Brother, I Love You

Brother, I Love You
168. Cium cium sembarangan



Pagi hari, di meja makan keluarga Alfarizqi, Elang memakan sarapannya dengan lahap. Elang sangat bersemangat hari ini, wajahnya pun nampak berbinar, tidak bisa menyembunyikan kabahagiaannya.


"Bang Elang kenapa ?" tanya Sirin, menaikkan sebelah alisnya ke arah Elang. Tak biasanya Elang makan dengan lahap dan terlihat buru buru seperti itu.


"Kepo !" jawab Elang sembari menguyah makanan di mulutnya.


Setelah makanan di mulutnya habis di telan, Elang meraih gelas yang ada di depannya, menegaknya sampai habis. Elang berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Papa Arya yang makan sambil menyuapi Mama Bunga yang sedang menyusui Sabina kecil.


"Pa ! Ma ! Elang pergi dulu !" pamit Elang. Mengecup pipi Mama Bunga dan Papa Arya bergantian, lalu bergegas pergi.


"Anak itu kenapa ?" heran Mama Bunga, melihat tingkah anak ke tiganya.


"Gak tau sayang !" jawab Papa Arya, menyuapkan makanan ke mulut istri tercintanya.


"Bang Elang gak tinggal di sini lagi ya Pa ?. Bang Elang sudah punya istri juga ?" celetuk Bilal tiba tiba, kemudian turun dari kursinya karna sudah selesai menghabiskan sarapannya.


Bilal berjalan ke arah kedua orang tuanya, dan menengadahkan tangannya ke depan Papa Arya.


"Minta duit Pa !" ucapnya


"Baru siap sarapan Bilal !, masa mau langsung beli jajan !" tegur Papa Arya. Melihat tubuh anak ke emannya itu, semakin bertambah bobotnya.


Bilal langsung mengerucutkan bibirnya, dan melongos pergi meninggalkan ruang makan.


Prank !!!


Seperti kebiasaan Bilal, taplak meja dan isinya yang akan menjadi pelampiasannya.


Mendengar suara pas Bunga jatuh ke lantai, Papa Arya menghela napasnya. Kapala Papa Arya pusing, kenapa anak anaknya nakal semua ?.


"Sepertinya Bilal sudah tidak bisa di toleri, wataknya itu sangat keras. Sepertinya dia harus di pindahkan sekolah ke pesantren, dan tinggal di asrama. Mungkin jauh dari kita dia bisa berobah dan tidak manja !" ucap Papa Arya. Sontak semua anak anak dan istrinya menoleh ke arahnya.


"Papa yakin ?" tanya Darren.


"Yakinlah !, dan kamu juga, kalau masih tidak berhenti mencari cari wanita janda itu. Papa pindahkan kamu ke pesantren" jawab Papa Arya.


Darren menelan air ludahnya bersusah payah, ternyata Papanya tau kalau dia berusaha mencari wanita penjual es lilin itu. Dengan membayar orang dengan uang jajannya. Dan sering melacaknya melalui media internet.


"Papa yakin Bilal mau ?" tanya Sirin.


Mengingat Bilal sangat manja, tidur aja masih sering bersama Papa Arya dan Mama Bunga.


"Harus mau !" jawab Papa Arya.


"Aku gak setuju !" sambar Mama Bunga.


Papa Arya menghela napasnya, memilih tak melanjutkan pembicaraan lagi, istrinya itu selalu saja membela anak anak mereka.


Elang yang sudah berada di halaman rumah, langsung masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya menuju arah pulang rumahnya dan Naysila. Wajah Elang nampak tersenyum, ia tak sabar untuk bertemu dengan istrinya Naysila untuk menyampaikan kabar gembira. Kalau Papanya sudah menerima istrinya sebagai menantu.


sampai di halaman rumah sederhannya dengan Naysila. Elang langsung memarkirkan mobilnya, dan turun berlari ke arah pintu rumah. Elang membuka pintu rumah itu dengan kunci di tangannya. Saat melangkahkan kakinya masuk, Elang berteriak memanggil nama istrinya.


"Naysila !!!"


Elang berlari ke arah tangga, naik ke lantai dua rumah mereka. Elang yakin istrinya itu masih malas malasan di kamar mereka.


"Nay !" panggil Elang lagi setelah ia membuka pintu kamar mereka, dan melangkah masuk. Di lihatnya Istrinya masih tertidur pulas. Sepertinya semalaman ini istrinya itu maraton membaca novel online.


Elang baik ke atas tempat tidur sambil tersenyum, merangkak di atas tubuh Naysila. Tanpa permisi, Elang menyibak baju Naysila ke atas hingga menampakkan gundukannya, dan langsung menciuminya.


Brukk !


"Aw !" keluh Elang yang sudah tersungkar di lantai.


"Elang !" ucap Naysila


"Kenapa kamu menendangku ?,untung burung Elangku gak kena !"sungut Elang, mengusap usap bagian tubuhnya yang terasa sakit karna mencium lantai.


