Brother, I Love You

Brother, I Love You
135.Ketemu mantan



Dokter Aldo melajukan perlahan kenderaannya keluar dari area rumah sakit bersama Diana duduk di sampingnya, bergabung dengan pengguna jalan lain di jalan raya.


"By ! kita mau kemana ?" tanya Diana melihat jalan yang mereka lewati bukan jalan pulang ke rumah.


Dokter Aldo mengusap kepala Diana dari belakang dengan sebelah tangabnya, dan sebelahnya sibuk mengendalikan setir mobilnya, sembari tersenyum.


"By ! kok gak di jawab?" rajuk Diana manja, mengerucutkan bibirnya.


"Kamu ingin kita kemana ?" tanya balik Dokter Aldo.


"Ikh ! By..!" Diana kesal, karna Dokter Aldo tak menjawab pertanyaannya, malah nanya balik.


Dokter Aldo pun menarik tubuh Diana supaya bersandar ke dadanya. Kemudian menjatuhkan satu kecupan di ujuk kepala Diana. Tak lama kemudian Dokter Aldo pun menghentikan laju kenderaannya di depan sebuah bangunan berdinding kaca bening berikuran sangat besar, di dalammya terlihat mobil mobil berjejer rapi.


"Ayo !" ajak Dokter Aldo, mengecup kening Diana yang mendongak ke arahnya.


"Kita kesini mau ngapain ?" tanya Diana. Melihat Dokter Aldo membawanya ke sorum mobil milik Reyhan.


"Apa yang istriku ini pikirkan ? Hm..!" Tangan Dokter Aldo menarik hidung Diana.


"Ketemu mantan !" Diana mengerucutkan bibirnya, sambil tangannya mengusap usap ujung hidungnya yang terasa sedikit sakit.


"Reyhan lagi tak di sini, dia lagi di kota B, untuk melamar seorang gadis. Minggu depan dia akan menikah" ucap Dokter Aldo.


"Kok bang Rey gak kasih tau Diana ya By ?" tanya Diana.


"Reyhan itu sekarang keponakanmu, jangan panggil dia bang atau abang lagi" kesal Dokter Aldo. Ia tidak suka mendengar Diana memanggil Reyhan bang atau sejenisnya.


"Cie..! suamiku lagi cemburu nih yeh !" ejek Diana dengan bibir tersenyum, sambil mencolek dagu Dokter Aldo yang di tumbuhi bulu bulu.


"Istri kecilku ini sudah mulai berani menggodaku ya !" gemas Dokter Aldo. Menahan tekuk Diana dari belakang, kemudian menggosok gosokkan brewoknya ke leher Diana. Membuat Diana meronta ronta karna kegelian.


"By ! ahh ! geli By..! ampun By !, gak kuat By !."


Wajah dan telinga Diana sudah memerah, menahan sensasi gelenyar gelenyar di tubuhnya, karna sapuan bulu bulu di wajah Dokter Aldo yang selalu mampu merobohkan pertahanannya.


Cup !


Dokter Aldo mengecup pipi Diana, setelah menghentika kejahilannya. Dokter Aldo tersenyum, melihat istri labilnya yang sudah mulai berhasrat. Dokter Aldo pun merapikan rambut Diana yang berantakan mengikatnya rapi ke belakang.


"Ayo turun ! sebentar lagi sorumnya akan tutup" ajak Dokter Aldo lagi. Kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Di ikuti Diana dari pintu sebelahnya.


Dokter Aldo berjalan mendekati Diana, menyematkan jarinya ke selah selah jari Diana, menarik Diana masuk ke dalam Sorum.


"Selamat siang Pak ! Kakak !, ada yang bisa kami bantu ?" sapa karyawan sorum itu ramah.


"Saya ingin membeli mobil untuk istri saya" jawab Dokter Aldo.


Karyawan sorum itu semakin mengembangkan seyumnya. Dengan mengarahkan pandangannya sebentar ke arah Diana yang di gandeng Dokter Aldo.


Apa wanita ini benar istrinya ?, masih sangat muda, mantap sekali orang tua ini. Batin karyawan cowok itu.


"Ayo pak ! silahkan di pilih, semua mobil ini koleksi keluaran terbaru kami. Modelnya sangat bagus dan kualitas terjamin" jelas karyawan itu.


"Sayang kamu suka yang mana ?" tanya Dokter Aldo kepada Diana yang terkesima dengan mobil mobil baru itu. Diana merasa seperti bermimpi akan memiliki mobil sendiri, baru lagi.


"Diana gak tau By !, semuanya bagus, Diana suka semua" jawab Diana polos.


"Kamu bisa memilih model dan warna yang paling bagus menurutmu sayang" ucap Dokter Aldo, mengusap kepala Diana dari belakang.


