Brother, I Love You

Brother, I Love You
138.Takut kehilanganmu



Kini keluarga Alfarizqi itu sudah sampai di kediaman keluarga Alfqrizqi. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, dengan bernapas lega penuh syukur, dengan keselamatan Papa Arya dan ketiga anaknya.


"Arsen ! Orion ! kalian menginaplah di sini selama seminggu ini. Mama kangen dengan kalian. Nanti setelah acara pernikahan Reyhan selesai baru kalian pulang ke rumah masing masing" pinta Mama Bunga.


"Iya Ma !" jawab Queen dan Sirin berbarengan.


Semenjak menjadi sama sama mantu, merka belum pernah sama sama tinggla di rumah mertua mereka itu. Apa lagi saat ini mereka masuh libur sekolah. Mereka sangat jarang bertemu, mereka ingin menghabiskan waktu bersama.


"Sekarang menantu menantu mama, sana kalian berdua siapkan makan malam kita. Kalian jangan menjadi menantu durhaka. Mama belum pernah memakan masakan kalian berdua. Semalam mama sudah belanjain kalian banyak barang, sebagai gantinya, selama di sini kalian harus menyiapkan makan malam kita" suruh ratu sejagat.


Kemudian berdiri dari kursinya, menarik tangan Papa Arya, berjalan ke arah kamar mereka.


"Sayang ! yakin menyuruh kedua menantumu itu memasak ?" tanya Papa Arya.


"Kita lihat saja nanti !, ayo Aaryanku ! kita masul kamar. Kamu harus bertanggung jawab dengan jantungku yang hampir copot ini. Aku kangen sama kamu Aaryanku sayang !" ucap Mama Bunga, memutar knop pintu di depannya dan mendorongnya sampai pintu itu terbuka.


Pasti Mama sama Papa mau urusan pribadi sore sore begini, Batin Elang.


Yang benar saja, setelah ratu sejagat mengunci pintu kamar rapat rapat. Ratu sejagat langsung memutar tubuhnya ke arah Papa Arya. Dan langsung mencium bibir yang sering membuatnya mabuk kepayang itu. Papa Arya pun langsung membalas ciuman istrinya dengan mesra dan lebih dalam.


Ciuman itu pun terus berlanjut, hingga keduanya berakhir di atas tempat tidur, menyatukan tubuh keduanya, di dalam gelora cinta yang membara. Hingga keduanya melambung tinggi dan terjatuh, terjerambah ke dalam kubangan cinta.


"Trimakasih sayang !" ucap Papa Arya, mencium ujung kepala sang ratu yang bersandar di dadanya.


Mama Bung semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh kekar burung gagaknya itu." Tadi aku sangat takut kehilanganmu Aaryan. Aku sangat takut tak dapat memelukmu seperti ini lagi" ucap Mama Bunga dari hatinya yang paling dalam.


Papa Arya mengecup ujung kepala istrinya lagi." Aku pun begitu Bungaku !" balasnya.


Di bagian dapur rumah itu, kedua menantu di rumah itu pun sibuk memasak menyiapkan makan malam keluarga itu. Queenlah sebagai juru masaknya, sedangkan Sirin hanya bisa membantu saja, karna ia tak terlalu pandai memasak.


"Sirin ! ini iris iris kol sama wortelnya dan juga daun bawang sama seledrinya" suruh Queen menyerahkan bahan bahan masakan kepada Sirin yang duduk di kursi meja makan.


"Trus kamu ngerjain apa ?, ini aja aku belum siap ngupas bawang merah sama bawang putih. Dan sebenarnya kita mau masak apa?" tanya Sirin.


"Masak Tahu isi sayur, sama bakwan. Trus masak sayur sop, sama Ayam rica rica" jawab Queen.


"Banyak sekali, aku sudah capek !" keluh Sirin. Ia tidak pernah memasak dengan porsi banyak.Dan juga ia sangat jarang memasak, karna di rumahnya Arseniolah yang memasak dan sesekali mereka beli.


Queen berdecak, baru ngupas bawang saja Sirin sudah mengeluh capek. Bagaimana bisa betah Arsenio memperistri Sirin yang manja, dan tidak bisa mengerjain pekerjaan rumah sama sekali.


"Kamu bukannya capek ! tapi malas !" cibir Queen. Mengambil satu pisau lagi, dan membantu Sirin mengupas bawang dan mengiris iris sayuran kol dan wortelnya. Dan sesekali Queen bolak balik ke arah kuali yang berada di atas kompor, untuk mengecek ayam yang di gorengnya.


