
"Berhenti !!!"
Ke empat anak remaja itu pun langsung berhenti, karna kaget dengan suara teriakan seseorang. Sontak mereka pun mengalihkan tatapan mereka ke arah dua orang berseragam satpol PP.
Tit tit tit !!!
Arsenio yang tersadar langsung masuk ke dalam mobil. Sirin yang duduk di kursi kemudia langsung melajukan kenderaannya, membawa Arsenio kabur. Jangan sampai Arsenio tertangkap, bisa bisa Papa Arya marah besar kepada Arsenio dan akan memberinya hukuman.
"Hei !!! berhenti !!! jangan kabur !!!" teriak salah satu satpol PP yang kebetulan datang melakukan penertipan pedagang kaki lima yang sebagaian memakai badan jalan untuk berjualan.
Sirin sudah tidak mendengar itu lagi, ia hanya pokus dengan jalan di depannya, mengendarai kenderaannya dengan kecepatan tinggi.
"Sirin ! hati hati ! kamu lagi hamil" tegur Arsenio yang duduk di samping Sirin.
"Aku tau ! tapi aku tidak mau kamu sampai di bawa satpol PP "balas Sirin.
"Turunkan kecepatannya, sudah aman, satpol PP itu tidak mengejar kita"ucap Arsenio lagi.
Sirin pun menurunkan laju kenderaannya, karna kebetulan gang perumahan tempat mereka tinggal sudah sampai. Sirin membelokkan mobilnya, melajukannya dengan sangat lambat, karna ada anak anak bermain di gang perumahan.
Setelah Sirin menghentikan laju kenderaannya tepat di depan rumah kontrakan mereka. Sirin dan Arsenio pun sama sama tertawa cekikikan, dengan tingkah konyol mereka, yang melarikan diri dari satpol PP.
"Ayo turun, nanti kamu telat ikut mengajinya" ajak Arsenio, membuka pintu di dampingnya, dan langsung turun, begitu juga dengan Sirin.
Sampai di dalam rumah, Sirin dan Arsenio langsung masuk ke dalam kamar, dan sama sama merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Bibir mereka masih mengulas senyum, karna tingkah konyol mereka. Mengingat sebentar lagi mereka anak menjadi orang tua, tapi mereka masih belum berubah, masih seperti anak anak.
"Arsen ! apa kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak kita ?" Sirin berbicara sambil tangannya mengusap usap perutnya.
Arsenio menoleh ke arah Sirin."Aku gak tau !, tapi yang pasti aku menyayanginya"jawab Arsenio.
"Jujur Arsen ! aku belum siap menjadi orang tua, ini terlalu cepat untukku. Aku takut nanti, tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuknya."
"Tapi aku yakin, kamu pasti bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak anak kita nanti" balas Arsenio. Sirin mengalihkan tatapannya ke arahnya.
"Arsen !" panggil Sirin." Apa kamu..." Sirin menghentikan bicaranya, karna ragu untuk mengatakannya.
"Apa ! katakan aja !" ucap Arsenio, tangannya terulur menyentuh wajah Sirin, mengelusnya dengan jempol tangannya.
"Aku... aku kangen dengan Ibuku !" ucap Sirin dengan pandangan meneduh. Arsenio terdiam dan semakin menajamkan pandangannya ke wajah Sirin.
"Ibuku belum tau kalau kita sudah menikah, kita belum meminta restu kepadanya" ucap Sirin lagi.
Arsenio terdiam, dia baru mengingat itu, kalau Sirin masih mempunyai seorang Ibu. Ibu seorang iblis, yang hampir merenggut nyawanya. Arsenio melepas tangannya dari wajah Sirin, memandang Sirin dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Arsenio mengeraskan rahangnya, emosinya memuncak mengingat wanita yang akan menghabisi nyawa kedua orang tuanya itu, yang mengakibatkan dialah yang menjadi korbannya.
"A..arsen !" gugup Sirin melihat wajah Arsenio begitu marah.
Arsen kembali menajamkan pandangannya ke wajah Sirin. Wajah Sirin sangat mirip dengan wanita iblis itu.
"A..arsen ! ka..kamu kenapa ?" gugub Sirin lagi.
