Brother, I Love You

Brother, I Love You
196. Menguji keimanan



Sepuluh Tahun kemudian


Reyhan memutar knop pintu di depannya sembari mendorong pintu itu sampai terbuka.


"Assalamu alaikum Almira !" ucap Reyhan tersenyum.


"Walaikum salam Habib !" jawab Yumna menundukkan kepalanya.


Yumna pun turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya untuk menyambut Reyhan yang baru pulang bekerja. Yumna menyalam tangan Reyhan dan mengecupnya seperti biasa, tanpa melihat wajah Reyhan suaminya.


Melihat itu, Reyhan menghela napasnya, Reyhan tau kalau istrinya itu tadi sedang menangis.


"Lihat aku Almira !" ucap Reyhan lembut, mengangkat satu tangannya meraih dagu Yumna, mengarahkan wajahnya ke arahnya.


"Apa yang bisa Habib lakukan, supaya bisa menghilangkan kesedihan istri Habib ini ?" tanya Reyhan memandang wajah Yumna dengan dalam." Katakan Almira !."


Air mata Yumna luruh kembali dengan deras dari sudut matanya dan bibirnya pun bergetar.


"Kenapa begitu berat cobaan mencintaimu Habib ?" lirih Yumna.


Reyhan pun menggerakkan jari tangannya untuk menghapus lelehan yang membasahi pipi Yumna." Maaf !" ucap Reyhan.


"Maaf karna kekurangaku kamu menjadi lemah seperti ini. Maaf yang tak bisa membuatmu menjadi wanita sempurna. Maafkan aku !" Reyhan menelan air ludahnya bersusah payah, karna merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.


"Queen, Sirin, Nay, Tante Diana, mereka hamil lagi. Anak ke tiga mereka. Dan Suster Elisa juga sedang hamil anak ke dua mereka. Istrinya Ghaisan adik Queen juga, baru nikah sudah hamil. Nimas Istrinya Calixto juga hamil anak ke dua. Dan istri istri dari saudaraku juga sebagian sedang hamil. Hanya aku yang belum !." Yumna berbicara dengan bibir bergetar dan air mata yang terus mengalir deras dari sudut matanya.


Melihat itu, lagi lagi Reyhan menelan air ludahnya dengan sudah payah, dan juga air matanya ikut mengalir. Reyhan pun menarik Yumna ke dalam pelukannya, dan mengecup dalam ujung kepala istrinya itu, sampai air matanya menetes membasahi ujung kepala wanita yang sudah menemaninya sepuluh Tahun lamanya.


"Semoga Allah juga mensegerakanmu hamil sayang !. Allah masih ingin menguji kita, menguji kesabaran kita, menguji ketabahan dan keimanan kita. Aku yakin, suatau saat kamu pasti akan hamil, Allah akan memberikan kita seorang anak" ucap Reyhan menenangkan hati istrinya yang lagi bersedih itu.


"Habib ! bisakah aku meminta Habib, untuk mengurangi kegiatan Habib mengurus perusahaan. Mungkin faktor kecapean juga bisa menjadi penyebab kita susah untuk mendapatkan anak" pinta Yumna dari dalam pelukan Reyhan.


"Habib bisa menyerahkan perusahaan kepada orang lain untuk sementara waktu. Kita pokus aja dulu melakukan program kehamilan. Kita bisa pergi berlibur ke tempat yang tenang, kita bisa melakukan ibadah lebih khusuk" ucap Yumna lagi.


"Maaf Habib !" Yumna menjeda kalimatnya." Selama ini Habib terlalu pokus membangun perusahaan" ucapnya lagi.


Reyhan terdiam memikirkan apa yang di katakan istrinya itu. Reyhan menghela napasnya, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Maafkan Habib sayang !" ucap Reyhan. Mengecup ujung kepala Yumna lagi.


"Habib ada hadiah untukmu !" Reyhan merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop dari dalamnya, memberikannya kepada Yumna.


"Apa ini Habib !"tanya Yumna.


Reyhan membersihkan sisa sisa air mata tadi pipi Yumna, kemudian mengecup lama kening bidadari surganya itu.


"Ada sepasang suami istri yang membatalkan keberangkatan hajinya Tahun ini, karna kesehatan mereka tidak layak untuk berangkat. Mereka memberikannya kepada Habib secara cuma cuma untuk menggantikan mereka. Kata mereka, mereka ikhlas memberikannya. Suami istri itu juga belum di karuniai keturunan sampai usia senja mereka. Sehingga tidak ada yang menggantikan mereka untuk berhaji" ucap Reyhan, sambil tangannya merapi rapikan anak anak rambut Yumna yang melambai di keningnya.


