Brother, I Love You

Brother, I Love You
229.bab bonus1



Dua puluh Tahun kemudian


Bilal menghentikan kendaraannya di depan rumah makan di lingkungan pesantren tempatnya menimba Ilmu Agama dulu. Bilal memutar pandangannya ke luar kaca mobilnya. Pesantren itu sudah sangat banyak perobahannya. Banyak bangunan baru dan bangunan yang sudah di renopasi. Bilal sudah sangat lama tidak mengunjungi pesantren itu.


Hari ini ia kembali mendatangi pesantren itu setelah puluhan Tahun lamanya. Karna hari ini putri dari sahabatnya Ustadz indra akan melangsungkan pernikahan di pesantren itu. Bilal merasa tidak enak hati jika tak datang, karna dulu sahabatnya itu sudah sangat banyak membantunya. Ustdaz Indra sudah seperti saudara bagi Bilal, meski mereka sangat jarang bertemu.


Bilal menghembuskan napasnya saat akan membuka pintu di sampingnya. Entah ! jantungnya tiba tiba berdegup kencang saat akan menginjakkan kaki kembali di lingkungan pesantren itu.


Ummu Hani,


Nama itu terlintas begitu saja di benak Bilal. Apa kabar dengan wanita itu ?, apakah sudah menikah lagi setelah kematian Hidayah suaminya ?. Bilal sudah sangat lama tidak mendengar kabar wanita itu, semenjak ia memutuskan tidak mendatangi pesantren itu lagi. Ia tak ingin mendengar kabar apa apa tentang gadis yang sering mengganggunya dulu. Bilal rasa gadis itu sudah menikah lagi, mengingat suaminya sudah sangat lama meninggal Dunia.


Dengan mengucap basmalah di dalam hati, Bilal menginjakkan satu kakinya di tanah yang penuh dengan kenangan manis itu. Setelah menutup kembali pintu mobilnya, Bilal menghela napasnya kembali sebelum melangkahkan kakinya menuju masjid pesantren itu.


"Ustadz Bilal !!!"


"Ustasz Bilal datang !!!"


"Ustadz Bilal !!!"


"Ustadz Bilal !!!"


para santriwan santriwati pesantren yang melihat Bilal, langsung heboh menyerukan namanya. Meski sudah tak muda lagi, tapi wajah tampannya masih tetap terpancar. Malah wajahnya semakin berkarisma di usianya yang sudah matang. Hampir semua kalangan mengidolakannya, mulai dari anak anak hingga yang sudah tua.


Semua para santriwan berlari ke arahnya, untuk menyambut ke datangannya. Bilal menghela napas pasrah karna di kerubungi orang banyak. Seharusnya ia tak datang sendiri ke pesantren itu. Tapi jika ia membawa pengawal, Bilal merasa itu terlalu berlebihan, dan terkesan sombong kepada guru gurunya yang ada di sana. Terutama kepada pemilik pesantren itu. Karna Bilal merasa belum ada apa apanya di banding para guru gurunya di sana. Pengetahuan Agamanya masih tidak sebanding dengan guru guru besarnya. Hanya saja mungkin menjadi orang terkenal adalah takdir, bukan karna kehebatannya menguasai ilmu Agama.


Dan juga pesantren itu masih termasuk daerahnya, menurut Bilal, ia tak perlu membawa pengawal.


Dengan sabar, Bilal pun menyalami satu persatu tangan santriwan itu bergantian, dengan tetap mengulas senyum ramahnya.


Kedatangan Bilal pun, sudah sampai terdengar ke seluruh penjuru lingkungan pesantren. Termasuk kepada keluarga pemilik pesantren itu, termasuk Hani.


Hani yang baru ke luar rumah, untuk pergi ke masjid menyaksikan ijab kabul putri sahabatnya Susi, seketika menghentikan langkahnya. Hani memegangi dadanya, karna merasakan tiba tiba jantungnya berdebar sangat kencang, saat mendengar seruan para santri menyebut nama Ustdaz Bilal.


Meski sering kali Hani meliat wajah Bilal wara wiri di media sosial atau televisi. Semenjak dua puluh Tahuan lebih yang lalu, Hani tidak pernah melihat wajah itu lagi secara langsung.


Astagfirullohal 'azim !, batin Hani menghela napasnya panjang.


