Brother, I Love You

Brother, I Love You
Jangan pergi



"Assalamu alaikum" lirih Jhonatan melangkahkan kakinya.


Bruk!


"Sabina!" seru semua orang yang berada di ruangan itu, melihat Sabina tiba tiba tumbang saat berjalan ingin menyusul Jhonatan.


"Sabina" panggil Arsen yang lebih dulu menghampiri Sabina yang tak sadarkan diri.


Jhontan langsung membalik tubuhnya dan mendekati Sabina yang berada di pangkuan Arsen.


"Sabina" panggil Jhonatan mengangkat tubuh Sabina dari pangkuan Arsen.


"Bawa Sabina ke kamar" ujar Queen melangkahkan kakinya ke arah kamar tamu untuk membukakan pintu.


Tanpa menjawab, Jhonatan pun mengikuti langkah Queen, membawa Sabina masuk ke kamar tamu rumah itu.


"Oleskan minyak kayu putih ini ke hidungnya." Queen mengambil botol minyak kayu putih dari atas nakas, memberikannya kepada Jhonatan.


Jhonatan menerimanya, setelah membuka tutup botolnya, Jhonatan menumpahkan sedikit minyak kayu putih itu ke ujung jarinya, lalu mengoleskannya ke hidung Sabina.


Sabina langsung mengerjabkan matanya saat mencium aroma minyak kayu putih menusuk ke hidungnya.


"Sabina" panggil Jhonatan dengan suara lembutnya sambil satu tangannya mengusap kepala Sabina.


"Hiks hiks hiks.... Bang Jho jahat, tega ninggalin aku" isak tangis Sabina tanpa membuka matanya."Aku kan gak jadi kerja, kenapa Bang Jho meninggalkan aku sendiri di rumah?."


Orion dan para adik adik dan adik adik iparnya sama sama menghela napas mendengar apa yang di katakan Sabina dalam tangisnya. Padahal usia adik mereka itu bisa di bilang tidak muda lagi, tapi sifat manja dan kekanak kanakannya masih sangat kental. Mereka pun meninggalkan kamar itu, membiarkan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka.


"Kamu mendiamkanku, kamu terus menghinaku Sabina, kamu sering merendahkanku, kamu tidak menghargaiku, kamu tidak menghormatiku sebagai suami kamu. Aku punya hati Sabina, hatiku juga punya perasaan. Aku gak sanggup jika terus kamu menyakiti hati ini, perasaan ini Sabina" balas Jhonatan.


"Dari awal aku sadar, aku ini tidak pantas untukmu. Aku sadar derajat kita jauh berbeda. Aku sadar dengan kemiskinanku Sabina. Tapi... tapi aku... tapi aku mencintaimu Sabina. Sehingga aku tidak peduli dengan semua ketidak pantasan itu" tambah Jhonatan.


"Tapi... jika aku hanyalah sebuah penderitaan bagimu....." Jhonatan memejamkan matanya dan menengadahkan wajahnya ke atas, berusaha menahan diri untuk tidak mengucapkan kata yang bisa membuat mereka terpisah.


Sabina mendudukkan tubuhnya dan langsung memeluk Jhonatan yang duduk di pinggir kasur.


"Aku minta maaf, aku salah. Aku janji akan menjadi istri yang baik" tangis Sabina." Aku akan menjadi istri yang penurut, jangan pergi."


Jhonatan menbalas pelukan Sabina, dan mengusap usap punggung istrinya itu dari belakang. Kalau sudah melihat Sabina menangis seperti itu, Jhonatan menjadi kasihan.


"Aku gak mau kamu pergi ke luar Negri. Jangan pergi, kalau kamu pergi, bawa aku. Jangan tinggalin aku" isak tangis Sabina lagi sampai cigukan.


"Aku pikir, untuk sementara lebih baik kita berjauhan dulu Sabina. Biar kita sama sama introfeksi diri. Biar kita sama sama merenung."Jhonatan butuh waktu, hatinya sudah sangat terluka dengan sikaf Sabina selama ini.


Delapan Tahun menjalani pernikahan, Sabina sering kali menuntutnya masalah uang. Sering marah marah dan ucapannya pedas menusuk ke hati. Tapi Jhonatan selalu mencoba untuk bersabar. Mungkin saat ini Jhonatan sudah lelah menghadapi sifat Sabina.


