
"Mama !" kaget Arsi langsung bangun dan berlari ke arah Sirin.
Begitu dengan Diana, ia pun berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Sirin dan langsung memeluknya.
"Aku kangen banget tau sama kamu !" ucap Diana.
Sirin mendengus," kalau Mama kecil kangen, pasti Mama kecil datang mengunjungiku !" ucapnya cemberut.
"Gimana mau ke sana ?, adik adikmu sekolah" jawab Diana, kemudian menuntun Sirin berjalan ke sofa, kemudian membantunya duduk.
"Ocil !"
Diana langsung mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil yang berada di gendongan Dokter Aldo.
"Gaia !, cucu Ocil udah besar !. Ya ampun ! kamu sangat kelihatan lucu banget" ujar Diana, mengambil Gaia dari gendongan Dokter Aldo. Lalu menciumi gemas wajah Gaia.
"Gimana kabar adek bayi kita hati ini sayang ?" tanya Dokter Aldo, mengecup pipi Diana, dan tangannya mengelus perut Diana yang sedikit membuncit, karna sedang mengandung anak ke lima keluarga itu.
"Baik Papa !" jawab Diana menirukan suara anak kecil.
Dokter Aldo dan Diana pun mendudukkan tubuh mereka di sofa. Tak lama kemudian, pembantu rumah itu datang membawa minuman dan kue dari dapur.
"Kakak Sirin !!!"
Sirin langsung sumiringah dan merentangkan tangannya melihat kedua adiknya datang berlari ke arahnya.Kedua bocah perempuan itu lun langsung memeluk Sirin.
"Apa kabar adik adik Kakak ? Hm..!" sapa Sirin, mencium pipi kedua bocah perempuan itu bergantian.
"Baik !" jawab Nora, di angguki adinya Dinda yang usianya sama dengan Gaia.
"Kakak bawa oleh oleh apa untuk kami ?" tanya Dinda.
"Apa ya ! mm..! ada deh !. Tapi masih di koper Kakak. Besok aja ya !, Kakak masih capek !" jawab Sirin.
Kedua adik perempuan dari Ibu tirinya itu pun sama sama mengangguk, paham.
"Ma ! Ayah kenapa gak ikut ?" tanya Arsi, bergelayut manja di lengan Sirin.
"Ayah sibuk kerja sayang !" jawab Sirin.
"Kenapa Ayah gak kerja di sini aja, kaya Kake sama Paman Orion, Paman Reyhan, Paman Elang, Paman Darren, Paman Bilal, Paman Ghissam, Paman Calixto, Paman Ghaisan ?" tanya Arsi lagi.
"Nanti kalau sudah waktunya, Ayah akan kerja di sini sayang !. Tunggu Ayah banyak duit dulu, baru nanti kita bangun rumah di sini" jawab Sirin.
Sebenarnya Sirin sangat kasihan dengan suaminya itu yang harus hidup menjadi pekerja. Tidak punya kesempatan atau waktu untuk membuka usaha sendiri. Itu semua karna Abang Ghissamnya yang tidak mau menggantikan Arsenio. Sekarang tujuannya pulang kampung, untuk melakukan demontrasi kepada Papa dan Abangnya. Supaya Ghissam mau menggantikam Arsenio mengurus perusahaan peninggalan Kakek Haris.
"By ! apa gak sebaiknya suruh Ghissam menggantikan Arsen. Bagaimana pun juga, Ghissamlah ahli waris perusahaan itu. Kasihan Arsen, dia juga perlu membuka usaha mereka untuk masa depan anak anaknya. Tidak mungkin 'kan selamanya Arsen harus menjadi pekerja. Tentu dia juga harus menyiapkan masa tua mereka" ucap Diana kepada suaminya.
Tentu Diana bisa bicara seperti itu, karna Sirin yang sering curhat kepadanya. Mengatakan keinginannya dan kegundahannya selama ini. Arsen yang jarang sekali punya waktu untuk keluarga. Dan bahkan di luar Negri Sirin serkng di tinggal tinggal karna Arsenio yang sering pergi ke Negara lain.
"Aku juga sudah sering membujuknya sayang !. Tapi Ghissam masih tidak mau" desah Dokter Aldo.
"Enak sekali hidup Bang Ghissam, dia dan istrinya enak enak hidup di sini. Tapi tetap harus dapat bagian hasil perushaan. Itu namanya tidak adil Pa !" sungut Sirin.
