Brother, I Love You

Brother, I Love You
179. Mati



"Mama ! Papa !" Teriak Bilal berlari menuruni anak tangga dari lantai dua." Bang Elang gak mau bangun Ma !, sepertinya bang Elang mati !" teriak Bilal lagi.


Membuat shok orang satu rumah yang sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi, dan langsung berdiri dari tempat duduk masing masing berlari ke arah tangga.


Papa Arya yang sampai duluan di kamar Elang, langsung memeriksa Elang yang tidur terlentang di atas kasus. Papa Arya menempelkan jari telunjuknya di hidung Elang. Papa Arya menghela napasnya ternyata Elang masih bernapas.


"Aaryan ! Elang kenapa ?" Mama Bunga sudah menangis berdiri di samping Papa Arya.


"Gak apa apa sayang !, dia masih hidup !" jawab Papa Arya.


Reyhan, Darren, Yumna pun bernapas lega.


Mama Bunga pun mendudukkan tubuhnya di samping Elang yang terbaring sangat lelap, dan mencoba membangunkannya.


"Elang ! bangun sayang !" ucap Mama Bunga. Mama Bunga terisak, sedih melihat wajah Elang yang tampak sembab dengan mata bengkak. Sepertinya semalaman ini putra ketiganya itu menangis.


"Bangun Nak !" ucap Mama Bunga lagi, membelai wajah dan rambut hitam Elang.


"Aaryan ! kenapa Elang tidak mau bangun ?" tangis Mama Bunga.


"Tadi Bilal sudah mencubit bang Elang dan memukulnya pakai guling, bang Elang gak mau bangun juga, dan gak bergerak sama sekali" jawab Bilal yang berdiri di dekat Mama Bunga.


Papa Arya menghela napasnya, Kemudian mengambil handphon Elang yang terletak di atas meja nakas. Papa Arya langsung melakukan panggilan kepada seseorang.


"Assalamu alaikum !" sapa Papa Arya setelah teleponnya di tersambung.


"Walaikum salam ! ada apa meneleponku pagi pagi ?" tanya seorang pria dari sebrang telepon.


"Elang sakit !, bisa kerumah sekarang ?" tanya Papa Arya.


"Kenapa gak di bawa aja ke rumah sakit atau memanggil Dokter langganan kalian ?" cetus Dokter Aldo dari sebrang telepon.


"Elang tidak mau bangun !" jawab Papa Arya.


"Aku akan segera kesana !" balas Dokter Aldo, langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak.


Papa Arya pun meletakkan kembali handphon Elang di atas meja nakas." Sepertinya Elang meminum obat tidur, aku sudah menyuruh Aldo datang untuk memeriksanya" ucapnya.


Mama Bunga hanya menangis terisak, terus membelai kepala anak ketiganya itu. Memikirkan begitu malang nasibnya yang di tipu dan di manfaatkan istrinya. Apa salah anaknya ?, Mama Bunga yakin anaknya itu mencintai Naysila dengan tulus.


"Reyhan ! kalian sarapanlah duluan !" suruh Papa Arya.


"Iya Pa !" patuh Reyhan, mengajak istri dan kedua adiknya untuk sarapan.


"Ma ! Pa ! kami duluan !" pamit Yumna, membawa Sabina kecil di gendongannya.


Sepeninggal anak anak mereka, Papa Arya mendudukkan tubuhnya di depan Mama Bunga. Papa Arya pun mengusap kepala Elang, kasihan melihat nasib anaknya itu.


Apa salahnya ?, kenapa Pamannya itu sangat membencinya sampai ke anak anaknya. Bukankah Pamannya itu sudah menghabiskan hartanya ?. Jika hanya masalah nama keturunan, bukankah banyak orang menggunakan nama Alfarizqi ?.


"Anak kita hanya tidur sayang !" ucap Papa Arya, menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Pasti Elang frustasi memikirkan nasibnya, sampai harus dia meminum obat tidur supaya bisa tidur !" tangis Mama Bunga.


"Elang pasti memikirkan nasib anaknya yang di kandungan wanita itu ?" ucap Mama Bunga lagi.


Papa Arya hanya diam, tangannya mengusap usap rambut Mama Bunga dari belakang. Rahang Papa Arya mengeras, dia berjanji akan membuat Pamannya itu mendekam di penjara sampai menemui ajal. Dan Papa Arya juga akan mengambil cucunya itu dari wanita yang menipu anaknya.