Sabina menggeleng gelengkan kepalanya." Jangan pergi, ku mohon, aku mencintai kamu, aku minta maaf."


"Aku butuh waktu Sabina"ucap Jhonatan.


"Kamu sudah meninggalkanku selama dua minggu, itu sudah cukup. Jangan pergi lagi, demi anak kita yang ada di dalam perutku" bujuk Sabina.


"Setelah aku berhasil dan sukses, aku akan kembali" balas Jhonatan. Niatnya sudah bulat untuk tetap pergi.


Sabina melepas pelukannya dari tubuh Jhonatan, lalu menghapus air matanya, memandang Jhonatan meneduh.


"Aku harus tetap pergi, demi kamu dan masa depan anak anak kita. Aku harus bisa menjadi suami yang mampu menafkahi kalian." Jhonatan melingkarkan telapak tangannya di kedua sisi wajah Sabina." Jika nanti ada waktu luang, aku akan pulang."


Sabina menggeleng gelengkan kepalanya dengan air mata mengalir deras dari sudut matanya.


"Bang Jho menghukumku" ucapnya getir.


Jhonatan menggeleng gelengkan kepalanya." Aku mencintai kamu Sabina. Aku pergi untukmu, untuk masa depan anak anak kita kelak. Kalau aku tetap di sini, kehidupan kita tidak akan berubah. Aku akan tetap menjadi suami miskin. Aku gak mau terus kamu sakiti Sabina, terus kamu rendahkan dan kamu hina. Aku takut hati ini semakin terluka. Aku gak mau Sabina, aku gak mau jika cintaku hilang karna terus kamu sakiti."


Sabina menghambur kembali ke pelukan Jhonatan," Jangan pergi."


Jhonatan megusap kepala Sabina dari belakang, dan mengecup kepala wanita yang sudah menemaninya delapan Tahun itu.


"Aku janji akan kembali." Jhonatan melepas pelukan tubuh mereka dan langsung berdiri dari pinggir kasur, meninggalkan Sabina menangis terisak di kamar itu.


Sampai di ruang tamu, Jhonatan sekali lagi berpamitan pada ipar iparnya. Dan menitipkan Sabina karna dia harus pergi.


"Bang, untuk sementara waktu aku titip istriku sama kalian" ucap Jhonatan.


"Maksudnya?" Orion menatap Jhonatan dengan kening mengerut. Apa dan bagiamana maksud Jhonatan menitipkan Sabina pada mereka.


"Aku rasa... untuk sementara waktu, lebih baik kami berjauhan. Tapi itu bukan berarti aku menceraikannya. Aku harus tetap pergi" jelas Jhonatan.


"Sabina lagi hamil, apa kamu tidak bisa merubah pikiranmu?" tanya Orion. Sabina memang bersalah, tapi tidak bagus jika meninggalkan istri dalam keadaan hamil.


Jhonatan menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan."Aku yakin kalian akan menjaganya dengan baik Bang. Maaf bang, aku harus pergi."


Jhonatan pun segera meninggalkan rumah itu. Orion dan semua adik adiknya tidak bisa berbicara apa apa lagi. Mungkin Jhonatan sudah terlalu sakit, sehingga ia membutuhkan waktu lebih lama untuk mengobatinya.


Sabina yang masih berada di dalam kamar, terus menangis terisak, menyesali sikafnya selama ini. Kini Jhonatan memilih pergi menjauhinya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang, supaya suaminya itu mengurungkan niatnya untuk pergi?.


Reyhan berdiri dari tempat duduknya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang di tempati Sabina. Reyhan menghela napas melihat adiknya itu menangis meringkuk di atas kasur.


"Ssst! berhentilah menangis, kasihan bayi kamu, nanti dia ikut bersedih." Reyhan menarik tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya." Kamu tau Sabina? Dulu Papa juga pria miskin. Tapi Mama tidak pernah menghina Papa. Mama selalu menghormatinya sebagia suami. Meski dulu kata Papa, Mama adalah gadis yang nakal, bandel dan bodoh. Tapi Mama tidak pernah menyakiti hati Papa dengan ucapannya atau dengan sikafnya. Bagi Mama harta itu tidak lebih berarti dari Papa dan keluarga."