Arsenio tidak menjawab, Ia pun beranjak dari atas kasur pergi keluar kamar. Arsenio membuka pintu rumah mereka dan langsung keluar, berjalan masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya, entah kemana dia mau pergi.
Sirin yang di tinggal di dalam kamar, terdiam, tak terasa air matanya mengalir dari sudut matanya. Sirin sedih dan takut melihat kemarahan di wajah Arsenio.
Mendengar suara azhan berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Sirin pun bangun dari tempat tidur, keluar kamar, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia harus siap siap pergi mengikuti arisan pengajian.
Setengah jam kemudian, Sirin sudah rapi dengan baju gamis dan jilbab yang di belinya tadi. Sirin memandangi wajahnya di kaca cermin yang di gantung di dinding. Pandangannya meneduh, dan bibirnya tersenyum getir. Merasa seperti orang munafik, membungkus dosanya di dalam baju tertutup itu. Tapi Sirin sudah berjaji dengan dirinya sendiri, untuk memperbaiki dirinya menjadi manusia yang lebih baik.
Sirin menundukkan kepalanya, melihat perutnya yang sedikit menonjol. Sirin mengulas senyumnya, sambil tangannya mengusap perutnya. Sirin tidak menyangka sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ibu di saat usianya masih sangat muda. Meski Sirin belum siap, tapi hatinya sangat menyayangi anak yang masih di dalam kandungannya itu.
Sirin menghela napasnya, mengingat Arsenio yang pergi entah kemana dalam keadaan marah. Sirin sudah menghubunginya, namun Arsenio tidak mengangkat telephonnya.
Tok tok tok !
"Assalamu alaikum ! Sirin ! ayo kita pergi !" seru Ibu Pur dari luar.
"Walaikum salam !, iya Bu !" balas Sirin, dan langsung keluar dari dalam kamar, berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ayo dek ! nanti kita terlambat, gak lupa 'kan membawa uang yang Ibu bilang tadi ?" tanya Ibu Pur.
"Nggak Bu !"jawab Sirin menutup pintu rumahnya dan meguncinya.
Sampai di aula masjid, pandangan para ibu ibu pengajian yang sudah hadir terlebih dahulu mengarah kepada Sirin yang datang bersama Ibu Pur. Hampir semua berbisik bisik membicarakan Sirin.
Sirin yang merasa di bicarakan, pun memundukkan kepalanya, dengan menggigit bibir bawahnya.
Meski Sirin dan Arsenio jarang keluar rumah, dan belum memiliki pergaulan di lingkungan perumahan itu. Tapi mereka sudah menjadi pembicaraan hangat para ibu ibu di sekitaran perumahan itu. Tentu karna mereka menikah saat usia masih sekolah. Para Ibu Ibu perumahan itu sudah bisa menebak kalau mereka menikah karna sudah terlanjur basah mandi madu.
Melihat para Ibu Ibu yang berbisil bisik membicarakannya, Sirin hanya bisa menghela napasnya. Sudah menjadi resikonya, karna tidak bisa menjaga diri. Sirin hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mengampuni dosanya.
Acara pengajian pun segera di mulai, para Ibu Ibu yang bergosip ria pun berhenti berbisil bisik.
.
.
Waktu berlalu, acara pengajian pun sudah selesai. Kini Sirin dan Ibu Pur, berjalan bersama untuk pulang ke rumah bersama Ibu ibu pengajian lainnya, tentunya Ibu ibu yang tinggal satu gang dengan mereka.
"Kandungannya sudah berapa Bulan dek ?" tanya salah satu Ibu geng gosib.
"Jalan sepuluh minggu Bu !" jawab Sirin mengulas senyumnya. Meski ada rasa malu di dalam hati, ia harus memasang muka tembok untuk bertahan hidup, dan bisa menjalani hidup normal seperti orang lain.
"Makanya dek ! kalau pacaran jangan coba coba main buka bukaan. Akhirnya melendung kan !" canda Ibu geng gosip itu.
Sirin hanya bisa tersenyum masam mendengar candaan Ibu geng gosip itu.
"Bercanda dek !, gak usah di masukin ke hati !" ucap Ibu itu lagi, Sirin pun hanya membalasnya dengan senyum.
