
Mama Bunga menghapus air matanya, kemudian berjalan cepat keluar dari ruang makan. Masuk ke dalam kamar, Mama Bunga langsung membuka laci meja riasnya, mengambil kunci dari dalam, dan langsung keluar, mengabaikan Papa Arya yang duduk memandanginya di pinggir kasur.
Mama Bunga masuk ke dalam garasi dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Saat Mama Bunga hendak menutupnya, Papa Arya langsung menahan pintunya.
"Kamu boleh memikirkan anakmu yang lain, tapi pikirkan juga anak yang ada di dalam perutmu itu. Apa kamu ingin membahayakannya ?." Papa Arya menarik Mama Bunga keluar dari dalam mobil.
"Lepaskan aku Aaryan !"
Mama Bunga meronta berusaha melepaskan tangan Papa Arya. Namun Papa Arya malah menggendong tubuhnya, membawanya kembali masuk ke dalam rumah.
"Kamu tidak boleh pergi kemana mana!"
"Aku ingin pergi mencari anakku !!" tangis Mama Bunga.
Papa Arya mengabaikannya, membawa Mama Bunga masuk ke dalam kamar. Papa Arya mendudukkan tubuhnya di atas sofa, membiarkan Mama Bunga di pangkuannya.
"Aku minta maaf !" ucap Papa Arya, mencium pipi istrinya yang di tamparnya tadi." Nanti kita sama sama mencari Arsen dan Sirin" ucapnya lagi.
"Kamu terlalu kejam Aaryan !, mereka masih anak anak !" lirih mama Bunga di dalam dekapan Papa Arya.
Papa Arya diam tidak membalas ucapan Mama Bunga. Ia hanya mengusap usap punggung mama Bunga dan sesekali mengecup ujung kepalanya.
"Seharusnya kamu menikahi wanita yang sama sepertimu. Yang pintar, baik dan tidak nakal. biar kamu tidak memiliki anak yang nakal sepertiku. Kamu yang meminta kehadirannya di rumah ini. Kenapa sekarang kamu malah mengusirnya karna hanya satu kesalahannya?. Kenapa kamu tidak bisa memaafkan anakmu sendiri ?, darah dagingmu sendiri" ucap Mama Bunga dalam tangisnya.
"Jika kamu sendiri tidak bisa menerima anakmu yang kotor itu ?, bagaimana dengan orang lain di luar sana ?. Kenapa kamu tidak memikirkan itu ?. Siapa yang akan membela mereka di luar sana ?. Jika mereka di cemooh orang, di hina orang."
"Kenapa Surga masih di ciptakan Tuhan ?, jika semua hamba hambanya memiliki dosa, yang pasti sudah masuk neraka, Aaryan ?. Beri aku jawabannya Aaryan !, jika aku salah membela anakku yang berdosa, jika aku salah memaafkan anakku yang bersalah. jika aku memberi kesempatan anakku untuk memperbaiki dirinya" cerca Mama Bunga.
Papa Arya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya.
"Apa tidak cukup Arsen mengakui kesalahannya, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukannya dengan menikahi Sirin ?. Anak kita hanya khilaf Aaryan !."
"Maaf !" Hanya kata itu yang bisa Papa Arya ucapkan.
"Sirin baru kehilangan sosok Ibu dari hidupnya. Dia butuh sosok orang tua di sampingnya. Dia butuh dukungan dari kita, dari keluarganya. Malah kamu dengan tega menyuruh mereka pergi dari rumah ini. Kenapa kamu tidak bisa membiarkan hanya Tuhan yang memberi hukuman kepada mereka ?"
"Maaf sayang ! aku khilaf" tangis isak Papa Arya, penuh penyesalan.
Rasa malu dan kecewa terhadap Arsen, membuatnya tak berperasaan. Tega mengusir anaknya dari rumah.
.
.
"Hai Didi sayang !" sapa Reyhan, saat menunggu Diana di depan gerbang sekolah.
Diana yang disapa melongos begitu saja dengan wajah cemberut. Sudah tiga kali malam minggu Reyhan tidak datang mengencaninya, dengan alasan sibuk, banyak kerjaan. Menyebalkan !" batin Diana.
Hap !
"Bang Reyhan !! lepasin !!" pekik Diana, kaget karna Reyhan manangkap tubuhnya, mengangkatnya seperti karung beras ke pundaknya.
"Kenapa di telepon gak di angakat, di sms gak di balas ? hm..!" gemas Reyhan, mendudukkan Diana ke kursi penumpang depan mobilnya.
"Aku pikir kita sudah putus !" ketus Diana.
"Apa kamu bilang ? hm ! berani kamu bilang putus ?" gemas Reyhan lagi menarik hidung Diana.
"Mana ada orang pacaran, tapi gak pernah bertemu sampai tujuh purnama" Diana berbicara dengan bibir mengerucut seperti paruh bebek.
