Brother, I Love You

Brother, I Love You
60. Manja



Ceklek !


Mendengar pintu ruang operasi itu terbuka, refleks mereka semua menoleh dan langsung berdiri dari kursi masing masing.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok ?" todong Papa Arya langsung kepada Dokter yang muncul di pintu.


"Sudah mulai membaik, tapi keadaannya masih kritis. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU" jawab Dokter itu. Nampak sekali wajahnya lelah, dan matanya ngantuk.


Mereka pun bernapas lega, mendengar kabar Arsenio mulai membaik, meski mereka masih cemas dengan kondisi Arsenio yang masih kritis.


"Kalau begitu saya permisi dulu !" pamit Dokter pria paru baya itu.


Papa Arya menganggukkan kepalanya," trimakasih Dok !" balasnya. Dan Dokter itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Tak lama kemudian, mereka melihat brankar di dorong tiga orang perawat keluar dari ruang operasi. Dan nampak Arsenio terbaring lemah di atasnya dengan wajah pucat, mereka pun mendekatinya.


"Arsen ! anak Mama !" lirih Mama Bunga. Mama Bunga pun mencium pipi Arsenio sambil satu tangannya mengusap ujung kepalanya.


"Jagoan Papa !" lirih Papa Arya, mengusap bahu anak paling bandelnya itu, yang terbaring lemah tak berdaya. Anak yang paling sering dia hukum di sekolah dan di rumah, karna sering brantem, nonjok temannya di sekolah, dan juga sering kelayapan pulang sekolah dan pulang larut malam ke rumah.


"Arsen ! aku sudah menunggumu dari tadi, kenapa kamu lama sekali di dalam ?" lirih Sirin menangis menyentuh tangan Arsenio yang di tusuk jarum infus." Cepatlah sembuh ! aku membutuhkanmu !" ucapnya lagi.


"Maaf Pak ! Bu ! kamu harus segera


membawanya ke ruang ICU" ucap salah satu perawat yang mendorong brankar Arsenio. Papa Arya, Mama Bunga dan Sirin pun memjauh dari sisi brankar, ketiga perawat itu pun langsung mendorong brankar tersebut, membawa Arsenio masuk ke ruang ICU.


"Pak Arya ! Bubu ! kalian istirahatlah di ruanganku. Aku akan menyuruh perawat khusus yang akan menjaga Arsen" ucap Dokter Aldo kepada mantan guru dan mantan kekasihnya itu.


"Iya sayang ! kita istirahat saja dulu, percayalah, Arsen pasti sembuh. Dan kamu juga lagi hamil, kamu butuh istirahat yang cukup, supaya bayi kita sehat. Ingat ! kamu gak boleh setres, nanti bisa berpengaruh kepada bayi kita" ucap Papa Arya lembut, supaya istrinya itu mau istirahat. Karna sudah semalaman ini mereka tidak tidur.


Mama bunga pun menganggukkan kepalanya, karna ia memang butuh istirahat.Dan juga tubuhnya sudah terasa lelah dan mengantuk.


Papa Arya pun menuntun Mama Bunga berjalan, ke arah ruangan Dokter Aldo.


"Ghissam ! ayo bawa Sirin pulang, kalian juga istirahatlah" suruh Dokter Aldo kepada anak tertuanya.


"Iya Pah !" patuh Dokter Ghisam. Lalu mengangkat tubuh Sirin ke pundaknya dan langsung berjalan.


"Bang Ghissam !!!" pekik Sirin.


"Ini di rumah sakit, jangan berteriak !" ujar Dokter Ghissam.


"Sirin gak mau di gendong seperti ini" rengek Sirin. Tubuhnya sudah lelah dan ngantuk, tidak bisakah abangnya itu manis sedikit saja.


Dokter Ghissam pun menurunkan Sirin, kemudian berjongkok di depan Sirin, supaya adiknya itu naik ke punggungnya. Sirin yang paham pun langsung naik ke punggung Dokter Ghissam melingkarkan tangannya ke leher abangnya itu.Dokter Ghissam pun langsung berdiri dan melanjutkan langkahnya.