Bukan tanpa alasan Dokter Aldo membeli Diana mobil. Selain Diana akan membutuhkannya untuk kuliah, karna Dokter Aldo tidak bisa mengantar jemput Diana nantinya. Dokter Aldo tak ingin orang orang memandang rendah Diana, karna berasal dari keluarga sederhana. Jangan ada lagi orang yang ingin membeli istrinya, karna terlihat sederhana.


"Model ini sangat cocok untuk istri anda Pak !. Model ini masih sangat baru dan limitid edision, tapi harganya lebih mahal dari semua koleksi mobil yang ada di sini" ucap karyawan itu, menawarkan mobil berwarna merah menyala dan mengkilat.


"Bagaimana sayang ? apa kamu menyukainya ?" tanys Dokter Aldo lagi kepada Diana.


Diana tidak langsung menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke seluruh koleksi mobil yang berjejer rapi. Memang model itu yang paling bagus. Kemudian Diana menganggukkan kepalanya.


Karyawan itu pun mengembangkan senyumnya, ikut senang karna berhasil melakukan satu unit mobil. Pak Reyhan selaku pemilik sorun itu, pasti akan memberinya bonus.


"Mari Pak ! Bu ! kita urus administrasinya" ucap karyawan itu mempersilahkan, mengarahkan Dokter Aldo dan diana ke arah meja yang ada di dalam sorum itu." Bapak Mau kredit atau cas ?" tanyanya lagi.


"Cas !" jawab Dokter Aldo.


Usai melakukan administrasi pembayaran dan lain lain. Dokter Aldo dan Diana pun langsung keluar dari dalam sorum itu, dan langsung masuk ke dalam mobil milik Dokter Aldo.


"Benaran By ! mobil itu untuk Diana ?" Diana tidak percaya akan hal itu. Ia akan memiliki mobil atas namanya sendiri.


"Iya sayang !" jawab Dokter Aldo, perlahan melajukan mobilnya meninggalkan sorum itu.


"Trimakasih By !" ucap Diana memeluk lengan Dokter Aldo dari samping. Wajahnya nampak berbinar senang, dan bibirnya terseyum indah.


"Itu tidak gratis sayang !, kamu harus membayarnya dengan tubuhmu itu. Suami mu ini ingin melihatmu menari perut di atas pusaranku sayang. Sampai di rumah kamu harus melakukan itu, karna suami mu ini sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli mobil itu."


Bukh !


"By sangat genit !" ucap Diana sambil tangannya memukul dada Dokter Aldo dengan tinjunya. Perasaan Diana hampir setiap malam dia di suruh Dokter Aldo menari perut di atas pusarannya, meski tak di beliin apa apa.


Bukh !


Lagi Diana memukul dada Dokter Aldo." Dasar tua tua keladi" cibir Diana. Padahal dia juga sangat menyukai adegan menari itu.


Dokter Aldo menghentikan laju kenderaannya setelah terparkir rapi di dalam garasi. Dokter Aldo mendekatkan wajahnya ke telinga Diana lalu berbisik.


"Bagaimana kalau kita mencobanya di mobil ini sayang ?". Kemudian Dokter Aldo menggesekkan hidungnya ke telinga Diana, dan meniupkan napas hangatnya.


Diana menggigit bibit bawahnya, wajahnya memerah, karna merasakan geli di telinganya.


Dokter Aldo menangkup wajah Diana dengan kedua telapak tangannya. Kemudian memandangi wajah Diana sembari tersenyum." mmuah mmuah mmuah mmuah mmuah..."


Dokter Aldo menciumi seluruh wajah Diana, karna gemas melihatnya. Kemudian Dokter Aldo menarik Diana ke dalam pelukannya." Oh sayangku...!" ucapnya bahagia.


Dokter Aldo tidak tau, mau diapakannya lagi Diana nya itu. Diana nya itu sudah membuatnya gila, tentunya gila untuk terus mencumbuinya.


"Aduh Om ! Diana gak bisa napas !" keluh Diana, karna Dokter Aldo memeluknya terlalu erat.


Refleks Dokter Aldo melonggarkan pelukannya." Maaf sayang !, suami mu ini terlalu bahagia memilikimu" ucapnya.


Diana membalas pelukan Dokter Aldo, dan mendongakkan kepalanya ke wajah Dokter Aldo."Diana juga bahagia memilikimu By !, trimakasih sudah menjadi suami yang baik dan sayang sama Diana" balas Diana.


"Kamu tak perlu berterimakasih sayang !, karna menyanyangimu dan memperlakukanmu dengan baik adalah kewajibanku. Dan suami mu ini tulus melakukannya, karna suami mu ini mencintai kamu, sangat mencintai kamu Putri Diana ku sayang !" ucap Dokter Aldo.


Diana kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Dokter Aldo, dan mengeratkan pelukamnya.


"Ayo turun !, ini sudah terlalu sore, kita harus mandi lagi" ajak Dokter Aldo, melihat Diana masih betah memeluknya.


"Gendong !" manja Diana.


