Brother, I Love You

Brother, I Love You
228. Menanggung pahitnya sendiri



"Assalmu alaikum !"


"Walaikum salam !, anak Mama sudah pulang !." Mama Bunga melangkahkan kakinya ke arah Bilal yang baru masuk ke dalam rumah.


Bilal langsung menyalam tangan wanita yang melahirkannya itu, kemudian mencium ujung kepalanya."Apa kabar Ma ?, Papa mana ?."


"Alhamdulillah sayang ! Papamu ada di taman belakang bermain sama cucu cucunya" jawab Mama Bunga, membalas mengecup kening Bilal.


"Cucu cucu Papa itu sungguh menyebalkan. Mereka terus membuatku cemburu" rajuk Bilal.


Meski dia adalah seorang pendakwah yang bijak di luar sana. Di depan orang tuanya dia tetaplah seorang anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.


Mama Bunga berdecak," Kamu kapan memberi Mama sama Papa menantu ?. Kami juga sudah ingin menimang cucu darimu." tanya Mama Bunga berjalan ke arah sofa, di ikuti Bilal dan langsung berbaringkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di pangkuan ratu sejagat.


Mama Bunga langsung mengusap usap kepala anaknya itu. Nampak sekali wajah anaknya lelah, karna jam terbangnya yang cukup padat.


"Bagaimana kalau Mama saja yang mencarikan istri untuk Bilal ?" usul Bilal.


Sepertinya Bilal masih memiliki trauma di tolak jika melamar sendiri seorang gadis. Bilal berpikir, menyerahkannya kepada orang tuanya.


"Kenapa ?" tanya Mama Bunga.


"Orang tua pasti tau mana yang terbaik untuk anaknya!" jawab Bilal memejamkan matanya menikmati tangan Mama Bunga yang mengusap usap kepalanya.


Mama Bunga menajamkan pandangannya ke wajah Bilal, memperhatikan wajah Bilal lebih dalam.


Apa Bilal masih takut kecewa dengan lamarannya yang di tolak Pamannya Hani dulu ?. Batin Mama Bunga.


"Baiklah !, tapi berjanji kamu tidak boleh menolak, seperti apa pilihan Mama nanti" ujar Mama Bunga.


"Bilal yakin Mama pasti memilih wanita baik baik untuk Bilal, dan yang pastinya cantik !" balas Bilal tersenyum.


"Apa jamaahmu satu pun gak ada yang naksir sama kamu ?" tanya Mama Bunga. Anaknya itu sangat tampan sekali, masa iya ?, gak ada wanuta yang menyukainya ?, pikir Mama Bunga.


"Yang naksir banyak Ma !" Bilal semakin mengembangkan senyumnya." Bilal rasa jodoh pilihan orang tua itu yang terbaik" lanjut Bilal." Urusannya lebih mudah karna kedua belah pihak keluarga sudah pasti merestuiya. Kalau nanti pilihan Bilal, belum tentu cocok menurut Mama sama Papa"timpal Bilal lagi.


"Baiklah ! nanti Mama akan bicarakan dengan Papa kamu" ucap Mama Bunga.


.


.


Di sebuah masjid besar, nampak sangat rame di penuhi orang orang memakai pakain serba putih. Di dalam terdapat dua buah keluarga besar duduk melingkari seorang pria tampan berpakaian pengantin.


Mama Papa Arya dan Mama Bunga mengusap bahu Bilal saat menuntun Bilal duduk di atas sajadah berhadapan dengan seorang pria paru baya. Bilal pun menghela napasnya untuk menghilangkan ke gugupannya.Kilat kamera pun terus memotret wajah tampannya. Dan tidak sedikit wartawan dan reporter dari media televisi swasta datang untuk meliput acara ijab kabul pernikahannya secara life di tanyangkan di televisi. Sehingga membuat orang penasaran dengan wanita seperti apa yang beruntung mendapatkan hati ustdaz muda tampan yang namanya lagi melambung itu. Orang berpikir, wanita itu pasti cantik dan juga soleha.


Ya ! hari ini adalah hari akan berlangsungnya pernikahan Bilal dengan seorang wanita pilihan orag tuanya. Bilal langsung menerima wanita itu, karna menurut Bilal itu yang terbaik untuknya.


Setelah sedikit berbincang bincang antara Bilal, penghulu dan orang tua dari calon istrinya itu. Kini ijab kabul pun akan di mulai. Nampak orang tua yang duduk di depan Bilal mengulurkan tangannya kepada Bilal. Bilal langsung menyambutnya.


