
Di ruang perawatan Sirin, kini semua keluarga sudah berkumpul. Dan Sirin pun dari tadi sudah sadarkan diri.
"Siapa nama cucu Papa ini ?" tanya Papa Arya kepada sepasang orang tua baru itu. Netranya tak lepas dari wajah cucunya yang berada di gendongannya.
"Arsi Haidar Alfarizqi !" jawab Arsenio tersenyum.
"Arsi.. Arsen dan Sirin, yang artinya cerdik, pintar dan pandai. Haidar artinya pemberani. Alfarizqi artinya semoga rezekinya di murahkan nantinya" jelas Arsenio yang duduk di samping Sirin di atas brankar.
Dari tadi tangannya tidak berhenti mengusap usap kepala Sirin yang berbaring di sampingnya.
Papa Arya tersenyum, menganggukkan sedikit kepalanya, setuju dengan nama yang di berikan Arsen.
Begitu juga dengan Dokter Aldo, ia pun setuju dengan nama cucunya.
"Halo baby Arsi !" sapa Queen, kepada anak Arsenio dan Sirin itu.
"Halo juga Uwa Queen !" balas Papa Arya tersenyum.
Langsung saja Queen ngerucutkan bibirnya."Queen masih muda masa di panggil uwa !."
"Emang kamu Uwa nya !, jadi kamu mau di panggil apa ?" tanya Arsenio.
"Tante kek !" cetus Queen dari tadi berdiri, menggoyang goyangkan sedikit tubuhnya, sambil menepuk nepuk pelan pantan Syauqi di dalam kain gendongannya, yang ingin tidur.
"Yang panggil tante itu..Syauqi sama Sirin !" ujar Arsenio.
"Gak mau ah ! di panggil uwa, panggil tante aja !" ucap Queen.
"Terserahmulah !" ujar Mama Bunga kepada menantu tertuanya itu.
"Kak Yumna gimana ?, apa sudah isi belum ?" tanya Queen kepada istri dari Reyhan itu.
"Alhamdulillah belum !" jawab Yumna tersenyum di balik nikapnya.
Reyhan yang duduk di samping langsung mengusap kepala Yumna dari belakang. Meski istrinya itu bisa tersenyum di depan orang, Reyhan tau sebenarnya hati istrinya itu bersedih.
"Ayo dong bang Reyhan berusaha lebih keras lagi !" ujar Queen kepada adik iparnya si butok ijo.
"Sayang ! pulang yuk !, kakak Queen menyuruh kita berusaha lebih keras !" ajak Reyhan malah kepada Yumna.
"Kita baru sampe Habib !" tolak Yumna lembut. Ada ada aja suaminya itu, baru juga sampai lima menit yang lalu, sudah ngajak pulang.
Queen memutar bola matanya malas,"gak harus langsung juga kali !" cibirnya.
"Diana gimana hamilnya ?, apa masih sering mual ?" tanya ratu sejagat, baby Arsi sudah berpindah ke tangannya, sedangkan baby Sabina berpindah ke tangan Dokter Aldo.
"Masih tante !, malah makan pun masih sering gak mau !" jawab Diana mengulas sedikit senyumnya, sambil satu tangannya mengusap usap perutnya yang masih rata.
"Jangan panggil tante lagi, panggil kakak, kita kan sekarang sudah menjadi besan. Kamu bukan calon mantuku lagi !" ujar Mama Bunga.
Diana pun menggigit bibir bawahnya dan tersenyum hambar. Diana mendadak gugup, salah tingkah. Karna ratu sejagat mengingatkan masa lalunya dan Reyhan.
Begitu pun dengan Reyhan, wajahnya nampak memerah. Tentu jika di ingatkan denganasa lalu, hatinya sedikit bergetar seperti terusik.
"Mama ! lihat tuh Ma !, bang Reyhan sama Diana.. eh ! tante Diana jadi salah tingkah."Queen menunjuk Reyhan dan Diana bergantian dengan dagunya.
Sontak semua orang di ruangan itu menoleh ke arah Reyhan dan Diana bergantian.
"Masih ada sisa sisa cinta kaya nya tuh !" goda Sirin tersenyum dari atas brankar.
"Di lihat dari wajah ke duanya sih ! sepertinya iya !" sambung Queen. Niat menggoda kedua pasangan suami istri yang pasangan masing masing adalah mantan terindah.
Tanpa ada yang tau, Yumna sudah cemberut di balik nikapnya. Dia juga berpikir seperti itu. Kalau tidak ada sisa sisa cinta lagi. Seharusnya Diana dan Reyhan tidak sama sama salah tingkah.
"Aku sudah lama move on !" sanggah Diana, melihat kecemburuan di wajah Dokter Aldo.