"Umi kenapa ?" tanya seorang santri kepada Hani yang melamun di depan pintu.


"Gak apa apa !" Hani mengulas senyumnya," Ayok ! sepertinya acaranya akan di mulai" ajaknya kepada santri itu.


Santri itu pun menganggukkan kepalanya, melangkahkan kakinya sejajar dengan langkah Hani.


Sapai di gerbang masjid, seketika Hani menghentikan langkahnya, ketika melihat sosok laki laki yang masih terlihat sangat tampan masuk ke dalam masjid dari pintu sebelahnya. Dan sosok itu juga ternyata melihat ke arahnya.


Dug dug dug.....!


Kedua jantung anak manusia yang sudah sangat lama tak bersua itu, sama sama berdetak kencang.


Seperkian detik mereka berpandangan. Hani dan Bilal kemudian sama sama menundukkan pandangan mereka, dan melangkah masuk ke dalam masjid, berjalan ke arah yang berbeda.


Tuhan ! lindungi hati ini dari godaan syetan yang terkutuk, batin Bilal.


Ya Allah ! aku tak ingin mencintai lagi, apa lagi yang bukan hak ku !, batin Hani.


Bilal pun langsung di sambut sahabatnya Indra. Indra sengaja mengundang Bilal di pernikahan putrinya untuk menjadi saksi, dan sekaligus untuk memelihara silaturrahmi di antara mereka.


"Ustadz Bilal ! aku pikir kamu tidak akan datang ?." Ustadz Indra memeluk sahabatnya yang sudah lama absen ke pesantren itu, dan menepuk nepuk punggungnya.


"Aku tidak punya alasan untuk tak datang !" balas Bilal, membalas pelukan sahabatnya itu.


Ustdaz Indra tidak akan mempertanyakan kenapa sahabatnya itu tidak pernah datang ke pesantren itu lagi. Karna dulu ustadz Bilal sudah menjelaskan alasannya.


Setelah melepas pelukan mereka, Ustdaz Bilal pun menyalami guru guru di sana. Sebagian Ustadz Bilal masih mengenalnya, dan sebagian tidak. Dan tidak ke tinggalan, Bilal juga menyalam kedua cucu laki laki pendiri pesantren itu, Ustadz Ikbal dan Ustadz Amar.


"Apa kabar Ustadz Ikbal" tanya Ustasz Bilal ramah sambil meyalamnya, lalu memeluknya.


"Alhamdulillah Ustdaz Bilal !" balas Ustadz Ikbal." Bagaimana dengan Ustadz sendiri ?" tanyanya balik.


"Sepertinya Ustadz sudah melupakan pesantren ini !" ucap Ustasz Ikbal. Karna sudah lama sekali Bilal tak menampakkan diri ke pesantren itu.


Ustadz Bilal semakin melengkungkan bibirnya ke atas. Ustadz Ikbal pasti sudah tau alasan ke alfaannya. Seharusnya tak perlu di tanyakan lagi.


"Sangat banyak ke sibukan, sehingga tak bisa membagi waktu ke sini !" jawab Bilal. Yang memang seperti itu adanya, jam terbangnya berdakwah sangat banyak menguras waktunya, karna harus terbang kesana kemari. Belum lagi ia hasur mengurus semua harta orang tuanya.


"Mulai sekarang ! seringlah berkunjung ke sini !" ucap Ustadz Ikbal tersenyum penuh arti.


"Akan di usahakan, tapi aku tidak bisa berjanji" balas Bilal.


"Sebagai pemilik sekolah terbesar di kota ini, pasti sangat sulit membagi waktu" gurau Ustadz Ikbal.


Semenjak Ustadz Bilal terkenal sebagai penceramah. Semua orang baru tau, kalau Ustadz Bilal adalah salah satu anak dari pemilik Sekolah Harapan Grup, yang memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di daerah mereka dan memiliki cabang counter dan laptop yang sudah menyeluruh sampai ke kota kecil Indonesia. Dan abang abangnya adalah seorang pengusaha. Hanya satu halayak rame yang tidak tau. Kalau anggota keluarga itu adalah seorang hacker handal, kecuali Bilal dan Sabina.


"Bagaimana jika saya yang mengundang ustadz Ikbal ke tempat saya. Kita mengobrol santai bersama di sana. Sekali sekali, ayolah ! ustadz dulu yang menemui para alumni pesantren ini" tawar Bilal.


