Brother, I Love You

Brother, I Love You
51. Rindu yang menyeruak



"Elang ! abang gak membunuh !" ucap Orion, saat ia di beri kesempatan untuk mengobrol dengan adiknya, sebelum di masukkan ke dalam sel tahanan.


Elang memeluk abangnya itu, Elang yakin, abangnya tidak membunuh. Pasti ada orang yang berniat jahat kepada abangnya.


"Elang percaya bang ! balas Elang." Abang tenang aja, abang tidak sendiri memghadapinya. Mending bang Orion pokus dengan kesehatan kaki abang. Untuk masalah kasus yang menjerat abang. Ada Elang dan yang lainnya yang akan mengurusnya" ucap Elang lagi, menyemangati abangnya.


"Bang Reyhan sudah melakukan peretasan kamera cctv di rumah sakit itu" lapornya kepada Orion.


"Bisa belikan abang buah yang asem asem ?, abang sering mual, jika mencium aroma aroma menyengat. Buah yang asam bisa meredakan rasa mual abang" pinta Orion. Mencoba berdamai dengan keadaan, ia yakin keluarganya bisa mendapatkan bukti kalau dia tak bersalah, dan terbebas dari hukuman.


"Iya Bang !, ada lagi ?. katanya nanti Papa akan datang kesini !."


"Queen !" jawab Orion tersenyum.


Elang menganggukkan kepalanya." Kalau begitu Elang pergi dulu mencari pesanan abang !" pamit Elang. kemudian membalik badannya, pergi untuk mencari buah yang rasanya asam, ke inginan Orion.


"Ayo Pak !" ucap Polisi itu.


Orion pun membalik badannya, mengikuti langkah polisi itu, ke arah sel tahanan. Setelah Orion masuk ke balik jeruji besi, Polisi itu pun langsung menutup pintunya dan langsung menguncinya dengan gembok.


Orion yang berada di dalam, hanya bisa menghela napas pasrah.


Queen !, batin Orion


Rindu itu langsung menyeruak ke relung hatinya. Baru saja mereka memulai hidup baru mereka, menjalankan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Gelombang langsung saja datang menghantam.


.


.


Queen mengerjapkan kelopak matanya saat tersadar dari pingsannya, lalu perlahan membuka matanya.


"Bang Orion..!" tangis Queen kembali. Ia berharap hanya bermimpi. Queen sangat takut jika sampai Orion nantinya dinyatakan terdakwa. Yang mengharuskan Orion mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama, mungkin bisa jadi sampai anak mereka yang belum lahir sudah tumbuh dewasa, baru Orion bisa bebas. Sanggupkah Queen menjalani hidup dalam penantian panjang ?. Kepala Queen terasa sakit dan pusing membayangkan itu.


"Queen ! tenanglah nak !. Orion pasti bebas, yakinlah !" ucap Papa Gandi, duduk di samping Queen yang terbaring di atas tempat tidur.


"Apa Queen tidak boleh hidup bahagia Pah ?" tanya Queen.


"Sayang ! percayalah ! Orion pasti bebas !" ucap Papa Gandi lagi.


"Bagaimana jika bang Orion di tuduh bersalah ?. Bang Orion di penjarakan dalam waktu yang lama. Bagaimana nantinya hidup Queen ?, bagaimana nantinya anak kami tumbuh tanpa sosok Ayah ?" tanya Queen, menyampaikan ke gundahannya.


" Tenanglah ! jangan berpikir macam macam. Fokuslah dengan kehamilanmu, jika kamu sedih dan sampai setres, bisa berpengaruh pada janin yang ada dalam kandunganmu. Berdo'a lah semoga kebenaran cepat terungkap" balas Papa Gandi.


"Iya Queen, benar kata Papamu sayang !. kamu tidak menghadapinya sendirian, ada kami yang selalu ada untukmu !" timpal Mama Vani, yang juga duduk di sebelah Queen, sambil tangannya mengusap usap kepala Queen.


"Bagaimana keadaan Queen ?" tanya Papa Arya, masuk ke kamar Queen dan Orion, yang kebetulan pintunya terbuka lebar.


Papa Gandi tidak menjawab, ia hanya menghela napasnya. Karna mantan gurunya itu bisa melihat Queen yang masih menangis dan terpuruk.


"Queen ! tenanglah ! Papa pasti akan berusaha membebaskan Orion, bagaimana pun caranya" ucap Papa Arya, berdiri di samping tempat tidur.


"Bagaimana keadaan Bunga Pak !" tanya Vani kepada Papa Arya.


"Dia sudah tidur" jawab Papa Arya." aku harus ke kantor polisi, tolong kalian jaga dia" pintanya.


"Iya Pak !" balas Vani. Dan Papa Arya pun keluar dari kamar Queen dan Orion. Papa Arya harus ke kantor polisi, sebisa mungkin ia harus membebaskan anaknya yang tersandung kasus pembunuhan.


.


.


"Sebelum Bang Reyhan masuk ke dalam ruang perawatan si brengs*k itu. Cctv di lorong ini sempat mati" jelas Reyhan."Berarti orang rumah sakit ini ada yang terlibat" jelas Reyhan menganalisa. Reyhan menyipitkan matanya, sambil berpikir.