"Oh ! ceritanya Didi sayang kangen nih sama babang Reyhan. Okeh ! kalau begitu, kita kencan sekarang." Reyhan menutup pintu di samping Diana, kemudian berjalan memutari depan mobilnya,ke arah pintu kursi pengemudi. Setelah masuk dan duduk, Reyhan langsung melajukan kenderaannya, entah kemana ia akan membawa sang kekasih pujaan hati. Yang telah melepaskannya dari ceratan jomlo sejak lahir.
"Kita mau kemana ?" tanya Diana
"Mau cari tempat yang pas buat kangen kangenan." Reyhan menaik turunkan alisnya sembari tersenyum ke arah Diana.
"Emang bang Reyhan tau ? gimana caranya kangen kangenan ?."
Ciiiiiitttttt......!
"Bang Reyhan !!!!" teriak Diana karna tubuhnya terhunyung ke depan karna Reyhan tiba tiba rem mendadak. Untung saja Diana memakai sabuk pengaman, sehingga tidak sampai keningnya mencium dasboad mobil.
"Bagaimana kalau kita coba sekarang ?" tanya Reyhan menaik turunkan alisnya ke arah Diana.
"Nggak !"
Reyhan mencebikkan bibirnya" tapi kamu penasaran."
"Gak juga !"
"Tadi nanya!"
"Nanya Doang !"
"Didi sayang ! kok gitu sih ?"
"Gitu gimana ?"
"Bengis banget ngomongnya sama abang!"
"Itu perasaan bang Reyhan aja !."
"Iya deh !, mulai minggu depan, abang akan rutin ngajak Didi sayang malam mingguan" bujuk Reyhan.
Begini nih kalau pacaran sama cewek cabe cabean. Gak ngerti di bilang banyak pekerjaan. Batin Reyhan, pasrah. Bagaimana lagi, hatinya sudah terpikat dengan gadis abg di sampingnya.
Wajah Diana pun berbinar, meski masih nampak sedikit cemberut. Setelah Reyhan mengatakan akan rutin mengajaknya malam mingguan.
"Gemas banget sih kamu Didi sayang !"
Cup !
Satu kecupan pun Reyhan daratkan di pipi Diana. Membuat Diana langsung bersemu merah, merasakan kupu kupu berterbangan di perutnya. Ini ciuman pertama Reyhan di pipinya.
"Sekarang katakan ! kamu ingin kita jalan jalan kemana ?" tanya Reyhan, mengacak acak ujung kepala Diana.
"Terserah bang Reyhan saja !" jawab Diana.
"Oke ! baiklah !" Reyhan langsung melajukan kenderaannya kembali. Entah kemana Reyhan mau membawanya. Reyhan pikir, biasanya wanita sangat suka di bawa ke tempat tempat yang indah, untuk berselfi ria.
.
.
"Halo juga Boy !" balas Orion, tersenyum, meski ia sudah merindukan anaknya itu.
"kapan Daddy menjemput Boy ?" tanya Boy, ia akan selalu menanyakan itu setiap Orion menghubunginya.
"Apa kau sangat merindukan Daddy ?" tanya balik Orion.
"Aku sangat merindukan Daddy dan juga Momy !" jawab Boy dengan wajah sedihnya.
"Apa Boy ingin bicara dengan Momy ?."
"Serius Dad ?" heboh Boy, matanya nampak berkaca kaca. Orion menganggukkan kepalanya, begitu kasihan dengan anak malang itu.
"Sayang ! bicaralah dengan Boy !, dia sudah sangat merindukan Momy nya yang tak pernah dia lihat. Dia hanya bisa memandangi photomu selama ini. Dia hanya mengetahui, kamulah Momynya" ucap Orion kepada Queen yang duduk di sampingnya.
"Itu salah bang Orion sendiri, kenapa kamu mengatakan padanya kalau aku Momy nya ?" balas Queen, masih enggan untuk berbicara dengan anak adopsi suaminya itu.
"Karna hanya kamulah istriku !" jawab Orion.
"Dad ! Momy mana ? Boy sudah sangat merindukannya" sahut Boy dari sebrang telepon.
Orion menghela napasnya, melihat Queen belum bisa menerima kehadiran Boy dalam rumah tangga mereka.
"Boy adalah anak yang malang, dia membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Abang mohon !, berilah sedikit hatimu untuknya !" bujuk Orion.
"Jika ibu yang melahirkannya tidak peduli dengannya. Kenapa Queen harus perduli. Lagian, bukankah bang Orion bilang, dia anak dari adik sahabat bang Orion. Kembalikan saja anak itu kepada keluarga ibunya !" omel Queen.
"Queen..!" lirih Orion, ia tidak menyangka Queen berkata seperti itu, tidak menerima anak itu sama sekali.
"Bang Orion sendiri yang mengadopsinya, tanpa sepengetahuan Queen. Jadi tolong jangan libatkan Queen dengan anak itu" cetus Queen.