Tak lama kemudian, Dokter Aldo pun masuk ke kamar Elang yang kebetulan pintunya tidak di tutup.


"Ehem assalamu alaikum pasutri lansia !" sapa Dokter Aldo, melangkahkan kakinya mendekati ranjang.


"Walaikum salam ABG tua !" balas Mama Bunga dan Papa Arya bersamaan, kemudian melepas pelukan mereka.


"Awas kalian !" Dokter Aldo menyuruh pasangan suami istri yang tak lagi muda itu menyingkir dari pinggir kasur.


"Kamu itu tidak punya sopan sama gurumu !" cetus Papa Arya.


"Guru perebut pacar muridnya !" dengus Dokter Aldo, kemudian memeriksa Elang yang terbaring.


Dokter Aldo pun mengambil sampel darah Elang untuk di periksa ke Lab, untuk mengetahui obat apa yang di konsumsi Elang, sampai tangannya di tusuk jarum suntik pun dia tak terbagun. Dokter Aldo juga menginfus Elang, dan memberinya obat.


"Sepertinya dia meminum obat tidur dengan dosis berlebih !" ucap Dokter Aldo." Tapi kalian jangan kawatir, dia baik baik saja, biarkan dia istirahat dulu. Nanti hasil dari sample darahnya, akan saya telepon. Dan untuk infusnya, nanti saya suruh perawat rumah sakit untuk menggantinya."


Dokter Aldo pun merapikan barang barangnya ke dalam tas, kemudian pamit pergi.


"Kalau begitu aku pergi dulu !, kamu juga Bubu ! jangan menangis terus, tidak bagus dengan kesehatan mentalmu" ucap Dokter Aldo lagi, kepada mantan kekasihnya itu.


"Ibu mana yang tidak menangis melihat anak anaknya terpuruk !" balas Mama Bunga. Air matanya kembali mengalir.


Papa Arya menarik napasnya mengeluarkannya kasar. Kemudian menarik istrinya ke dalam pelukannya. Kalau sudah seperti ini, istrinya pun sepertinya perlu di kasih obat supaya berhenti menangis.


Dokter Aldo menghela napasnya, iba melihat mantan kekasihnya itu. Seharusnya dari dulu Mama Bunga di periksakan ke Dokter ahli jiwa, saat Mama Bunga masih anak anak, yang memiliki kebandelan di atas normal. Bisa saja sifatnya yang bandel dulu adalah gejala gejala defresi, karna tidak bisa menerima kenyataan hidupnya. Dan memendam sediri kegundahan hatinya, yang menganggap dirinya anak pungut.


"Bubu !" panggil Dokter Aldo lembut melihat Mama Bunga terus menangis terisak, ingin rasanya Dokter Aldo memeluk sahabat kecilnya itu, tapi itu tidak mungkin.


"Elang gak apa apa, dia baik baik saja, dia meminum obat hanya untuk mengistirahatkan pikirannya saja" ucap Dokter Aldo lagi, ikut menenangkan Mama Bunga.


"Kenapa orang orang jahat sama kami Al ?" tanya Mama Bunga.


"Karna hanya pohon yang berbuah yang di lempari batu !" jawab Dokter Aldo." Hanya orang orang yang baik yang di uji kesabarannya" lanjut Dokter Aldo lagi.


"Kenapa ?" tanya Mama Bunga lagi.


"Untuk naik kelas , perlu di beri ujian, untuk mengetahui seberapa kemampaun setiap orang untuk naik ke kevel yang lebih tinggi, dan pantaskah orang itu naik tingkatan" jawab Dokter Aldo.


"Elang juga sedang di uji kesabarannya !" lanjut Dokter Aldo.


"Lihatlah dirimu, setelah banyak melewati ujian, bukankah kamu merasa dirimu sudah berobah, lebih dewasa !, dan bahkan dari segi penampilan kamu sudah jauh berobah lebih baik. Itu karna apa ?, bisa saja karna kamu sudah banyak lolos menghadapi ujian. Tuhan menaikkan derajatmu !. Lantas sekarang apa lagi yang membuatmu lemah, setelah banyak melewati masa ?. Seharusnya kamu sudah memiliki mental yang lebih kuat. Hanya kamu yang bisa mengobati dirimu dari defresimu Bubu !. Obati dari hatimu, dengan memperbayak istigfar. Jangan biarkan syetan terus menghasutmu, mengasihanimu !, sehingga terus membuatmu bersedih dan menangis berlarut larut" ucap Dokter Aldo lagi.


