
Arsenio terus mengecup ngecup pipi Sirin dari samping, sambil tangannya mengelus elus perut badutnya cantiknya itu. Membuat Sirin terusik dan terbangun dari tidur lelapnya.
"Bangun badut ! ini sudah pagi !" ucap Arsenio, melihat Sirin mengerjabkan matanya.
"Lapar !" gumam Sirin.
"Mau makan apa kakak cantik ?" tanya Arsenio tersenyum kepada gadis satu Tahun di atas usianya itu.
"Pecal" jawab Sirin.
"Gak apa apa aku tinggal sebentar ?, biar aku carikan !" tanya Arsenio. Sirin menganggukkan kepalanya.
"Ya udah !" Arsenio pun mendudukkan tubuhnya, dan turun dari atas brankar.
"Mau ikut ?" tanya Arsenio, melihat Sirin mengulurkan kedua tangannya.
"Kamar mandi !, antarin !" manja Sirin.
Arsenio pun langsung mengangkat tubuh Sirin, membawanya ke kamar mandi, dan menunggunya sampai Sirin selesai urusannya di kamar mandi. Kemudian kembali menggendong tubuh Sirin, mengembalikannya ke atas brankar.
Cup !
Arsenio menjatuhkan kecupan di bibir Sirin." aku pergi dulu !" pamitnya, lalu pergi.
Wajah Sirin langsung berobah teduh, setelah Arsenio menghilang di balik pintu. Sirin mengingat Shasa ibunya yang di kunjunginya semalam. Keadaan ibunya sangat memprihatinkan, tubuhnya sangat kurus, penampilannya tidak terawat. Karna selama di penjara, tidak ada keluarga yang pernah menjenguknya. Shasa Ibunya benar benar menghadapi masalahnya sendirian. Seharusnya dari dulu Sirin mengunjungi Ibunya dipenjara.
Awalnya Shasa ibunya adalah wanita yang baik dan lemah lembut. Karna tantenya yang terus mengompori ibunya, yang menyukai Papanya. Shasa ibunya menjadi berobah jahat dan tega melakukan tindakan kriminal.
Tak lama kemudian pintu ruang perawatan itu terbuka. Arsen masuk dengan menenteng plastik berisi kotak makanan.
"Sayang !" sapa Arsenio, melihat raut wajah Sirin yang bersedih.
Arsenio meletakkan pecal di tangannya di atas meja nakas. Kemudian naik ke atas brankar, dan langsung memeluk Sirin yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Besok kita menemui mama mertua sama sama ya !" ucap Arsenio.Biarlah ia menyingkirkan rasa sakit hatinya, demi kesehatan istri dan calon anak mereka.
Sirin malah menangis terisak," aku tau ibuku salah Arsen !, tapi melihat keadaanya di penjara, aku sangat kasihan melihatnya. aku gak tega melihanya. Ibuku sudah menyesali perbuatannya Arsen !,aku yakin Ibuku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi" ucap Sirin di selah selah tangisnya.
"Sssttt....! besok kita akan mengunjungi tante Shasa, jangan menangis lagi ya !" bujuk Arsenio, menghapus air mata yang membasahi pipi Sirin."Makan ya ! katanya tadi lapar !" ucap Arsenio lembut.
Sirin tidak menjawab, ia masih sibuk menangis cigukan. Arsenio pun mengusap kepala Sirin dan mengecup pipinya.
"Aku mencintaimu Sirin Naziha !, sangat mencintaimu !" ucap Arsenio lagi, setelah melepaskan ciumannya, lalu memeluk erat tubuh Sirin.
Setelah Sirin tenang dan tidak menangis lagi, Arsenio pun mengambil kotak makanan yang berisil pecal tadi dari atas meja. Kemudian membukanya, lalu menyuapi Sirin yang masih berada dalam dekapannya.
.
.
Dokter Aldo terbangun dari tidurnya, ia tidak melihat Diana lagi di sampingnya atau di dalam kamar. dinding kaca yang menuju taman, hordennya sudah di buka, matahari sudah bersinar sangat cerah. Dokter Aldo pun membuka selimutnya, menampakkan bagian atas tubuhnya yang tidak memakai baju. Kemudian mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang, sambil menguap lebar.
Ceklek
Refleks Dokter Aldo menoleh ke pintu, di lihatnya Diana masuk ke dalam kamar.
"By sudah bangun ?" tanya Diana menghampiri suaminya ke tempat tidur.
"Dari mana sayang ?" tanya balik Dokter Aldo, menarik tangan Diana supaya duduk di pangkuannya.
"Masak !" jawab Diana, Duduk di pangkuan Dokter Aldo, dengan posisi menghadap dokter Aldo dan mengapit pahanya. Kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher Dokter Aldo. Dokter Aldo pun memegang bokok Diana dan meremasnya.
Cup !
Satu kecupan di daratkannya di bibir Diana."Masak apa sayang ?" tanyanya.
