
Pagi hari, Jean terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka matanya, wajah Darren tepat berada di depan wajahnya. Wajah Jean langsung bersemu merah, melihat posisi mereka sangat intim. Tubuh mereka berpelukan di dalam selimut, tanpa ada selembar kainpun menghalanginya. Kulit mereka benar benar menempel sempurna, setelah percintaan mereka tadi malam.
Jean menggigit bibirnya, mengingat percintaan mereka tadi malam. Darren mengambil haknya tadi malam sebagai suami. Jean mengingat bagaimana cara Darren mencium bibirnya, mencumbuinya sampai membuatnya mabuk kepayang. Meski Darren belum berpengalaman, tapi Darren mampu memberikan kepuasan kepadanya. Bahkan Darren sangat buas mengabisinya tadi malam.
Jean pun mengangkat tangan Darren dari atas perutnya, karna ia harus bangun untuk membersihkan diri. Sebagai menantu di rumah itu, Jean harus menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga itu.
"Sebentar lagi sayang !" gumam Darren semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Jean.
"Aku harus bangun cepat Darren !, aku harus membantu Mama menyiapkan sarapan" ucap Jean.
"Gak sayang !" tolak Darren.8
"Emang kamu gak ingin subuhan ?" Jean menatap wajah Darren yang masih memejamkan mata.
Darren langsung membuka matanya," sudah jam berapa ?" tanyanya.
"Setengah lima !" jawab Jean.
"Sekali lagi yuk ! sebelum mandi" ajak Darren tiba tiba.
Jean diam tidak tau harus menjawab apa. Jean tidak berani menolak, karna Jean belum paham betul sikap Darren. Jika mengiyakan, jujur bagian bawah tubuhnya sudah terasa perih. Karna Darren tadi malam meminta bermain sampai tiga ronde.
"Sayang ! lagi ya !" bujuk Darren melihat Jean tidak menjawab.
Jean pun menggigit bibir bawahnya, dan menundukkan pandangannya.
"Gak mau ya ?" tanya Darren kecewa.
"Bu..bukan begitu Darren!" gugub Jean. Darren meraih dagu Jean supaya melihatnya." A..itu !, A..a..anuku terasa sakit !" gugub Jean lagi.
"Serius sayang ?, bukankah kamu sudah gak perawan lagi ?. Kenapa masih bisa sakit ?" heboh Darren langsung menyibak selimut mereka, sehingga tubuh mereka terpangpang nyata. sontak Jean menutup bagian sensitifnya dengan tangan.
Darren pun berpindah ke kaki Jean, ia ingin melihat luka di bagian tubuh Jean.
"Gak apa apa !, nan..nanti akan baikan sendiri" gugub Jean, wajah dan tubuhnya terlihat memerah, karna malu dengan tubuhnya tanpa apa apa. Di tambah lagi Darren blakblakan mengatakan dirinya sudah tidak perawan. Jean merasa tambah malu, dan tidak percaya diri.
Darren yang menyadari Jean malu pun tersenyum." Gak apa apa sayang gak usah malu, aku sudah melihat semuanya, dan bahkan sudah menikmatinya" ucapnya. Darren pun melihat luka di bagian tubuh istrinya itu.
Jean diam dan pasrah menahan rasa malu dengan apa yang di lakukan suami brondongnya itu.
"Ya ampun sayang ! sakit banget ya ?. Maaf ya !" ucap Darren merasa bersalah, melihat bagian tubuh Jean lecet."Kok gak bilang tadi malam kalau kamu kesakitan ?"tanyanya.
"Gak apa apa ! nan..nanti akan baikan sendiri !"jawab Jean.
Darren pun berpindah ke samping Jean, dan langsung mengangkatnya, menggendongnya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi mereka benar benar mandi, tidak ada acara lain. Karna Darren tidak akan setega itu untuk menyalurkan hasratnya kepada istrinya yang terluka.
"Sayang ! kamu istrihat aja, kamu pasti masih ngantuk dan capek. Biar aku yang akan membantu Mama di dapur. Lagian Kak Queen dan Kak Sirin pasti membantu Mama"ucap Darren.
