
Reyhan menuruni anak tangga ke lantai bawah, berjalan ke arah dapur. Di san sudah ada Darren sedang memasak.
"Istrimu mana ?, kenapa gak kamu suruh memasak ?" tanya Reyhan mengambil panci mengisinya dengan air, lalu meletakkannya di atas kompor.
Semalam Papa Arya dan Mama Bunga sudah berangkat ke luar Negri untuk menjenguk Arsen yang sakit. Kini tinggal mereka dan istri mereka di rumah itu.
"Istriku bukan pelayan !" jawab Darren, mengaduk aduk nasi goreng buatannya.
Reyhan berdecak, karna adiknya itu terlalu memanjakan istrinya. Tidak boleh mengerjakan apa apa.
"Aku tidak mengatakan istrimu pelayan." Reyhan mengupas jahe yang baru di ambilnya dari dalam kulkas, lalu mencucinya dan memotong motongnya." Menyiapkan sarapan untuk suami atau keluarganya, adalah ibadah bagi seorang istri" lanjut Reyhan. Memasukkan jahe ke dalam panci tadi. Tak lupa Reyhan menambah sedikit gila aren ke dalam rebusan jahe.
"Istriku tidak perlu melakukan itu !" balas Darren.
Reyhan geleng geleng kepala. Setelah rebusan jahe itu matang, ia pun menuangkannya ke dalam gelas."Istrimu bisa bosan jika tidak melakukan apa apa." Reyhan pun melangkahkan kakinya keluar dari are dapur itu. Membawa segelas air jahe di tangannya.
Semenjak adiknya itu menikah, tak sekali pun istrinya di perbolehkan memengang dapur atau pekerjaan rumah lainnya. Dan Bahkan Darren memecatnya dari perusahaan. Darren ingin istrinya hanya bersantai santai di rumah.
Kamu tidak mengenal istriku Bang Rey. Kamu tidak pernah melihat penderitaannya. Aku ingin menganghiri penderitaannya itu, dengan menjadikannya permaisuri di hatiku. Batin Darren.
Setelah nasi gorengnya masak, darren pun memindahkannya ke atas piring. Kemudian membiarkan sisanya di atas kuali. Darren membawa nasi goreng itu ke dalam kamar. Ia akan memakannya bersama istri tercintanya.
"Sayang !" panggil Darren tersenyum.
Jean menatapnya dengan wajah cemberut, Darren benar benar tidak mengijinkannya melakukan apa pun di rumah itu.
Darren meletakkan nampan di tangannya di atas meja nakas.
Cup !
satu kecupan mendarat di bibir Jean yang mengerucut." Jangan cemberut" ucapnya.
"Kalau aku kurang bergerak, bisa badanku melar sebesar gajah" rajuk Jean, masih memanyunkan bibirnya.
"Aku akan mengajakmu olah raga setiap malam" balas Darren lalu cekikikan.
"Darren !, Kak Yumna lagi sakit, aku harus menyiapkan sarapan untuknya"ucap Jean.
"Ada suaminya yang mengurusnya sayang !. Ayo buka mulutnya biar kusuapin." Darren mengarahkan sendok yang berisi nasi goreng ke mulut Jean.
Jean membuka mulutnya, menerima suapan Darren.
"Aku bosan kalau seperti ini !" sungut Jean, setelah menelan makanan di mulutnya.
"Kamu bisa pergi jalan jalan ke mal, atau merawat diri ke salon. Atau pergi ke rumah Bang Orion dan bang Elang" balas Darren.
Jean menghela napasnya, masa setiap hari dia pergi jalan jalan, ke salon dan berkunjung ke rumah Queen dan Naysila, yang benar saja !, pikir Jean.
"Nanti akan ku usahain cepat pulang, aku akan membawamu jalan jalan." Darren mengacak acak ujung kepala Jean dengan sayang, melihat wajah istrinya itu masih cemberut sampai nasi goreng dari piring mereka habis.
Darren berdiri dari tempat duduknya, Ia pun akan bersiap siap untuk pergi ke kantor. Jean hanya diam memandanginya. Suaminya itu benar benar tak terbantahkan.
Darren yang sudah rapi dengan pakaian kejanya, mendekati Jean yang dari tadi duduk bersandar di atas ranjang. Darren mengecup kening, pipi dan bibir Jean." Aku berangkat kerja dulu sayang !" ucapnya tersenyum manis.
Jean mengulurkan tangannya untuk menyalam Darren. Tanpa ada niatan memgantar Darren ke depan pintu, karna Darren pasti melarangnya.
"Hati hati !
"Sayang !" potong Darren, supaya Jean memanggilnya sayang.
Jean menggigit bibir bawahnya, entah ? lidahnya masih kelu untuk memanggil sayang pada Darren.
Darren semakin tersenyum, melihat wajah Jean yang memerah. Tidak masalah bagi Darren, kalau Jean belum bisa memanggilnya sayang. Darren paham, kalau Jean masih belum terbiasa dengan status mereka yang sudah menjadi suami istri.
