
Hampir larut malam Arsenio baru pulang ke rumah. Arsenio melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, langsung ke arah kamarnya dan Sirin. Arsenio memutar knop pintu di depannya sambil mendorong pintu itu sampai terbuka, dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Sirin belum tidur, masih sibuk menyusui baby Arsi.
"Sirin !" sapa Arsenio sembari melangkahkan kakinya mendekati Sirin yang duduk di atas kasur. Karna Sirin sama sekali tidak melihatnya atau menyapanya. Wajah Sirin pun nampak muram.
"Ada apa ?" tanya Arsenio.
Sirin diam membisu, menulikan telinganya seolah olah tidak mendengar.
"Kamu kenapa Sirin ?" tanya Arsen lagi kaena Sirin diam tka menjawab sapaannya.
Namun Sirin masih diam saja
Arsen menghela napasnya, tubuhnya sudah lelah, malah istrinya itu merajuk saat ia pulang kerja. Arsenio pun melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku ingin Ibuku Arsen !"
Arsenio yang hampir masuk ke kamar mandi, langsung menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke arah Sirin yang memandangnya.
"Ibuku juga pasti mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan istrimu ini !" ucap Sirin lagi dengan air mata mengalir di pipinya.
"Sebelum melahirkanku, ibuku juga sembilan bulan mengandungku, membawaku kemana mana dengan berausah payah. Setelah melahirkanku, dua tahun Ibuku menyusuiku di waktu siang dan malam. Menjagaku, merawatku, sampai aku bisa mengurus diriku sendiri !" ucap Sirin lagi.
"Apa kamu tidak ingin berterimakasih kepada Ibuku ?."
Arsenio terdiam dan menajamkan pandangannya ke wajah Sirin.
"Apa seorang ibu tidak pantas mendapat maaf dari seorang menantu ?" tanya Sirin lagi.
"Ibuku sudah menyesali perbuatannya, ibuku sudah berobah. Aku yakin ibuku tidak akan melalukan tindakan yang akan merugikan dirinya lagi" isak Sirin, sambil menghapus air matanya yang mengalir deras dari sudut matanya.
Arsenio menelan air ludahnya, lalu menghela napasnya dan melangkahkan kakinya kembali ke arah ranjang. Arsenio mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur memghadap Sirin. Arsenio mengulurkan tangannya menghapus air mata Sirin dengan jari tangannya.
"Maaf !" ucap Arsenio, kemudian mengecup kening Sirin.
"Keluarga ini bisa memaafkan kak Nay !, kenapa keluarga ini tidak bisa memaafkan ibuku ?, terutama kamu Arsen !" tangis Sirin.
"Aku tidak bisa berbahagia di pesta pernikahan kita nanti tanpa Ibuku Arsen !."
"Maaf ! seharusnya aku memikirkan itu !" balas Arsenio, menarik Sirin ke dalam pelukannya." Tapi aku tidak bisa mencabut tuntutan itu sendiri, karna Papa Aldolah yang membuat laporan itu sendiri untuk memenjarakan Mama !" jelas Arsenio.
"Tapi kalau kamu yang memintanya, Papa pasti mencabut tuntutannya !"balas Sirin.
"Iya ! besok aku akan menemui Papa Aldo. Jangan menangis lagi ya !, nanti anak kita ikut menangis melihat Mamanya menangis" ucap Arsenio lembut, sambil tangannya mengusap usap rambut Sirin dari belakang." Tidurlah duluan, aku kekamar mandi dulu !" ucap Arsenio lagi, membaringkan tubuh Sirin ke kasur.
Setelah mengecup kening Sirin, Arsenio berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai urusan di kamar mandi, Arsenio langsung keluar hanya memakai handuk di lilit di pinggangnya. Di lihatnya Sirin sudah tertidur, sepertinya istrinya itu lelah seharian karna mengurus baby Arsi.
Arsenio menghela napasnya, menjadi suami di usia yang sangat muda dan masih status pelajar, membuatnya tidak punya waktu untuk anak dan istrinya. Karna padatnya jadwal kegiatannya setiap hari. Terkadang, rasanya Arsenio ingin mengeluh, tapi mau mengeluh sama siapa ?. Menikah muda juga karna perbuatannya yang sudah berani menghamili Sirin.