"Masya Allah ! siapa mereka Habib ?, kenapa hati mereka begitu baik. Ini sangat sulit di dapat Habib. Bahkan kita mendaftar berhaji sekarang, sepuluh Tahun ke depan belum tentu kita bisa berangkat" Tangis Yumna terharu.


"Allah menunjukkan kebesarannya kepada kita sayang !. Lihatlah ! tanpa berusaha kita bisa mendapatkannya dengan begitu mudah, sedangkan yang kita usahakan mati matian, sampai sekarang belum kita dapatkan juga. Jika DIA sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang sulit bagiNYA. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan istriku !. Bukankah niat kita menikah adalah beribadah. Bukan untuk ajang membuat anak saja. Anak itu hanyalah sekedar titipan bagi yang menikah" jawab Reyhan.


"Mereka adalah buruh yang sudah lama bekerja dengan Habib. Selama ini suaminya bekerja sebagai kuli bangunan, menabung hasilnya untuk ongkos mereka berhaji.Tapi sepertinya Allah tidak berkehendak mereka bisa pergi berhaji, suami istri itu menderita penyakit yang sudah parah. Mereka hanya meminta di doakan supaya sehat saja" jawab Reyhan lagi.


"Aku ingin menemui mereka Habib !, aku ingin mengucapkan terimakasih !" ucap Yumna.


"Iya sayang ! besok kita akan menemui mereka. Sekarang mereka sudah habib pindahin ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Karna suami istri itu tidak ada yang merawatnya" balas Reyhan dengan mata berkaca kaca, kasihan melihat buruh lamanya itu. Buruh yang mengajari Reyhan soal bangun membangun, sehingga Reyhan menjadi pengusaha sukses. Namun orang tua itu tidak mau menerima jabatan dari Reyhan, karna tak punya sekolah.


"Semoga mereka di beri kesembuhan ya Habib !" balas Yumna.


"Iya sayang !" Reyhan menjeda kalimatnya, menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya Yumna." Bukankah Sayyidina Aisyah, istri Rasulullah juga tidak memiliki anak dari Rasul. Apa yang membuatmu berkecil hati sayang ?. Jika orang orang sebelum kamu banyak yang mengalami hal yang serupa dengan kita. Coobaan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Menguji kekuatan iman kita dan cinta kita, sampai sejauh mana kita mampu bertahan dalam ibadah yang panjang ini" ucap Reyhan.


"Asragfirullohal azim ! trimakasih Habib ! sudah mengingatkanku !" ucap Yumna.


Reyhan mengulas senyumnya, sekali lagi mengecup kening Yumna dengan sayang.


"Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Habib yakin, istri Habib ini mampu melewatinya. Seperti sepuluh Tahun yang sudah kita lewati" Reyhan menurunkan sedikit tubuhnya, kemudian mengangkat Yumna, menggendongnya ala bridal style membawanya ke arah tempat tidur.


"Bagaimana setelah habib membersihkan diri, kita beribadah ?" Reyhan meletakkan Yumna dengan sangat hati hati di atas kasur.


"Terserah Habib aja, Yumna selalu siap !"jawab Yumna mengulas senyumnya.


"Istriku ini memang sangat serakah untuk mendapat pahala" Reyhan semakin mengembangkan senyumnya, dan menarik hidung Yumna.


"Kalau tidak mengumpulkan pahala sebanyak banyaknya. Bagaimana bisa seorang hamba masuk surga Habib ?" tanya balik Yumna, melepas tangan Reyhan dari hidungnya.


Sedangkan Yumna, ia turun kembali dari atas tempat tidur. Untuk menyiapkan pakaian untuk Reyhan. Setelah itu, Yumna merapikan penampilannya di depan meja rias dan menyemprot ulang wewangian ke tubuhnya.


.


.


Pagi hari rumah kediaman Alfarizqi itu terdengar rame dengan suara anak anak yang berlari menuruni anak tangga sampai ke ruang makan.


"Assalamu alaikum Tante Yumna !" ucap bocah perempuan berusia sepuluh Tahun serentak bersama keempat pengikutnya.


"Walaikum salam !" balas Yumna tersenyum ramah meletakkan sebaskom nasi goreng di atas meja.


Ke lima bocah bocah nakal itu pun mendudukkan tubuh mereka di kusri meja makan rumah kakek dan nenek mereka itu.


