat macam Bunga dari ukuran kecil hingga besar. Dan banyak juga jenis bunga bonsai. Dan Bunga bunga yang berasal dari hutan.
Perlahan Queen melangkahkan kakinya kesalah satu Bunga bonsai berukuran besar. Batang dasar bonsai itu adalah pohon beringin yang sangat besar, dengan daun yang sudah di ganti dengan daun pohon beringin jenis yang berbeda, yang di buat berbentuk bulat di setian ujing potongan dahan batang dasarnya.
"Bunga bonsai ini harganya berapa Pak ?" tanya Queen. Menurutnya bunga bonsai itu cocok di tanam di depan pintu masuk ruangan Orion. Dan nanti Queen akan membuat kolam ikan hias berukuran kecil di bawah tanama bonsai itu.
"Delapan puluh juta Bu !" jawab pemilik kebun itu.
"Apa gak bisa kurang Pak ?" tawar Queen.
"Kurangnya hanya bisa sedikit Bu !. Soalnya, setelah bunga ini di pindah ke si lahan pembeli. Kami akan bertanggung jawab sampai bonsai ini tumbuh sempurna di tempat baru Bu !" jawab Pemilik kebun itu.
"Saya akan memesan Bunga lebih banyak dari sini, jika Bapak masih mau mengurangi harganya. Soalnya bunga ini untuk kebutuhan proyek. Saya juga membutuhkan bibit bunga warna wari ribuan polibek. Dan rumput manis dan rumput jepang untuk lima ratus meter lahan. Bibit cemara udang seratus batang, bunga tulip berwarna putih seribu bibit, warna merah seribu bibit. Bunga anting putri seratus batang. Bibit bunga kertas seratus batang, dan bibit oliana seribu batang. Dan pohon palem sepuluh batang."Queen mengajak si Bapak paruh baya itu bernegosiasi.
"Bagaimana Pak ?, itu pesenan awal saya, kalau harga kita cocok sayang akan memesan bunga dari sini sampai proyek itu selesai" tanya Queen lagi.
"Ayo pak ! Bu ! kita duduk di sana dulu !, biar lebih santai membahasnya" Si pemilik kebun itu pun mengajak Queen dan Orion untuk duduk di sebuah gajebo yang berada di tengah tengah kebun.
"Trimakasih Pak !" balas Orion, mengikuti langkah si Bapak itu dengan menggandeng tangan Queen.
.
.