Brother, I Love You

Brother, I Love You
58. Talak tiga



"Lihatlah ! kamu menangis Aldo, kamu menangisi nasibmu yang tidak bisa hidup bersama Bunga."


Dokter Aldo sontak saja mengalihkan pandangannya ke arah Shasa istrinya. Dokter Aldo berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya ke arah Shasa yang berdiri di depan pintu kaca penghubung ke taman samping.


"Aku tidak menangisi nasibku karna tidak bisa hidup bersama Bunga. Meski dulu aku sangat mencintainya, dan bahkan sekarang aku masih menyayanginya." Dokter Aldo menjeda kalimatnya sebentar." Aku menangisi nasibku yang memiliki istri seperti kamu. Memiliki istri penjahat sepertimu." Dokter Aldo berbicara dengan mengeraskan rahangnya.


"Apa maksudmu mengatakan aku penjahat ?. Kamu yang jahat, sudah menyakiti hatiku. Kamu menjadikanku pelarianmu dari kegagalanmu dengan Bunga. Kamu tidak pernah mencintaiku !"marah Shasa berteriak.


Dokter Aldo memicingkang matanya ke arah Shasa, lalu berbicara." Kamu tidak perlu pura pura bego. Jangan kamu pikir, karna kamu tidak ikut tertangkap polisi, terlibat atas kematian Ismail di Rumah Sakit milikku. Pak Arya dan anak anaknya tidak tau, kalau kamu juga ikut terlibat. Kamu yang memberitahu informasi tetang peralatan rumah sakit itu, terutama tentang kamera cctv rumah sakit itu. Kamu memanfaatkan dendam orang lain, untuk melampiaskan kecemburuanmu, kebencianmu terhadap Bunga. Entah dari mana kamu mengenal Zoya, aku pun tidak tau. Mereka sengaja menutup mata, karna menghargaiku, dan menjaga perasaan Ghissam dan Sirin. Berdo'a saja ! semoga ketiga perawat yang tertangkap itu tidak membuka mulut mereka, sehingga kamu aman dari jeratan hukum. Tapi aku tidak yakin kalau mereka akan tutup mulut selamanya." ungkap Dokter Aldo, dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Shasa yang terdiam membeku di tempatnya.


Dari mana mereka tau kalau aku yang memberikan informasi tetang peralatan rumah sakit itu ?. Batin Shasa sambil berpikir keras, padahal dia sudah lama tidak mendatangi rumah sakit itu.Tidak munkin 'kan sosoknya t ada di rekaman cctv rumah sakit itu. trus dari mana mereka tau kalau dia terlibat ?. Sedangkan ketiga orang perawat yang tertangkap itu, tidak ada membuka mulut.


Shasa tidak tau, kalau Papa Arya meretas no telephon semua panggilan masuk dan keluar beserta pesan dari no ketiga perawat yang sudah di ponis terdakwa. Papa Arya menemukan no Shasa istri dari Dokter Aldo di sana.


"Aaaakkkhhh !!!" teriak Shasa menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar, lalu menghempaskan tangannya, emosi dengan kesialannya. Dadanya naik turun, tangannya mengepal. Shasa tidak terima, Suami dan kedua anak anaknya sangat dekat dengan Mama Bunga. Dia merasa Suami dan kedua anaknya di rampas oleh Mama Bunga.


"Awas kamu Bunga !!!, kamu sudah merampas anak anak dan suamiku !!!. Aku akan menghabisimu dan anak anakmu !!!" teriaknya lagi.


Shasa masuk kembali ke dalam rumah, dan mengambi kunci mobil di tempat biasa ia meletakkannya. Dan langsung bergegas keluar rumah, dan masuk ke dalam mobilnya, langsung melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi, dan terus membunyikan klakson, supaya satpam yang berjaga membuka gerbangnya.


Aku akan menghabisimu Bunga, Geram Shasa membatin, dan terus menancap gas Kenderaannya di jalan raya.


Dokter Aldo yang mendengar istrinya berteriak marah marah, pun keluar dari dalam kamar. Mendengar deru mobil keluar dari pekarangan rumah, Dokter Aldo pun berlari keluar rumah. Seperti bisa menebak, Shasa istrinya pasti pergi untuk melabrak Mama Bunga. Dokter Aldo pun bergegas masuk ke dalam mobilnya, mengejar Sasha.


Benar dugaan Dokter Aldo, kenderaan Shasa melaju menuju alamat rumah Orion dan Queen. Melihat gerbang rumah Orion dan Queen terbuka lebar. Shasa langsung saja melajukan mobilnya tanpa menurunkan kecepatannya.


"Mama !!! Papa !!!awas !!!"


Brank !!!


"Aaaa..!!!"


Jerit semua yang ada di halaman rumah itu, melihat Arsenio tertabrak, karna berlari kearah mobil yang melaju ke arah kedua orang tuanya. Sehingga dia lah yang menjadi tertabrak.