"Ikan pari di goreng tepung, di kasih sambal pedas manis. Trus.. ada kentang stik, ada naget, ada sosis, bakso ikan. Trus ada mie goreng hehehe...!" cengir Diana, saat mengatakan makanan kesukaannya.
"Yang kamu masak itu makanan kesukaan Sirin sama kamu. Trus masak apa buat hubby mu ini sayang ?" tanya Dokter Aldo, mengecup bibir Diana kembali.
Diana tersenyum, mata sebelah kanannya menyipit ke arah Dokter Aldo."Ada deh !" ucapnya.
"Katakan sayang ! kalau kamu gak ingin kumakan sekarang !." Dokter Aldo sudah meremas gundukan milik Diana, kemudian mengedipkan sebelah mata genitnya ke arah Diana.
Diana menggigit bibir bawahnya, membalas mengedipkan sebelah matanya kepada Dokter Aldo. Dan Diana pun perlahan menurunkan sebelah tangannya dari pundak Dokter Aldo. Meraba dada Dokter Aldo yang di tumbuhi bulu bulu, meremas lembut sebelah bukit kembar suami sensasionalnya itu.
"Apa kamu menginginkannya sayang ?" Suara Dokter Aldo terdengar sengau saat menanyakan itu. Pandangannya sudah berkabut gairah, Diana berhasil memancing hasratnya.
Diana tidak menjawab, perlahan tangannya ia naikkan ke leher Dokter Aldo, sampai ke rahang nya mengelus bulu bulu yang tumbuh subur di sebagian wajah suami matang dan tampannya itu. Diana pun menyentuh bibir yang suka menciumi tubuhnya hingga tak tersisa itu. Refleks Dokter Aldo memejamkan matanya, menikmati tangan lembut Diana yang mengelus bibirnya. Diana pun mendekatkan wajahnya ke wajah Dokter Aldo, mengecup bibir seksi itu, dan sedikit menyapunya dengan lembut.
"Sayang...!" geram Dokter Aldo.
Setelah menggigit bibir Dokter Aldo, Diana langsung melompat dari pangkuannya, berlari kabur keluar kamar.
Diluar kamar, Diana tertawa tawa sampai memegangi perutnya. Karna sudah berhasil mengerjai Dokter Aldo, suami tua tua keladinya.
"Apa Papaku sangat lucu ya ?"
Diana langsung menghentikan tawanya, mendengar suara cowok yang tiba tiba berdiri di depannya.
"Bang Ghissam !" ucap Diana.
Dokter Aldo berdecak, karna Diana menyebutnya bang."Panggil Ghissam aja mama kecil" ucap Dokter Ghissam.
"Tapi usiaku jauh lebih muda" balas Diana.
"Tapi kamu sudah menjadi istri Papaku" ucap Dokter Ghissam.
"Baiklah !"
"Apa papaku sangat lucu ?, kenapa kamu sampai tertawa terbahak bahak ?" tanya Dokter Ghissam lagi, penasaran dan pengen tau.
Diana tersenyum lalu menggelengkan kepalanya." urusan orang tua" jawabnya.
"Baiklah !" desah Dokter Ghissam." Bersenang senanglah, kutunggu kabar baiknya" ucapnya lagi. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah tangga.
"Ghissam !" seru Diana
"Kania kabur dari rumah, apa kamu tak ingin mencarinya ?" ucap Diana.
"Dari mana mama kecil tau ?"
"Kania sendiri mengabariku, dia berada di kota XX. Sepertinya dia kesulitan, kalau kamu benar benar mencintainya, berjuanglah !" jawab Kania.
Dokter Ghissam pun terdiam, sambil berpikir.
"Kania mau di jodohkan orang tuanya, makanya dia kabur" ucap Diana lagi.
"Aku tak ingin membuat masalah baru ini mama kecil. Dan untuk masalah aku dan Kania, biarkan waktu yang menjawabnya." balas Dokter Ghissam.
"Aku hanya ingin memberitahunya, semua keputusan tetap ada padamu."
"Trimakasih mama kecil." Dokter Ghissam pun mengulas senyumnya, kemudian melanjutkan langkahnya.
Diana pun melangkahkan kakinya ke arah ruang makan, untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan anak tirinya Ghissam.
"Ibu mengerjakan yang lain aja, biar aku aja yang menyiapkannya" ucap Diana kepada pembantu rumah itu.
"Baik Bu Diana !" balas wanita paru baya itu.
"Apa wajah Diana sudah kelihatan seperti ibu ibu ya Bu ?" tanya Diana. Ia tak suka di panggil ibu.
"Belum Bu !" jawab jembantu itu
Diana bedecak," Panggil Diana aja kalau gitu, gak usah pake embel embel Ibu" ucapnya.
"Gak sopan dong Bu !, pembantu memanggil majikannya dengan sebutan nama saja" balas pembantu itu.
"Kenapa gak suka di panggil Ibu sayang ?, Hm..!. Kamu sudah memiliki dua anak, dan sebentar lagi punya cucu" ucap Dokter memeluk Diana dari belakang, dan mengecup pipinya." Dan aku akan membuatmu menjadi ibu ibu yang sebenarnya" ucap Dokter Aldo lagi, mengelus perut Diana yang masih rata, berharap sudah tumbuh benih cinta mereka di dalamnya.