"Mama adalah istri yang patuh, sehingga Papa tidak betah berlama lama di luar kota. Papa akan selalu berusaha balik hari setiap ada urusan di luar kota. Kata Papa, dia slalu merindukan Mama."


"Seharusnya kamu bersyukur memiliki suami seperti Jhonatan. Dia sudah baik, ganteng, tampan, dia sangat mencintai kamu. Hanya saja dia tidak punya modal yang banyak."


"Lagian, masalah uang, seharusnya kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Kami pasti membantu kalian selagi kami mampu, kami tidak akan membiarkan hidup kalian kekurangan. Untuk masa depan anak anak kalian pun, kami pasti akan membantunya. Mereka adalah keponakan kami, kami juga menyayangi mereka seperti anak kami."


"Iya Sabina"


"Harta itu adalah titipan. Semakin banyak harta yang di titipkan pada kita, semakin besar pertanggung jawabannya di akhirat. Bahkan uang seribu perak saja, itu di pertanyakan dari mana kita mendapatkannya, dan di gunakan untuk apa?. Apa lagi dengan harta yang jutaan dan bahkan milliaran." Yumna menjeda kalimatnya sebentar, kemudian mengusap kepala Sabina dari belakang.


"Seharusnya kamu mendoakan Jhonatan, supaya di mudahkan rezekinya. Bukan malah merendahkannya, mengatakannya pria miskin. Siapa pun laki lakinya pasti sakit hati" nasehat Yumna kepada adik iparnya itu.


"Suami mu itu sedang berusaha, dia juga mencoba merintis usaha, hanya saja usaha itu belum berjalan lancar. Seharusnya kamu bersabar dan terus mendukungnya." sambung Orion menyusul masuk ke kamar itu dengan yang lainnya.


"Iya Sabina, seharusnya kamu menimati prosesnya. Jika nanti suatu saat suami mu sukses, kamu akan merasakan nikmat yang luar biasa" sambung Sirin. Bahkan dia pernah merasakan hidup yang jauh lebih susah. Bahkan buat makan aja harus ngirit.


"Bang Rey, bilangin sama bang Jho supaya jangan pergi. Aku janji akan menjadi istri yang baik" isak tangis Sabina dari pelukan Reyhan.


"Abang gak bisa Sabina, Jhonatan sudah terlanjur sakit hati. Hanya kamu yang bisa membujuknya" tolak Reyhan.


Sabina semakin menangis terisak. Ia pun melepaskan pelukannya dari Reyhan dan turun dari atas tempat tidur.


"Kamu mau kemana?" tanya ustadz Bilal melihat Sabina keluar kamar.


"Ke rumah orang tua bang Jho" jawab Sabina menghapus air matanya, lalu pergi.


Jhonatan yang baru sampai di rumah orang tuanya langsung masuk ke dalam kamarnya dan langsung keluar dengan membawa sebuah koper di tangannya.


" Papa mau berangkat sekarang?."


Pandangan Jhonatan langsung berpaling ke arah Agam yang baru masuk ke dalam rumah.


"Iya, maafin Papa ya. Papa harus pergi untuk mencari uang yang banyak. Supaya Papa bisa beli mainan bagus buat Agam." jawab Jhonatan menahan tangisnya. Sedih jika harus berpisah dari Agam, anaknya. Jhonatan pun menurunkan tubuhnya di depan Agam, membuat wajah mereka sejajar.


"Jangan sering nyusahin Neneknya. Kasihan Nenek sudah tua. Dan juga jangan terlalu sering ikut narik angkot. Nanti pendapatan Kakek berkurang, karna kursinya kamu dudukin terus" ucap Jhonatan berusaha mengulas senyumnya.


Iya Pah, jangan kawatir. Agam kan anak yang pintar seperti Papa" balas Agam berbicara dengan bibir menekuk ke bawah. Kemudian menghapus air matanya yang mengalir dari sudut matanya." Ah! Papa bikin Agam menangis aja" ucapnya kesal.


Jhonatan langsung menarik putranya itu ke dalam pelukannya, menangis mencium kepala Agam.