Kini mereka sudah siap memakai baju setelah mandi dan melakukan ibadah subuh mereka.
"Aku merasa gak enak sama Mama dan yang lainnya kalau gak ikut membantu Darren!"balas Jean.
"Gak apa apa sayang ! mereka pasti memakluminya. Nurut sama suami ! oke !" ucap Darren lembut, terdengar tegas di telinga Jean.
Jean membeku melihat tatapan tajam Darren kepadanya. Jean tidak menyangka, suami brondongnya itu, selain manis, tampan, imut,baik dan dermawan, ternyata tidak suka di bantah.
"Ayo istirahat aja !" Darren pun membantu Jean berbaring di atas kasur. Kemudian mengecup kening Jean kilas."Aku menikahimu untuk menjadi istriku, bukan untuk menjadi pelayan di rumah ini" ucap Darren, setelah mengusap kepala Jean, ia pun berlalu.
Sepeninggal Darren, Jean pun menghela napasnya. Meski sudah suami istri dan mereka sudah bercinta tadi malam. Jean masih bingung bagaimana menentukan sikap kepada Darren. Terlebih Jean masih trauma dalam berumah tangga. Jujur Jean takut, takut jika Darren akan menyakitinya, seperti mantan suaminya dulu.
Sampai di dapur, Darren sudah mendapati Mama Bunga, Queen dan Sirin di dapur. Papa Arya, Orion, Elang dan Bilal duduk minum kopi sambil ngobrol di meja makan.
"Wah ! pengangin baru sudah keluar !" goda Orion tersenyum. Ia pun menarik adiknya itu supaya duduk di sampingnya. Orion pun menepuk nepuk bahu adik ke empatnya itu. Orion masih ingat dulu, ia sering menggendong adiknya itu. Ternyata sekarang sudah menyusulnya menjadi seorang suami.
Darren pun mendudukkan tubuhnya di samping Orion.
"Istrimu mana ?" tanya Orion.
"Istirahat !" jawab Darren, mengambil secangkir kopi yang sudah di siapkan di atas meja untuknya.
"Sepertinya tadi malam burung perkututmu langsung tancam gas ?. Mentang mentang udah plong !" celetuk Elang kepada Darren.
Bukh !
"Sakit Pah !" keluh Elang memegangi lengannya yang terkena bogeman dari Papa Arya.
"Di jaga itu mulut kalau bicara !" tegur Papa Arya. Bisa bisanya anaknya itu membicarakan urusan pribadi saudaranya sendiri. Di depan orang tua lagi.
"Kan benar yang Elang bilang !" ujar Elang lagi tanpa merasa bersalah.
"Janganlah kamu mengatakan kekurangan atau ke jelekan orang lain. Karna itu akan termasuk Ghibah. Ghibah hukumnya haram. Kendati jika kamu mengatakan kejelekan orang lain, mengolok oloknya, sama saja kamu memakan daging saudaramu sendiri yang sudah mati, pastilah kamu akan jijik melihatnya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat, maha pengasih dan penyanyang. Surah Al Hujarat ayat 12." Jelas Ustadz Bilal.
"Ghibah itu adalah termasuk perbuatan tercela, dapat menghancurkan orang lain. Ghibah sama saja membunuh karakter orang lain. Karna dengan mencerikatan kejelekan orang lain meski pun itu benar, bisa menghilangkan kepercayaan diri orang tersebut. Jika yang di bicarakan tidak benar, bisa menjadi fitnah. Maka berhati hatilah dalam berbicara" jelas Bilal lagi.
"Astagfirullohal azim !" gumam Elang dan Papa Arya bersamaan.
"Islam menganjurkan ummatnya untuk menikah dan berkeluarga. Bertujuan agar manusia tentram, bahagia dan memperkuat menuju jalan yang di ridhai Allah swt. Sebagaimana di firmankan dalam Alqur'an." Bilal menjeda kalimatnya, kemudian melanjutkannya lagi.