"Bilal ! aku nikahkan engkau dengan putriku Aqeela Askanah Andreana dengan mahal seperangkat alat shalat dan emas 24 gram di bayar tunai !"


"Saya terima nikahnya Aqeela Askanah Andreana dengan mahar tersebut di bayar tunai !" balas Bilal dengan lantang, hanya swkali tarikan napas.


"Bagaimana para saksi ? sah ?" tanya Pak penghulu yang meminpin acara jalannya ijab kabul.


"Sah....!!!!!!!" gemuruh semua orang yang menyaksikan di dalam masjid itu.


"Alhamdulillah !" ucap semua para keluarga.


"Kak Bunga ! sekarang kita sudah menjadi besan !" tangis wanita paruh baya yang duduk di samping Mama Bunga, dan langsung memeluk tubuh Mama Bunga erat.


"Iya adikku sayang !" Mama Bunga pun ikut menangis.


"Aku yakin Papa sama Mama pasti bahagia kak !. Karna anak anak kita akan terus melanjutkan hubungan persaudaraan kita" isak wanita bernama Sofia itu. Karna kedua orang tua mereka sekarang sudah tiada, Mama Indah dan Pak Fariq.


"Jangan berkata seperti itu, meski anak anak kita tidak ada yang menikah. Kita tetap menjadi saudara. Anak anak kita juga tau itu, kalau mereka adalah sepupuan. Mereka kakak beradik" balas Mama Bunga.


Ruangan itu tiba tiba terdengar riuh, melihat seorang wanita cantik berpakaian pengantin muslimah, berjalan di atas red karpet membawa bunga di tangannya, di tuntun dua orang wanita berwajah keibuan, kedua wanita itu adalah Queen dan Sirin. Meski mereka adalah keluarga pihak laki laki, tapi mereka juga bisa di katakan keluarga pihak perempuan, karna mereka semua adalah keluarga.


Langsung saja kamera para pencari berita mengarah kepada pengantin wanita yang berjalan dengan sedikit menunduk malu malu.


Bilal yang melihatnya langsung berdiri untuk menyambut pengantinnya. Bilal tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang di rias dengan make tidak terlalu tebal dan tidak mencolok. Istrinya itu adalah bisa di katakan sepupu kandungnya, meski tak ada hubungan darah sama sekali. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu, karna sibuk dengan pendidikan dan kegiatan masing masing. Dan setelah sekian lama, mereka tidak menyangka, mereka akan bertemu di depan penghulu.


"Assalamu alaikun Aqeela istriku !" sapa Bilal tersenyum lalu tertawa cekikikan.


"Walaikum salam Bilal suamiku !" balas Aqeela tersenyum lalu menutup mulutnya.


Kemudian orang tua mereka pun menuntun mereka untuk duduk, untuk melanjutkan acara doa.


Hari itu juga, berita pernikahan Ustadz Bilal langsung menjadi trending topik. Semua para jamaah yang mengenal Bilal turut mendoakan pernikahan Bilal, supaya sakinah mawadah warohma.


.


.


Hani yang sedang duduk di depan televisi tersenyum getir, melihat Ustadz Bilal menikah. Meski pada akhirnya ia bisa mencintai Hidayah suaminya. Namun Nama Bilal begitu melekat di dalam hatinya. Nama itu sepertinya sudah terukir dalam dan takkan terhapus lagi.


Dulu ia sangat mengimpikan menikah dengan Bilal. Laki laki yang di sukainya dari bentuk tubuh gendut sampai laki laki itu berubah berntuk, bertubuh proposional.


Sekarang hidup Hani kesepian, tidak ada laki laki lagi di sampingnya. Terkadang Hani berpikir, kenapa Takdir mempermainkan perasaannya ?. Dulu dia sangat mencintai Bilal, tapi Takdir tidak memberinya jalan untuk bisa hidup bersama laki laki itu.


Di saat dia membuka hatinya untuk laki laki lain, Hidayah. Di saat ia bisa menerima Takdirnya kalau Hidayahlah laki laki terbaik untuknya. Di saat ia mencintai Hidayah dengan sepenuh hatinya,Tuhan mengambilnya darinya. Entah apa salahnya?, Hani berpikir kalau dia sepertinya tidak boleh jatuh cinta.


Air mata Hani pun mengalir begitu saja dari sudut matanya. Usianya masih sangat muda, tapi dia sudah menjadi seorang janda.


Tuhan ! jika jatuh cinta itu sebuah kesalahan, aku tidak akan jatuh cinta lagi. Batin Hani Menghapus air matanya.


Tanpa sadar, dari tadi Bu Maryam memperhatikan Hani yang menangis menyaksikan pernikahan Ustadz Bilal, sahabat anaknya sendiri, laki laki yang di sukai menantunya itu. Apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk membuat menantunya itu bahagia ?.