"Salah sendiri ! kenapa main cium cium sembarangan pas orang lagi tidur" jawab Naysila santai.


"Kamu 'kan istriku !, nagapain lagi aku harus permisi untuk menciummu !" sungut Elang.


"Ya memang gak harus permisi, tapi aku kaget, dan tadi aku sempat berpikir, laki laki lain yang menciumku !. Aku refleks aja menendangmu !" balas Naysila.


Elang berdiri dari lantai, naik kembali ke ata tempat tidur, merangkak di atas tubuh Naysila. Tanpa permisi langsung mencium bibir Naysila rakus, dan melepasnya kembali.


"Itu hukuman untuk istri yang berani menendang suami !" ucap Elang. Kemudian membuka baju Naysila sampai lepas dari tubuhnya.


"Kamu mau ngapain ?" tanya Naysila, wajahnya memerah saat Elang melihat gundukannya tanpa penutup sama sekali. Meski merek sudah pernah melakukannya, Nayla belum terbiasa dengan keadaan tanpa pakaian di depan Elang.


"Aku berjanji sama Papa untuk memberikannya cucu yang banyak !. Ini aku lagi berusaha membuat setoran cucu pertama untuknya" jawab Elang sumiringah, dan langsung menenggelamkan wajahnya di leher Naysila. Dan jangan lupakan kedua tangannya yang sibuk mengambil bagian masing masing.


"Elang ! aku belum mandi !" ucap Naysila, tidak percaya diri. Karna tubuhnya pasti bau asam dan rasanya pasti asin.


"Gak apa apa sayang !, sama aku juga belum mandi !" balas Elang. Meralih mecium daun telinga Naysila.


Nayasila pasrah, ia pun memejamkan matanya menikmati cumbuan Elang ditubuhnya.


.


.


Waktu berlalu, kini kedua pasangan suami istri yang lagi kasmaran itu, sudah selesai membersihkan diri. Mereka berdua sama sama keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan memakai handuk di lilit di tubuh mereka.


"Beliin sarapan ! lapar !" rengek Naysila. Perutnya sudah sangat lapar karna semenjak pagi belum makan apa apa. Di tambah lagi Elang sudah menguras tenaganya di atas kasur dan di kamar mandi. Tubuhnya pun sudah gemetar sangking laparnya.


"Sebentar aku pakai baju dulu !" ucap Elang mengambil baju dari lemari pakaian dan langsung memakainya dengan cara cepat.


Sedangkan Naysila yang masing menggunakan handuk, membaringkan tubuhnya di sofa kamar mereka, tenaganya benar benar habis.


"Mau sarapan apa ?" tanya Elang, melempar handuknya ke wajah Naysila.


"Nasi uduk dua porsi !" jawab Naysila, membiarkan handuk Elang menutup wajahnya.


"Itu aja ?" tanya Elang mengambil kunci mobil dan dompetnya dari atas meja nakas.


"Hm..!" jawab Naysila.


Elang segera keluar dari kamar itu, untuk pergi mencari sarapan untuk Naysila yang sudah lapar banget. Karna jam sudah hampir menunjukkan jam sebelas siang, istrinya itu belum makan apa apa.


Setelah mendapatkan nasi uduk pesanan Naysila, Elang langsung kembali ke rumah, tak ingin membuat istrinya semakin kelaparan. Elang berjalan cepat menaiki anak tangga ke lantai dua rumah mereka, dan langsung membuka pintu kamarnya.


"Nay !" panggil Elang, dilihatnya Naysila masih terbaring di atas sofa, masih dengan memakai handuk.


Elang melangkahkan kakinya mendekati Naysila, meletakkan kantong plasti yang berisi dua kotak nasi uduk di atas meja sofa.


"Kok belum pakai baju ?" tanya Elang, mendudukkan tubuhnya di samping Naysila.


"Lapar !" ucap Naysila, lalu membuka lebar mulutnya supaya Elang menyuapinya.


"Makan sendiri !" ujar Elang


Naysila langsung menyorot tajam wajah Elang.


Elang tersenyum, tangannya terulur menarik handuk Naysila hingga terbuka menampakkan gunung kembarnya.


"Elang !!!" pekik Naysia, langsung memperbaiki handuknya, dan langsung duduk.


"Ayo cepat duduk !, biar kusupin, setelah itu aku ingin memakanmu kembali !" ujar Elang.


"Genit !" cibir Naysila.


"Kaya kamu gak suka aja !" balas Elang mencibir.


"Kamu memaksaku !" ucap Naysila, cemberut.


Cup !


Elang mengecup bibir Naysila yang mengerucut." Ayo buka mulutnya sayang !" ucapnya, mendekatkan sendok yang berisi nasi dan sambal ikan tri ke mulut Naysila, yang langsung di terima Naysila.


Cup !


Lagi Elang mengecup pipi Naysila yang mengembang, karna penuh makanan." love you !" ucapnya tersenyum.


Naysila pun mengembangkan senyum manis di bibirnya."Aku juga !" balasnya.


.


.