
Di aula akan di langsungkanya pernikahan, para tamu undangan sudah tampak rame. Mereka adalah para keluarga, sahabat dan kerabat dari kedua belah pihak mempelai.
Saat Reyhan memasuki aula yang di dampingi Mama Bunga dan Papa Arya. Sontak saja pandangan tamu undangan tertuju kepada Reyhan yang berjalan di atas red karpet menuju meja tempat akat nikah. Di sana sudah ada Pak penghulu dari KUA, Pak Yudhi Tama sebagai wali nikah. Orion dan Dokter Aldo sebagai saksi dari pihak Reyhan. Mr Rico dan Mr Ze sebagai saksi dari pihak Yumna, mereka adalah uncle Yumna. Dan Yumna sendiri, masih di sembunyikan di tempat persembunyiannya.
Mama Bunga dan Papa Arya mengantar Reyhan sampai ke tempat duduknya, berhadapan langsung dengan Pak Yudhi calon mertuanya. Setelah sempat mengusap bahu Reyhan, Papa Arya dan Mama Bunga mundur ke belakang, duduk di kursi barisan depan tamu undangan. Membiarkan Reyhan menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri.
Setelah melakukan sedikit perbincangan di meja itu. Reyhan pun meraih mikrophon yang terletak di atas meja. Reyhan menarik napasnya sembari memejamkan matanya. Seraya mengucap basmalah dan istiqfar di dalam hati. Memohon kepada Allah supaya diberikan kelancaran dan kemudahan kepadanya saat akan melantunkan ayat ayat Alqur'an sebagai mahar untuk menikahi Yumna Yudhia Putri Tama.
A'uzubillahi minassyaitonirrojim...
Suasana mendadak hening saat Reyhan mulai melantunkan A'uzu dengan irama bayati dengan suara merdunya.
Bismillahirroh manirrohim...
Ar rahmaan..
Allamal qur'an...
Kholaqol insan..
Allamahul bayan..
Assamsu walqomarubihusban..
Semua tamu undangan menunduk, seperti tersihir mendengar lantunan Surah Ar rahman yang di bacakan Reyhan begitu indah, menyentuh setiap hati para tamu undangan. Acara pernikahan bergitu terasa sangat sakral, dan haru. Mengingatkan bahwa menikah bukanlah hal main main. Bukan hanya sekedar mengikat dua insan yang saling mencintai. Melainkan ibadah untuk menyempurnakan Agama.
Kurang lebih lima belas menit, reyhan baru menyelesaikan bacaan surah Arrahmannya, sebagai mahar menghalalkan Yumna menjadi wanitanya. Reyhan menghela napas lega, bisa menyelesaikan tugasnya dengan lancar dan baik.
Acara ijab kabul pun segera di mulai. Pak Yudhi sebagai wali nikah, terlihat mengulurkan tangan kanannya kepada Reyhan yang duduk di depannya. Reyhan menerima tangan calon mertuanya itu, menjabatnya.
"Reyhan ! saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku bernama Yumna Yudhia Putri Tama dengan mahar yang sudah di bacakan dan seperangkat alat shalat di bayar..tunai !" ucap Pak Yudhi dengan sekali tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Yumna Yudhia Putri Tama binti Yudhi Tama dengan mahar tersebut dibayar tunai !" balas Reyhan dengan lantang dan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi !" tanya Pak penghulu yang meminpin jalannya pernikahan.
"Sah !"
"Sah...!!!!"
Ke empat para saksi dan para tamu undangan menjawab sah secara serentak, hingga ruangan itu terdengar bergemuruh.
"Alhamdulillah !!!" seru semuanya lagi.
Reyhan menghela napas lega,tak terasa Reyhan meneteskan air matanya, begitu terharu dan penuh rasa syukur, bisa menyelesaikan ijabnya dengan lancar. Dan sekarang statusnya sudah menjadi seorang suami. Ada wanita yang sudah menjadi tanggung jawabnya Dunia dan Akhiratnya.
Mendengar para tamu undangan berisik, Reyhan menghapus air matanya. Mengarahkannya pandangannya ke arah seorang wanita berpakaian serba putih dan memakai nikap, ada mahkota berwarna silver di kepalanya yang berukuran tidak terlalu besar. Wanita itu di tandu tujuh laki laki di atas pundak mereka menggunakan tempat duduk yang terbuat dari kayu dan papan yang di hias, di bawa berjalan ke arahnya. Yumna benar benar terlihat seperti ratu dari gurun pasir.
