
Reyhan memarkirkan kenderaannya di parkiran badara di kotanya tinggal. Dan langsung turun setelah mengambil paper bang dari kursi sampingnya. Reyhan melangkahkan kalkinya ke arah pintu keberangkatan. Sambil mencari Yumna, ia pun mencoba menghubungi via telepon. Untuk menanyakan kira kira sebelah manakah calon bidadari surganya itu berada ?.
Reyhan memutuskan sambungan teleponnya, setelah melihat seorang wanita berhijab melambaikan tangan ke arahnya. Reyhan pun mempercepat langkahnya ke arah Yumna dan satu orang wanita berhijab di sampingnya.
"Assalamu alaikum zamila !" sapa Reyhan merekahkan senyumnya.
"Walaikum salam akhi !" balas Yumna, menundukkan pandangannya.
"Ini untukmu ! semoga kamu menyukainya." Reyhan menyodorkan paper bag di tangannya ke arah Yumna.
"Apa ini akhi ?" tanya Yumna.
"Terimalah ! ini ada sedikit hadiah untukmu" jawab Reyhan.
"Trimakasih akhi !" ucap Yumna sembari tersenyum, menerima paper bag dari tangan Reyhan.
"Sama sama !" balas Reyhan.
"Oh ya ! akhi, perkenalkan ! ini kakak sepupuku !, namanya Shahia" ucap Yumna memperkenalkan kakak sepupunya kepada Reyhan.
Reyhan pun mengarahkan pandangannya sebentar ke arah wanita cantik berwajah sedikit ke bule an itu, sembari terseyum.
"Assalamu alaikum ! calon kakak ipar !, nama saya Reyhan" ucap Reyhan tanpa mengulurkan tangannya.
"Walaikum salam !, saya Shahia" Shahia pun membalas dengan menangkupkan telapak tangannya di depan dada.
"Sepertinya pesawat kalian masih lama, bagaimana kalau kita minum dulu ?. Dari pada berdiri di sini" tawar Reyhan.
Shahia pun menganggukkan kepalanya kepada Yumna. Supaya Yumna menerima tawaran calon suaminya. Dan Yumna pun menganggukkan kepalanya menerima tawaran Reyhan.
"Ayo silahkan !" ucap Reyhan membiarkan kedua gadis itu berjalan di depannya.
Sampai di salah satu cafee di bandara itu. Mereka bertiga pun duduk di salah satu meja kosong dan langsung memesan minuman. Di sana mereka pun mengobrol sambil sesekali menyesap minuman mereka masing masing.
"Yumna ! minggu depan aku akan datang melamarmu. Dan minggu depannya kita menikah. Apa kamu siap Yumna ?" tanya Reyhan.
Reyhan tak ingin berlama lama lagi. Reyhan ingin segera mengikat gadis bercadar di depannya itu. Jangan sampai Rahwana datang mencuri Yumna, membawanya kabur,cukup dua kali ia kecolongan, jangan sampai ke tiga kali.
"Aku tidak bisa memutuskan sendiri akhi. Karna itu perlu di bicarakan dengan orang tua kita" jawab Yumna.
"Aku tau !, menurutku kesiapan dari kamu yang paling utama. Kalau kamu siap, aku akan membicarakannya dengan orang tuaku. Supaya mereka nanti yang akan berbicara dengan orang tuamu" jelas Reyhan.
Yumna diam sambil berpikir, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Shahia yang duduk di sampingnya.
Shahia mengembangkan senyumnya, sambil tangannya mengusap lembut bahu adik sepupunya itu." Pernikahan itu lebih baik di percepat, jika sekiranya kalian berdua sudah merasa cocok !" ucapnya.
Yumna mengarahkan pandangannya sebentar ke arah Reyhan yang duduk di depannya. Kemudian menganggukkan kepalanya, tersenyum malu malu dengan kepala menunduk.
Reyhan merekahkan senyumnya, karna Yumna menyetujuinya. Dan gemas melihat sifat Yumna yang teraenyum malu malu. Gak sabar Reyhan ingin mencubit pipi Yumna. Tapi Reyhan harus menahannya, sampai mereka sah menjadi suami istri. Karna Yumna adalah wanita yang berbeda. Yumna adalah wanita yang menghargai seluruh anggota tubuhnya dengan sangat mahal. Jangankan tersentuh laki laki, bahkan melihat sedikit keindahan tubuhnya pun Yumna tidak mengijinkannya sama sekali. Reyhan sangat merasa beruntung untuk itu.