"Iya sayang ! yang di katakan Aldo itu benar, kuatkan hatimu sayang !. Hanya kamu yang bisa mengobati hatimu, jangan lemah terus seperti ini" sambung Papa Arya, tanpa sadar air matanya menetes dari sudut matanya.


"Aku lelah Aaryan !" ucap Mana Bunga lemah dari dalam pelukan Papa Arya.


"Iya sayang !, istirahatlah !" Papa Arya pun membopong tubuh istrinya itu keluar dari kamar Elang. Turun ke lantai bawah masuk ke dalam kamar mereka, di ikuti Dokter Aldo dari belakang.


"Apa dia masih sering seperti ini ?" tanya Dokter Aldo, memeriksa mama Bunga yang sudah di baringkan di atas kasur.


"Setiap ada masalah yang menimpa keluarga ini" jawab Papa Arya.


"Jangan kasih dia obat lagi, biarkan di belajar melatih dirinya untuk kuat" ujar Dokter Aldo." kecuali dia sampai melukai dirinya sendiri" ujarnya lagi.


"Aku pergi dulu !" pamit Dokter Aldo.


Dokter Aldo pun keluar meninggalkan rumah itu. Dia tidak bisa berlama lama, karna banyak pasien yang menantinya di rumah sakit.


"Sayang !" panggil Papa Arya kepada istrinya yang terbengong di atas kasur.


Papa Arya mengusap kepala istrinya," sampai kapan kamu akan lemah seperti ini sayang ?. Jangan membuatku dan anak anak sedih Bungaku !" ucapnya.


"Dimana Bungaku yang nakal dulu ?, aku merindukan sikap nakal dan tengilmu itu !, tidak mempan dengan hukuman apa pun !" ucap Papa Arya tersenyum. mengingat betapa bandel dan tengilnya istrinya waktu remaja dulu.


"Hm..?" Papa Arya, menangkup dagu mama Bunga, mengarahkan wajahnya ke arahnya.


"Aku gak bisa melihat anakku terpuruk Aaryan !" jawab Mama Bunga.


"Hanya orang yang pernah jatuh, yang tau bagaimana caranya untuk bangkit sayang !. Jangan terlalu kawatir, mereka anak anak yang kuat" ucap Papa Arya. Mendudukkan Mama Bunga, kemudian memberinya minum.


.


.


"Hari ini bang Orion mau kemana ?" tanya Queen menyiapkan sarapan di meja makan. Sedangkan Orion, ia lagi menggendong baby Syauqi, duduk di kursi meja makan.


"Pagi ini ke kampus sayang !, nanti jam sepuluh mengecek pembangunan gedung perusahaan, dan sorenya abang akan mengecek konter yang ada di daerah XX" jawab Orion.


"Akhir akhir ini bang Orion sangat sibuk, jarang ada waktu buat kami." Queen berbicara dengan bibir mengerucut.


"Bagaimana lagi sayang !, mumpung masih muda, masih kuat bekerja, jangan di sia siakan. Dan juga aku berkerja untuk masa depan anak kita kelak" jawab Orion.


"Ya udah ! bekerja ajalah terus !" cetus Queen, mengambil baby Syauqi dari pangkuan Orion, supaya Orion bisa sarapan.


Orion menghela napasnya melihat Queen nampak merajuk. Memang akhir akhir ini dia sangat jarang ada waktu untuk keluarga. Di harus mengurus tiga pekerjaan sekaligus.


"Kenapa sih bang Orion gak serahkan aja konter HPnya sama Arsen ?. Dia hanya mengurus satu toko miliknya aja" ujar Queen.


"Coba tanya Arsen, mau gak dia ?" tanya balik Orion, kemudian menyuapkan lontong sayur buatan Queen ke mulutnya.


"Dan kalau counter itu kepengurusannya pindah tangan. Jangan harap hasilnya masuk lagi ke ATMmu !" ujar Orion santai." Counter HP itu milik Papa, siapa yang mengelolanya dia yang mendapat hasilnya" tambah Orion lagi.


"Emang semua counter HP milik Papa Arya, bang Orion yang kelola ?" tanya Queen.


"Bukan !, separohnya Papa, dan separohnya aku" jawab Orion.


"Tapi Papa Arya gak sesibuk bang Orion ?."


"Kata siapa Papa gak sibuk, Papa aja sering ke kota lain mengunjungi cabang cabang counternya. Hanya saja dia selalu balik hari, karna gak bisa jauh dari ratu sejagat."


