
"Saya terima nikah dan kawinnya Ummu Hani binti Muhammad Khaidir dengan mahar... di bayar tunai !."
Sekali lagi, Bilal mengikat seorang wanita dengan tali pernikahan.
"Bagaimana para saksi ?" tanya seorang Kiyai yang meminpin jalannya ijab kabul.
"Sah...!!!!!!!"gemuruh para santriwan dan santriwati serentak.
Mereka turut bahagia menyaksikan pernikahan cucu perempuan satu satunya pemilik pesantren itu. Meski mereka adalah santri generasi yang kesekian, tapi cerita cinta Ummu Hani dengan Ustadz Bilal masih sampai ke telinga mereka dari alumni alumni terdahulu.
Tak lama kemudian, nampak seorang wanita memakai gamis dan jilbab putih masuk ke dalam masjid di tuntun dua orang wanita di kiri dan kanannya. Wanita itu nampak sangat berbeda dari biasanya, terlihat sangat cantik meski wajahnya di rias dengan make up seadanya. Wanita itu nampak meneteskan air matanya meski di bibirnya terbit sebuah senyuman.
Bilal berdiri dari tempat duduknya, memandang wanita itu dengan intens. Bilal sudah halal memandang wanita itu, dia tidak perlu ragu ragu lagi untuk menikmati kecantikan wajahnya.
Tepat wanita itu sampai di depan Bilal. Bilal langsung mengangkat satu tangannya, meletakkannya di atas ubun ubun Hani, kemudian membacakan doa.
"Allohimma solli 'ala sayidina muhammadin, wa 'ala alihi wasoh bihi ajmain. Allohumma inni as'aluka khoiriha, wa khoirimaa jabaltaha 'alaiha. Wa a'udzubika minsyarrihaa wasyarrimaa jabaltaha 'alaiha."
Selesai membaca doa, Yumna yang menangis dari tadi, mengambil tangan kanan Bilal, menyalamnya dan menempelkannya ke keningnya, dan Hani pun mencium punggung tangan Bilal dengan menangis terisak. Tak sampai di situ, Hani pun menghamburkan tubuhnya kuat memeluk tubuh Bilal. Yang langsung di balas Bilal, memeluknya erat, Bilal pun mengecup ujung kepala Hani dengan air mata menetes dari sudut matanya.Setelah puluhan Tahun, siapa menduga, Tuhan menyatukan cinta mereka.
Hani mendongakkan kepalanya ke wajah Bilal dengan wajah berurai air mata." Katakan Ustadz ! katakan kalau kamu mencintaiku !" ucapnya.
Hani ingin mendengar itu dari mulut Bilal, karna dulu Bilal tidak pernah mengakui perasaannya kepadanya. Sehingga Hani merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Meski sebenarnya Hani bisa melihat dari wajah dan pandangan Bilal kepadanya. Kalau Bilal juga menyukainya dan mencintainya.
Bilal mengulas senyumnya, kemudian mengangkat satu tangannya menghapus cairan bening yang membasahi wajah Hani dengan jarinya.
"Ana Uhibbuki Fillah jauzati Ummu Hani !" ucap Bilal, kemudian mengecup kening Hani agak lama.
Tangis Hani semakin pecah, ia pun menyandarkan kepalanya di dada Bidang Bilal." Aku mencintaimu Ustadz Bilal !, Aku sangat mencintaimu !."
Tanpa mereka sadari, semua orang yang menyaksikan mereka, ikut menangis. Terharu dengan kisah cinta Ustadz Bilal dan Hani. Cinta mereka bersatu setelah Usia mereka hampir beranjak senja.
Sekali lagi, Bilal mengecup ujung kepala Hani. Kemudian menuntun Hani untuk duduk, untuk menyelesaikan rangkaian pernikahan mereka dengan membaca doa.
Selesai acara doa, semua keluarga mengucapkan selamat kepada mereka. Dari tadi sebelah tangan Bilal tidak lepas dari pinggang belakang Bilal. Senyum pun tidak lepas dari bibir keduanya, memancarkan kebahagiaan.
"Ayah ! selamat ya !" ucap Yasmin, memeluk Bilal dan mengecup kedua pipinya.
"Trimakasih sayang ! sudah memahami Ayah !" balas Bilal. Karna sudah mendapat restu dari putrinya itu untuk menikah lagi.
"Ayah berhak untuk bahagia !" ucap Yasmin lagi.
Yasmin melepas pelukannya, berpindah memeluk Hani yang sudah sah menjadi Ibu Barunya.
"Selamat bergabung di keluarga Alfarizqi Umi !" ucap Yasmin, mengecup kedua pipi Hani.
"Trimakasih sudah menerima Umi menjadi istri Ayah kalian" balas Hani, membalas pelukan Yasmin.
"Yasmin yakin, kalau Umi adalah wanita yang baik dan hebat. Sehingga membuat Ayah kami tidak bisa melupakan wanita secantik Umi !" ucap Yasmin lagi, tersenyum.
