
Sudah tiga hari Orion tidak ke kampus, Ia hanya sibuk mengotak atik laptopnya di dalam kamar, entah apa yang di kerjakannya ?. Orion lagi galau, ia malas kemana mana.
Seketika Orion mengerutkan keningnya, ia teringat sesuatu.
Queen ! apa kabar bocah licik itu ?, tanya Orion di dalam hati. Orion pun langsung berdiri dari kursi belajarnya. berjalan ke arah balkon. Orion memandang ke arah rumah Queen yang ada bersebrang jalan dengan rumahnya.
Orion mengerutkan keningnya, tampak rumah Queen sunyi seperti tak berpenghuni. Orion masuk kembali ke dalam kamarnya, berjalan ke arah pintu, setelah membukanya, Orion langsung keluar berlari kecil menuruni anak tangga kelantai bawah. Seketika Orion kangen dengan gadis kecil berotak licik itu. Entah kenapa jantung Orion berdetak kencang, dadanya terasa sesak, seperti ada pirasat buruk.
Orion keluar rumah berjalan menyebrangi jalan masuk ke pekarangan rumah Queen. Orion memutar pandangan ke sekeliling halaman rumah Queen. Tampak halamannya sudah mulai di tumbuhi rumput liar. Teras rumahnya pun terlihat sudah lama tak di sapu, kaca rumahnya berdebu.
Apa mereka lagi gak di sini ?, batin Orion. Kemudian menekan bel yang ada di dekat pintu.
"Assalamu Alaikum !, Queen !" panggil Orion.
Orion terus menekan nekan bel rumah sahabat orang tuanya itu. Namun pintu di depannya masih setia menutup akses masuk ke rumah itu.
Kemana mereka ?, biasanya mereka kalau pergi liburan, Queen selalu ngabarin.bati Orion.
Karna memang benar benar rumah itu kosong, Orion pun pergi dari sana, kembali ke rumahnya. Ia akan bertanya kepada sang ratu sejagat, mungkin sang ratu tau !.
"Mama !" panggil Orion, mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Aih ! itu anak sudah besar juga !, masih saja suka mengganggu. Sepertinya minta di potong kayaknya burung hantunya" gerutu Arya, yang lagi asik mengadon adik untuk Orion, eh malah di ganggu. Ini nih resiko punya banyak anak. Dikit dikit diganggu, sebentar sebentar ada yang manggil. sebentar sebentar ada yang ngetok pintu. Yang besar sama yang kecil sama saja, buat Papa Arya kesal aja.
Bunga tertawa cekikikan," Kamu sih ! suka sekali minta jatah sore sore !" ujar Bunga.
"Pinginnya sore ! masa harus nunggu malam sayang ?" balas Arya.
"Ya udah ! lanjut aja !, Orion pasti sudah pergi tuh !" ucap Bunga tersenyum.
"Bilang aja kamu juga suka sayang !" balas Arya tersenyum, kemudian melanjutkan aksinya.
Di luar kamar, Orion mendengus kesal, karna tidak ada jawaban dari dalam.
Pasti urusan pribadi lagi !, gerutu Orion dalam hati. Papanya sudah tak lagi muda, tapi untuk urusan pribadi yang satu itu, tidak mau kalah dengan yang muda. pantasan aja aku punya banyak adik, doyan dengan urusan pribadi sih !, gak lihat lihat waktu lagi. Dasar tua tua keladi !, maki Orion dalam hati, sambil menaiki tangga rumahya menuju lantai dua.
"Bang ! Orion ! adek Bilal pipis celana !" adu Darren yang menjaga adiknya di ruang keluarga bersama Arsenio.
"Itu 'kan ada Arsen ! kenapa harus panggil abang ?" tanya Orion. Tambah kesal lah dia, kedua orang tuanya enak enak memproses adik buat dia di dalam kamar, anak yang lainnya di telantarkan. Hadeh ! Orion mendesah pasrah.
Orion yang sudah sampai di pertengahan tangga, turun kembali ke lantai dasar.
"Mana celana ganti adek ?" tanya Orion kepada Darren.