"Iyalah ! Papa Arya 'kan pria romantis, sayang sama istri. Gak kaya bang Orion, betah ninggalin istri bertahun tahun. Pulang pulang sudah punya anak dengan wanita lain" cibir Queen.


"Queen !" tegur Orion.


"Momy ! Daddy !" seru Boy berlari ke arah mereka, Boy sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.


"Wah ! anak daddy sudah ganteng !" ucap Orion, mengusap kepala Boy yang berdiri di sampingnya.


"Sarapan Boy mana Momy ?" tanya Boy sambil berusaha naik ke kursi meja makan.


"Itu sayang !" tunjuk Queen dengan dagunya." Bi sumi ! tolong suapin Boy makan ya !" ucap Queen lagi, kepada pengasuh Boy yang datang bersama Boy ke meja makan.


"Iya Bu !" patuh Bi Sumi.


"Boy bisa makan sendiri !" cetus Boy, mengambil sendok dari atas piring sarapannya.


"Boy ! gak boleh bicara seperti itu sayang !" tegur Orion.


"Momy gak sayang Boy lagi !" cetus Boy lagi, karna Queen sekarang sangat jarang perhatian kepadanya.


"Momy 'kan lagi pegangin adek sayang !, gak bisa nyuapin Boy !" ujar Queen lembut.


"Setiap hari !" lirih Boy !, menurutnya semenjak adiknya lahir, Queen tidak menyayanginya lagi, karna Queen selalu bersama baby Syauqi.


"Ya udah ! sini pindah ke samping Momy, biar Momy suapin !" bujuk Queen.


"Momy sayangnya sama adek aja !" tangis Boy akhirnya.


"Bi Sum ! tolong pindahin Boy ke sini !" suruh Queen, menunjuk kursi di sampingnya.


"Iya Bu !" patuh Bi Sum, kemudian memindahkan Boy ke kursi sebelah Queen.


"Tolong jaga Syauqinya dulu ya Bi !" ucap Queen, memberikan baby Syauqi kepada Bi Sum, pengasuh Boy.


"Kata siapa Momy hanya sanyangnya sama adek aja ?, Hm..!." Queen menghapus air mata yang meleleh di pipi Boy.


"Momy sama adek terus !" tangis Boy lagi.


"Sssttt...! adeknya 'kan belum bisa ngapa nagapain sayang. Jadi Momy harus jagain adeknya terus. Sedangkan Boy 'kan sudah besar, sudah sekolah sayang !. Boy sudah bisa main sendiri" jelas Queen. Memindahkan Boy ke atas pangkuannya, kemudian mengecup kepala Boy dari samping.


"Boy juga pengen main sama Momy !" ucap Boy, bibirnya di tekuk ke bawah.


"Iya sayang !, sekarang Boy sarapan dulu ya !, Boy 'kan harus berangkat sekolah. Nanti setelah Boy pulang sekolah kita main ya !, bertiga sama adek Syauqi" bujuk Queen.


"Benaran ?"


"Iya sayang !, Aa ! ayo buka mulutnya, biar Momy suapin !." Queen pun menyendok bubur ayam dari mangkok, menyuapkannya ke mulut Boy.


Orion yang duduk di samping Queen menghela napasnya. Apa istrinya itu kewalahan mengurus anak dua sekaligus ?, pikirnya. Mengingat Boy yang baru merasakan kasih sayang seorang ibu. Mungkin Boy juga masih ingin di perhatikan lebih oleh Queen. Sedangkan baby Syauqi juga tidak boleh lengah dari perhatian.


"Sayang ! aku berangkat kerja dulu ya !, nanti aku usahain cepat pulang" pamit Orion, mengecup ujung kepala Queen dan Boy bergantian.


Queen pun menyalam tangan Orion, ia tak bisa mengantar Orion ke depan pintu, karna lagi menyuapi Boy. Dan Boy juga menyalam tangan Orion dan mencium punggung tangannya.


"Daddy hati hati !" ucap Boy.


"Iya sayang !, Boy juga belajarnya yang rajin, kalau Boy nanti dapat nilai seratus, Daddy akan kasih hadiah" balas Orio, megecup kepala bocah berwajah bule itu sekali lagi.


"Boy pengen jalan jalan ke timezoon !" ujar Boy.


"Iya sayang !, nanti kalau Daddy ada waktu, sekarang Daddy berangkat dulu" pamit Orion lagi, mencium kening Queen, lalu pergi mencari anaknya yang satu lagi untuk berpamitan.


.


.