"Sirin !" panggil Queen


"Hm..!"


"Diana bercerita sama aku, kalau tante Melia meminta Diana untuk meninggalkan Om Aldo.Tante Diana menawarkan cek kosong kepada Diana" ucap Queen.


Sontak Sirin menghentikan gerakan tangannya mengupas bawang, dan mengalihkan pandangannya ke arah Queen yang berdiri di sampingnya.


"Trus ?"


"Tante Melia beralasan, kalau tante Shasa ingin memperbaiki pernikahannya dengan Om Aldo, setelah keluar dari penjara nanti" lanjut Queen.


Sirin terdiam


Apa iya seperti itu ?, apa Mama ada niat untuk kembali sama Papa ?. Tapi aku rasa Papa tidak akan menerima Mama lagi. Karna sudah ada Diana di samping Mama. Atau tente Melia yang menginginkan Papa. Batin Sirin


"Aku lihat Diana sudah baik baik aja dengan Om Aldo. Sepertinya Om Aldo sudah berhasil menaklukkan hati Diana. Tadi di bandara kalian bertiga terlihat sangat manis. Diana memang ibu tiri yang baik" ucap Queen lagi.


"Sepertinya begitu, saat aku berkunjung ke rumah Papa. Aku melihat ada bekas ciuman di leher Diana, sampai ke dadanya. Dia menutupinya dengan pondacion, tapi aku masih bisa melihatnya dengan samar" sambung Sirin.


"Kemajuan yang bagus !, sebentar lagi kamu akan mendapatkan adik yang baru. Dan melihat Diana yang masih muda. Sepertinya Diana akan memberikanmu adik lebih dari satu. Mungkin dua atau tiga."


"Dari dulu aku memang sangat ingin memili adik. Aku akan sangat senang jika aku memiliki adik."


"Hm..! jadi aku kangen dengan Ghaisan dan Arcilla" ujar Queen. Memasukkan adonan bakwan satu persatu ke kuali.


"Kamu bisa menyuruhnya datang ke rumahmu !" ucap Sirin. Bertugad memasukkan tumisan kol dan wortel ke dalam tahu yang audah di goreng terlebih dahulu.


"Mereka sibuk sekolah, dan sibuk bermain dengan teman mereka. Mereka tidak mau berkunjung ke rumahku" balas Queen.


"Kamu hebat, pintar masak, rasa bakwannya sangat enak. Sudah cocoklah buka gerobak gorengan" puji Sirin, saat mencicipi bakwan buatan Queen.


"Aku tidak berminat, sekarang aku bercita cita ingin menjadi pengacara. Dan memiliki usaha kebun bunga" balas Queen.


"Kalau aku sih sebenarnya ingin bercinta cita menjadi Dokter kulit. Dulu aku sangat menginginkan melanjutkan pendidikanku ke luar Negri. Tapi melihat kondisiku yang sedang hamil, rasanya tidak mungkin. Dan juga aku rasa Arsen tidak mengijinkannya. Karna sudah pasti kami akan tinggal terpisah." Sirin menghela napasnya. Karna impiannya pupus sudah karna kehamilannya dan statusnya yang sudah menjadi istri.


"Jadi kamu kuliah mengambil jurusan apa ?" tanya Sirin.


"Bisnis !" jawab Sirin. Mengingat ia dan Arsenio yang baru membuka usaha baru. Menurut Sirin, ia membutuhkan ilmu di bidang bisnis, untuk mengembangkan usaha mereka.


Maafkan aku Sirin, karna ke egoisanku,cita citamu kuliah keluar Negri menjadi terhalang. Aku gak mau jauh darimu Sirin, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan membahagiakanmu Sirin. Batin Arsenio, yang sempat mendengar pembicaraan Sirin dan Queen.


Cup !


Arsenio menjatuhkan satu kecupan di pipi cabi milik Sirin. Tidak lupa kedua tangannya me gelus elus perut badut cantiknya itu.


Queen yang berdiri di samping pasangan suami istri remaja itu, memutar bola matanya malas. Melihat keromantisan Arsenio si preman setengah jadi.


"Kak Queen ! bagi gorengannya ya !" ucap Bilal sambil kedua tangannya mengambil tahu dan bakwan yang berada di atas piring saji.


"Itu banyak sekali yang kamu ambil Bilal !!!, nanti badanmu tambah besar melebihi anak gajah !!!" teriak Queen. Karna Bilal sudah berlari membawa lima gorengan di tangannya.


Arsenio dan Sirin yang berdiri di sampingnya sudah sama sama menutup telinga, mendengar teriakan Queen yang memekakkan telinga.