Darren mendekatkan wajahnya ke telinganya Jean, lalu berbisik." Aku suka mendengar jeritanmu setiap malam memanggil namaku !."
Blush !
Sontak wajah Jean semakin memerah padam.
Dengan jahilnya, Darren menggigit kecil daun telinga Jean, lalu menggesekkan hidungnya. Membuat Jean merinding si bulu roma.
Darren menajuhkan wajahnya dari telinga Jean, dan langsung berdiri. Darren mengecup ujung kepala Jean, lalu berpamitan.
"Aku pergi dulu ya !, nanti sore siap siaplah, dandan yang cantik, oke !." Setelah mengatakan itu, Darren melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Jean hanya menatapnya sampai Darren menghilang di balik pintu. Jean menghela napasnya pasrah.
.
.
Di rumah Orion dan Queen.
Nampak Boy menyiapkan sarapan untuk adik adiknya, dan tantenya Sabina. Bocah SMP itu terlihat sangat lihai memotong motong sayur dan bawang. Pagi ini ia akan membuatkan Omelet sayur sebagai sarapan pagi keluarga itu.
Dimana Queen ?, dia lagi sibuk mengurus Ayana yang terus menangis karna tidak melihat Orion saat bangun tidur. Karna Orion ikut keluar Negri untuk menjenguk adiknya yang sedang sakit. Terpaksa Boy yang turun tangan membuatkan sarapan untuk keluarga itu.
Meski Boy sudah tau kalau Queen bukanlah ibu kandungnya. Bagi Boy Queen adalah ibu kandungnya. Boy sangat menyayangi wanita yang sudah merawat dan membesarkannya itu dengan kasih sayang. Dan Boy juga sangat menyayangi adik adiknya.
Dari mana Boy bisa tau kalau dia bukan anak kandung Queen?. Boy sudah besar, tentu dia bertanya, kenapa dia sangat berbeda dengan adik adiknya, kenapa dia berwajah bule ?. Saat itulah Orion menjelaskan siapa dirinya.
"Bang Boy ! masih lama gak ?" tanya Syauqi yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Sebentar !" jawab Boy. Panggilin Momy, tante Sabin sama Khanza gih !" suruhnya.
Syauqi pun turun dari kursinya, berlari ke arah kamar orang tua mereka yang berada di lantai bawah rumah itu.
Tak lama kemudian, Syauqi kembali lagi ke meja makan. Di susul Queen membawa Ayana di gendongannya yang masih menangis.
"Abang Boy !" tangis Ayana mengulurkan tangannya ke arah Boy yang membawa piring berisi omelet dan meletakkannya di atas meja.
"Adek mau sama Abang ?" tanya Queen,dan Ayana menganggukkan kepalanya.
"Adek mau sarapan gak ?, abang sudah buatin adek telur gulung yang ada sosisnya loh !" bujuk Boy, supaya adik perempuannya itu berhenti menangis.
"Daddy mana ?" tanyanya terisak.
"Daddy lagi jengukin paman Asren yang lagi sakit. Besok Daddy sudah pulang kok !" bujuk Boy lagi.
"Kenapa gak bawa Ayana ?" isaknya lagi.
"Jauh ! nanti adek capek. Dan nanti siapa yang nemani Momy di sini kalau Ayana ikut ?" tanya balik Boy.
Ayana pun diam berpikir, dan mengarahkan pandangannya ke wajah Queen. Yang sudah duduk sambil mengunyah makanan.
"Selamat pagi !"
Queen mendengus mendengar suara adik iparnya itu. Bukan hanya wajahnya saja yang datar, tapi suara dan cara bicaranya pun datar.
"Selamat pagi tante !" sapa Khanza yang berjalan di belakang Sabina.
"Selamat pagi juga cantik !, ayo silahkan kalian sarapan. Biar kalian berangkat ke sekolah" balas Queen, mengusap kepala Khanza yang berjalan di sampingnya.
"Khanza ! besok kita nginap di rumah bang Elang ya !" ucap Sabina.
"Aku ikut !" sambar Syauqi.
"Terserah kalian saja mau nginap dimana !"cetus Queen. Karna anaknya Syauqi jarang sekali betah di rumah mereka.
"Abang Boy ! kita naik angkot lagi kan ?" tanya Syauqi. Suaranya terdengar kumur kumur karna mulutnya penuh makanan.
"Abang aja, kalian gak usah !" jawab Boy.
"Ikut !" kekeh Syauqi.
"Terserah kalian mau naik apa !. Ayo cepat kalian habiskan makanan kalian" oceh Queen. Setelah menghabiskan sarapannya, ia pun mengambil Ayana dari gendongan Boy. Supaya Boy bisa sarapan dan berangkat kesekolah.
Queen juga heran, kenapa kedua anak laki lakinya itu suka naik angkot !. Bukankah naik angkot itu panas karna tidak ada ac, sempit dan berdesak desakan ?, pikir Queen. Seumur umur, dia belun pernah yang namanya naik angkotan umum.