"Seharusnya kalian tidak membaginya hasil perusahaan itu. Biar dia berpikir, kalau gajinya menjadi Dokter tidak akan cukup untuk membutuhi kehidupan mewahnya" ucap Dokter Aldo.
Sirin mendengus," bagaimana dengan Papa ?. Apa Papa juga perlu gak usah dapat bagian lagi ?."
"Terserah kalian, biar pun kalian membagi Papa hasil perusahaan itu. Pada akhirnya, uang Papa juga nanti untuk kalian. Papa juga berusaha keras membangun rumah sakit, juga untuk kalian, bukan untuk Papa saja" jawab Dokter Aldo.
Karna uang hasil dari perusahaan Papanya, Selalu ia tabung. Kemudian hasilnya, membangun cabang rumah sakit di beberapa kota lain, dan membangun beberapa cabang klinik di daerah lain. Itu semua Dokter Aldo lakukan, supaya anak anaknya memiliki warisan. Terutama untuk anak anaknya yang perempuan.
"Tapi Pa !, tidak bisakah Papa memaksa bang Ghissam untuk mengambil alih perusahaan Kakek ?. Arsen juga pasti ingin membangun perusahaannya sendiri. Dan kami juga ingin tinggal di sini. Arsen juga pasti kangen dengan keluarganya. Kenapa tidak ada yang mengerti kami" ucap Sirin dengan mata berkaca kaca.
"Apa Papa gak kangen sama aku, sudah sepuluh Tahun loh Pa !, kami tinggal di luar Negri. Apa karna Papa sekarang sudah memiliki putri yang lain ?."
"Sayang ! kamu bicara apa ?. Biar pun Papa memiliki Nora dan Dinda. Kasih sayang Papa tidak akan berkurang sama kamu sayang !. Ada ada aja kamu cemburu sama adik sendiri. Kasih sayang Papa sama kalian anak anak Papa, itu sama, tidak beda sedikit pun" terang Dokter Aldo, menarik Sirin ke dalam pelukannya.
"Habis Papa gak mau memaksa bang Ghissam !" isak Sirin.
"Bukan Papa gak mau memaksanya sayang !. Tapi tidak mungkin juga Papa harus menyeretnya kalau dia gak mau" balas Dokter Aldo, memahami hormon kehamilan putrinya yang sedang hamil itu.
Diana diam saja, ia tidak punya kuasa untuk berbicara lagi. Terlebih dia hanyalah Ibu tiri di rumah itu. Jika ia Ibu kandung Dokter Ghissam, tentu ia berani membujuk atau sedikit mengancam Dokter Ghissam untuk menggantikan Arsenio. Tapi apalah daya, anak tirinya pun lebih tua dari usianya.
"Papa sama bang Ghissam sama saja !" sungut Sirin. Sirin melepas pelukan Dokter Aldo, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu. Sirin lelah, ia ingin istirahat ke kamarnya yang di tempati Arsi.
"By ! cobalah lebih keras membujuk Ghissam. Kasihan Arsen dan Sirin. Semenjak menikah, mereka selalu di sisihkan dari keluarga. Ya ! dulu mereka memang melakukan kesalahan, bukankah itu sudah lama ?. Jangan sampai By menyesal, jika mereka sempat sampai berniat menjauh dari keluarga. Dan juga, aku gak mau Sirin merasa diabaikan By, Sirin merasa tidak dipedulikan lagi karna kehadiranku dan anak anak" ucap Diana lembut.
Dokter Aldo menghela napasnya berat, bukan ia tidak pernah memaksa Ghissam. Hanya saja anaknya itu terlalu keras kepala sama seperti dirinya yang tidak tertarik sama sekali mengurus perusahaan Kakek Haris.
"Aku akan mencobanya lagi sayang !, ayok masuk kamar ! aku sudah kangen sama kamu dan adek bayi kita" ajak Dokter Aldo. Dokter Aldo berdiri dari tempat duduknya kemudian membantu Diana berdiri dan menariknya masuk ke dalam kamar mereka.
Sampai di dalam kamar, Dokter Aldo langsung memeluk Diana dari belakang."Kalau Ghissam masih tidak mau, bagaimana kalau kita aja yang pindah ke sana ?" tanyanya.
Diana terdiam dan berpikir," Tapi By ! bukan itu yang Sirin mau. Sirin itu ingin dekat dengan kita" jawabnya kemudian.