"Ini !" Darren memberikan celana milik Bilal kepada Orion abangnya.
Orion pun membuka celana Bilal yang terkena pipis.
"Kalau Bilal masih suka pipis celana, abang potong burung cicitnya adek nanti !" gemas Orion, berbicara merapatkan bibirnya. Hampir saja tangan Orion mencubit burung cicit milik Bilal.
Adik paling bontotnya itu suka sekali pipis di celana sembarangan. Dan tidak mau di kasih memakai pempres.
"Bilal !"
Gemas dengan tingkah adiknya yang tidak tau terimakasih itu. Udah di pasangin celana malah menyemburkan air ludahnya lagi. Orion pun mengakat tubuh adiknya, menggantung kedua kakinya ke atas dengan satu tangannya. Membuat Bilal kecil menangis, karna kepalanya yang menghadap bawah, terasa puyeng.
Orion kembali memperbaiki posisi Bilal, kepalanya menjadi ke atas, lalu menurunkannya ke lantai supaya bermain dengan adiknya Darren dan Arsenio.
"Arsen ! apa kamu tau, Queen dan keluarganya kemana ?" tanya Orion.
"Pindah ke rumah Kakeknya, kata Sirin" jawab Arsenio, tanpa melihat abangnya, dan tangannya sibuk main game di handphon.
"Pindah ???" Orion mengerutkan keningnya.
"Kata Sirin, Om Gandi membawa mereka pindah. Supaya Queen bisa berhenti menggangguin abang. Dan supaya Queen bisa melupakan cintanya kepada abang. Dan Queen juga sudah pindah sekolah !" jawab Arsenio lagi.
Dug dug dug...!!!
Orion menelan salivanya dengan susah payah. Di dalam dadanya ada yang terasa sakit, mendengar apa yang di katakan adiknya Arsenio. Seperti tak rela jika Queen melupakan rasa cintanya. Ia juga merasa tak rela jika harus berjauhan dengan mahluk kecil jadi jadiannya itu.
Orion langsung gegas naik ke lantai dua rumah mereka. Orion membuka pintu kamarnya sembari melangkah masuk. Orion langsung mengambil handphon, dompet dan kunci mobilnya. Gegas kembali keluar kamar turun ke lantai bawah dan langsung menuju garasi.
Orion melajukan mobil miliknya keluar dari pekarangan rumah. Orion ingin menemui Queen. Bukan karna ke gagalannya dengan Kezia. murni ia sudah sangat merindukan gadis kecil yang menyebalkan itu. Sudah dua minggu lebih ia tidak melihat wajah gadis kecil kesayangannya itu.
kurang lebih satu jam perjalanan, Orion baru sampai di depan rumah kakek Queen. Rumah dengan bangunan luas dan megah. Orion turun dari dalam mobilnya lalu berjalan ke arah pos security yang berada di dekat gebang setinggi tiga meter berwarna hitam mengkilat.
"Permisi Pak !, apa Queen dan orang tuanya benar tinggal di sini ?" tanya Orion, kepada security yang berjaga.
"Iya dek !, anda siapa ?" tanya security itu.
"Nama saya Orion Pak !, tetangga rumah Om Gandi yang berada di daerah XX" jawab Orion.
"Pak Gandinya belum pulang kerja dek !, dan istrinya lagi di rumah sakit menjaga nona kecil di Rumah Sakit." jawab security itu.
"Queen sakit Pak ?" tanya Orion kawatir.
"Iya dek ! sudah seminggu di rawat di Rumah Sakit !" jawab security itu.
"Di rumah sakit mana Pak !" tanya Orion lagi.
"Di rumah sakit Permata !" jawab security itu.
"Trimakasih Pak !, kalau begitu saya permisi!" Orion kembali masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Pantas saja beberapa hari ini perasaannya tidak enak, resah, tapi Orion tidak tau kenapa.
Sampai di Rumah Sakit, Orion langsung turun dari dalam mobilnya. Berjalan cepat masuk ke dalam gedung Rumah sakit.
"Om Gandi !" panggil Orion
.
.