Diana mengulas senyumnya, menyentuh tangan kekar Dokter Aldo yang berada di perutnya." Apa iya aku bisa hamil ?. Aku gak bisa membayangkan kalau itu benar terjadi."
"Kenapa tidak sayang ?, Hm..!"
"Itu hal yang menakjubkan, jika ada nyawa di dalam perutku. Aku mengelus perut Sirin dan Queen. Bayi di dalam perut mereka bisa bergerak gerak" jawab Diana.
Dokter Aldo semakin mengeratkan pelukannya, dan menjatuhkan dagunya di atas bahu Diana." Semoga saja usaha kita cepat membuahkan hasil. Kamu bisa merasakan menjadi wanita yang sempurna" ucap Dokter Aldo.
"Amin ! aku gak sabar menanti itu" balas Diana.
"Peutku sudah lapar, apa sudah selesai uwu uwunya ?." Dokter Ghissam yang baru datang, langsung mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong meja makan.
Dokter Aldo pun langsung mendudukkan tubuhnya. Dan Diana langsung menyiapkan sarapan ke piring Dokter Aldo. Dan kemudian menyiapkannya ke piring Dokter Ghissam.
"Trimakasih mama kecil !" ucap Dokter Ghissam, menerima piring yang berisi mie goreng buatannya tadi.
Kemudian Diana mendudukkan tubuhnya di samping Dokter Aldo, setelah mengisi piringnya sendiri.
Selesai sarapan, Dokter Aldo dan Diana, langsung berangkat ke rumah sakit, untuk menjenguk Sirin. Dan Dokter Ghissam, ia kembali ke kamarnya untuk istirahat, karna nanti ia mendapat shif malam.
.
.
Sampai di rumah sakit, turun dari dalam mobil, Diana dan Dokter Aldo, bergandenga tangan masuk ke dalam gedung rumah sakit. Mereka pun lansung menaiki lif ke lantai lima gedung rumah sakit itu. Sampai di ruang perawatan Sirin, Diana mengetuk pintunya. Setelah terdengar sahutan dari dalam, baru Diana mendorong pintu di depannya, dan masuk bersama Dokter Aldo.
" Papa !Mama kecil !" sapa Sirin, melihat kedua orang tuanya datang.
"Bagaimana keadaanmu sayang ?" tanya Dokter Aldo, kemudian mengecup kening Sirin yang berbaring di atas brankar.
"Sudah lebih baik pa !" jawab Sirin, tersenyum.
"Makanya jangan jadi anak durhaka, ngabisin lauk ga di sisain sama orang tua. Jadi langsung kena azab kan !" ujar Diana tanpa perasaan. Meletakkan rantang makanan di atas meja nakas.
"Kamu benar benar cocok jadi mama tiri, cerewet, bisa bisanya bilangin anak tirinya kena azab" cetus Sirin, mengerucutkan bibirnya.
"Arsen mana ?" tanya Diana.
"Tuh ! di sofa" tunjuk Sirin dengan dagunya.
"Oh ! gak lihat tadi" balas Diana, naik ke atas brankar.
"Ya udah ! Papa ke ruangan Papa dulu. Nanti Papa kesini lagi" pamit Dokter Aldo. Mengecup kening kedua gadis remaja itu bergantian lalu pergi.
"Kamu sudah jatuh cinta 'kan sama Papaku yang tampan itu ?" goda Sirin kepada Diana yang ikut membaringkan tubuh di sampingnya.
"Sudah ! kamu senang ?" tanya balik Diana.
"Apa adikku sudah ada di dalam sini ?" tanya Sirin lagi tersenyum, mengelus perut Diana.
"Gak tau !" jawab Diana.
"Aku pikir sudah !" balas Sirin, mengerucutkan bibirnya.
"Sabar anak tiriku sayang !, mudah mudahan aja udah"ucap Diana.
"Mertua kecil ! masak apa ?" tanya Arsenio, berdiri dari sofa, berjalan ke arah meja nakas, dan langsung membuka rantang yang Diana bawa tadi.
"Lihat aja !" jawab Diana, menoleh sebentar ke arah Arsenio.
Setelah membuka semua rantangnya, Arsenio langsung mencomot ikan goreng tepung dari dalam rantang.
"Mama kecil pintar masak juga, gak seperti Sirin, hanya pintar makan saja" ucap Arsenio, sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Aku kan lagi proses belajar masaknya. Lagian kamu sendiri yang sering melarangku memasak" rajuk Sirin, berbicara dengan bibir mengerucut.
Arsenio mengangkat satu tangannya mengusap kepala Sirin." Aku gak mau kamu kecapean sayangku !" ucap Arsenio, kemudian menarik hidung Sirin.
Karna semenjak hamil, kondisi tubuh Sirin sangat lemah. Mudah capek, mudah lelah, sesekali masih muntah meski kandungannya sudah lima Bulan.
.
.