Brother, I Love You

Brother, I Love You
245. Mungkin belum



Sabina Adel Aaryana Alfarizqi nama wanita berusia 30 Tahun itu. Dia adalah anak terakhir dari pasangan Arya dan Bunga. Adik perempuan satu satunya di keluarga Alfarizqi. Sabin menikah delapan Tahun yang lalu dengan seorang pria bernama Jhonatan Radeya lewat perjodohan yang diatur Orion. Jhonatan adalah mahasiswa terbaik dan berprestasi di kampus milik abang tertua di keluarga Alfarizqi itu. Kini Sabina dan Jhonatan sudah di karuniai dua orang anak. Satu laki laki dan satu perempuan.


"Sayang! maaf ! aku terlambat" ucap Jhonatan kepada istrinya yang memandangnya tanpa ekspresi itu.


Tadi Sabina mengirimnya pesan untuk cepat pulang. Namun karna di kantor ada rapat mendadak, Jhonatan tidak bisa pulang cepat sesuai permintaan istrinya.


Namun Sabina hanya diam saja, tanpa berbicara Sabina memberikan handuk kepada Jhonatan. Jhonatan yang paham langsung mengambil handuk itu dari tangan istri wajah datarnya itu dan langsung pergi ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Jhonatan menghela napasnya. Meski sudah menjalani hidup berumah tangga selama delapan Tahun dengan adik dari Direktur kampus yang memberinya bea siswa itu. Jhonatan sering kali bingung menghadapi sifat irit bicara Sabina. Jhonatan sering tidak tau, apakah istrinya itu sedang marah atau tidak. Karna wajah istrinya itu selalu terlihat datar.


Selesai urusan kamar mandi, Jhonatan langsung keluar. Di atas kasur Sabina sudah menyiapkan pakaian untuknya, namun Sabina sudah tidak di dalam kamar. Jhonatan pun mengambil pakaian itu dan langsung mengenakannya.


Pak Orion yang baik hati, kenapa kamu tidak menjodohkan aku dengan putrimu saja atau keponakan keponakanmu yang lain. Aku merasa seperti di titipkan sebuah patung menekin untuk kujaga seumur hidup. Untung adik Pak Orion cantik, masih ada nilai plusnya. Batin Jhonatan


Jhonatan adalah pria berasal dari keluarga sederhana. Tapi dia memiliki otak yang pintar, baik dan berwajah sangat tampan. Menurut Orion Jhonatan cocok di jodohkan dengan Sabina. Sesuai dengan wasiat ratu sejagat sebelum meninggal, Putri satu satunya itu harus dinikahkan dengan pria tampan di atas rata rata dan pintar seperti Papa Arya. Dan Jhonatanlah yang paling mendekati kriteria yang dikatakan Sang Ratu.


Dengan tawaran yang menggiurkan yang di tawarkan Orion kepadanya. Jhonatan pun menerima tawaran menjadi menantu keluarga Alfarizqi tanpa berpikir dua kali. Di tawarkan wanita cantik, di kasih bonus jabatan yang tinggi, siapa yang menolak?. Dan tidak tanggung tanggung, Orion pun menawarkan Jhonatan sebagai Asisten Direktur di perusahaannya. Dan Orion mempercayakan kepengurusan kampus kepadanya.


Selesai memakai pakaiannya, Jhonatan keluar dari dalam kamar untuk mencari istri wajah datarnya.


"Bi ! Istriku mana ?" tanya Jhonatan saat berpapasan di tangga dengan pembantu rumah tangga mereka.


"Di kamar Nyonya kecil Pak!" jawab Wanita paruh baya itu.


"Oh ! makasih Bi !" Jhonatan pun memutar tubuhnya mengurungkan niatnya menuruni anak tangga, melangkahkan kakinya ke arah kamar putrinya.


Tanpa mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu,Jhonatan langsung memutar knopnya dan mendorong daun pintu itu sampai terbuka sempurna.


"Papa !" seru bocah perempuan berusia tiga Tahun berlari ke arah Jhonatan.