"Jangan memuji Umi terlalu berlebihan, Umi tidak sebaik dan sehebat itu" sangkal Hani, juga terseyum.
Annisa pun mengucapkan selamat kepada Bilal, memeluk Bilal dan mencium kedua pipinya.Dan kemudian Annisa pun melakukan hal yang sama kepada Hani yang sudah sah menjadi Ibu tirinya. Meski masih berat hati menerima kenyataan, Annisa akan berusaha berdamai dengan keadaan. Kalau Ayahnya punya istri baru, dan begitu juga dengan Ibunya yang sudah bersuami lagi.
Waktu berlalu, semua para santri sudah bubar kembali ke asrama masing masing. Begitu pun dengan kedua keluarga mempelai. Kini mereka sudah kembali ke rumah Ustadz Ikbal.
"Bagaimana ? apa kalian akan membawa Hani malam ini ?" tanya Ustadz Ikbal yang sudah duduk di salah satu sofa.
Semua langsung menoleh ke arahnya, terutama Bilal. Merasa pertanyaan itu terkhusus untuknya.
"Kalau Ustadz Ikbal dan keluarga lainnya tidak keberatan. Saya rasa, biarkan Saudari Hani dan Adik kami Bilal tinggal di sini dulu untuk sementara waktu. Setelah selesai acara resepsi nanti, baru kami akan membawa mereka. Karna kami juga harus mempersiapkan penyambutan menantu baru di keluarga kami!" Orion yang menjawab.
Ustdaz Ikbal dan Ustadz Amar pun saling pandang. Ustadz Ikbal menghela napasnya, lalu berbicara.
"Tentu kami tidak keberatan, karna sekarang Ustadz Bilal pun sudah menjadi menatu di keluarga kami. Mereka bebas mau tinggal dimana, karna Ustadz Bilal juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini."
"Bagaimana Bilal ! apa kamu akan tinggal di sini dulu atau ikut pulang !" tanya Reyhan, yang dari tadi hanya diam saja.
"Bang Bilal tinggal di sini aja !, mana ada pengantin baru langsung pisah ranjang !" celetuk Sabina tiba tiba.
"Kemana pikiranmu ? Hm..!" gemas Arsenio, melingkarkan tangannya ke leher belakang Sabina, dan sedikit menekannya.
"Bang Arsen !!!" pekik Sabina tiba tiba.
Membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget. Meski sudah dewasa dan menjadi ibu ibu, Putri raja milik Raja Arya itu masih tidak berobah. Masih suka tiba tiba memekik jika ada yang mengganggunya.
"Maaf Ustadz Ikbal, atas kelakuan adik adik saya yang masih seperti anak anak meski usianya sudah tua" ucap Orion merasa tidak enak hati kepada pemilik rumah itu.
"Tidak ada yang salah !" balas Ustadz Ikbal tersenyum. Karna memang tidak ada yang salah dan perlu di maafkan. Di dalam keluarga kakak beradik saling menjahili yang menimbulkan keributan itu hal biasa.
"Kebetulan malam sudah larut, kalau begitu kami pamit pulang dulu Ustadz. Trimakasih banyak karna sudah menerima niat baik kami malam ini, dan menyambut kami dengan hangat. Dan trimakasih juga sudah menerima lamaran adik kami, dan bahkan menjadikannya menantu di keluarga ini malam ini juga" ucap Orion sekalian pamit.
Orion berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Ustadz Ikbal dan Ustdaz Amar, menyalam kedua Ustdaz itu. Di ikuti rombongannya alias adik adiknya.
Begitu pun kamu hawa dari pihak keluarga besae Alfarizqi, mereka meyalam kedua kaka ipar Hani beserta anggota keluarga lainnya. Tak lupa Queen sebagai istri dari kepala suku, menitipkan Hani kepada keluarga.
"Ustadzah ! untuk sementara, kami titip kedua adik kami di sini. Nanti kami akan menjemput mereka" ucapnya sambil menyalam kakak ipar tertua Hani.
"Tidak masalah !, mereka juga adik adik kami !" balas Kakak ipar Hani tersenyum ramah kepada Queen.
Queen menganggukkan kepalanya juga tersenyim ramah.
Sepeninggal keluarga Bilal, kini giliran Bilal dan Hani yang pamit dari rumah ini. Malam ini mereka akan tidur di rumah yang Hani tempati. Setelah berpamitan, Bilal dan Hani pun keluar dari rumah Ustadz Ikbal dengan bergandengan tangan.
"Ummu Hani !" ucap Bilal tersenyum dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa kamu tau ? sejak dulu nama itu sudah terpahat indah di dalam hatiku !" lanjut Bilal, meremas sedikit tangan Hani yang berada di genggamannya.
"Sosok itu dulu sudah berhasil membuatku betah sekolah di sini." Bilal menjeda kalimatnya sebentar." Sosok itu sudah menemani perjalanan hidupku hingga aku menjadi seperti sekarang ini" lanjutnya.