"Makanya jangan suka merebut pacar orang !" cibir Papa Arya mengulum senyumnya.
"Cih ! yang bicara sepertinya gak sadar diri" cibir Dokter Aldo, menatap sinis Papa Arya.
"Kita di jodohkan kakek sama nenek kita 'kan sayang ?." Papa Arya memeluk mama Bunga dari samping. Sekarang Papa Arya bisa membalas Dokter Aldo yang selalu mengatakannya perebut pacar orang.
"Masa lalu vs masa depan kumat lagi !." Ratu sejagat menghela napasnya melihat kedua laki laki yang mengisi hatinya itu saling mencibir.
"Tuh ! si burung gagak mu tuh yang gak sadar diri !" cetus Dokter Aldo, menunjuk Papa Arya yang bermanja manja di bahu ratu sejagat dengan mulutnya.
"Kok kamu kelihatan kesal gitu Al !, jangan jangan kamu belum move on dari aku, ayo ngaku ?" canda mama bunga, berniat menggoda Diana, ingin membuatnya cemburu.
Dokter Aldo memutar bola matanya malas, percaya diri sekali mantan terindahnya itu !, pikirnya.
"Kamu tuh ! yang belum move on dari aku, kalau nelepon sama kirin sms, kamu masih sering panggil jeyeng jeyeng !" balas Dokter Aldo, bola matanya melirik ke arah pria tua yang mulai telinganya berasap, taring dan tanduknya mulai tumbuh.
"Benar sayang ?, kamu masih manggil si Dokter cabul ini jeyeng jeyeng ?."
Benar dugaanku !, kalau pria tua itu langsung seperti kebakaran jenggot. Batin Dokter Aldo
"Hehehe....! kadang keceplosan aja sayang !" cengir Mama Bunga. Papa Arya pun langsung menyentil kenignya, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Aduh Syauqi ! kenapa kamu dari tadi gak mau tidur sayang ?. Mama sudah capek dari tadi berdiri, joget joget tidak jelas" keluh Queen. Karna baby Syauqi yang berada di dalam gendongannya tidak mau tidur, matanya kembali melek, senyum senyum sambil memasukkan tangannya ke mulutnya.
"Senyum senyum lagi !" ucap Queen, gemas melihat tingkah anaknya yang baru berusia sebulan lebih, tapi sudah ramah senyum.
"Syauqi ! ayo sini sama kakek !" panggil Papa Arya, supaya Queen memberikan baby Syauqi kepadanya, melihat Queen sepertinya sudah kelelahan menggendong baby Syauqi dari tadi.
Mendengar suara sang kakek memanggilnya, Baby Syauqi semakin melebarkan senyumnya sampai menampakkan gusi gusinya yang belum di tumbuhi gigi.
"Syauqi mau sama kakek ?" tanya Queen, kemudian membuka gendongannya, memberikan Syauqi kepada Papa Arya.
"Cucu kakek sudah mulai besar !" ucap Papa Arya, melihat tubuh baby Syauqi sudah mulai mengembang. papa Arya pun mencium kedua pipi tembem baby Syauqi dengan gemas.
"Cucu kakek kenapa gak mau tidur ? hm..!" tanya Papa Arya, menimang nimang baby Syauqi dengan kedua tangannya.
Baby Syauqi malah tertawa girang tanpa bersuara. Menunjukkan kalau dia sangat senang berjumpa dengan sang kakek.
.
.
Di kantor polisi
Setelah selesai membuat laporan dan kerengan kepada polisi yang menangani kasus penipuan yang di lalukan Naysila dan kekeknya. Elang yang di temani Orion dari tadi pun langsung meninggalkan tempat itu. Mereka akan langsung ke kantor pengadilan Agama untuk mengurus perceraian. Elang benar benar mantap menceraikan Naysila.
"Elang !!" panggil Naysila saat Elang dan Orion melintas di depannya.
Elang dan Orion menghentikan langakah mereka, dan sama sama menoleh ke arah Naysila yang sudah di borgol.
Naysila berlari ke arah Elang sambil menangis, dan menjatuhkan tubuhnya di depan kaki Elang.
"Elang tidak adakah sedikit pun sisa cinta untukku ?. Aku terpaksa menipumu Elang !, aku terpaksa melakukannya. Tapi aku mencintaimu Elang, itu bukan tipuan. Aku jatuh cinta sama kamu Elang. Aku mohon !, bebaskan aku Elang !, aku janji tidak akan pergi jauh, dan tidak pernah menampakkan diri di depanmu lagi, atau pun di depan keluargamu !" mohon Naysila dengan berurai air mata.