Selesai berpakaian, Arsenio mendekati box bayi baby Arsi. Di lihatnya jagoan kecilnya itu ternyata matanya melek, bermain main sendiri. Anaknya itu memang sangat baik, tidak rewel, akan bermain sendiri meski Ibunya tertidur.
Arsenio tersenyum, melihat baby Arsi yang berusaha memasukkan tangannya ke mulutnya, namun belum berhasil karna pergerakannya yang belum lincah.
"Jagoan Ayah kenapa belum tidur ?" tanya Arsenio lembut. Satu tangannya terulur menyentuh pipi cabi baby Arsi.
Mendengar suara sang Ayah, bayi itu menggerak gerakkan kedua kakinya dan mulai menangis.
"Kok jagoan Ayah menangis ?" tanya Arsenio lagi.
Bayi itu semakin menggerak gerakkan kaki dan tangannya.
"Mau di gendong Ayah ya ?, kangen sama Ayah ?." Arsenio pun mengambil perlahan baby Arsi dari dalam box bayi, membawanya ke atas tempat tidur.
"Mau main main sama Ayah ? Hm..!" Arsenio mencium kedua pipi baby Arsi, kemudian menepuk nepuk pantatnya supaya baby Arsi tertidur kembali. Namun mata bayi itu tak kunjung terpejam, dan malah baby Arsi sesekali tersenyum tanpa sebab. Padahal Arsenio sudah sangat mengantuk.
"Kok jagoan Ayah gak mau bobo ?" tanya Arsenio lagi. Sepertinya anaknya itu lebih kuat begadang daripada dirinya.
Sudah tak tahan dengan ngatuknya, Arsenio pun membawa baby Arsi ikut berbaring di atas kasur. Arsenio membaringkan tubuh baby Arsi di tengah tengahnya dan Sirin. Arsenio pun memeluk baby Arsi dan Sirin bersamaan kemudian memejamkan matanya untuk istirahat, membiarkan baby Arsi bermain sendiri.
.
.
Waktu berlalu, Sirin mengerjabkan matanya yang terbangun dari tidurnya. Sirin membuka kelopak matanya langsung menoleh ke arah box bayi yang berada di samping ranjang. Di lihatnya box bayi itu kosong, tidak ada baby Arsi di sana. Kemudian Sirin pun menoleh ke kasur sebelahnya mencari baby Arsi, namun tidak ada, hanya Arsenio yang tertidur pulas memeluk tubuhnya.
Arsi mana ?, batin Sirin
"Arsen ! Arsi mana ?" Sirin membangunkan Arsenio dengan menggongang lengannya.
"Sebentar lagi sayang !, aku masih ngantuk !" gumam Arsenio semakin mengeratkan pelukannyan ke tubuh Sirin.
"Iya Arsi mana ?" tanya Sirin lagi.
Arsenio langsung membuka matanya, melihat ke sampingnya ternyata hanya Sirin yang ada di dalam pelukannya. Arsenio langsung mendudukkan tubuhnya mencari baby Arsi ke samping kasur, mana tau baby Arsi terjatuh, pikir Arsenio.
"Mungkin sama Mama !" jawab Arsenio.
Ceklek !
Arsenio dan Sirin refleks menoleh ke arah pintu mendengar ada yang membuka pintu kamar mereka dari luar.
"Sudah bangun kalian ?" tanya seorang pria tua yang rambut dan brewoknya sudah memutih semua, tapi tubuh pria tua itu masih terlihat tegap, membawa baby Arsi di gendongannya.
"Kakek....!!!" teriak Sirin langsung melompat dari atas tempat tidur berlari ke arah pria lanjut usia itu dan langsung memeluknya.
"Kapan kakek datang ?" tanya Sirin mendongakkan kepalanya ke wajah kakeknya itu.
"Tadi subuh !" jawab sang kakek.
"Kakek langsung kesini ?, kenapa gak ke rumah Papa ?" tanya Sirin. Karna sang kakek langsung datang ke rumah mertuanya.