"Dan di antara tanda tanda kekuasaanNYA ialah DIA menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikanNYA diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikan adalah benar tanda tanda orang yang berpikir. Qur'an surah Ar Rum, ayat 21."
"Rasulullah menikahi 13 wanita, di antaranya hanya satu seorang gadis, yaitu sayyidina Aisyah. Rasululloh menikahi mereka untuk dakwahnya dan memulikan mereka. Mungkin.. Bang Darren menikahi kak Jean, untuk memuliakannya dan karna cintanya. Masya Allah !" lanjut Bilal lagi. Bilal tersenyum salut dengan abangnya itu.
Darren pun mengulas senyumnya, mendapatkan pencerahan dari Ustadz Bilal.
"Akan sangat banyak keutamaan menikahi seorang janda. Tentunya lebih berpengalaman dan dewasa. Dia akan lebih serius menjalani rumah tangga karna dia tak ingin gagal lagi. Lebih memperbaiki diri menjadi seorang istri, karna mungkin di pernikahan pertama dia merasa gagal menjadi istri yang baik. Lebih berpengalaman mengurus anak dan mengurus suami. Dan yang pasti, lebih pandai mengurus ranjang" ucap Bilal lagi.
Plak !!!
"Aw ! sakit Pa !" keluh Bilal, karna mendapatkan tanparan di lengannya dari Papa Arya.
Bilal pun menyengir sambil menggaruk garuk leher belakangnya yang mendadak gatal.
"Sepertinya kamu juga perlu di nikahkan segera !" ucap Papa Arya.
"Calonnya belum memberi jawaban yang menyenangkan Pa !" balas Bilal tersenyum.
"Emag kamu sudah punya calon ?" tanya Orion, yang hanya diam saja dari tadi mendengarkan ceramah subuh adiknya itu.
"Akan punya calon !" jawab Bilal tersenyum.
"Darren dimana menantu Mama ?" tanya Mama Bunga, mengangkat satu baskom nasi ke atas meja.
"Darren suruh istirahat Ma !" jawab Darren tersenyum.
"Ish ! kau ini ! pengertian banget jadi suami. Gak seperti Mama, selesai malam pertama, di suruh berjemur di terik matahari, berdiri satu kaki pula."ucap Mama Bunga menyindir suaminya.
"Istrinya durhaka ! berani nonjok muka suami" cetus Papa Arya. Kemudian tersenyum mengingat tingkah aneh istrinya dulu.
Mama Bunga pun tertawa cekikikan, lalu kembali ke dapur.
.
.
Dilantai dua rumah itu, tepatnya di kamar Reyhan dan Yumna. Dari tadi Reyhan menemani Yumna di kamar mandi yang memuntahkan isi perutnya.
"Sabar ya !" ucap Reyhan lembut melap keringat yang menbasahi kening Yumna, yang sibuk mengeluarkan isi perutnya di atas washtapel. Dan Reyhan pun memijat mijat leher belakang Yumna.
"Sakit Habib !" rintih Yumna.
Reyhan pun mengecup ujung kepala Yumna, tak bisa berkata apa apa. Mata Reyhan berkaca kaca, melihat Yumna yang kesakitan, jika bisa ia meminta, biarkan dia yang menanggung rasa sakit istrinya itu.
"Ya Allah !" desah Yumna setelah merasa mual dan muntahnya mereda.
"Sudah sayang ?" tanya Reyhan, membasuh bibir istrinya itu.
"Sudah habib !" jawab Yumna tersenyum.
Reyhan pun ikut tersenyum, melihat ketegaran hati istrinya saat mengalami sakitnya mengidam. Memuntahkan isi perutnya setiap pagi sampai cairan kekuningan keluar dari mulutnya.
"Maaf ya sayang !, karna mengandung anak anakku, kamu harus mengalami sakit seperti ini" ucap Reyhan, membawa Yumna ke dalam pelukannya.
Yumna melebarkan senyumnya," Gendong !" manjanya kepada Reyhan.
