Brother, I Love You

Brother, I Love You
96. Berdamai dengan kenyataan



Arsenio melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi menuju jalan pulang. Emosinya belum mereda, entah ! Arsenio marah kepada siapa ?. Yang jelas, sulit baginya menerima kenyataan Sirin adalah putri dari wanita yang membuatnya celaka.


Setelah sampai di depan rumah, Arsenio menghentikan laju kenderaannya, dan langsung turun dari dalam mobil. Arsenio membuka pintu rumah dengan kunci di tangannya, dan langsung masuk. Setelah menutup pintunya, Arsenio melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Di lihatnya Sirin terbaring miring meghadap dinding dengan tubuh bergetar, dan terdengar menangis terisak. Arsenio mengusap kasar wajahnya, kemudian mendekati Sirin di atas kasur.


Arsenio menyentuh lengan Sirin," Sirin !" panggilnya.


"Keluarga kita sudah membuang kita. Jika kamu meninggalkanku, aku tidak tau harus menyandarkan hidupku kepada siapa lagi" ucap Sirin, tanpa melihat Arsenio yang duduk di belakangnya.


Arsenio terdiam, kata kata Siri sungguh sangat menusuk ke hatinya, rasanya perih, mungkin seperti itu yang di rasakan Sirin saat ini.


"Maaf ! tapi hatiku masih sakit, jika mengingat Ibumu !. Aku butuh waktu.. pergilah menemui Ibumu jika kamu merindukannya, tapi aku tidak bisa ikut" jawab Arsenio.


"Jika aku menemui Ibuku sendiri, apa yang harus ku katakan, jika Ibuku bertanya dengan perutku yang sudah mulai membesar ini ?" tanya Sirin lagi.


"Berikan aku waktu Sirin !" ucap Arsenio. Arsenio membalik tubuh Sirin supaya menghadapnya."Aku membawa makanan untukmu, ayo makanlah, maaf atas sikapku tadi."


"Aku juga menyesali perbuatan Ibuku Arsen !. Tapi bagaimana pun buruknya Ibuku, dia tetaplah Ibuku. Wanita yang melahirkanku dan membesarkanku, menyayangiku penuh kasih sayang"tangis Sirin kembali terisak.


"Aku tau ! itu yang kusesalkan, kenapa kamu lahir dari rahim dari wanita iblis itu ?" balas Arsenio tanpa berperasaan, benar benar lidahnya tajam seperti lidah para netijen perempuan.


Seketika tangis Sirin terhenti, mendengar perkataan Arsenio. Sirin menatap tajam Arsenio.


"Kau mengatakan Ibuku Iblis, seperti kau manusia tak berdosa. Apa kamu lupa ? hasil perbuatan dosamu ada di dalam perutku ini." Sirin berbicara dengan merapatkan gigi giginya. Ia tidak suka jika Ibunya di katakan wanita iblis, meski Ibunya sudah melakukan kesalahan besar.


"Aku juga menyesali perbuatanku itu. Sekarang ayo makan, anak kita pasti sudah sangat kelaparan. Dan aku juga belum makan," ucap Arsenio.


"Kau makan aja sendiri!" cetus Sirin.


"Ayolah Sirin !, kamu tau aku tidak pintar merayu" ucap Arsenio. Ia pun membantu Sirin untuk duduk, namun langsung ditepis oleh Sirin.


"Aku minta maaf !" ucap Arsenio lagi.Menarik paksa Sirin membawanya ke pelukannya. Tangis Sirin pun kembali pecah.


"Kamu pikir aku gak marah dengan apa yang sudah di lakukan Ibuku ?. Aku lebih marah lagi Arsen. Aku hampir kehilanganmu, hampir kehilangan Ayah dari anaku. Tapi Arsen ! bagaimanapun buruknya Ibuku, dia tetaplah Ibuku. Wanita yang melahirkanku dengan mempertaruhkan nyawanya. Membesarkanku dengan penuh kasih sayangnya. Apa aku harus melupakan itu, karna satu kesalahannya ?" ucap Sirin dalam tangisnya.