"Kakek lebih kangen sama cucu dan cicit kakek ini !" jawab sang Kakek tersenyum, dan mencium pipi Sirin.
"Sirin juga sangat kengen sama Kakek, Kakek jarang sekali pulang ke sini !" manja Sirin.
"Ternyata Arsi sama Kakek !" ucap Sirin mengambil baby Arsi dari gendongan Kakek.
"Kalian tidurnya lelap sekali, seperti tidur orang yang tidak memiliki Bayi !" ujar Kakek, berjalan ke arah ranjang dengan tongkat di tangannya, dan tanpa aba aba memukulkannya ke tubuh Arsenio yang diam dari tadi duduk di aras kasur.
"Aw !" keluh Arsenio memegangi lengannya yang di pukul Kakek Haris.
"Berani beraninya kamu menghamili cucuku ? Hah !" geram Kakek Haris terus memukulkan tongkatnya ke tubuh Arsenio.
"Sakit kek !!! ampun Kek !!!" teriak Arsenio, melindungi kepalanya dari tongkat Kakek Haris.
"Mendekat ke sini ! biar kupotong balammu itu dari situ !" gemas Kakek Haris, menarik kerah baju Arsenio, dan langsung melayangkan tinju ke wajahnya.
"Kamu tua Sirin itu cucu kesayanganku !, kenapa kamu menghamilinya ? Hah !." Pria tua itu terus melayangkan bogeman ke wajah Arswnio yang pasrah di atas kasur.
Bukan Arsenio tidak bisa melawannya, hanya saja Arsenio tidak mau melawan pria yang sudah bau tanah itu, karna bukan tandingannya. Dan juga Arsenio hanya ingin membiarkan pria tua itu melampiaskan kekecewaan padanya, karna sudah menodai cucu kesayangan pria tua itu.
"Kakek ! sudah Kek !,nanti suami Sirin bisa mati !" ucap Sirin, menghentikan kakeknya memukuli Arsenio.
"Kamu juga ! kenapa mau di nodainya ? Hah !!!" Kakek Haris malah ikut memarahi Sirin.
"Sirin minta maaf Kek !, tapi Arsennya jangan di pukuli terus !, nanti wajahnya bisa hancur kek !. Nanti saat resepsi wajahnya nanti kelihatan jelek !" bujuk Sirin kepada Kakek Haris yang sudah menduduki tubuh Arsenio di atas kasur.
"Ini gara gara Papa kamu juga ini, tidak melarang kalian berpacaran. Si bubu itu juga !" ujar Kakek Haris menyalahkan kedua sahabat itu.
"Dulu juga mereka pacaran diam diam, sekarang malah anak pacaran terang terangan di biarkan !" omel Kakek Haris lagi, turun dari tubuh Arsenio yang sudah lemah tak berdaya di atas kasur.
"Sebagai hukuman kalian berdua, kalian harus ikut kakek ke luar Negri setelah acara resepsi" ucap Kakek Haris." Dan kamu Arsen !, kamu harus belajar mengurus perusahaan Kakek. Tidak boleh menolak, kalau kalian menolak, anak kalian yang Kakek bawa" tegas Kakek haris lagi.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk...!" Kakek Haris pun melangkahkan kakinya sambil terbatuk keluar dari kamar Arsenio dan Sirin."Seharusnya aku sudah pensiun, tapi anak dan cucuku tidak ada yang peduli denganku !" gumamnya lagi.
Karna Dokter Aldo dan Dokter Ghissam tidak mau meneruskan perusahaannya. Mereka lebih memilih menjadi Dokter ketimbang menerima warisan darinya.
Di dalam kamar, Sirin langsung mendekati Arsenio yang meringis kesakitan di bagian tubuh dan wajahnya.
"Arsen ! kamu gak apa apa ?" tanya Sirin membantu Arsenio duduk.
"Tenaga Kakek Haris ternyata masih kuat" ucap Arsenio, melap sudut bibirnya yang keluar darah.
"Jadi bagaimana ? apa kita akan ikut Kakek ke luar Negri ?" tanya Sirin lagi.
"Aku belum tau !" jawab Arsenio.
"Mau tidak mau ! kalian harus ikut Kakek !"