"Aku gak percaya lagi sama kamu Nay !. Sulit bagiku untuk percaya dengan apa yang kamu katakan. Maafkan aku Nay !" balas Elang. Dan langsung pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Naysila, di ikuti Orion yang hanya diam menyaksikan kisah cinta dramatis adiknya.
"Elang !!!" teriak Naysila," baiklah Elang !!!, kamu jangan menyesal !!!. Karna aku akan menanamkan kebencian kepada anakmu yang berada di dalam perutku ini !!!. Jangan menganggapnya anakmu !!!, karna kamu tidak bisa memaafkan ibunya !!!."
Langkah Elang dan Orion langsung terhenti kembali. Elang terdiam dan mematung mendegar pengakuan Naysila mengandung anaknya. Elang membalik badannya menatap Naysila dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Elang bahagia mendengar ia kan menjadi seorang Ayah. Tapi hatinya sudah sangat sakit untuk memaafkan Naysila. Apa yang harus ia lakukan sekarang ?.
"Apa kamu hanya ingin menginginkan anak ini tanpa ibunya Elang ?" tanya Naysila, menyunggingkan senyumnya ke samping.
"Apa kamu pikir kamu bisa membayarku dengan kekayaanmu untuk mendapatkan anak ini ?" tanya Naysila lagi.
"Katakan Elang ! kamu mau membayar aku berapa ?."
"Pergilah ! jangan berharap aku akan menerima bayaran dari kamu !. Dan kamu bisa memiliki anak ini, tidak akan Elang !."
"Kamu yang duluan jatuh cinta kepadaku !. Kamu yang memulai hubungan kita Elang. Aku sudah sempat menolakmu. Tapi kamu masih terus berusaha membuatku jatuh cinta. Pergilah ! karna aku tidak akan menarimamu lagi."
Setelah berbicara, Naysila pun berdiri dari lantai, memutar tubuhnya, melangkah ke arah kemana polisi yang mengawalnya akan membawanya.
Orion menepuk bahu Elang yang terbengong."Kalau kamu masih mencintainya, jangan menghukumnya. Bukan hanya dia yang tersiksa, tapi kamu juga akan merasakan sakitnya" ujar Orion.
"Jika Bunga mawar yang kamu taman sendiri, durinya melukai seluruh anggota keluargamu, apa yang akan kamu lakukan bang ?" tanya Elang dengan pandangan lurus ke depan.
"Mencabut Bunga itu, dan membuangnya jauh !" jawab Orion.
Elang menghela napasnya, lalu memutar tubuhnya melangkah keluar dari gedung kantor polisi itu.
"Kamu bisa membuang durinya saja, jika bunganya sangat cantik. Kamu bisa merawatnya, supaya duri durinya tidak sampai melukai keluargamu lagi. Kenapa kamu tidak melakukan itu ?" ujar Orion, mensejajarkan langakahnya dengan Elang.
"Karna aku bisa menanam Bunga yang lain, yang tidak memiliki duri sama sekali. Dan tidak akan ada lagi yang terluka" jawab Elang, tanpa melihat ke arah Orion di sampingnya.
"Bagaimana dengan anakmu ?"tanya Orion.
"Jika kakeknya bisa merampas selurub harta Papa. Dan mereka bisa menipuku, kenapa aku tidak bisa melakukannya ?" jawab Elang." Apa bang Orion lupa aku adalah burung Elang ?, yang suka mencuri anak ayam yang baru netas" tanya nya.
"Apa kamu akan memisahkan anakmu dari Ibunya ?" tanya balik Orion.
"Apa yang bisa kulakukan ?" tanya balik Elang.
"Apa sedikit pun kamu tidak mencintai naysila lagi ?."
Elang menghentikan langkahnya setelah sampai di parkiran mobilnya. Kemudian Elang memutar tubuhnya ke arah Orion yang berdiri di belakangnya. Elang pun menghela napasnya.
"Aku masih mencintainya, tapi aku tidak percaya dengannya lagi" jawab Elang.
Orion menghela napasnya, kasihan melihat adiknya yang di landa dilema. Kemudia Orion pun menepuk pelan pundak Elang.
"Bebaskan dia, kamu bisa mengawasinya. Apa lagi dia lagi mengandung anakmu. Jangan sampai nanti calon anakmu tidak sehat karna Ibunya yang tertekan, dan tidak baik baik saja. Berikan dia kesempatan untuk membuktikan kalau dia tidak sepenuhnya bersalah. Lakukanlah demi anakmu !" ujar Orion.
Elang menghela napasnya, memikirkan apa yang di katakan abang tertuanya itu. Tanpa bicara, Elang membuka pintu di sampingnya dan langsung masuk, duduk di kursi pengemudi.
.
.