"Hei bocah bocah ! kenapa kalian masih belum pulang juga ke rumah kalian ?" guaru Reyhan yang baru datang ke ruang makan. Melihat Syauqi, Arsi, Sabeel anaknya Elang, dan Nora putrinya Dokter Aldo dan Diana, masih betah menginap di rumah itu.


"Kenapa ? ini rumah kakek sama Nenek kami !" cetus Syauqi.


"Kalian membuat istriku capek mengurus makan kalian setiap hari !" jawab Reyhan tidak kalah cetusnya, mendudukkan tubuhnya di samping adik tersanyangnya Sabina, dan langsung mencium ujung kepala adik perempuan satu satunya itu.


"Habib ! gak boleh bicara seperti itu !" tegur Yumna yang mendengarnya." Aku yang meminta mereka untuk tetap menginap di sini" ucap Yumna lagi.


"Aku hanya bercanda sayang !, habis wajah mereka terlihat sangat menyebalkan. Dan suara kalian sangat berisik setiap tiba waktunya makan" bela Reyhan, menarik pinggang Yumna yang berdiri di sampingnya.


"Betul itu ! tante Yumna yang meminta kami menginap lagi di sini !" seru Syauqi dengan bibir mengerucut.


"Kamu itu suaranya kencang banget, Gak salah Daddymu menamaimu burung jalak !" cibir Reyhan menggoda keponakan tertuanya itu.


"Dari pada Paman ! burung unta yang sudah tua !" balas Syauqi.


"Semua sudah ngumpul di sini rupanya ?." Pria tua yang sudah pensiun itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki. Di ikuti istrinya duduk di kursi sampingnya.


"Selamat pagi Om ! Tante !" sama Nora kepada kakek Arya dan nenek Bunga.


"Selamat pagi juga Nora Fatih !" balas Nenek Bunga tersenyum, dan mencubit pipi dari putri Dokter Aldo itu.


"Mama ! Papa ! nanti Sabin nginap di rumah Nora ya !" ucap Sabina menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Iya sayang ! tapi jangan lupa ngerjain PR sebelum tidur nanti" balas nenek Bunga.


"Hm..!" Sabin mengangguk anggukkan kepalanya karna mulutnya penuh makanan.


"Bang Syauqi ! nanti kita masih nginap di sini ?" tanya Sabeel kepada abang sepupunya itu.


"Kalau aku sih nanti malam sepertinya tidur di rumah kakek Aldo aja. Paman Reyhan sudah keberatan kita nginap di sini !" ujar Arsi melirik Reyhan dari sudut matanya.


Meski kedua orang tuanya di luar Negri, tapi Arsi lebih memilih tinggal di kota kelahirannya. Ia tidak suka tinggal di luar Negri, karna di sana ia tidak punya teman, seperti di Indonesia. Dan tempatnya pun selalu berpindah pindah, kadang di rumah Kakek Arya, kadang di rumah kakek Dokter Aldo, kadang di rumah nenek Shasa, kadang di rumah Om Dokter Ghissam, Kadang di rumah Paman Orion, dan Elang. Dia tidak memiliki rumah, tapi ia memiliki banyak tempat tinggal.


"Canda preman !" ujar Reyhan, tersenyum melihat gaya Arsi yang persis seperti Ayahnya Arsen.


"Tapi nanti pulang sekolah kalian pulang ke sini dulu ya !. Rumah ini sunyi tau kalau gak ada kalian !" ujar Yumna, cemberut seperti anak kecil.


Kelima bocah hampir seusia itu pun saling pandang, kemudian sama sama menganggukkan kepala masing masing. Terhipnotis dengan wajah dramatis Yumna.


"Oke ! nanti pulang sekolah, tante yang akan menjemput kalian !" Yumna langsung tersenyum ceria, karna anak anak itu menuruti permintaannya.


Reyhan tersenyum, satu tangannya terangkat mengusap kepala Yumna dari belakang.


Nenek Bunga dan kakek Arya sama sama meghela napas mereka. Kesihan melihat menantu mereka yang belum beruntung itu.


"Ayo cepat kalian habiskan sarapan kalian, biar kakek yang mengantar kalian ke sekolah !" ujar Papa Arya yang sudah menghabiskan sarapannya.


"Iya Kek !" patuh Syauqi, Arsi dan Sabeel bersamaan.


"Iya Om !" patuh Nora.


"Iya Papa !" patuh Sabina yang duduk di samping Kakek Arya.


.


.