"Sayang ! masaknya sudah siap 'kan ?. Ayo ke kamar, aku sudah kangen sama kamu. Biar menantu tertua aja yang membereskan sisa sisanya" ajak Arsenio, memutar tubuh Sirin, mendorongnya berjalan memuju kamarnya di lantai satu rumah itu.


Plank !!!


"Arsenio ! berani kamu membawa Sirin masuk ke kamarmu. Awas kalian berdua, kupastikan toko kalian bangkrut" ujar Queen, setelah melempar Arsenio dengan sendok baskom tempat adonan bakwannya tadi. Membuat baju Arsenio kotor terkena tepung.


Tidak mau kalah, Arsenio mengambil baskom yang terjatuh ke lantai, melemparnya mengenai kepala Queen.


Dunk !


"Bang Orion !!! Arsen melempar Queen !!!, perut Queen kena !!!" teriak Queen. Mengambil baskom itu lagi dari lantai, kali ini melemparnya ke kelapa Sirin, dan baskom itu pun berhasil telengkup di kepala Sirin.


"Hahahaha....!!!!" tawa Sirin pecah. Melihat lelehan sisa adonan bakwan, menempel di rambut Sirin.


"Queen !" geram Sirin, melempar baskom itu ke kepala Queen.


Dunkkk !


Baskom itu kena lagi ke kepala Queen.


"Ada apa sayang !, kenapa berteriak, siapa yang melemparmu ?" tanya Orion yang baru datang ke dapur.


"Suami istri sialan itu bang Orion !" Queen berbicara dengan bibir mengerucut. Orion pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah Arsenio dan Sirin, yang kotor terkena adonan bakwan.


"Kenapa kalian melempari istriku ? Ha !" Orion menajamkan pandangannya kepada sepasang suami istri remaja itu.


"Kabur...!" seru Arsenio, menarik tangan Sirin masuk ke dalam kamarnya.


"Bang Orion !, bantuin !" manja Queen.


"Ya udah !, duduklah !, biar abang yang beresin" ucap Orion. Melihat istrinya yang terlihat kecapean, memasak banyak untuk anggota keluarga Alfarizqi itu.


Sampai di dalam kamar, Sirin dan Arsenio langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk memberaihkan tubuh mereka. Kebetulan hari sudah sore, sudah waktunya untuk mandi sore.


Arsenio memeluk tubuh Sirin yang sudah tak memakai apa apa. Mencium bahu Sirin yang di guyur air shawer.


"Badut !" panggilnya.


"Lakukanlah!" ucap Sirin


"Kamu memang istri yang pengertian" Arsenio tersenyum, Sirin langsung paham maksudnya.


Sirin menyentuh kedua tangan Arsenio yang me gusap usap perut besarnya. Sirin tersenyum dan memejamkan matanya menikmati ciuman Arsenio di leher dan bahunya. Sungguh sangat nikmat, Sirin sangat menyukai setiap sentuhan cinta dari Arsenio.


"Aku minta maaf ya ! sudah membawamu jatuh ke lembah dosa besar, sudah menodaimu" ucap Arsenio.


Sekarang mereka sudah berada di atas sajadah. Memangku Sirin, setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagai ummat islam. Untuk pertama kalinya Arsenio mengimami Sirin bersujud kepada sang khalik.


"Saat di pesawat yang hampir berbahaya itu. Aku sangat takut dengan dosa itu. Aku sangat takut, aku mati sebelum sempat bertaubat, sebelum sempat aku membawamu ke jalanNya. Sebelum sempat melihat anak kita ini lahir. Sebelum sempat aku membuatmu bahagia. Aku sangat takut Sirin" ucap Arsenio, memeluk Sirin erat.


"Aku juga sangat takut kehilanganmu Arsen !" balas Sirin, membalas pelukan erat Arsnio.


Arsenio mengusap perut Sirin yang semakin membesar, dengan wajah berbinar.


"Aku gak menyangka, hanya sekali mencolekmu, langsung tumbuh benihku di sini" ucap Arsenio.


"Satu kali bagaimana ?, kamu melakukannya nonstop dua kali" balas Sirin mengerucutkan bibirnya.


"Itu karna kamu tak ingin aku berhenti, karna kamu keenakan" cibir Arsenio.


"Jangan membahas itu lagi !, katanya mau taubat" kesal Sirin, kemudian menggigit dada Arsenio.


"Sakit badut !" keluh Arsenio, Karna Sirin menggigitnya gak nanggung nanggung.


.


.