Kalian berdua adalah kebahagiaan Papa anak anakku, penyemangat Papa, batin Dokter Aldo, melihat kedekatan kedua anak anaknya yang sudah dewasa.


.


.


"Bang Orion ! ayo sarapan dulu" ucap Queen, meletakkan nampan yang berisi makanan dan segelas air putih di atas nakas, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Orion yang terbaring di atas tempat tidur.


"Abang mual Queen !" manja Orion, memindahkan kepalanya ke pangkuan Queen, kemudian tangannya memeluk pinggangnya.


"Bang Orion manja banget !" ucap Queen. Queen mengerucutkan bibirnya, seharusnya dia yang manja dan di manja, ini kenapa kebalik ?, pikir Queen.


"Emang gak boleh abang manja ?" tanya Orion, menyingkap baju kaos Queen ke atas, kemudian mencium cium perut Queen yang masih rata.


"Seharusnya Queen yang di manja" jawab Queen.


"Gantian dong !" balas Orion, bibirnya terus mengecup ngecup perut Queen.


"Ikh ! perasaan gak pernah deh Queen di manja" sanggah Queen, masih dengan bibir mengerucut.


"Mau abang manjain ?" Orion menyeringai ke arah wajah Queen.


"Gak !" tolak Queen.


Orion mencebikkan bibirnya" katanya pengen di manja !" cibirnya.


Queen pun memutar bola matanya malas, dia pengen dimanja, bukan minta di mesumin.


"Queen tau, isi otak bang Orion ini mesum semua" ucap Queen, menoyor kening Orion dengan telunjuknya.


"Eleh ! Queen juga suka pun !"cibir Orion.


"Tapi gak setiap waktu kali !" balas Queen." Ayo bang Orion sarapan dulu, mumpung masih hangat" suruhnya.


"Abang mual Queen !" tolak Orion.


Orion benar benar mual, dan tak berselera makan, sepertinya ngidamnya tambah parah. Jahil banget sih anak mereka itu, Papanya di kerjain. Tapi Orion sangat bersyukur, dia yang mengalami ngidam, bukan istrinya. Coba istrinya yang ngidam, pasti dia akan kewalahan mengurus Queen, karna pergerakannya yang terbatas. Dan juga pasti akan menggangku proses belajar Queen di sekolah. Tuhan itu maha adil, tau yang terbaik untuk umatnya, pikir Orion.


"Dikit aja bang Orion !" bujuk Queen, mengusap rambut Orion yang sudah mulai memanjang.


"Nanti abang makan ya !, ini terlalu pagi, abang benaran mual Queen" tolak Orion lagi, dengan tatapan meneduh.


Queen menghela napas pasrah" ya sudah !" ucapnya, melihat wajah Orion terlihat menderita dengan rasa mualnya." tidurlah ! nanti Queen bagunin" ucapnya lagi. Mengusap usap kepala Orion yang sudah berpindah ke atas bantal. Dan tak butuh waktu lama, Orion pun sudah tertidur. Queen pun berdiri dari tempat duduknya, meninggalkan Orion sendiri di dalam kamar.


Sampai di lantai bawah, Queen langsung menuju ruang makan, didapatinya di sana Darren dan Bilal masih sarapan.


"Darren ! Bilal !, cepat kalian habiskan sarapan kalian. nanti kalian bisa telat sekolahnya" omel Queen kepada kedua adik iparnya itu. yang tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, karna Mama Bunga yang tidak mau pulang dari rumah sakit semenjak dua hari yang lalu, karna Arsenio yang masih belum sadarkan diri.


"Ikh ! kak Queen cerewet banget, dia aja gak sekolah" balas Bilal.


"Bang Elang sebentar lagi datang menjemput kalian. Dia juga mau kuliah, bisa telat juga dia kalau kalian lama lama" omel Queen lagi. Sudah persis seperti emak emak benaran dia.