Tentu itu menjadi hal yang unik dan menarik untuk di lihat. Seorang pengantin wanita di tandu saudara saudaranya ke depan penghulu. Sungguh bahagia hati wanita itu, di sayangi dan di muliakan saudara saudaranya.
Reyhan berdiri dari tempat duduknya, untuk menyambut kedatangan bidadari surganya, berjalan mendekati Yumna dan ke tujuh pendekar itu.
Ketujuh laki laki itu pun menurunkan tandu mereka, supaya Yumna bisa turun.
"Assalamu alaikum Zaujati(Istriku) !" sapa Reyhan tersenyum, setelah Yumna berdiri di depannya.
"Walaikum salam Habiby !" balas Yumna tersenyum di balik nikapnya, dengan sedikit menundukkan pandangannya.
Orion menyipitkan matanya meihat ke arah ketujuh pria yang berdiri di belakang Yumna itu. Bukankah itu bocah tengil yang pernah menembak Queen waktu di sekolah ?. Batin Orion, melihat si ketua Osis di SMA HARAPAN bernama Dhikra berada di belakang Yumna.
Berarti anak tengil itu adiknya Yumna !. bati Orion lagi. Tidak menyangka mantan gebetannya itu adalah adik ipar dari adiknya. Membuat Orion waswas aja, bocah tengil berwajah tampan itu mengganggu istrinya.
Reyhan mengangkat satu tangannya, menyentuh ubun ubun Yumna, lalu membacakan doa.
"Bismillahirrohmanir rohim, Allohumma inni as 'aluka khoirihaa wakhoirimaa jabaltaha 'alaiha. wa a'udzubika minsyarrihaa wasyarrima jabaltaha 'alaiha"
(Ya Allah aku meminta kepadamu kebaikan istriku, dan kebaikan yang ada padanya. Dan aku berlindung kepadamu dari keburukan istriku, dan keburukan yang kau tetapkan pada dirinya).
Usai membacakan do'a, Reyhan menurunkan tangannya. Yumna pun mengulurkan tangannya menyalam tangan Reyhan membawanya kekeningnya. Reyhan merasakan telapak tangan Yumna lembab dan dingin, menandakan kalau Yumna sedang gugup. Reyhan pun meremas sedikit tangan Yumna, menyalurkan ketenangan, meski ia sendiri juga sebenarnya gugup saat pertama kali bersentuhan kulit dengan Yumna. Ini untuk pertama kalinya Yumna bersentuhan kulit dengan laki laki yang bukan mahramnya setelah ia dewasa.
Setelah jabatan tangan mereka lepas, Reyhan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Yumna, menempelkan benda kenyal miliknya di kening Yumna dengan jatung yang berdegub sangat kencang.
Wanita yang di ciumnya itu adalah istrinya, wanita yang halal untuknya. Rasanya sangat berbeda menurut Reyhan. Rasa sayang, rasa cinta langsung tumbuh di hari seorang Reyhan kepada Yumna.
Aku mencintaimu istriku !, batin Reyhan, kemudian melepas ciumannya.
Para tamu undangan yang menyaksikan pun bertepuk tangan. Ikut terbawa suasana dengan keromantisan kedua insan yang baru di satukan dengan ikatan pernikahan itu.
"Bolehkah saya membawa saudari kalian ini ?" tanya Reyhan tersenyum kepada ke tujuh pria posesif yang berada di samping dan di belakang Yumna.
Biasanya, pengantin wanita akan di antar ibu atau kakak atau wanita di keluarganya ke tempat ijab kabul. Tapi pengantinnya ini sangat berbeda dari yang lain. Pengantinnya itu di antar ke tujuh saudaranya ke tempat ijab kabul dengan di tandu.
"Silahkan !" jawab Daniyal, abang tertua Yumna.
"Trimakasih ! abang dan adik ipar, sudah mengantarkan istriku ke sini"ucap Reyhan tersenyum.
"Sama sama !"balas Daanish, kemudian memeluk Yumna menangis." Akhirnya kamu menikah juga, pergi dari rumah, abang pikir kamu gak laku."
Bukh !