Jhonatan pun langsung membungkukkan tubuhnya meraih putrinya itu, dan membawanya ke arah Sabina yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Apa aku sudah boleh menciummu?" Jhonatan mendudukkan tubuhnya di samping Sabina.


Itulah salah satu yang di pahami Jhonatan dari Sabina. Jangan menciumnya sebelum mandi saat baru pulang kerja.


Sabina menoleh ke arah Jhonatan, lalu mengangguk dengan wajah datarnya.


Jhonatan berdecak melihat wajah istrinya itu. Kenapa sulit sekali wajah itu tersenyum?, sayang sekali ! padahal cantik. Jhonatan mendekatkan wajahnya ke wajah Sabina untuk mengecup pipinya. Namun wajah itu masih terlihat datar. Jhonatan pun tidak tinggal diam, ia berpindah mencium telinga Sabina dan sedikit menggigitnya.


"Bang Jho...!!" teriak Sabina tiba tiba.


Jhonatan mengulum senyumnya lalu terkekeh, karna sudah berhasil menjahili istri berwajah datarnya itu.


Ya! meski wajah Sabina datar dan jarang tersenyum. Tapi bagi Jhonatan Sabina adalah istri yang baik. Memang irit bicara dan tersenyum sudah menjadi karekter istrinya itu. Sabina adalah istri yang soleha, yang penyayang dan perhatian lewat perbuatannya.


Putri mereka yang berada di gendongannya ikut tertawa, sepertinya sudah biasa mendengar Sabina yang sering kali tiba tiba berteriak ketika di jahili sang Papa.


"Ayo kita berangkat!" Jhonatan berdiri dari tempat duduknya, membawa putrinya di gendongannya.


Sabina pun langsung mengikutinya.


"Kita jemput Agam sekalian!" ucap Sabina melingkarkan tangannya di lengan Jhonatan saat mereka menuruni tangga ke lantai bawah rumah mereka.


Agam adalah anak pertama mereka. Agam sudah berusia tujuh Tahun, dan sudah duduk di bangku kelas satu SD.


"Agam dimana?" Pria berusia 32 Tahun itu melingkarkan satu lenganya ke pinggang belakang Sabina, kemudian mengecup kening Sabina dari samping.


Meski dulu mereka menikah tanpa cinta, namun mereka menjalani rumah tangga mereka sebagaimana mestinya. Tidak ada drama jual jual mahal di dalam pernikahan mereka. Mereka sama sama menjalankan peran mereka masing masing sebagai suami istri, sehingga berhasil menumbuhkan rasa cinta lebih cepat di antara mereka.


"Di rumah Mama" Sabina mengatakan ibu mertuanya.


Sampai di halaman rumah, Jhonatan langsung membukakan pintu untuk Sabina dan membantunya untuk duduk. Kemudian memberikan putri mereka ke pangkuan Sabina. Setelah Jhonatan masuk ke dalam mobil, mereka pun langsung berangkat.


.


.


Selesai melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Bilal memutar tubuhnya ke arah Hani yang duduk di belakang bagian kanannya. Hani langsung menyambut tangan Bilal dan langsung mengecupnya dengan tersenyum. Dan Bilal pun mengecup kening Hani agak lama. Setalah melepas kecupan di kening Hani, Bilal juga mengecup kedua pipi dan bibir Hani.


Kemudian Bilal menarik Hani ke atas pangkuannya. Bilal membungkukkan tubuhnya untuk mencium buah cinta mereka yang baru bersemayam di dalam perut Hani.


"Abang ! kenapa aku gak mengalami ngidam ya?. Bukankah biasanya orang hamil muda itu mengalami ngidam mual dan muntah?" tanya Hani menatap wajah Bilal yang sudah selesai mencium perutnya.


"Mungkin belum, atau kamu tidak akan mengalaminya sayang" jawab Bilal mengecup bibir Hani kembali.


"Aku merasa seperti orang tidak hamil" ucap Hani.