"Iya cerewet !" dengus Darren. kemudian mempercepat makannya. Ratu sejagat dengan ratu shok kecantikan, cerewetnya sama, pikir Darren.


"Kak Queen ! buat jajan Bilal mana ?" ucap Bilal terdengar kumur kumur karna mulutnya penuh makanan.


"Nanti minta sama bang Elang" jawab Queen, yang sudah mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi makan, dan langsung melahap makanan di piringnya.


"Daras pelit !" cibir Darren


"Enak saja bilang aku pelit, kalian makan di sini sudah gratis, masa masih mau minta jajan lagi ?, enak saja" ketus Queen. Bisa bangkrut dong dia !.


"Ini 'kan rumah abang kami !. Yang cari duit juga abang kami !" balas Darren tidak terima.


"Bang Darren ! kita minta duitnya sama bang Orion aja !" usul Bilal, turun dari kursinya dan langsung berlari ke arah tangga, naik ke lantai dua.


"Selamat pagi kakak ipar !" sapa Elang yang baru datang, langsung mendudukan tubuhnya di kursi makan.


"Bu Uul !!! sarapan untuk Elang mana !!!" teriak Elang, membuat Queen dan Darren menutup telinga mereka dengan telapak tangan.


"Sebentar !!" sahut Bu Uul dari dapur.


Tak lama kemudian Bu Uul pun datang dengan membawa satu piring nasi lengkap dengan lauknya.


"Emang di rumah Mama gak ada nasi ?" tanya Queen, melihat Elang datang dan langsung minta makan. Bisa habis dong jatah uang belanja belanjanya, kalau semua adik iparnya terus nebeng makan di rumahnya. Sekarang bang Orionnya 'kan bukan CEO lagi, pengangguran pula. Belum lagi proyek pembangunan kampus baru mereka masih terus mengeluarkan dana. Pusing 'kan jadinya Pala Queen.


"Gak ada yang masak !" jawab Elang, kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Bang Elang 'kan bisa masak mie instan !" ucap Queen.


"Itu gak sehat !" balas Elang santai.


Queen mengerucutkan bibirnya, ikh ! kalau begini ceritanya biaya ke salonku juga pasti ikut terpangkas, batinya.


"Bang Darren !!! Bilal dapat duit dari bang Orion !!!" seru Bilal berlari menuruni anak tangga, memegang duit tukaran dua puluh ribu di tangan kiri dan kanannya.


"Berapa ?" tanya Darren beranjak dari kursinya.


"Ini !" Bilal memberikan uang yang berada di tangan kirinya kepada Darren.


"Dikit amat !" ucap Darren, dia udah SMP, duit dua puluh ribu mana cukup untuknya.


"Bang Orion kasi nya segitu !" balas Bilal.


"He ! duit segitu tuh ! sudah cukup buat beli semangkok bakso dan teh manis dingin. Apa lagi, emang di sekolah kerjamu makan mulu, gak belajar" omel Queen.


Darren pun memutar bola matanya malas, tidak puas dengan duit yang di dapat. Darren pun melangkahkan kakinya ke arah tangga, dia ingin meminta duit lebih lagi dari abang tertuanya.


"Bang Orion !" panggil Darren setelah membuak pintu kamar abangnya.


"Apa lagi ?"jawab Orion tanpa membuka matanya.Kesal sekali Orion, tidurnya di ganggu mulu sama adik adiknya.


"Darren gak minta duit" ucap Darren.


"Kan abang sudah kasih sama Bilal" jawab Orion.


"Masa cuman dua puluh ribu ?"


Sontak Orion membuka matanya, dan mengalihkannya ke arah Darren." Abang tadi kasih seratus ribu, dua lembar" ucap Orion.


Darren pun langsung berlari keluar dari kamar abangnya, menuruni anak tangga sambil berseru.


"Bilal...!!! kamu bohongin abang !!!"


Ternyata si burung cicit sudah berubah jadi kadal.