Dengan menaik angkot, Boy dan Syauqi bisa memiliki banyak teman. Teman teman sekolah mereka menjadi tidak segan dengan mereka, karna mereka cucu dari pemilik sekolah Harapan. Mereka bisa bercanda tertawa bersama di dalam angkot.
Tidak seperti di antar supir dengan mamakai mobil pribadi mereka. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja, membuat mata mereka mengantuk, dan ingin tidur. Sampai di sekolah membuat mereka tidak semangat untuk belajar.
Selesai sarapan, ke empat bocah itu pun berangkat ke sekolah. Kini tinggal Queen dan Syauqi di dalam rumah bersama pembantu. Queen sudah terbiasa menjani hari harinya seperti itu. Rumah itu akan sunyi setelah suami dan anak anaknya berangkat kerja dan ke sekolah.
.
.
Sirin dan keluarga yang sudah sampai di luar Negri, langsung masuk ke ruang perawatan Arsenio. Sirin langsung memeluk Arsenio yang duduk bersandar di atas brankar.
"Kenapa kamu bisa sakit ?. Kanapa gak bilang kalau kamu sakit ?" tangis Sirin.
"Aku kangen sama kamu dan anak anak, makanya aku sakit !" jawab Arsenio tersenyum, sambil tangannya mengusap usap kepala Sirin.
"Arsen ! kamu sakit apa sayang ?"
Arsenio langsung melepas pelukan Sirin, mengarahkan pandangannya ke arah orang tuanya yang masuk ke ruangan itu."Mama ! Papa ! Bang Orion !" ucap Arsenio dengan mata berkaca kaca.
"Kamu sakit apa sayang ?, kenapa kamu sampai masuk rumah sakit seperti ini ?." Mama Bunga pun memeluk anaknya yang sangat ia rindukan itu.
Mama Bunga menangis di pelukan Arsenio. Sudah sepuluh Tahun ia berjauhan dengan anaknya itu. Mereka sangat jarang bertemu karna kesibukan Arsenio.
"Mama sangat kangen sama kamu sayang !" isak tangisnya.
"Arsen juga kangen sama Mama !" tangis Arsenio.
Apalah daya, ia harus menerima hukuman dari keluarganya, karna sudah melakukan dosa besar. Ia harus rela berjauhan dari orang tuanya, untuk menebus kesalahan itu. Menerima hukuman dari kakek istrinya, yang tidak terima cucunya di nodai.
Papa Arya pun memeluk Arsenio, setelah istrinya melepas pelukan dari tubuh anak ke empat mereka itu.
"Papa !" ucap Arsenio membalas pelukan Papanya yang terlihat sudah sangat tua itu.
Papa Arya menangis terisak, menyesal karna sudah pernah mengusir anak dan menantunya itu dari rumah. Setelah Arsenio benar benar jauh darinya, ia baru menyadari kalau anak nakalnya itu sangat berarti baginya."Maafin Papa, karna sudah pernah mengusir kalian !" isaknya.
Umurnya sudah tak muda lagi, kematian sudah semakin mendekatinya. Papa Arya sangat takut, jika tak bisa bertemu lagi dengan anaknya itu, jika masih bertahan di luar Negri. Kali ini Papa Arya akan membawa anaknya ikut pulang ke Indonesia. Papa Arya tidak mau lagi, anaknya itu jauh darinya.
"Wajar Papa marah sama kami, karna perbuatan kami Papa menjadi malu" balas Arsenio, ikut menangis.
Arsenio sekarang sudah menjadi Ayah, tentu ia sudah paham berada di posisi Papa Arya. Ia pun akan marah besar jika anak anaknya melakukan kesalahan yang fatal.
"Ikutlah pulang bersama kami, mertuamu sudah meminta Calixto yang akan menggantikanmu. Mertuamu yang akan mengajarinya sendiri" ucap Papa Arya.
Biar pun yang meminpin perusahaan itu selama ini adalah Arsenio. Tapi perusahaan itu masihlah atas nama Dokter Aldo, sebagai pewaris tunggal kekayaan Kakek Haris. Dokter Aldo masih memiliki kuasa penuh atas perusahaan itu. Dan selama ini, dia juga ikut membantu dan memantau perusahaan itu dari jauh.
Hanya saja yang tidak di terima Sirin, abangnya yang enak enak menikmati hasil tanpa ikut membantu. Sirin tidak betah tinggal di luar Negri,dan ingin dekat dengan orang tua.
"Iya Pah !" jawab Arsenio menghapus air matanya. Ia juga sudah sangat kangen tinggal dekat dengan orang tua dan keluarganya yang lain.
Setelah Papa Arya menjauhi Arsenio, kini giliran Orion yang memeluk adiknya itu. Orion juga sudah kangen dengan adik preman setengah jadinya itu.
"Cepatlah sehat !" ucapnnya.
Orion melepas pelukannya, lalu mengusap kepala adiknya itu. Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Mereka semua sudah besar dan dewasa semua. Bahkan sekarang Orion sudah berusia 36 Tahun.
.
.
.
.