"Arsen !!!" teriak Sirin, Sirin yang tadinya sudah masuk ke dalam mobil Arsenio, langsung keluar dan berlari ke arah Arsenio yang sudah terkapar dan terluka luka. Sirin langgsung memeluk Arsenio yang bersimpah darah. Begitu juga dengan yang lainnya, semua mendekati Arsenio yang tak sadarkan diri.


"Arsen !" gumam Mama Bunga dan langsung pingsan, jatuh ke pelukan Papa Arya, melihat Arsenio terluka luka dan tak sadarkan diri.


"Sayang !" ucap Papa Arya, membuat Papa Arya kawatir dan bingung harus harus melakukan apa, melihat anaknya terluka luka parah dan istrinya pingsan di pelukannya.


Dengan sigap Reyhan mengangkat tubuh adiknya, membawanya masuk ke dalam mobil miliknya, yang langsung di ikuti Dokter Ghissam. Om Leo yang langsung tanggap pun, gegas masuk ke dalam mobil Reyhan duduk di kursi pengemudi. Dan langsung melajukannya, yang sebelumnya mesin mobil itu sudah hidup.


Papa Arya yang shok, perlahan menurunkan tubuhnya, karna merasakan tubuhnya lemah seperti kehilangan tenaga, dan membiarkan istrinya yang tak sadarkan diri di atas pangkuannya. Pandangan matanya terlihat kosong dan mengeluarkan cairan bening dari sudutnya.


Dokter Aldo yang baru memarkirkan mobilnya, gegas turun dan melangkah cepat ke arah mobil Shasa. Dokter Aldo berusaha membuka pintunya, tapi sayang tidak bisa di buka, karna Shasa menguncinya dari dalam.


"Sha !!! buka pintunya !!!" teriak Dokter Aldo, menggedor gedor pintu mobil Shasa, namun Shasan tidak membukanya.


"Shasa !!! buka pintunya !!!" teriak Dokter Aldo lagi.


"Sirin !" ucap Kania dan Diana, melihat Sirin tumbang begitu saja. Kania dan Diana pun langsung mendudukkan Sirin yang tak sadarkan diri.


"Elang ! tolong bawa Sirin ke dalam !" suruh Tante Tari istri Om Leo.


Elang yang juga masih shok pun tersadar dari lamunannya, mengalihkan tatapannya ke arah Sirin. Tanpa menjawab, Elang pun mengangkat tubuh Sirin membawanya masuk ke dalam rumah, di ikuti Diana, Kania dan Tante Tari, begitu juga dengan Nimas dan Calixto.


Gandi yang melihat Papa Arya terbengong, tanpa permisi, mengangkat tubuh Mama Bunga dari pangkuan Papa Arya, membawanya masuk ke dalam rumah.


"Pak Arya ! Percayalah ! Arsen pasti baik baik saja" ucap Mama Vani kepada mantan guru yang sudah menjadi besannya itu.


"Arsen !" tangis Papa Arya pecah," anakku !." ucapnya lagi. Melihat kejadian na as menimpa salah satu anaknya.


"Reyhan sudah membawanya ke rumah sakit. Pergilah menyusul dengan Gandi, biar aku dan Tari yang mengurus Bunga di sini" ucap Vani lagi.


Tak lama kemudian Papa Gandi keluar dari dalam rumah.


"Ayo Pak Arya !" ajak Papa Gandi, melangkahkan kakinya ke arah mobilnya. Papa Arya pun berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil Papa Gandi, karna dia tidak akan sanggup menyetir dangan keadaan kacau.


"Iya Tante ! Abang Arsen kenapa tadi berdarah darah ?" tanya ulang Bilal.


"Astagfirullah !" gumam Mama Vani, karna semua sudah melupakan kedua bocah SMP dan SD itu.


"Gak kenapa napa sayang !, ayo kalian masuk ke dalam rumah lagi" ajak Mama Vani, menuntun Darren dan Bilal masuk ke dalam rumah. Dan menyuruh Darren membawa Bilal ke kamar untuk tidur.


Mereka semua menjadi harud menunda kepulangan mereka ke rumah masing masing, karna musibah yang menimpa Arsenio anak ke empat Mama bunga dan Papa Arya. Padahal baru juga mereka bernapas lega dengan musibah yang menimpa Queen dan Orion yang baru selesai, kini musibah datang lagi.


Di lantai dua rumah itu, tepatnya di kamar suami istri yang masih muda itu. Pasangan suami istri itu sama sama terbangun dari tidur mereka mendengar ribut ribut di bawah.


"Bang ! apa yang terjadi di bawah !, kenapa ada ribut ribut ?" tanya Queen.


"Abang juga gak tau Queen !, ayo kita lihat" jawab Orion, mendudukkan tubuhnya dan langsung menurunkan kedua kakinya ke lantai.


"Itu seperti suara Om Aldo" ucap Sirin, juga ikut turun dari atas tempat tidur." Sama siapa dia marah marah ?" tanya Queen.


"Gak tau sayang ! ayo kita lihat" jawab Orion lagi.