"Doain Papa ya Nak!" ucapnya lirih, suaranya tercekat akibat sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.


"Iya Pah!" balas Agam dengan suara lembutnya, seolah paham apa yang di rasakan sang Papa.


"Nanti jaga Mama ya, dengarin apa kata Mama, jangan pernah melawan sama Mama" ucap Jhonatan lagi menasehati Agam.


"Iya Pah, tapi Papa perginya jangan lama lama" lirih bocah itu, meski tak menangis meraung raung, tapi air matanya terus mengalis deras, hidungnya nampak merah sekali.


"Iya sayang, kalau Papa sudah sukses, Papa akan cepat pulang."


"Janji !" Agam mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Jhonatan.


"Papa janji" ucap Jhonatan menautkan jari kelingking mereka.


"Okeh!" bocah kecil itu pun menghapus air matanya, mencoba mengikhlaskan sang Papa mencari rejeki ke perantauan.


"Anak Papa yang pintar." Jhonatan mengusap lembut kepala bocah pintar dan menggemaskan itu.


"Kamu akan berangkat sekarang?, bukankah kamu bilang tiga hari lagi?" tanya Ibunya Jhonatan yang baru keluar dari dalam kamarnya.


"Iya Ma, nanti sebelum masuk ke perusahaan, aku harus mempersiapkan diri dulu Ma" jawab Jhonatan, kembali berdiri sambil membawa Agam ke gendongannya.


Wanita paru baya itu menghela napasnya, dia sudah berusaha mencoba mengurungkan niat Jhonatan untuk tidak pergi, mengingat Sabina sedang hamil. Tapi sepertinya hati anaknya itu sudah mengeras.


"Pulanglah sesekali, apa lagi pas istrimu nanti melahirkan. Jangan membiarkannya berjuang sendiri nantinya" ucap wanita itu.


"Iya Ma" balas Jhonatan.


Mendengar klakson angkutan Ayahnya dari luar, Jhonatan pun langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu. Tadi dia sudah mangabari Ayahnya, memintanya untuk mengantarnya ke bandara.


"Bang Jho mau berangkat sekarang?" tanya Adik Jhonatan yang laki laki, usianya sudah 20 Tahun, masih kuliah.


"Iya" jawab Jhonatan.


Adiknya itu hanya bisa menatap teduh Abangnya itu tanpa bisa membantu. Adiknya itu merasa bersalah, karna sudah menjadi beban Abangnya, yang sudah membiayai sekolahnya selama ini. Padahal untuk memenuhi kebutuhan istrinya, abangnya itu tidak sanggup. Sehingga rumah tangga Abangnya berantakan karna masalah uang.


"Tolong jaga Agam ya" ucap Jhonatan pada Adiknya itu.


"Iya bang, jangan khawatir." Pria berusia 20 Tahun itu pun mengambil Agam dari gendongan Jhonatan.


"Bang Jho mau mau berangkat?."


Jhonatan langsung mengalihkan pandangannya ke arah gadis berusia 19 Tahun yang berjalan mendekatinya. Gadis itu langsung memeluknya sambil menangis.


"Doain Abang ya" ucap Jhonatan lirih.


Gadis yang itu menganggukkan kepalanya sambil menghapus air matanya.


"Ini semua gara gara Kak Sabina. Abang jadi harus pergi!."


Jhonatan langsung melepas pelukannya dari tubuh Adik perempuannya itu. Dan langsung mengejar Adik perempuannya yang paling kecil yang sudah berusia 17 Tahun.


"Laria !" Jhonatan menangkap tubuh adinya itu membawanya ke pelukannya.


"Kenapa Abang harus pergi?. Kalau wanita sombong itu tidak mau sama Abang, kenapa memaksanya?. Abang bisa mencari wanita lain di luaran sana!. Yang lebih cantik dan lebih kaya!, yang bisa menerima Abang apa adanya!" marah gadis remaja itu di dalam pelukan Jhonatan.


Adik mana yang tidak sakit hati, melihat Abangnya di sakiti orang lain. Abangnya itu pria yang baik, hanya saja Abangnya tidak kaya.


"Lepaskan wanita sombong itu, aku gak mau punya kakak ipar seperti dia" geram Laria.


.


.