Bilal mengulas senyumnya, biar kata orang mengidam itu sakit dan tidak enak rasanya. Namun para wanita malah sangat menginginkan merasakan bagaimana rasanya mengidam. Sepertinya hamil tanpa mengidam itu, nikmatnya kurang.


"Itu rasanya sangat tidak enak sayang!"balas Bilal.


Bilal tau rasanya mengidam, karna saat Aqeela hamil Annisa, Bilal lah yang mengalami mual dan muntah.


Di kemilan Hani sekarang, Bilal tak ingin Hani mengalaminya, biarka dia saja yang mengidam. Karna Bilal tidak akan tega melihat Hani merasakan sakitnya mengidam.


Hani mengusap usap perutnya yang masih rata, wajahnya nampak berbinar." Aku tidak menyagka Allah memberiku kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Aku sangat ingin mengalami dengan sempurna apa yang biasa di alami Ibu hamil pada umumnya"ucapnya tanpa melepas nentranya dari perutnya yang masih tertutup mukena.


Bilal mengecup kening Hani lagi" Tapi aku berdoa supaya kamu tidak mengalami mual dan muntah" balas Bilal.


Hani mengalihkan pandangannya ke wajah Bilal.


"Aku tidak tega nanti melihatmu tidak bisa makan" ucap Bilal lagi.


Hani melengkungkan bibirnya ke atas, entah apa yang membuatnya tersenyum melihat wajah tampan Bilal.


"Aku mencintaimu Ustadz Bilal !" ucap Hani semakin merekahkan senyumnya.


"Aku tau itu dari dulu" balas Bilal.


Bilal merekahkan senyumnya melihat wajah cemberut Hani. Bilal tau, kalau Hani ingin mendengar balasan cintanya.


"Aku lebih mencintai kamu!" mata Bilal berbinar saat mengatakan itu.


Bilal pun mengecup ngecup bibir Hani, dan perlahan lahan menyapunya lembut, membuat bibir Hani basah.


Tok tok tok !


"Ayah ! Umi ! Paman Orion ! datang !" sahut Annisa dari luar kamar.


Bilal pun menghentikan kegiatannya mengecup ngecup bibir Hani di pangkuannya.


"Ya ! Ayah dan Umi akan keluar !" balas Bilal dari dalam kamar.


"Ayo sayang ! kita sambut para Paman dan Tante anak anak kita" ucap Bilal menurunkan Hani dari pangkuannya.


"Gendong !" manja Hani.


Bilal pun segera mengangkat tubuh Hani, membawanya ke arah ranjang, mendudukkan tubuh Hani di pinggir ranjang. Bila juga membuka mukena Hani, dan memasangkan jilbab instan ke kepala istri tercintanya itu.


Selesai membereskan alat shalat mereka, Bilal dan Hani langsung keluar dari dalam kamar.


Di ruang keluarga rumah itu terlihat sudah rame dengan kedatangan keluarga besar Alfarizqi.


"Assalamu alaikum !" sapa Bilal yang datang bergandengan tangan dengan Hani.


"Walaikum salam!" balas semuanya.


Hani melepas tangannya dari tangan Bilal, karna ia harus menyalam satu persatu para kakak kakak iparnya yang datang.


"Selamat menjadi Ibu ya !" Queen mencium pipi kanan dan kiri Hani, kemudian mengelus lembut perut Hani." Sudah berapa minggu?" tanyanya.


"Empat minggu kak !" jawab Hani tersenyum.


Begitu pun dengan Yumna, Naysila, Sirin dan Jean melakukan hal yang sama kepada Hani. Mereka turut senang mendengar bertambahnya anggota keluarga Alfarizqi itu.


Sedangkan Bilal, ia juga mendapatkan ucapan selamat dari para kelima abangnya.Siapa lagi kalau bukan, Orion, Reyhan, Elang, Arsen dan Darren.


"Sabin belum datang?" Bilal memutar pandangannya mencari putri raja Arya itu.


"Masih di jalan katanya, mereka sekalian menjemput Agam ke rumah Neneknya" Arsenio yang menjawab.