"Bu ! aku duluan, rumahku sudah sampai" pamit Sirin. Karna rumahnya memang sudah sampai, Sirin pun melangkahkan kakinya ke halaman rumahnya. Di lihatnya mobil Arsenio belum ada, pertanda Arsenio belum kembali.
Malam hari, perut Sirin sudah lapar, namun Arsenio belum juga kembali. Kemana dia pergi, sudah berkali kali Sirin mencoba menghubunginya, namum Arsnio tidak mau menerima telephonnya.
Arsen ! kamu kemana ?, kenapa belum pulang ?. Aku tau kamu marah karna ucapanku tadi. Aku tau kamu marah kepada Ibuku, aku pun begitu Arsen. Tapi aku benar benar merindukan Ibuku Arsen. Aku tau Ibuku salah, apa aku salah mengharap maaf darimu untuk Ibuku ?. Kita butuh restu darinya Arsen ?. Batin Sirin, menangis meringkuk di atas kasur, masih memakai baju gamis lengkap dengan jilbabnya.
.
.
Di tempat lain
Arsenio dari tadi tidak berhenti meninju dan sesekali menendang punching ball. Alat latihan tinju yang yang sengaja ia sediakan di salah satu ruangan cafee milik sahabatnya. Tempat biasa kumpul kumpul bersama teman temannya.
"Sen ! kamu kenapa ?" tanya Rangga salah satu teman satu kelas Arsenio.
"Iya Sen ! apa kamu gak capek dari tadi mukulin lawanmu yang tak berdaya itu ?" sambung Evan."
"Iya Sen ! kamu ada masalah apa ?, cerita aja ke kita kita. Kamu tidak biasanya seperti ini" timpal Fikri.
Namun Arsenio terus meninju benda tak berdosa di depannya dengan gerakan cepat.
"Ini sudah hampir larut malam Sen !, Sirin pasti sudah menunggumu pulang !" ucap Adi.
Sontak Arsenio menghentikan latihan tinjunya, kemudian menendang alat latihan tinju di depannya sampai terbalik, sambil berteriak.
"Aaaakh !!!"
"Arsen ! kamu kenapa ?"tanya Evan, bingung dengan Arsenio, yang mengamuk dari tadi sore.
Arsenio tidak tau seperti apa perasaannya sekarang. Arsenio sangat mencintai Sirin, tapi Arsenio tidak bisa memaafkan Ibunya Sirin yang ingin mencelakai kedua orang tuanya, Arsenio sangat membenci wanita iblis itu, sepertinya tidak akan bisa memaafkannya. Jika saja Arsenio tidak menghalangi mobil yang sengaja akan menabrak kedua orang tuanya. Arsenio tidak tau akan seperti apa nasib kesua orang tuanya, selamat atau tidak.
Saat ia terbangun dari komanya, Arsenio sempat melupakan itu. Apa lagi setelah mendengar Sirin hamil anaknya. Selama ini pikiran Arsenio teralihkan dari wanita iblis pencabut nyawa itu. Pikiran Arsenio terlalu pokus memikirkan Sirin dan bayi mereka. Dan tadi.. Sirin mengingatkanya tentang wanita yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.
Sirin, Sirin adalah putri dari wanita iblis itu, wajahnya mirip dengan wanita itu.
"Aaaakh !!!" jerit Arsenio sekali lagi. Arsenio frustasi, dengan perasaannya yang ia sendiri tidak memahaminya saat ini. Putri dari wanita iblis itu adalah istrinya sekarang, wanita yang ia cintai sejak lama. Wanita yang sudah mengandung anaknya. Itu artinya, ia tidak bisa lepas dari wanita iblis itu, wanita iblis itu sudah menjadi mertuanya, di dalam darah anaknya, mengalir darah wanita iblis itu.
Arsenio baru sadar akan hal itu, Sulit bagi Arsenio menerima kenyataannya. Kenapa Sirin tidak lahir dari wanita lain saja, pikir Arsenio.
"Aku rasa kamu belum memberi makan istrimu !, dia lagi hamil, apa kamu lupa ?" ucap Adi, mengingatkan sahabatnya.
"Aaakh !!!" jerit Arsenio lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Sebenarnya Arsen kenapa ?" tanya Rangga, Evan, Adi dan Fikri sama sama mengedikkan bahu. Mereka juga tidak tau, Arsenio kenapa mengamuk seperti orang kesurupan.
.
.