Orion dan Queen pun keluar dari kamar mereka, melangkahkan kaki mereka menuruni anak tangga ke lantai bawah.


"Apa yang terjadi Ma ?" tanya Queen melihat Sirin tak sadarkan diri terbaring di atas sofa. Queen mempercepat langkahnya ke mendekati Sirin.


"Arsen barusan di tabrak Mamanya Sirin dengan sengaja" jawab Mama Vani, dengan air mata mengalir di pipinya.


"Kok bisa Ma ?" tanya Queen, shok.


Orion yang mendengarnya pun emosi, tangannya mengepal. Orion melangkahkan kakinya keluar rumah. Mendengar suara Dokter Aldo masih berteriak marah marah. Orion yakin istri dari mantan kekasih Mama nya itu masih di situ.


Saat Orion akan mendekati Dokter Aldo, di lihatnya Elang datang dengan membawa balok besi di tangannya. Dan langsung memukulkannya ke kaca jendela penumpang belakang dengan kuat.


"Tante Shasa ! kami sudah berbaik hati kepadamu, kami sudah berpura pura tidak tau kalau kamu terlibat untuk memfitnah bang Orion, membunuh si bocah brengs*k itu. Karna apa ?, karna kami tidak ingin Ghissam dan Sirin kecewa sama Tante, dan akan membenci Tante !. Dan kami juga memghargai Om Aldo yang sudah seperti paman bagi kami. Tapi malah Tante Shasa semakin menjadi, malah tega ingin membunuh orang tua kami !. Apa salah Mama kami Tante ?, sehingga membuat adikku celaka !. Kali ini, jangan Tante Shasa pikir kami akan memberi tante ampun lagi !!" teriak Elang murka.


"Ibu kalian sudah merampas kebahagiaanku !!!, merampas suami dan anak anakku !!!" balas Shasa berteriak dari dalam mobil.


Dokter Aldo yang sudah berhasil membuka pintu yang di samping Shasa. Langsung menarik kasar Shasa keluar dari dalam mobil. Dan..


Plakk !!!


Plakk !!!


Plakk !!!


Tiga tamparan langsung mendarat di pipi Shasa, sampai membuat Shasa terjatuh. Dokter Aldo menamparnya, Sepertinya kesabaran Dokter Aldo sudah habis. Dan murutnya Shasa sudah keterlaluan. Dokter Aldo tidak menyangka wanita yang terlihat lembut dan anggun itu, bisa menghabisi nyawa seseorang.


"Kamu ini iblis Shasa !" geram Dokter Aldo." Detik ini ! aku Aldo Pratama Putra.. memberikan kepadamu talak tiga Shasa Salsabila" ucap Aldo lagi.


Rasanya sudah cukup ia bertahan sampai di sini. Ia sudah tidak bisa melanjutkan pernikahannya lagi dengan wanita seorang pembunuh.


Shasa yang terjatuh, memegangi pipinya yang terasa sangat sakit. Tidak percaya Dokter Aldo melayangkan tangan ke pipinya dengan sangat kuat.


"Kesabaranku sudah habis Shasa, dan kamu sudah tidak pantas diberi toleransi lagi. Aku sudah sering mengingatkanmu, menasehatimu. Tapi kamu masih bertahan untuk memelihara rasa cemburumu yang tak beralasan itu. Sekarang, kamu hancur sendiri dengan sikap egoismu sendiri. Dan penjara sudah menantimu di sana karna perbuatanmu sendiri." ucap Dokter Aldo dengan suara terdengar pasrah.


"Kamu sudah mengecewakanku dan anak anak Shasa" ucap Dokter Aldo. Akhirnya hancur juga rumah tangganya, yang mati matian ia pertahankan selama ini. Tak terasa cairan bening mengalir begitu saja membasahi pipinya.


Shasa berubah setelah kelahiran Bilal, anak dari sahabatnya. Mengekangnya tak boleh ikut bergabung dengan para sahabatnya.


"Aku percaya dengan Om Aldo dan Mama Tante. Meski mereka pernah saling mencintai, aku yakin Mama dan Om Aldo tidak berhianat. Mereka saling tau batasan bersahabat, mereka tau posisi mereka masing masing. Dan lagi pula, Om Aldo dan Mama tidak pernah jalan berdua entah kemana. Tante tidak punya alasan yang tepat untuk cemburu" ucap Orion, memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah. Karna Orion harus mengurus Mama Bunga yang belum tersadar dari pingsannya.


"Elang ! Om serahkan dia sama kamu, kamu uruslah,Om anggat tangan" ucap Dokter Aldon melangkahkan kakinya mengikuti Orion ke dalam rumah. Karna ia harus mengecek kondisi Sirin dan Mama Bunga.


.


.


#Gak apa apa kali ya ? kalau othor buat cerita anak anak Mama bunga dan Papa Arya yang lainnya ?. Soalnya konflik untuk Orion dan Queen sudah selesai, cerita mereka selanjutnya akan othor buat yang hapy hapy aja.