
Kini Bilal dan Hani sudah berada di atas tempat tidur milik Hani. Bilal duduk bersandar ke kepala ranjang menggunakan bantal di punggungnya. Sedangkan Hani ia duduk di pelukan Bilal, bersandar ke dada bidang Bilal. Dan tangan Bilal terus mengusap usap kepala Hani yang sudah tidak memakai jilbab lagi. Ya ! Hani membuka jilbabnya, karna Bilal berhak melihatnya.
"Kenapa Ustadz bisa bercerai dengan Ibunya Yasmin dan Annisa ?" tanya Hani, sambil tangannya memain mainkan jari tangan Bilal yang berada di atas perutnya.
"Takdir !" jawab Bilal singkat, tak ingin menceritakan aib rumah tangganya dengan mantan istrinya. Apa lagi itu kepada istri barunya, Hani.
"Maaf !" ucap Hani, menyadari kesalahannya.
Bilal mengulas senyumnya," gak apa apa !" balasnya mengecup ujung kepala Hani yang berada tepat di atas dagunya.
"Tidak bagus membicarakan wanita lain, atau laki laki lain saat kita berada di atas tempat tidur. Ini area khusus untuk kita berdua, hanya ada nama kita di dalam kamar ini" ucap Bilal, sambil tangannya menggerai gerai rambut panjang Hani. Yang ternyata di dalamnya sudah mulai di tumbuhi uban, Bilal tersenyum melihat itu.
"Ternyata kamu sudah tua!" ucap Bilal, lalu tertawa cekikikan.
Hani langsung saja mengerucutkan bibirnya." Ustadz juga !" balasnya.
"Tapi aku masih terlihat tampat dan gagah !"ucap Bilal memuji diri sendiri.
"Kata siapa ?"
"Barusan aku yang bilang !" jawab Bilal lagi.
"Kenapa dulu Ustadz gak mau mengakui, kalau Ustadz juga menyukaiku ?" tanya Hani lagi.
Bilal tidak menjawab. Bilal malah meraih dagu Hani, mendongakkan wajah Hani ke arahnya. Perlahan Bilal mendekatkan wajahnya ke wajah Hani. Sampai Hani merasakan hangatnya sapuan napasnya di kulit wajah Hani. Bilal menggerakkan jempol tangannya, mengelus lembut bibir Hani. Perlahan Bilal semakin mengikis jarak wajah mereka, sampai bibir mereka menempel. Refleks Hani memejamkan matanya, menikmati hangatnya benda kenyal Bilal menempel di bibirnya.
Setelah seperkian detik, Bilal melepas bibirnya yang menempel di bibir Hani. Refleks Hani membuka matanya, karna Bilal hanya mengecup bibirnya saja.
"Apa ?" Bilal merekahkan senyumnya sampai gigi giginya nampak berjejer rapi, melihat wajah kecewa Hani, karna tidak melakukan hal lebih. Bilal menjauhkan sedikit tubuh Hani dari tubuhnya, supaya ia bisa melihat wajah Hani dengan jelas.
"Ayo cintai aku !" ucap Bilal menggigit bibir bawahnya tanpa menyurutkan senyumnya. Ia ingin melihat, sejauh mana keberanian Hani mengejar cintanya.
"Ustasz !" Hani malu, ia pun memandang wajah Bilal dengan tatapan mengiba.
"Ambillah cintaku ini Hani !, sekarang cintaku ini sudah menjadi milikmu seutuhnya !." Bilal lagi memandang wajah Hani penuh cinta.
"Aku milikmu Hani !, aku milikmu sayang !" ucap Bilal lagi, sambil tangannya mengusap usap kepala Hani.
"Ustadz !" tangis Hani tiba tiba.
Hani kembali memeluk Bilal, sungguh ia tidak percaya, rasanya masih seperti mimpi, bisa memiliki Bilal seutuhnya.
"Kenapa menangis lagi ? Hm..!. Sekarang waktunya kita bersenang senang Haniku !" tanya Bilal lembut. Entah sudah berapa kali istrinya itu menangis dan memeluknya.
"Aku menangis bahagia Ustadz !" jawab Hani.
"Sssttt...!" Bilal mengecup ujung kepala Hani lagi.
Bilal pun membaringkan tubuhnya, membiarkan Hani tetapa berada di dalam pelukannya." Jangan menangis lagi ya !, nanti kita gak sampai ke surga malam ini" bujuk Bilal tersemyum dengan suara lembutnya.