Tiba tiba Yumna meraba tas ransel kecilnya yang bergelayut di dadanya, karna mendengar handphonnya berbunyi. Yumna pun mengeluarkan handphonnya dari dalam tas, dan menerima panggilan telepon yang masuk ke HPnya.
"Assalamu alaikum bang Nazib !" sapa Yumna.
Reyhan yang mendengar Yumna memanggil bang, kepada orang yang berada di dalam telepon, sedikit mengerutkan keningnya.
"Walaikum salam !, kalian dimana ?, abang sudah sampai" tanya soerang cowok dari sebrang telepon.
"Hmm..!" Yumna memutar pandangannya melihat mereka berada di cafee mana." Di cafee XXX bang !. Yumna dan Kak Shahia bersama calon Yumna hehehehe....!" cengir Yumna.
Reyhan mengangkat satu alisnya sembari tersenyum, mendengar cengiran calon istrinya itu, begitu renyah.
"Ya sudah ! abang kesana !" balas Nazib, langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Walaikum salam bang !" balas Yumna, kalau abangnya itu sudah lupa mengucap salam, Yumna bisa menebak abangnya lagi sedang kesal.
"Apa gak ada cowok lain lagi apa ?, selain cowok pelit itu !. Nguhh !" dengus Nazib mengerutu, tidak terima di sumbangi uang empat ribu sama colon adik iparnya, saat di parkiran restoran miliknya. Saat Reyhan menemui Yumna terakhir kalinya.
Najib yang sudah berada di samping Yumna. Langsung menjewer telinga Yumna yang betada di balik jilbabnya.
"Enak sekali hidupmu ya !, berangkat duluan dari rumah jalan lenggak lenggok tanpa beban. Semua barang barang kalian abang yang bawa. Besok kagak usah menemui abang ke sini lagi"gemas Najib, abangnya Yumna.
"Aduh bang ! sakit tau !" keluh Yumna, memegangi tangan Najib yang menarik telinganya.
"Siapa yang mengijinkanmu menemui cowok di sini ? Hm..!" gemas Najib lagi, matanya melirik Reyhan tak suka.
"Yumna 'kan gak sendiri bang Nazib !" Yumna mengerucutkan bibirnya di balik nikapnya.
"Sama saja !" cetus Najib.
"Ehem !" Reyhan berdehem, menatap laki laki yang seperti ia kenal wajahnya itu." Kamu pelayan restoran padang yang di daerah XXX itu 'kan ?" tanya Reyhan.
"Iya ! dan kamu pria yang menyuruh saya mengambil uang kembalian minuman yang hanya sisa empat ribu itu" jawab Najib bernada tak suka.
"Oh ! kau masih ingat ?" tanya Reyhan.
"Bang Najib ! kok ngomongnya gitu sih ?. Bang Reyhan ini 'kan Papa yang jodohin sama Yumna. Wajar dong ! Bang Reyhan ngedekati Yumna" bela Yumna.
"Kamu yakin mau sama cowok itu ?, masa dia sedekahin abang dengan uang empat ribu ?. Apa itu gak pelit namanya ?" ketus Najib.
"Pelit itu pangkal kaya bang !" bela Yumna lagi, tersenyum. Ia tau saudara itu kesal bukan karna itu. Najib kesal sama cowok itu karna Yumna tidak mau mengenalkan Reyhan kepadanya, meski Yumna dan Reyhan sudah bertemu dua kali di restorannya.
Najib pun mendengus, karna Yumna membela Reyhan.
Oh ! ternyata cowok ini abangnya Yumna ! Batin Reyhan memperhatikan wajah Najib intens.
"Ayok abangku sayang ! duduk dulu !, kesal mulu bawaannya !. Nanti bisa susah jodohnya seperti uncle Jefry" ucap Yumna, menarik Najib duduk di kursi kosong yang ada di sampingnya. Kemudian mengelus elus dada Najib, dan memberinya minum dengan minuman miliknya. Yang langsung di sedot habis oleh Najib.
"Hm..! sudah tenangkan !. Ayo abangku yang tampan ini berkenalan dengan calon suami Yumna yang Tampat dan gagah..Ops !" Yumna langsung menutup mulutnya dengan tangan di balik nikapnya.
Shahia yang duduk di samping Yumna, menggeleng gelengkan kepalanya. Sedangkan Reyhan, ia mengulum senyumnya. Melihat calon istrinya yang terlihat kalem, mulai kelihatan erornya.