Sontak Arsenio dan Sirin lagsung menoleh ke arah pintu. Ternyata pria ubanan itu masih di depan pintu kamar mereka.
Tak berani membantah lagi, pasangan suami istri remaja itu, pun hanya diam dan pasrah. Mereka lebih suka tinggal di tempat kota kelahiran mereka, dekat dengan orang tua dan paran saudara dan sahabat mereka.
"Kalau tidak ! anak kalian yang Kakek bawa !" ancam Kakek Haris lagi tiba tiba.
Pria tua itu menyebalkan sekali , sungut Arsenio di dalam hati.
"Arsen belum lulus sekolah Kek !!" sahut Arsenio.
"Papamu bisa menciptakan seribu ijazah nanti untukmu !" balas Kakek Haris, tak terbantahkan.
Kakek Haris pun berjalan ke arah ruang keluarga rumah itu, dan mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Bubu..! mana kopi untukku ?" sahutnya dengan suara kencang dan berat.
"Sebentar Om Haris !!!" balas Mama Bunga dari dapur.
"Sepertinya lebih enak punya putri dari pada punya anak !" monolog pria tua yang hampir berusia tujuh puluh Tahun itu.
Tak lama kemudian Mama Bunga pun datang dari dapur membawa nampan berisi empat cangkir kopi, dan dua piring kue basah yang di belinya tadi di pasar pagi.
"Kenapa kopinya empat gelas, aku cuma minta satu ?" tanya pria tua itu.
Mama Bunga berdecak, kenapa pria ubanan itu setelah tua menjadi menyebalkan ?." Buat suami dan anak anak Bubu Om..!" jawab Mama Bunga.
"Oh !" Kakek Haris mengangguk anggukkan kepalanya.
"Yang anak Om 'kan Aldo, kenapa Om malah datang ke rumah Bubu duluan ?, pagi pagi buta lagi !" tanya Mama Bunga.
"Emang gak boleh ?, dulu kamu juga selalu bermain di rumahku. Makan minum dan tidur di rumahku. Apa kamu lupa ?."
Mama Bunga memutar bola matanya malas, susah memang melawan orang tua." Gak lupa Om !, nanya aja !" Mama Bunga langsung meninggalkan pria tua itu sendirian.
Tak lama kemudian Papa Arya datang ke ruang keluarga, mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Kakek Haris. Papa Arya pun mengambil secangkir kopi dari atas meja, dan langsung menyesapnya, kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
"Aku akan membawa Arsen dan Sirin ikut bersamaku !."
"Uhuk uhuk uhuk...!" refleks Papa Arya terbatuk batuk, mendegar apa yang di katakan pria lanjut usia di depannya.
"Itu hukuman untuk mereka dan kalian sebagai orang tuanya. Karna membiarkan mereka berpacaran sampai salah melangkah" ucap Kakek Haris lagi.
Papa Arya terdiam, jika Kakek Haris membawa anak dan cucunya. Itu Artinya dia akan berjauhan dengan anaknya itu dalam jangka waktu selamanya. Mereka akan sangat jarang bertemu.
"Kalau kalian tidak setuju, aku akan mengambil cucu kalian saja !" ancam kakek Haris.
Ya Tuhan ! rasanya aku tidak rela berjauhan dengan anakku. Apa ini hukuman darimu, karna aku pernah mengusir mereka dari rumah ini ?. Batin Papa Arya.
"Maaf Om ! saya tidak setuju !" tolak Papa Arya.
"Ayolah Arya !, aku ini sudah tua, sudah seharusnya pensiun. Tapi anak dan cucuku tidak ada yang peduli denganku. Tidak ada yang mau menggantikanku mengurus perusahaan. Aldo dan Ghissam hanya mau hasilnya aja dari dulu !. Aku rasa Arsen bisa mengelola perusahaanku" ucap Kakek Haris.
Papa Arya menghela napasnya,"Kenapa tidak memaksa Ghissam ?, Ghissam lah yang lebih berhak mengurus perusahaanmu" ucap Papa Arya.
"Ghissam sudah sering menolaknya, Aku sudah malas membujuknya" jawab Kakek Haris.
.
.