Seandainya anakku tidak menikahinya, mungkin Hani tidak bersedih seperti sekarang ini. Mungkin dialah yang bersanding di samping Bilal, Astagfirullahal azim !, batin Bu Maryam.


.


.


Hari terus berlalu


Media televisi, internet sampai media cetak, masih terus memberitakan pernikahan ustadz kondang itu. Mereka pun mengulik ngulik siapa sebenarnya istri dari seorang Ustadz Bilal itu. Dari biodata hingga sampai pendidikan dan pekerjaannya. Dan wajah seorang Aqeela pun menjadi sering tersorot kamera, kecantikannya selalu di puji puji.


"Ustadz Bilal ! dimana pertama kali Ustadz bertemu dengan istri Ustadz ?" tanya seorang pencari berita kepada Bilal.


Bilal mengulas senyumnya," Dia adalah sepupuku, kami sudah bertemu sejak bayi, dan kebetulan usia kami sama. Waktu kecil kami sering main bersama. Hanya saja karna mereka pindah ke kota lain. Kami sudah lama tidak bertemu" jawab Bilal tanpa mepas tautan tangannya dari selah jari Aqeela yang berdiri di sampingnya.


"Apa Kalian menikah karna saling jatuh cinta atau di jodohkan orang tua ?" tanya pencari berita itu lagi.


"Saya meminta kepada Ibu saya, untuk mencarikan istri. Dan Ibu saya memilihnya, tanpa berpikir saya langsung menerimanya. Dan ternyata, istri saya pun begitu" jawab Bilal.


"Wah ! sepertinya Ustadz dan istri Ustadz sudah sama sama jatuh cinta dari kecil" komentar pencari berita itu.


"Kami sangat banyak bersaudara sepupu, kami semua saling menyayangi. Dan tidak sulit bagi kami saling mencintai jika di ikat dengan tali pernikahan" jelas Bilal.


"Trimakasih ustdaz atas waktunya, selamat ya Ustadz, semoga samawa sampai akhirat" ucap pencari berita itu mengakhiri wawancaranya.


"Sama sama ! dan trimakasih juga atas doanya!" balas Bilal.


Pencari berita itu pun menyalam Ustadz Bilal, kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan dada ke arah istri dari ustadz kondang itu.


.


.


Hari terus berlalu, berganti minggu dan Bulan. Kebahagiaan Bilal dan Istrinya terus menjadi sorotan publik seperti tiada habisnya.


Hani yang sering menyaksikannya, hanya bisa meneteskan air matanya, merasa iri dengan kebahahiaan yang menimpa rumah tangga laki laki yang pernah di cintainya itu, dan mungkin masih di cintainya.


Dulu dia terpaksa menerima menikah dengan Bilal untuk membalas jasa kebaikan keluarga Hidayah. Memberikan jaminan kepadanya, kalau ia akan lebih baik menikah dengan Hidayah di bandingkan dengan Bilal. Tapi siapa yang bisa menjamin itu ?, dan nyatanya kebahagiaan itu hanya sesaat, selebihnya Hani yang menanggung pahitnya.


Kalau ditanya, apakah dengan menikahkannya dengan Hidayah, hutang budi itu lunas ?. Jawabannya pasti tidak, karna hutang budi tidak akan pernah terbayar lunas dengan apapun.


Hani pun memutuskan kembali pulang ke pesantren. Disana dia bisa menjadi tenaga pengajar. Dan disana ia bisa memiliki banyak teman, tidak membuatnya kesepian seperti saat ini tinggal di rumah mertuanya.


"Umi gak berhak melarangmu jika untuk kembali kepada keluargamu Nak !. Karna di sini anak Umi juga sudah tidak ada. Tapi Umi minta, jangan lupakan Umi dan Abi Nak !. Kami tidak punya anak selain dirimu !" tangis Bu Maryam memeluk Hani.


"Iya Umi !, Hani akan sering berkunjung ke sini" balas Hani kasihan dengan kedua mertuanya yang sudah kehilangan anak satu satu mereka. Tapi Hani juga butuh suasana baru, untuk menghilangkan kesedihannya.


Setelah pelukan mereka lepas, Hani pun keluar dari rumah mertuanya itu. Berjalan ke arah mobil miliknya, Mobil itu adalah hadiah ulang Tahunnya yang ke 19, dari Hidayah suaminya. Hani akan membawa itu ke pesantren, karna mobil itu sudah sebagia kenangan untuk Hani dari suaminya.


Tamat*


.


.