Orion menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya. Kenapa Queen istrinya sangat berbanding terbalik dengan Mama Vani mertuanya yang sangat menyukai anak kecil.
"Daddy ! apa Momy tidak mau bicara dengan Boy ?" tangis Boy dari sebrang telepon. Mendengar suara seorang wanita di samping Daddy nya seperti marah marah.
"Bukan Boy !, Momy lagi sakit gigi, jadi bawaannya bicara terus, marah marah tidak jelas" jawab Orion, matanya nampak berkava kaca, tapi ia berusaha tetap tersenyum kepada Boy di layar handphonnya.
"Boy ! Daddy harus mengakhiri teleponnya. Daddy sudah sampai di sekolah, Daddy harus bekerja" ucap Orion, seteleh di angguki Boy, Orion pun mematikan sambungan teleponnya.
Maaf bang Orion !, tidak semudah itu aku percaya, kalau Boy itu hanya anak adopsimu !, batin Queen.
.
.
Pulang sekolah, setelah membuka baju seragam sekolahnya, Arsenio langsung ke dapur, untuk memasak makan siang sampai malam untuk mereka.
Kali ini Arsenio akan memasak telor, dan tempe untuknya dan Sirin. Hanya karna itu stok bahan makana yang tersedia di dapur. Mereka tidak memiliki kulkas, sehingga tidak bisa menyimpan bahan makanan yang basah untuk stok mereka.
"Masak apa tanya Sirin" datang ke dapur, untuk melihat Arsenio bagaimana caranya memasak.
"Telor sama tempe !" jawab Arsenio
"Gak ada sosisnya ?" tanya Sirin, tiba tiba saja ia pengen makan sosis.
"Gak ada sayang !, kita 'kan gak ada kulkas, tidak bisa menyimpan bahan makanan yang basah."
Sirin langsung saja mengerucutkan bibirnya.
"Tapi aku ingin makan sosis !" rengek Sirin manja.
Arsenio menghela napasnya, kemudian mematikan api kompor yang sempat di hidupkannya.
"Tunggulah aku akan membelinya ke warung dulu" ucap Arsenio. Melangkahkan kakinya keluar dapur, masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang dari dompetnya.
"Aku ikut !" ucap Sirin, mengikuti langkah Orion ke arah pintu keluar.
Arsenio tidak menjawab, ia hanya megusap kepala Sirin dengan sayang. Lalu melingkarkan tangannya ke leher belakang Sirin, setelah menutup pintu rumah mereka.
Berjalan di gang perumahan sederhana itu, tanpa mereka sadari, mereka sudah mendadak selep. Tentu karna ketampanan dan kecantikan mereka salah satu alasannya. Dan mereka menjadi pasangan suami istri termuda di perumahan itu. Selain itu, asal usul mereka selalu menjadi perbincangan hangat di kalangan emak emak berdaster. Apa lagi tentang Sirin yang mereka duga sedang hamil.
"Bu ! ada sosis ?" tanya Arsenio kepada ibu si pemilik warung.
"Ada dek ! mau berapa biji ?" tanya ibu si pemilik warung itu, berjalan ke arah kulkas di warungnya.
"Bisa beli perbiji ya bu ?" tanya Arsenio. Arsenio tidak tau itu, karna orang tuanya selalu beli sosis perbungkus.
"Bisa dek !" jawab Ibu pemilik warung itu.
"Sirin ! mau berapa biji ?" tanya Arsenio kepada Sirin.
"Empat biji aja" jawab Sirin
Si tukang warung sayur itu pun mengeluarkan sosis empat biji dari bungkusnya, memasukkannya ke dalam kantok plastik berukuran kecil.
"Ada lagi dek ?" tanya si tukang warung itu.
"Itu aja !" jawab Sirin, tapi pandangannya mengarah ke salah satu jajanan di warung itu.
Arsenio yang melihatnya pun, mengambil jajanan yang di pandangi Sirin. Hati Arsenio begitu menjolos melihat Sirin seperti memendam keinginannya. Padahal hanya jajanan seharga sepuluh ribu.
"Tambah yang ini ya Bu !" ucap Arsenio, memberikannya kepada ibu pemilik warung itu, supaya menghitungnya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
Wajah Sirin langsung berbinar, Arsenio mengambil jajanan yang ia inginkan.
"Semuanya tujuh belas ribu ya dek !" ucap si empunya warung, memberikan belanjaan mereka.
Arsenio pun membayar belanjaannya. Setelah menerima uang kembaliannya, mereka pun meninggalkan warung itu, kembali ke rumah mereka.
"Kalau ingin sesuatu katakan aja, jangan di pendam. Selagi aku mampu aku akan membelikannya" ucap Arsenio, saat mereka berjalan.
"Tapi kita harus berhemat!" balas Sirin.
.
.