"Hahaha.....!!!" tawa Bilal, Queen dan Elang yang masih berada di ruang makan.


.


.


Di rumah sakit


Sirin terus menangis di ruangan Dokter Aldo, karna Arsenio yang belum juga sadar dari komanya. Sudah dari semalam Sirin ikut menginap di rumah sakit dan tidak mau pulang ke rumah. Selain ia tidak memiliki teman di rumah mereka, karna Shasa Ibunya yang di tahan polisi. Sirin juga ingin menjaga Arsenio di rumah sakit.


"Sirin ! ayo sarapan dulu sayang !" ucap Dokter Aldo, kepada putrinya.


Sirin menggeleng gelengkan kepalanya, ia tudak selera makan, ia sangat mencemaskan Arsenio kekasihnya.


"Sirin ingin Arsen cepat sembuh Pa !. Pa ! tolong datangkan Dokter yang bisa membuat Arsen bangun Pa !" mohon Sirin mengiba.


"Semuanya juga menginginkan Arsen sembuh sayang !. Dokter yang menangani Arsen itu juga Dokter terbaik. Tapi kamu tau sendiri, luka luka Arsen sangat parah. Mungkin dengan dia koma, itu bisa mengurangi rasa sakitnya. Berdo'alah lebih banyak, untuk kesembuhan Arsen. Papa pasti akan melakukan yang terbaik untuknya." balas Dokter Aldo.


"Kenapa Mama jahat Pa ?, kenapa Sirin terlahir dari wanita jahat ?" tangis Sirin, penuh dengan rasa kecewa yang mendalam terhadap Ibunya.


Dokter Aldo menarik putrinya ke dalam pelukannya. tidak tahan melihat keterpurukan putrinya.


"Jangan membenci Ibumu ya nak !, bagaimana pun dia sudah bertaruh nyawa melahirkanmu. Dan membesarkanmu sampai sebesar ini" ucap Dokter Aldo, mencium ujung kepala putrinya.


"Tapi Mama Jahat Pa !"


"Dia tetap Ibu mu sayang !, Do'akan dia, supaya dia berobah menjadi orang yang lebih baik" balas Dokter Aldo.


"Papa gak pulang ?" tanya Dokter Ghissam yang tiba tiba masuk ke ruangan sang Papa. Ghissam yang baru selesai bekerja pun, membaringkan tubuh lemahnya di atas tempat tidur milik Dokter Aldo.


"Sepertinya gak !, Papa masih banyak pekerjaan. Pulanglah ! bawa adikmu" suruh Dokter Aldo.


"Ghissam malas pulang Pa !" balas dokter Ghissam. Entahlah, sejak kejadian itu, Ghissam malas sekali di rumah mereka karna sudah tidak ada lagi sosok sang Mama.


Dokter Ghissam menghela napasnya, mengingat sang Mama, perasaannya menjadi tak karuan. Rasa rindu, sayang, kecewa, marah dan benci, melebur menjadi satu. Masih tidak menyangka, Ibunya berbuat sejahat itu.


"Adikmu harus pulang, dia nanti gak ada temannya di rumah" ucap Dokter Aldo lagi.


"Sirin !, sini bobo di samping abang !. Nanti kita pulang, sekarang abang pas lagi ngantuk nganyuknya." Dokter Ghissam melambaikan tangannya ke arah Sirin, tanpa membuka matanya.


Dokter Aldo menghela napas beratnya, dia dan kedua anaknya sudah seperti orang terlantar, tidak ada yang mengurusnya. Dia malas pulang ke rumah, begitu juga dengan anak anaknya.


"Ayo Sirin sarapan dulu, Papa suapin ya !" tawar Dokter Aldo, kepada putrinya yang baru kehilangan induk itu.


Dokter Aldo tau, kalau yang ditangisi Sirin itu bukan hanya Arsenio saja. Melainkan menangisi rasa kecewanya kepada Shasa, Mamanya. Menangisi rasa rindunya, rasa sayangnya kepada sang Mama.


.


.


.


.