"Akhi ! perkenalkan !, ini abang ke empat Yumna, namanya Najib, memiliki kembaran bernama Nail" ucap Yumna lagi tersenyum.
"Oh !" Reyhan pun mengulurkan tangannya ke arah Najib." Reyhan bang !" ucap Reyhan tersenyum ramah.
"Najib !" Nazib menerima uluran tangan Reyhan." usiamu berapa ?, sepertinya kita seumuran" tanya nya.
"Menjelang dua puluh lima Tahun !" jawab Reyhan.
"Berarti tuaan saya sedikit, saya sudah dua lima" jawab Najib.
"Kerja dimana ?" tanya Najib lagi.
"Saya bukan pekerja, saya memiliki sorum mobil. Dan saya seorang kontraktor. Orang tua saya memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di daerah ini. Dan juga memiliki banyak cabang counter penjualan handphon dan laptop di kota ini sampai ke kota lain. Orang tua saya juga memiliki bisnis di bidang pendidikan Dari SD sampai SMA. Dan sekarang abang saya memiliki kampus sendiri" jawab Reyhan, sombong kaya ratu sejagat.
Cih ! sombong !, batin Najib.
Tapi kalau secara materi , okelah ! cowok ini lulus. Secara fisik dan ketampanan juga lulus. Secara garis darah keturunan, sepertinya lulus juga, karna Papa memgenal orang tuanya. Secara Agama masih di pertanyakan, melihat gaya berpakaian cowok ini, sepertinya seorang anak geng motor, bad boy banget. Batin Najib lagi.
"Apa kamu sudah menghapal syarat menikahi Yumna ?" tanya Najib lagi.
Ini orang sepertinya mau mengukurku, batin Reyhan menatap Najib tak suka.
"Belum !, sebentar lagi akan hapal" jujur Reyhan, kesal. Tidak tau saja calon abang iparnya itu, kalau IQnya di atas rata rata.
"Bagus !, kamu memang harus menghapalnya. Jangan sampai kau nanti bikin malu" cetus Najib.
"Tidak akan calon kakak ipar" Reyhan memutar bola matanya malas. Ia juga tidak akan siap menikahi Yumna sebelum ia bisa memenuhi syarat menikahinya.
Yumna, dari tadi ia hanya tersenyum saja di balik nikapnya. Membiarkan abangnya menginterviw calon suaminya. Biar abangnya itu puas.
Pengumuman keberangkatan pesawat ke kota B pun sudah menggema di penjuru bandara. Yumna dan Shahia pun berpamitan.
"Akhi ! kami harus segera masuk ke dalam. Trimakasi sudah menemui Yumna ke sini, dan trimakasih bingkisannya"ucap Yumna kepada Reyhan dengan menundukkan pandangannya.
"Sama sama !, beri kabar kalau sudah sampai" balas Reyhan.
"Assalamu alaikum Akhi !" ucap Yumna lagi, setelah ia dan Shahia berdiri dari kursi mereka.
"Walaikum salam zamila !" balas Reyhan tersenyum.
Najib mendengus, mendengar Reyhan menyebut Yumna Zamila.
"Bang Najib ! kami pulang dulu !" pamit Yumna menyalam tangan abang beda ibunya.
"Ya ! salam sama Mama dan Papa !" balas Najib, mencium ujung kepala Yumna yang tertutup hijab.
Yumna berdecak,"Tumben bang Najib sok romantis ?" cibir Yumna. Karna abangnya itu sangat jarang memperlakukannya dengan manis.
"Pengen saja !" jawab Najib.
"Terserahlah !" ucap Yumna, kemudian melangkahkan kakinya setelah berpamitan sekali lagi kepada Reyhan.
"Najib ! kakak pulang dulu !" pamit Shahia, mengusab bahu Najib.
"Iya kak !, salam buat tante sama uncle Rico sama uncle Jefry, dan juga sama kekek dan nenek. Kalua ada waktu nanti Najib akan berkunjung" balas Najib.
Shahia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Calon adik ipar, kami berangkat dulu. Di tunggu kedatangannya" pamit Shahia lagi kepada Reyhan.
"Hati hati !, dan doakan saja !" balas Reyhan.
Setelah mengucap salam, Kedua gadis berhijab itu pun meninghalkan kedua laki laki yang saling melirik tak suka itu.
.
.