"Sosok itu adalah cinta pertamaku, Ummu Hani !" tambah Bilal lagi.
Hani menghentikan langkahnya, setelah melepas tangannya dari genggaman Bilal. Hani menjinjitkam kedua kakinya, mengecup pipi Bilal dan langsung berlari ke arah rumahnya.
Bilal yang shok, terdiam ditempatnya melihat Hani yang masuk ke dalam rumah dan menutup langsung pintunya.
Hani masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintunya. Hani menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya sambil memeganhi dadanya yang naik turun karna kecapean berlari, dan karna jantungnya berdegub kencang.
Jangan katakan Hani wanita murahan karna sudah mencium Bilal lebih dulu. Karna Hani berani melakukan itu hanya kepada laki laki berstatus suaminya. Seperti Ilmu rumah tangga yang di pelajari Hani. Seorang isti harus menjadi wanita penggoda di depan suami. Tapi jika di depan orang banyak harus bisa membawakan diri menjadi wanita terhormat.
Dan jangan lupakan sifat Hani, dia bukanlah wanita pemalu. Bahkan dulu Hanilah yang menembak Bilal, tidak malu mengatakan cinta kepada Bilal meski di depan orang banyak. Dialah dulu yang yang mengejar ngejar Bilal.
"Ummu Hani !" panggil Bilal dari ruang tamu, karna dia tidak tau yang mana kamar Hani.
Bilal merekahkan senyumnya, karna sepertinya istri barunya itu mengajaknya main kucing kucingan. Kenapa sekarang malah Hani yang bersembunyi darinya ?, pikir Bilal. Mengingat dulu dialah yang sering bersembunyi dari Hani.
"Baiklah ! sepertinya istriku mengajak main petak umpat !" ucap Bilal mendekati salah satu pintu kamar di ruang tamu itu. Bilal berpikir itu adalah kamar yang di tempati Hani.
Hani yang masih berdiri di balik pintu, menggigit kuku jari telunjuknya. Entah ! meski usianya sudah tak muda lagi, Hani merasa kembali seperti anak anak dulu kepada Bilal. Hani merasa hidupnya kembali ke jaman masih anak anak.
Melihat knop pintu di sampingnya bergerak, Hani langsung berlari ke samping lemari pakaian di kamar itu. Entah ! mengingat malam ini malam pertama mereka. Hani menjadi malu dan gugub. Tidak bisa membayangkan bagaimana proses penyatuan mereka nanti.
Bilal membuka pintu kamar itu, dan melangkah masuk. Bilal memutar pandangannya ke setiap sudut kamar itu. Mencium aroma khas kamar itu, Bilal semakin yakin, itu adalah kamar istrinya.
Bilal perlahan melangkahkan kakinya ke arah lemari dengan senyum yang tak luntur dari tadi. Bilal yakin, di samping kemari itu adalah Hani, karna melihat ujung gamis Hani sedikit nampak. Bilal menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu. Bilal tidak menyangka, di usia mereka yang tidak lagi muda. Mereka bermain layaknya anak remaja yang sedang di landa cinta.
Cup !
Hani terlonjak dan melepas tangannya dari wajahnya, karna merasakan satu kecupan mendarat di keningnya. Hani pun langsung menghambur memeluk Bilal yang berdiri di depannya.
"Kenapa ? Hm..!" tanya Bilal megusap kepala Hani yang masih tertutup hijab.
"Aku tidak lagi bermimpi 'kan Ustadz ?" tanya Hani dari dalam pelukan Bilal.
Bilal menurunkan sedikit tubuhnya, dan langsung mengangkat tubuh Hani ala bridal style, membawanya ke arah ranjang.Bilal mendudukan tubuhnya di pinggir kasur dan membiarkan Hani di gendongannya.
"Dan aku pun merasa ini seperti mimpi !"jawab Bilal memandangi wajah Hani yang juga memandangnya.
Hani menyandarkan kepalanya di dada bidang Bilal, mengeratkan pelukannya ke tubuh Bilal." Aku tidak menyangka kalau aku punya kesempatan memeluk tubuh ini !" ucap Hani.
"Aku pun begitu !" balas Bilal.
Bilal berdiri dari tempat duduknya, berjalan membawa Hani ke arah pintu kamar mandi di kamar itu, untuk berwudhu. Mereka akan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah menikah, sebelum mereka menghabiskan malam pengantin mereka malam itu juga.
Selesai shalat dan dan membaca doa, Bilal memutar tubuhnya ke arah Hani yang duduk di belakang di sebelah kanannya. Bilal mengulurkan tangannya dan Hani menerimanya, menyalam Bilal menempelkan punggung tangan Bilal ke keningnya. Di balas Bilal mengecup keningnya lama. Lagi lagi, Hani menghamburkan tubuhnya ke tubuh Bilal, duduk di pangkuan Bilal.
.
.