"Kita akan menemui Ibumu, tapi beri aku waktu, tidak baik jika aku menemuinya dalam keadaan hatiku tidak baik baik saja" ucap Arsenio akhirnya. Setelah mengalami pergulatan batin, Arsenio mencoba berdamai dengan kenyataan. Kalau dia mencintai putri dari wanita yang membuat dirinya celaka. Dan di balik itu, masih ada Dokter Aldo dan Dokter Ghissam yang sudah di anggapnya keluarga.


Arsenio menghapus air mata yang membasahi pipi Sirin, kemudian mencium kening Sirin lama. Arsenio tersenyum, baru menyadari kalau istrinya itu masih memakai baju gamis dan jilbab. Istrinya itu terlihat sangat cantik dan anggun. Sirin sangat jarang memakai pakaian seperti itu.


"Kamu sangat cantik berpakaian seperti ini !" puji Arsenio. Langsung saja wajah Sirin berbinar mendapat pujian dari suaminya.


"Tapi aku belum sanggup jika harus berpakaian seperti ini setip hari" balas Sirin.


"Gak apa apa, yang penting sudah diniatkan" balas Arsenio."Kita makan ya !" bujuk Arsenio.


"Suapin !" rajuk Sirin.


"Baiklah istriku yang manja" balas Arsenio, mengecup bibir Sirin kilas.


Arsenio pun membiarkan Sirin duduk bersandar di dadanya. Kemudian mengambil kotak makan berisi nasi yang sempat ia letakkan di lantai. Setelah membukanya, ia pun langsung menyuapkannya kepada Sirin dengan menggunakan sendok berbahan plastik.


.


.


Dokter Aldo terpaksa harus menepikan kenderaannya ke pinggir jalan, karna tiba tiba mogok. Dokter Aldo menghela napasnya, kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun untuk mengecek kondisi mesin mobilnya, kenapa tiba tiba mogok.


Ya ampun ! mau turun hujan lagi !, Batin Dokter Aldo, merasakan sedikit rintik rintik hujan jatuh ke kulitnya, dan juga ada kilat.


Dokter Aldo membuka mesin bagian depan mobilnya, untuk mengecek kerusakan. tiba tiba..


Gluduk ! Gluduk ! Duarrrrr !!!


"Aaaa !!!!"


Seiring dengan suara petir yang menggelegar, Dokter Aldo mendengar ada suara jeritan seorang wanita. Membuat Dokter Aldo kaget dua kali lipat. Dokter Aldo pun memutar pandangannya mencari sumber suara teriakan wanita tadi. Dokter Aldo mengerutkan keningnya melihat seorang wanita duduk meringkuk di bangku halte yang tidak jauh dari tempatnya. Melihat tubuh wanita itu bergetar, Dokter Aldo berpikir wanita itu ketakutan karna pertir yang kuat tadi. Dokter Aldo pun mendekatinya.


"Selamat malam !" Sapa Dokter Aldo, wanita itu pun mengangkat kepalanya dari lututnya. Nampak wajahnya basah, dan matanya bengkak.


"Om Aldo !" gumam wanita itu.


Dokter Aldo menautkan kedua alisnya." Diana !, kamu Diana teman Sirin putri saya 'kan ?. Kamu ngapain disini malam malam begini ?"tanya Dokter Aldo.


Diana menekuk bibirnya ke bawah, dan kembali menangis.


"Kamu kenapa ?, rumahmu dimana ?, biar Om antar pulang" Heran Dokter Aldo, Diana menggelengkan kepalanya.


"Ini sudah larut malam, tidak bagus anak gadis sendirian di sini, itu sangat bahaya. Ayo Om antar pulang" tawar Dokter Aldo lagi. Ia bisa menebak kalau sahabat putrinya itu lagi bermasalah.


"Bawa aku ikut sama Om ! jika peduli denganku. Aku gak mau lagi kembali ke rumah orang tuaku. Kakak kakakku selalu mengejekku karna aku bodoh. Mereka bilang aku tidak perlu kuliah, karna orang sepertiku hanya akan membuang buang uang, karna orang bodoh sepertiku tidak akan bisa sukses."ucap Diana, berbicara tanpa melepas netranya dari wajah Dokter Aldo.


Sontak saja Dokter Aldo langsung mengingat mantan kekasihnya yang bernama Bunga Adelwis. Murid paling bodoh plus bandel.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu ?" tanya Dokter Aldo.