Melihat kondisi mental Hani malam ini, sepertinya mereka harus menunda perjalanan mereka menuju syurga. Tak apa, masih ada hari esok, pikir Bilal. Bilal pun terus mengusap usap kepala Hani yang berada di atas lengannya, dan mengecup ngecupnya, hingga Hani tertidur pulas.
Melihat Hani sudah tertidur pulas, Bilal memindahkan kepala Hani ke atas bantal, karna lengannya sudah terasa kebas dan kesemutan. Bilal pun memandangi wajah Hani yang berada tepat di depan wajahnya. Bilal mengulurkan tanganya untuk mengelus wajah Hani, lalu mengecup keningnya dengan penuh perasaan. Tak terasa, Bilal meneteskan air matanya.
Sama seperti Hani, Bilal juga merasakan hal yang sama. Merasakan cinta dan rindu yang mendalam. Sama seperti Hani, Bilal juga merasa, kalau cintanya untuk Hani tidak pernah hilang dari dalam hatinya, selama ini ia hanya menguburnya dalam dalam di dasar hatinya yang paling dalam.
Bilal tidak lupa itu, saat dulu dia menangis di belakang asrama laki laki, karna merindukan Papa dan Mamanya, Hani datang menghiburnya.
Saat itu usia Hani baru delapan Tahun, kelasnya tiga Tahun di bawah kelas Bilal. Hani adalah gadis yang ceria dan juga nakal plus bandel. Meski di pesantren itu, santri perempuan di larang masuk ke area santri laki laki. Namun itu tidak berlaku kepadanya. Dia bebas berkeliaran kemana pun dia mau.
.
.
Kilas balik
"Uuuu.....! Papa ! Mama ! Bilal kangen !. Bilal gak mau sekolah di sini Pa !. Bilal janji gak nakal lagi Pa !,Jemput Bilal Pa !" tangis Bilal berbicara sendiri.
"Bilal janji gak mukul orang lagi di sekolah. Bilal janji gak gangguin cewek lagi. Bilal janji gak khas bon lagi Pa !. Bilal janji gak mecahin pas Bunga Mama. Bilal janji gak banyak jajan lagi Pa !" tangisnya lagi.
Semenjak lahir, ia tidak pernah berpisah dari keluarga. Tapi kini dia di kirim Papanya sekolah ke pesantren. Meski masih berada di kota yang sama. Masalahnya, Bilal sudah tidak berada di lingkungan keluarganya.
"Hua !!! nangis ya ?"
Bilal terlonjak kaget sampai ia terjatuh dari tempat duduknya.
"Kenapa menangis ?. Aku aja yang di tinggal Abi ku selama lamanya gak menangis !" ucap gadis kecil berwajah imut itu.
"Abi ?" Bilal mengerutkan keningnya ke arah gadis kecil itu.
"Ayahku ! tapi aku biasa memanggilnya Abi !. Abi ku sudah meninggal" jelas gadis kecil itu lagi.
Bilal pun terdiam, menajamkan pandangannya ke wajah gadis itu.
"Kalau masih hidup, enak ! kita bisa melihatnya kalau kita kangen. Kalau sudah meninggal, mana bisa. Tapi kata Umi aku gak boleh sedih" ucap gadis itu lagi.
"Ini kan area asrama putra, kenapa kamu bisa masuk ke sini ?" tanya Bilal.
"Kamu cucu pemilik pesantren ini ?."
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Main yuk !" ajaknya.
"Main apa ?" tanya Bilal
"Main petak umpat !" jawab gadis kecil itu.
Bilal diam sambil berpikir, kemudian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Siapa yang duluan ngumpat ?."
"Aku !"
"Oke !" Bilal pun mendekati batang pohon kayu di dekat mereka. Kemudian menyenbunyikan wajahnya di pohon itu.
Gadis kecil itu langsung berlari, mencari tempat bersembunyi.
"Tunggu !" panggil Bilal tiba tiba.
Gadis kecil itu langsung menghentikan larinya.
"Namamu siapa ?" tanya Bilal
"Hani ! namaku Ummu Hani !" jawab gadis itu, kembali melanjutkan langkahnya.
Bilal tersenyum, ia merasa menyukai nama itu. Ummu Hani !, batinnya. Hani adalah perempuan pertama yang mau berteman dengannya.