Dokter Aldo memutar tubuh Diana ke hadapnya. Tanpa aba aba langsung mencium bibir Diana dengan mesra, kemudian melepasnya kembali. Dokter Aldo tersenyum memandangi wajah Diana yang bertambah cantik dan dewasa. Kini Diana sudah tidak kurus lagi, sudah nampak berisi tapi tidak gemuk.
"Besok kita pikirin gimana solusinya ya !" ucap Dokter Aldo." Sekarang aku menginginkanmu !"ucapnya lagi, dan mengecup bibir Diana lagi.
Buar buar buar !
"Kakek !!! Ocil !!!"
"Kami tidur sama Kakek !!! sama Ocil ya !!!."
Diana tersenyum melihat Dokter Aldo menghela napas lemah. Gagal sudah rencananya malam ini yang ingin bercinta dengan istri cantik, muda dan guri guri hotnya. Diana pun mengecup bibir Dokter Aldo, lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu, untuk membukakan pintu untuk kedua cucunya itu. Sedangkan Dokter Aldo melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
"Mama menyuruh kami tidur di sini !" ucap Gaia mendongakkan kepalanya ke arah Diana yang sudah membuka pintu.
"Mama ! Dinda juga mau tidur sama Mama sama Papa !" ucap anak ke tiga keluarga itu.
"Arsi sama Nora mana ?" tanya Diana kepada putri dan cucunya.
"Di kamar Kak Nora" jawab Dinda.
"Ya udah ! Gaia sama Dinda boleh tidur di sini" ucap Diana.
Di kamar lantai dua rumah itu. Sirin yang sudah selesai membersihkan diri, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sirin meraih ponselnya dari atas meja nakas, berniat untuk menghubungi Arsenio lewat vc.
"Iya sayang ! kalian sudah sampai ?" tanya Arsenio langsung dari sebrang sana.
"Sudah !" jawab Sirin tersenyum.
"Aku langsung kangen tau sama kamu !" ucap Arsenio.
Sirin semakin mengembangkan senyumnya."Aku juga !" balas Sirin.
"Dimana Arsi ?" tanya Arsenio, ia sudah sangat merindukan anak pertamanya itu.
"Sepertinya tidur di kamar Nora deh !" jawab Sirin.
"Kamu pasti lelah, istirahatlah !" suruh Arsenio. Meski istrinya itu sangat manja, banyak maunya, suka marah marah. Namun Arsen tetap menyayanginya.
"Kamu juga jangan lupa makan dan jaga kesehatan" balas Sirin.
"Gak ada yang nyiapin makannya!" ucap Arsenio.
"Untuk sementara nyuruh pembantu dulu yang nyiapin" balas Sirin.
"Hm !, gimana kabar baby kita ?. Apa dia sehat ?"tanya Arsenio.
Sirin pun mengarahkan kamera ponselnya ke perut buncitnya, dan tangannya mengelus elus perutnya.
"Kangen sama Ayah katanya !" ucap Sirin menirukan suara anak kecil.
Arsenio mengulas senyum manisnya, ingin rasanya ia mengusap perut Sirin kalau saja berada di dekatnya.
"Sayang ! sudah dulu ya !. Besok aku telepon lagi, stirahatlah !" ucap Arsenio, karna ada orang mengetok pintu ruangan kerjanya.
Sirin menganggukan kepalanya, dan langsung memejamkan matanya karna sudah sangat ngatuk. Arsenio pun mematikan sambungan vc, setelah memberikan kecupan kepada Sirin. Kemudian menyuruh orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.
.
.
Di kamar lantai bawah rumah keluarga Pratama itu. Dokter Aldo yang tak bisa tidur, membangunkan Diana dengan menggonyangkan lengannya.
"Apa By ?" gumam Diana yang hampir masuk ke alam mimpi.
"Hubbymu gak bisa tidur sayang !" bisik Dokter Aldo. Supaya Gaia dan Dinda yang sudah pulas di tengah tengah mereka tidak mendengarnya.
"Anak anak ada By ! mana bisa !" balas Diana, paham suaminya itu tidak bisa tidur karna keinginannya tidak tersalurkan.