Silaturrahmi mereka sudah sangat lama terputus, mungkin sudah saatnya untuk di sambung kembali. Selama ini bukan Ustadz Bilal tak ingin berkunjung ke pesantren itu. Hanya saja itu tadi, dia sangat sulit membagi waktu selama ini. Hari ini pun dia bisa meluangkan waktu, karna Ustadz Indra sahabatnya berpesan harus datang jauh sebelum hari H.


"Maaf Ustadz Ikbal dan Ustadz Bilal, acara ijab kabulnya akan segera di mulai."


Kedua Ustadz itu, refleks menoleh ke arah orang yang menyapa mereka.


"Maaf !" ucap keduanya bersamaan. Mereka pun sama sama mendudukkan tubuh mereka bergabung dengan yang lain.


Acara pernikahan pun di mulai.


Hani yang duduk bergabung di sebelah kamu perempuan, sesekali melirik ke arah Ustadz Bilal. Jatungnya masih tak bisa di ajak berdamai semenjak tadi. Masih terus meronta ronta ingin keluar. Ustadz Bilal yang merupakan seorang publik figur selama ini, tentu Hani mengetahui kalau Bilal sudah bercerai dengan istrinya. Dari lima Tahun yang lalu, Ustadz Bilal resmi menjadi duda.


Tuhan ! ada apa dengan jantungku ini ?. Bukankah aku sudah berjanji pada hatiku sendiri, kalau aku tak ingin mencintai lagi ?. Kenapa hati ini bergetar kembali melihatnya ya Rob ?. Jika ini adalah godaan syetan, lindungi aku ya Allah. Batin Hani, kemudian menelan air ludahnya bersusah payah.


Sampai saat ini Hani masih menyandang status janda semenjak kematian suaminya Hidayah. Ia tak berniat menikah lagi, dan tak ingin jatuh cinta lagi. Karna itu terlalu sakit baginya.


Selesai acara ijab kabul putri dari Ustadz Indra dan Ustadzah Susi di laksanakan. Acara itu pun langsung ke acara resepsi, hanya acara sekedar menjamu tamu saja, di hibur dengan lantunan salawat dari anak anak santri.


Sampai acara selesai, Ustadz Bilal masih bertahan di pesantren itu, karna tak di ijinkan pulang oleh ustadz Indra dan yang lainnya. Mereka masih ingin mengobrol, berbagi cerita, ilmu dan pengalaman.


"Ustadz Bilal ! apa Ustadz tak ingin berumah tangga kembali ?" tanya Ustsaz Indra kepada sahabatnya.


Ustadz Bilal langsung menajamkan pandangannya ke wajah Uastadz Indra.


"Iya Ustasz Bilal, usiamu belum terlalu tua untuk berumah tangga kembali, dan kamu juga adalah pria yang matang secara keseluruhan" sambung salah satu Ustadz di pesantren itu.


Ustadz Bilal menghela napasnya, ia pun pernah memikirkan itu. Tapi dia masih berniat untuk mengajak rujuk mantan istrinya. Bukan ingin memulai hidup baru dengan wanita lain. Sebab ia dan Aqeela mantan istrinya dan sekaligus sepupunya itu, mereka memiliki dua orang putri. Dan Bilal yakin mantan istrinya itu sepertinya masih mau di ajak rujuk.


"Di sini ada seorang khadizah yang membutuhkan sandaran hati" sambung Ustadz Indra.


Bilal menautkan kedua alisnya, siapa maksud sahabatnya itu ?, pikirnya. Meski benaknya mengatakan itu adalah Hani.


"Hani !" ucap Ustadz Indra lagi." Setelah kepergian Hidayah, dia tidak pernah menikah lagi" lanjutnya.


Ruat wajah Bilal berobah seketika menjadi datar. Jantungnya berdetak bertalu talu, seperti genderang mau perang.


.


.


# Hai ! apa kabar readers semua ?. Ceritanya sudah tamat ya !. Tapi masih ada bab bonus, untuk lanjutan kisah Bilal dan Hani.


#Othor ucapkan trimakasih untuk kalian semua, tentunya pembaca setia othor !.


* Salam manis untuk kalian semua !*


.


.