"Oh !" Bilal mengangguk paham.


"Sayang ! sini ! jangan jauh jauh dari abang" Bilal menepuk nepuk sofa di sampingnya, supaya Hani berpindah duduk di sampingnya.


"Pengantin baru memang maunya nempel terus!" cibir Elang. Mereka lagi ngumpul ngumpul keluarga, malah si burung cicit pengen nempel nempel sama bini barunya.


"Kaya bang Elang gak aja" balas Bilal, membantu Hani untuk duduk di sampingnya. Tangan Bilal pun terus mengusap usap perut Hani dengan lembut. Entah disadari Bilal atau tidak, ia ingin terus mengelus elus perut Hani.


"Maklumi aja Bang Elang, mungkin bawaan dede bayinya" ucap Sirin. Mengingat dulu saat dia hamil Arsi anak pertamanya dengan Arsenio, Sirin minta di elus elus perutnya ketika mau tidur.


"Assalamu alaikum...!!!" tiba tiba teriak seorang wanita dari luar.


mendengar suara itu, Arsenio langsung berdiri dari tempat duduknya, menyusul si pemilik suara itu. Arsenio merentangkan kedua tangannya supaya wanita itu datang memeluknya.


Sabina yang paham pun langsung memeluk tubuh Arsenio. Pernah berjauhan selama sepuluh Tahun, membuat rasa rindu mereka tidak terobati sepanjang masa. Entah apa yang membuat seorang Arsenio selalu merindukan adik perempuan satu satunya di keluarga mereka itu. Arsenio sangat menyayangi Sabina, dia selalu merindukan Sabina, Sabina sudah menjadi adik spesial bagi Arsenio.


Arsenio yang sudah di peluk Sabina pun, mencium kening Sabina dengan gemas. Sehingga membuat Jhonatan Radeya jengah melihatnya, tapi Jhonatan tidak berani protes mengingat Abang iparnya yang satu itu adalah seorang Singa jantan.


"Paman preman!" sapa Agam berdiri di samping Sabina.


Begitulah semua para cucu cucu Papa Arya dan Mama bunga memanggilnya. Semua memanggilnya Paman preman, padahal Arsenio sudah pensiun menjadi preman setengah jadi.


"Apa kabar bro !" Arsenio melepas pelukannya dari tubuh Sabina, dan langsung mengangkat Agam ke atas pundaknya.


"Baik Paman! tapi tolong Agam di gendong dengan benar!" jawab Agam, protes karna Arsenio mengangkatnya seperti karung beras.


Di ruang keluarga itu, anggota keluarga besar itu pun berbincang bincang. Jika wanitanya membagi pengalaman hamil kepada Hani. Para prianya membahas seputaran Dunia kerja dan bisnis.


Tanpa mereka sadari dari Dunia lain, dua pasang mata terus memperhatikan mereka dengan tersenyum.


**


'Aaryan ! cucu kita akan bertambah lagi!'ucap wanita dengan wajah berbinar.


'Iya sayang !' balas Arya tersenyum bahagia.


'Aku sangat merindukan mereka semua!' Bunga meyandarkan kepalanya di lengan Arya.


'Sama ! aku juga merindukan anak anak dan cucu cucu kita!' balas Arya mengusap kepala Bunga dengan lembut.'Tidak lama lagi, anak anak kita satu persatu akan menyusul kita ke sini' ucap Arya lagi. Melihat anak anaknya sudah tidak muda lagi.


'Kasihan para cucu cucu kita nanti!' ucap Bunga.


'Tuhan pasti akan menabahkan hati mereka sayang!. Jangan kawatir, biarkan itu menjadi urusan Tuhan' balas Arya.


Bunga menganggukkan kepalanya, senyumnya terus merekah melihat ke kompakan anak anak mereka.


'Ayo kita pergi' Arya menoleh ke wajah Bunga, satu tanganya ia rangkulkan ke leher istri tercintanya itu. Arya pun membawa Bunga pergi entah kemana.


**


.


.