"Orang tuaku bilang, tidak sanggup lagi jika aku harus melanjutkan ke bangku kuliah. Karna kedua kakakku belum lulus. Tapi aku sangat ingin kuliah meski aku bodoh" jawab Diana dengan bibir bergetar.


"Pulanglah !, Om tidak bisa membawamu ikut bersama Om. Kalau kamu benar benar ingin kuliah, biar Om yang akan membiayainya. Tapi kamu harus janji, akan rajin belajar" ucap Dokter Aldo.


Duarrr !!!


"Aaaa !!!" Jerit Diana melompat ke tubuh Dokter Aldo, memeluk Dokter Aldo erat.


"Diana !" kaget Dokter Aldo, melepas tangan Diana dari tubuhnya. Namun Diana ternyata pingsan tak sadarkan diri. Dokter Aldo menghela napasnya, bingung harus bagaimana dengan gadis yang pingsan di pelukannya.


Dokter Aldo pun merogoh saku celananya untuk mengambi handphonnya, ternyata tidak ada. Dokter Aldo berdecak, mengingat phonselnya ia letakkan di dasboard mobil. Mau tidak mau, Dokter Aldo terpaksa menggendong Diana membawanya masuk ke dalam mobil. Karna hujan juga sudah turun dengan deras, mereka akan basah jika masih berada di halte itu.


Tuuut ! tut ! tut !


Dokter Aldo berdecak, karna Sirin tidak mengangkat teleponnya. Sepertinya anak itu marah, batinnya.


Dokter Aldo mencoba menghubungi Reyhan, ternyata nomornya tidak aktif. Kemana perginya anak itu ?, kenapa nomornya tidak aktif ?, batinnya.


Dengan rasa terpaksa, Dokter Aldo pun mencoba menghubungi menantu sialannya, Arsenio.


Tut ! tut ! tut ! tut !


Tidak di angkat juga, Dokter Aldo mengeram kesal.Pasti kedua anak itu sibuk bersenang senang, batinnya. Karna Sirin dan Arsenio tidak menerima telephonnya.


Dokter Aldo mengalihkan pandangannya ke belakang. Kemudian menyugar kasar rambutnya, melihat Diana terbarik di kursi dan tak sadarkan diri. Dokter Aldo menghela napasnya, Ia harus menyadarkan Diana. Dokter Aldo pun berpindah ke kursi belakang, setelah mengambil alkohol dan kapas dari kotak P3K yang selalu tersedia di dalam mobilnya.


"Diana ! bangun !" ucap Dokter Aldo, saat Diana mengerjapkan matanya, setelah Dokter Aldo menciumkan kapas yang sudah dikasih Alkohol ke hidungnya.


Diana membuka kelopak matanya, memutar pandangannya ke sekeliling ruangan sempit itu.


"Om Aldo ! Diana dimana ?"


"Di dalam mobil Om !, ayo bangun, biar Om antar kamu pulang ke rumahmu" jawab Dokter Aldo.


"Diana gak mau di antar pulang Om !" ucap Diana meneduhkan pandangannya.


"Kenapa ?, orang tuamu bisa kawatir kalau kamu gak pulang. Mereka pasti sudah mencarimu."


Diana menggelengkan kepalanya," Diana gak mau pulang Om !" ucap Diana.


Tok tok tok !


Dokter Aldo dan Diana sontak menoleh ke arah kaca mobil yang di ketuk.


"Ayah !" gumam Diana


Dokter Aldo bernapas lega, karna Ayah Diana datang mencari Diana. Diana mendudukkan tubuhnya, Dokter Aldo pun membuka pintu yang berada di samping Diana.


"Apa yang kalian lakukan di dalam ? Ha !!!" bentak Ayah Diana.


"Ayah ! ini Om Aldo, Papanya Sirin. Kami tidak melakukan apa apa Yah !. Om Aldo hanya menolongku, karna pingsan saat tadi ada petir" jawab Diana.


"Iya Pak ! yang dikatakan Diana itu benar" sambung Dokter Aldo.


"Pak Basri ! jangan percaya begitu aja. Bisa saja mereka berbohong. Atau jangan jangan laki laki itu sudah menyuruhnya berbohong." ucap seorang Bapak Bapak yang datang bersama Ayah Diana.


"Apa maksud anda !" sanggah Dokter Aldo.