Dokter Aldo turun dari tempat tidur, berjalan ke sisi ranjang sebelahnya." kita lakuiannya di sofa atau di kamar mandi ya !" ucapnya. Dokter Aldo mengangkat tubuh Diana, membawanya ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya membiarkan Diana di atas pangkuannya.Dokter Aldo pun langsung mencium bibir Diana mesra.
" Nanti anak anak bangun By !" ucap Diana pelan, karna Dokter Aldo sudah mulai membuka pengait branya.
"Hubbymu gak bisa nahan lagi sayang !"balas Dokter Aldo mulai mencium bagian dada Diana. Refleks Diana mengeluarkan desahannya, Diana pun langsung menutup mulutnya dengan tangan. Dan permainan mode Silent pun terjadi di atas sofa itu.
"By ! kita ke kamar mandi aja !" pinta Diana, karna permainan Dokter Aldo yang semakin memanas. Diana kawatir dirinya tak bisa menahan suaranya.
"Baiklah sayang !" Dokter Aldo pun langsung mengangkat Diana, membawanya ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Dokter Aldo pun mengunci pintu kamar mandi itu. Setelah itu langsung melanjutkan permainan mereka yang lebih hot lagi. Sampai membuat Diana tidak tahan jika tak mengeluarkan suara suara palsetnya.
Buar buar buar !
"Kakek sama Ocil di dalam ?. Gaia mau pipis !!."
Gerakan berpacu Dokter Aldo langsung terhenti mendengar sahutan dari luar kamar mandi.
"Kakek ! Ocil ! pipis Gaia susah mau keluar !" seru Gaia lagi.
"Sebentar ya ! Ocil lagi sakit perut !" balas Diana dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Dokter Aldo. Dengan buru buru merapikan pakaiannya, begitu pun dengan Dokter Aldo.Diana pun membuka pintu kamar mandi itu.
"Ocil sakit perut ?, Kakek juga ?" tanya Gaia polos melihat Diana dan Dokter Aldo bergantian.
"He um !" Diana menganggukkan kepalanya. Diana menurunkan tubuhnya, untuk membuka celana Gaia.
"Stop Ocil ! Kakek masih di sini !" Gaia menahan celananya yang di tarik Diana.
"Kakek keluar, Gaia cepat pipisnya, Kakek masih sakit perut !." Dokter Aldo pun melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dengan rasa kesal.
Sampai di kamar, Dokter Aldo mengacak acak rambutnya kasar, frustasi karna kepala atas sama bawahnya sama sama pusing. Dokter Aldo pun mendudukkan tubuhnya di sofa, menunggu cucunya itu selesai dari kamar mandi.
"Kakek ! Gaia sudah selesai !" ucap Gaia yang baru keluar dari kamar mandi bersama Diana. Berjalan menarik tangan Diana ke arah tempat tidur.
"Sayang !" panggil Dokter Aldo
"Sebentar By !, tidurin Gaia dulu" ucap Diana. Membuat tambah frustasi Dokter Aldo, karna si adik kesayangan masih ingin di majakan permaisurinya.
Dokter Aldo pun menarik napasnya dalam, kemudian berdiri dari tempat duduknya berjalan masuk kembali ke kamar mandi, menunggu Diana di dalam.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi itu pun terbuka dari luar. Diana melangkahkan kakinya masuk dan menutup pintu itu dan tak lupa menguncinya.
"Apa Gaia sudah tidur lagi ?" tanya Dokter Aldo, Diana menganggukkan kepalanya.
Dokter Aldo pun langsung menyambar bibir Diana, menciumnya rakus, dan melanjutkan permainan mereka yang belum tuntas. Hingga ke duanya merasakan tubuh mereka melemah setelah mengalami ketegangan yang cukup tinggi.
"Trimakasih sayang !" Dokter Aldo bernapas lega.
Diana mengulas senyumnya, kemudia mengecup bibir Dokter Aldo. Meski usia Dokter Aldo sudah tak muda lagi. Wajah suaminya itu masih terlihat tampan, dan semakin berkarisma di usianya sudah mencapai lima puluhan. Dan staminanya juga masih sangat kuat.
"Besok jangan ijinin lagi anak anak tidur di kamar kita. Kamu tau sendiri sayang !, suamimu ini tidak bisa menahan diri jika tidak mencumbuimu. Tubuhmu yang berisi ini semakin membuatku gila sayang" ucap Dokter Aldo.
"By !" tegur Diana merasakan di bawah sana ada yang mengembang.
"Lagi ya !"
.
.