"Ukh ! manjanya istriku !" gemas Dokter Aldo, menarik hidung Diana. Diana pun mengerucutka bibirnya tapi wajahnya nampak berbinar.


Dokter Aldo membuka pintu di sampingnya, setelah menarik Diana ke atas pangkuannya. Dokter Aldo berusaha turun bersusah payah, karna sempit. Setelah berhasih keluar dari dalam mobil, Dokter Aldo pun membiarkan Diana bergelayut di dadanya, dengan menahan boking Diana dari bawah, supaya Diana tidak jatuh. Dan membwanya masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore Pak ! Bu !" sapa pembantu di rumah itu mengulum senyumnya, melihat majikannya yang uwu uwu.


"Selamat sore juga Bu !" balas Dokter Aldo tersenyum.


"Selamat sore Papa ! selamat sore Mama kecil !"sapa Dokter Ghissam terseyum, yang duduk menonton tv di ruang keluarga. Dokter Ghissam pun mengedipkan matanya ke arah sang Papa, yang membawa Diana di gendongannya.


"Mama kecilmu lagi mode manja" ucap Dokter Aldo, senyumnya merekah, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi.


Sedangkat Diana, ia sudah menyembunyikan wajahnya di leher Dokter Aldo. Diana mendadak malu, karna ada Dokter Ghissam di rumah, dan menyapanya.


"Ghissam tunggu kabar bahagianya !" balas Dokter Ghissam lagi.


"Do'akan saja !, semoga saja sudah !" ucap Dokter Aldo lagi.


"Amin !" balas Dokter Ghissam.


"Kalau begitu Papa dan Mama kecilmu ke kamar dulu. Dan kamu cepatlah cari pendamping."


Dokter Ghissam menghela napasnya," apa Papa tidak punya kandidat calon mantu untuk Ghisaam ?. Ghissam juga ingin langsung menikah saja seperti Reyhan"ucapnya.


"Kenapa ? Dimana Kania ?"


Dokter Aldo mengurungkan niatnya masuk ke kamar. Dokter Aldo berjalan ikut bergabung duduk di sofa bersama Diana.


"Sudah putus Pa !, Orang tua Kania tidak merestui hubungan kami karna Mama Pa !" jawab Dokter Ghissam dengan pandangan meneduh.


Dokter Aldo menghela napasnya. Kenapa Shasa mantan istrinya tidak berpikir sebelum bertindak. Karna perbuatannya nama baik anak anaknya ikut tercemar. Melihat wajah anaknya yang meneduh, Dokter Aldo bisa melihat kalau Dokter Ghissam tertekan dengan kenyataan ibunya seorang narapidana karna mencoba ingin menghabisi nyawa orang.


Dokter Aldo menepuk bahu anaknya pelan." Papa akan mencoba mencari calon istri untukmu. Jangan bersedih seperti ini, setiap manusia pasti ada jodohnya. Mungkin belum saatnya kamu bertemu dengan jodohmu" ucap Dokter Aldo.


"Iya Pah !" pasrah Dokter Ghissam.


.


.


'Selamat siang pemersa !, baru terjadi ledakan ekor sayap pesawat saat mengudara. Kejadiannya terjadi setelah pesawat dua menit lepas landas dari bandara kota B. Pesawat bertujuan ke kota P. Pesawat mengangkut penumpang berjumlah seratus lima puluh orang . Ekor sayap pesawat terjatuh sampai menimpa rumah warga di kota B, dan untuk tidak ada korban jiwa, dan hanya kerugian materi saja. Dan kami mendapat kabar, kini pesawat masih berputar putar di udara. Mari kita do'akan, semoga mereka semua yang berada di dalam pesawat di berikan keselamatan'


"Arsen ! bang Orion ! Papa Arya, bang Reyhan !" gumam Sirin saat mendengar berita pesawat yang di tumpangi keluarga Alfarizqi itu. mengalami ledakan dan pesawat masih berputar putar di udara. Tubuh Sirin menggigil, pikiran buruk sudah menghinggapi kepalanya. Dan tak terasa air mata Sirin sudah luruh. Dalam hati berdoa, memohon sedalam dalamnya untuk keselamatan Arsen dan keluarganya.


"Kamu kenapa Sirin ?" tanya Queen masuk ke dalam kamar Arsen. Queen melihat wajah Sirin pucat dan berkeringat dingin.


Sirin diam tidak menjawab, ia pun memberikan HPnya kepada Queen. Menunjukkan vidio YT berita hari.


Queen mengambil handphon itu dari tangan Sirin, dan langsung memutar vidionya. Tangan Queen bergetar, tanpa sadar HP itu jatuh dari tangannya. Queen menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aku yakin ! mereka pasti selamat !, aku Yakin dengan kebesaranmu Tuhan. Memberikan mereka keselamatan. Jangan biarkan anak anak kami ini lahir dengan yatim Tuhan" ucap Queen berlinang air mata.


.


.