Bilal kembali menyembunyikan wajahnya ke pohon yang berada di depannya. Bilal pun menghitung sampai sepuluh, mendengar suasana terasa sunyi. Bilal menjauhkan tubuhnya dari pohon itu, dan pergi mencari Hani.
Bilal tersenyum, dia langsung melihat gadis itu dimana bersembunyi. Gadis kecil itu tidak pintar bersembunyi. Gadis itu hanya menyembunyikan tubuhnya di balik bunga yang berada di halaman belakang pesantren itu. Tapi tidak memperhatikan bajunya terlihat atau tidak.
"Hani ! aku sudah melihatmu !" seru Bilal." Kamu berada di belakang bunga bunga berwarna hijau kekuningan !" seru Bilal lagi, sambil berlari ke arah pohon tadi.
Hani keluar dari persembunyiannya dengan bibir mengerucut." Ustadz pasti tadi ngintip 'kan ?" tuduhnya.
"Kamu aja yang gak pintar bersembunyi !" sanggah Bilal.
"Ustdaz pasti bohong !" sela Hani.
"Namaku Bilal, kenapa kamu memanggilku Ustadz ?. Aku bukan Ustdaz"tanya Bilal.
"Kata Kakek ! orang orang yang bersekolah di sini, nanti akan menjadi Ustadz !" jawab Hani.
"Panggil aja namaku Bilal, aku gak suka di panggil Ustadz !" ucap Bilal.
"Ustadz Bilal !" panggil gadis kecil itu malah.
"Sekarang giliranku yang bersembunyi !, ayo tutup matamu ke pohon itu !, Jangan ngintip ya !" suruh Bilal.
"Hani hitung sampai sepuluh ya !." Hani pun melangkahkan kakinya ke arah pohon itu, menyembunyikan wajahnya di sana, dan menghitung dari satu sampai sepuluh.
Selesai menghitung sampai sepuluh, Hani membuka matanya dan menjauhkan tubuhnya dari pohon itu. Hani memutar pandangannya ke sekitaran taman, berpikir kira kira ke arah Mana Bilal bersembunyi.Hani memgerucutkan bibirnya, karna bingung kemana Bilal bersembunyi.
Bilal yang mengintip dari balik sebuah pohon, tersenyum melihat Hani yang mencari carinya.
"Ustadz Bilal sembunyi kemana ya ?" gumam Hani, mencari cari Bilal ke setiap bunga dan pohon di belakang asrama itu.
Diam diam, Bilal pun melangkahkan kakinya pelan pelan ke arah asrama, dan masuk ke dalam asrama meninggalkan Hani sendiri di belakang asarama. Sampai di dalam kamar asrama, Bilal pun mengintip Hani dari kaca jendela. Bilal tersenyum dan tertawa cekikikan, karna berhasil mengerjai Hani. Bilal terus memperhatikan wajah Hani yang terlihat cantik dan imut.
"Wajahnya sangat lucu !" gumam Bilal, melihat wajah Hani yang sudah memerah karna berlari kesana kemari mencarinya.
"Ustadz Bilal !! Ustadz dimana ? kok gak ada ?" seru Hani yang terus mencari Bilal.
"Kemana dia ?" gumam gadis kecil itu lagi, mengerucutkan bibirnya.
"Apa kamu menyukainya ?."
refleks Bilal menoleh ke arah samping, melihat teman satu kamarnya berdiri di sampingnya."Dia terlihat sangat lucu !" balasnya tersenyum.
"Lucuan mana ?, dia apa tubuhmu yang gendut itu hahahaha....!" tanya anak cowok di sampingnya.
Bilal mengerucutkan bibirnya, dan pandangannya terus memperhatikan Hani yang masih terus mencarinya di belakang asrama.
Sepertinya Bilal menyukai Hani, dan Hani juga sepertinya menyuaki Bilal, batin anak laki laki yang berdiri di samping Bilal. Anak laki laki itu terus memperhatikan Bilal dan Hani bergantian.
Bahkan bersamaku Hani gak mau bermain bersama , padahal Hani sudah lama mengenalku !, batin anak laki laki itu lagi, meneduhkan pandangannya.
Anak laki laki itu adalah Hidayah, dia anak dari kerabat keluarga pesantren itu. Dan orang tuanyalah yang membiayai pembangunan pesantren itu.
Kilas balik selesai
.
.