"Ayah sudah capek mencarimu dari tadi Diana !. Ayah kawatir sama kamu, sampai Ayah melibatkan masyarakat untuk mencarimu. Untuk saja ada orang yang melihat kamu masuk ke dalam mobil ini" jelas Pak Basri, yang mengkawatirkan putrinya dari tadi."Ayo kita pulang nak !" ajak Pak Basri.


"Diana gak mau pulang Yah !, di rumah Diana selalu di ejek dan di katai bodoh" tolak Diana.


"Kamu mau kemana nak ?, kalau tidak mau pulang" tanya Pak Basri.


"Diana gak mau pulang Yah !" tolak Diana lagi.


"Lihat Pak Basri !, putrimu tidak mau di ajak pulang. Jangan jangan putrimu sudah di rusak laki laki itu." tuduh salah satu Bapak Bapak yang ikut mencari Diana.


"Tutup mulutmu !!!" marah Aldo dari dalam mobil. Dokter Aldo pun segera turun, dan melayangkan tinju kepada pria yang menuduh sembarangan itu.


Akhirnya keributan pun terjadi, Dokter Aldo saling pukul dengan Pria yang menuduhnya merusak Diana itu. Sampai para Bapak Bapak lainnya melerai memegangi tubuh keduanya.


"Kami tidak percaya kalau kamu tidak mengapa ngapain Diana. Kamu harus bertanggung jawab !" ucap Pria yang bakuhantam dengan Dokter Aldo itu.


"Apa yang harus kupertanggung jawabkan ?. Dan kalau kalian menganggap seperti itu, kalian bisa memeriksakannya ke Dokter" sanggah Dokter Aldo.


"Pak Basri !, nama putrimu itu sudah tercemar, karna sudah berdua duaan bersama laki laki di dalam mobil di tengah malam. Apa kamu yakin tidak meminta pertanggung jawaban pria ini. Bisa saja nanti putrimu tidak di sukai laki laki lain lagi. Karna sudah menganggap putrimu, bekas laki laki lain" ucap salah satu warga lagi.


Pak Basri terdiam sambil berpikir, karna benar yang dikatakan warga. Apa lagi melihat laki laki yang bersama putrinya adalah laki laki yang audah matang. Bisa saja putri polosnya itu sudah di suruh tutup mulut atau di ancam.


"Diana ?"


"Diana sama Om Aldo tidak melakukan apa apa Yah!" jawab Diana.


"Bukankah tadi katanya putrimu sempat pingsan. Bisa saja dia membius putrimu, dan Putrimu tidak tau apa saja yang sudah dilakukan laki laki ini" ucap yang sempat adu jotos dengan Dokter Aldo itu." Aku mangatakan itu untuk kebaikan putrimu Pak Basri. Mintalah pertanggung jawaban laki laki ini. Suruh laki laki ini menikahi putrimu" ucapnya lagi.


Pak Basri terdiam dan menajamkan pandangannya ke arah Dokter Aldo yang menggeleng gelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ia harus menikahi perempuan yang pantas menjadi putrinya.


Begitu juga dengan Pak Basri, tidak tega jika harus menikahkan putrinya dengan pria seusianya. Meski pria itu masih terlihat muda dan tampan.


Diana menggeleng gelengkan kepalanya, tidak mau di nikahkan dengan orang tua sahabatnya itu. Terlebih ia sudah memiliki kekasih, Reyhan sudah mengajaknya menikah, meski belum tau kapan pastinya.


"Aku percaya kamu dan putriku tidak melakukan apa apa. Tapi bisakah aku minta tolong kepadamu, untuk bertanggung jawab atas nama baik putriku yang tercemar" ucap Pak Basri.


"Maksud anda ?" tanya Dokter Aldo.


Pak Basri tidak menjawab, ia pun memutar tubuhnya, Menuntun putrinya yang dari tadi berdiri di sampingnya, membawanya pulang ke rumah.


Sedangkan Dokter Aldo di tarik para warga, mengikuti Pak Basri dan Diana dari belakang.


Setenga jam berlalu, di rumah Pak Basri.


"Saya terima nikah dan kawinnya Putri Diana dengan mas kawin uang tunai... di bayar tunai !" ucap Dokter Aldo hanya dengan sekali tarikan napas.


.


.