"Berarti sebelum bang Orion masuk ke ruangan itu, sudah ada orang masuk terlebih dahulu. Bang Orion juga bilang, dia masuk ke ruangan itu, karna mendengar ada suara benda jatuh dengan keras. Setelah bang Orion masuk, ternyata tidak ada yang terjatuh ke lantai. Berarti tidak ada benda jatuh di ruangan itu, melainkan itu adalah bunyi pukulan benda." jelas Reyhan lagi.


Dokter Aldo mengangguk anggukkan kepalanya, sependapat dengan apa yang di katakan Reyhan. Lantas siapa orang yang bermain main menjebak Orion ?, apa tujuan orang itu ?.


Reyhan kembali mengotak atik laptopnya.


.


.


Papa Arya turun dari dalam kederaannya, setelah memaekirkannya di parkiran kantor Polisi. Ia pun masuk ke salah satu ruangan introgasi, menemui polisi yang menangani kasus Orion.


"Selamat siang Pak Polisi !" sapa Arya kepada Polisi yang berada di ruangan itu.


"Selamat siang Pak Arya, silahkan duduk !" balas Polisi itu.


"Saya menemukan bukti kalau anak saya tidak bersalah !" ucap Papa Arya, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia. Tadi setelah istrinya tertidur, Papa Arya menyempatkan diri melakukan peretasan ke cctv rumah sakit milik Aldo, itu sangat mudah bagi Arya.


"Silahkan !" ucap Polisi itu, untuk Papa Arya menunjukkan bukti yang ia dapat.


Papa Arya mengeluarkan HP canggihnya, dari dalam saku jaketnya. Setelah menghidupkannya, Arya pun menunjukkan rekaman cctv rumah sakit, pas pada saat Orion berada di rumah sakit itu.


"Jika memang Orion yang berencana melakukan pembunuhan itu. Dia pasti masuk ke ruangan itu saat cctv ini mati. Bukan setelah cctv di lorong itu hidup kembali, yang berhasil merekamnya" jelas Papa Arya.


Polisi itu pun terdiam, mencerna apa yang di katakan Papa Arya.


"Itu artinya ada orang lain yang melakukannya" jelas Papa Arya lagi." Dan dimana polisi yang bertugas menjaga pintu ruangan itu ?" tanya Papa Arya, menatap tajam ke wajah Pak Polisi yang duduk di hadapannya." Seharusnya ada yang berjaga 24 jam di sana !" tambah Papa Arya.


Lah ! kok malah terbalik, Papa Arya yang mengintrogasi Polisi ?.


Papa Arya bukan mengintrogasi si Bapak Polisi. Tapi membantu menganalisis kasus yang menimpa anaknya. Menurut Papa Arya, anaknya di sini korban fitnah seseorang. Dan jika memang benar anaknya bersalah, Papa Arya tidak akan membelanya.


"Dan bukti visum juga, kalian tidak menemukan jejak sidik jari anak saya di tubuh si korban. Lantas apa yang membuat kalian harus menahannya ?. Bisa saja perawat yang ada di sana bisa terlibat. Kenapa kalian tidak menahannya juga ?" tanya Papa Arya lagi." Dan Polisi yang bertugas berjaga di sana pun bisa terlibat" tambah Papa Arya.


"Kami tidak bisa melakukan penahanan kepada ratusan orang perawat rumah sakit itu Pak Arya. Tapi pihak kami disana sudah melakukan rajia ketat kepada pengunjung dan para pekerja yang akan keluar dari sana. Dan saya pribadi juga, meragukan jika saudara Orion yang melakukan pembunuhan itu. Tapi karna di rekaman cctv rumah sakit itu, saudara Orionlah yang terakhir masuk ke ruangan perawatan Ismail, sebelum perawat yang masuk ke sana menemukan Ismail dengan keadaan kepala di tutup bantal, selang oksigen dan jarum infus lepas dari tubuh Ismail dan sudah tak bernyawa. Sehingga saudara Orion di duga menjadi tersangka sementara" jelas Polisi itu.


"Apa itu semua cukup untuk bukti sarat penahanan ?" tanya Papa Arya menatap tajam polisi itu.


"Untuk sementara kami harus menahannya, untuk memudahkan penyidikan" jawab Polisi itu.


.


.


Reyhan sudah menemukam bukti kalau Orion tidak bersalah. Sekarang tugasnya mencari tau siapa yang melakukan pembunuhan itu sebenarnya. Reyhan terus memantau rekaman cctv di layar laptopnya. Mencari siapa sebenarnya yang bermain di balik kematian Ismail.


Reyhan menekan tombol stop laptopnya, saat ia menemukan gerak gerik orang yang mencurigakan di sekitar area rumah sakit. Reyhan pun menjom foto orang yang berada di depan ruangan pintu teknisi rumah sakit itu. Kemudian Reyhan pun memplay kembali vidio di layar laptopnya, memperhatikan gerak gerik orang yang memakai seragam perawat rumah sakit itu.


Dugaanku benar, perawat rumah sakit ini pasti ada yang terlibat, baiklah ! satu orang sudah ketahuan. Sekarang aku harus mencari pelaku yang sebenarnya. batin Ryahan