Reyhan langsung mengangkat tubuh Yumna membawanya keluar dari kamar mandi." Kalau perutmu sudah membesar aku gak tau apakah masih kuat mengangkatmu atau tidak. Pasti nanti hamilmu sangat besar karna mengandung dua anak sekaligus" ucap Reyhan.
Yumna langsung memanyunkan bibirnya cemberut." Habib harus bisa !" cetusnya.
Cup !
Reyhan mendaratkan satu kecupan di bibir Yumna yang meruncing. Kemudian meletakkan Yumna di atas tempat tidur dengan sangat hati hati. Reyhan mendudukkan tubuhnya di samping Yumna, dan mengelus perut Yumna yang mulai membuncit.
"Pagi ini istri dan anak anakku ini pengen makan apa ?" tanya Reyhan lembut.
Yumna menggelengkan kepalanya. Reyhan mengela napasnya, karna sudah sebulan ini Yumna tidak pernah berselera makan pagi. Dan minum susu hamil pun Yumna tidak mau.
"Ya udah !" pasrah Reyhan.
Reyhan pun naik ke atas ranjang, duduk bersandar di kepala ranjang. Yumna pun langsung mendudukkan tubunya, menyandarkan tubuhnya ke tubuh Reyhan. Reyhan langsung memeluknya dan mengusap usap perutnya.
"Habib !" panggil Yumna.
"Hm..?" Reyhan meletakkan dagunya di ujung kepala Yumna.
Yumna meletakkkan kedua tangannya di atas kedua punggung tangan Reyhan yang melingkar di perutnya.
"Apa Habib sudah menyiapkan nama untuk mereka ?" tanya Yumna.
"Sudah sejak sebulan kita menikah, aku sudah menyiapkan nama anak anak kita" jawab Reyhan.
"Siapa ?" tanya Yumna lagi.
"Tunggu mereka lahir dulu sayang !" jawab Reyhan. Yumna langsung memajukan bibirnya ke depan.
"Kita belum tau jenis kelamin mereka sayangku !." Reyhan menarik gemas hidung Yumna." Nanti setelah kita mengetahui jenis kelaminnya baru Habib kasih tau, oke sayang ?" ucapnya lagi.
"Aku gak percaya, akhirnya aku hamil juga Habib !. Jujur ! aku sampai pernah putus asa, tak berani berharap lagi Habib !" ucap Yumna.
Reyhan meraih dagu Yumna, mendongakkan wajahnya ke arahnya. Reyhan mencium kening Yumna lama, menyalurkan rasa kasih sayangnya." Dan aku sangat takut kamu tinggalkan !" ucapnya setelah melepas ciumannya.
"Di antara kita akulah yang bermasalah. Jika kamu menuntut hakmu dari kekuranganku. Aku tidak bisa mempertahankanmu !" ucapnya lagi.
"Astagfirullihal azim Habib !" Yumna manjamkan pandangannya ke wajah Reyhan yang menatapnya."Meski selama ini kita belum di karuniai anak, aku belum pernah berniat meninggalkan Habib, meski aku sangat menginginkannya" jelas Yumna.
"Menikah bukan ajang berlomba membuat anak Habib !" tambah Yumna lagi.
"Habib hanya sadar akan kekuragan Habib" balas Reyhan.
Yumna mengagkat satu tangannya, membelai wajah Reyhan."Tapi sekarang doa dan harapan kita sudah terkabul. Habib jangat takut lagi, karna aku tidak punya alasan apa pun lagi untuk meninggalkanmu, jika pun niat itu pernah terlintas di benakku. Aku mencintai Habib, seluruh jiwa dan ragaku" ucap Yumna, kemudian mengecup bibir Reyhan.
"Aku akan menjadi orang yang merugi jika meninggalkan suami sebaik Habib" ucap Yumna lagi.
"Aku pun sangat mencintaimu Almiraku sayang !. Trimakasih atas kesetiaanmu, dan sudah banyak membimbingku, mengajakku lebih dekat dengan Allah!." Reyhan mencium sekali lagi kenig Yumna.
.
.