"Sakit Yuyu !!!" keluh Daanish, karna Yumna memukul lengannya kuat.
"Aku masih tetap menjadi kesayangan Papa yang paling cantik!. Jangan harap kalian bisa menggantikan posisiku" ketus Yumna, berbicara dengan mengerucutkan bibirnya di balik nikapnya, matanya nampak menyipit, dan terlihat manja. Yumna lupa kalau dia berada di tengah tengah orang ramai, berperan sebagai ratu yang lembut dan anggun.
Reyhan menggembungkan pipinya, menahan tawanya supaya tidak pecah, melihat sifat unik Yumna wanita yang baru sah menjadi istrinya. Sedangkan para tamu undangan sudah terbahak bahak, melihat pengantin wanitanya tidak bisa jaga imag, dan mengakui dirinya cantik.
Aduh ! kok aku bisa lupa sih, kalau sekarang aku lagi berperan sebagai ratu yang lembut dan anggun. Gara gara bang Daanish sih ! batin Yumna.
"Setidaknya Papa tidak memarahi kami lagi, karna kami tidak menuruti permintaanmu. Kami terbebas dari hukuman dan pajak setiap bulan" ucap Daanish lagi.
"Itu benar ! kami sangat senang kamu menikah. Kami tak perlu lagi harus menguras dompet kami untuk memenuhi permintaanmu" sambung Nail dari barisan belakang.
Karna Yumna selama ini selalu minta uang jatah wajib bulanan kepada ke empat abangnya dan adiknya Yesser. Kalau tidak di kasih,Yumna akan melapor kepada Pak Yuhdi. Supaya sausara saudaranya di marahi.
"Adik ipar ! bawalah istrimu jauh jauh dari kami. Semoga kamu betah dan tabah menghadapinya huahahahaha.....!!!" gelak Daniyal, di ikuti adik adiknya yang lainnya.Karna Adik iparnya itu pasti tidak tau seperti apa sifat asli dari saudari mereka itu. Selain manja, Yumna suka malak, dan juga sok cantik, kecentilan, dan juga jahil, suka kentut dan mengupil dengan menggunakan jari orang di sampingnya.
Di dalam nikapnya, Yumna mengeraskan rahangnya, menyipitkan matanya ke arah Daniyal. Yumna pun mengalihkan tatapannya ke arah Pak Yudhi dengan tatapan sedih.
Ibu Tika yang melihat tingkah anak anaknya, berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras. Berjalan ke arah Ke delapan anak anaknya. Dan langsung menjewer telinga Daniyal dan Daanish dengan kuat, sampai membuat anak kembar pertamanya itu sama sama mengaduh kesakitan. Kemudian menjewer telinga Nail dan Najib. Berpindah menjewer telinga Yesser dan Dhikra, terakhir telinga Yazib.
"Kalian tau ini hari pernikahan Yumna masih saja kalian suka menggodanya, merusak moment aja!" gemas Ibu Tika, berbicara dengan merapatkan gigi giginya.
Memiliki banyak anak, sering kali membuat kepalanya pusing. Apa lagi anak anaknya menuruni sifat tengil dari suaminya Yudhi Tama, yang suka jahil.
"Ayo ! kalian mundur ke belakang !" gemas Ibu Tika lagi kepada ke tujuh anak laki lakinya."Kamu Daniyal ! Daanish !, kalian itu sudah Bapak Bapak juga. Masih saja tingkah kalian seperti bocah" omel Ibu Tika, menatap tajam anak kembar pertamanya itu.
Daniyal dan Daanish pun hanya menyengir saja, kemudian mundur meninggalkan Ibu Tika. Pergi ke arah kursi undangan mencari istri mereka masing masing.
Ibu Tika memutar tubuhnya ke arah Yumna, kemudian menuntunnya berjalan ke arah kursi yang tersedia, di ikuti Reyhan berjalan di samping Yumna.
Acara Do'a pun di mualai, setelah itu acara baru selanjutnya.
Waktu berlalu, Setelah dua jam yang lalu acara ijab kabul terlaksana, sekarang acara resepsi. Reyhan dan Yumna sudah duduk di atas pelaminan. Dengan di samping kiri dan kanan mereka kedua orang tua mereka duduk mendampingi.
Dari tadi Reyhan terus memengang tangan Yumna saat tidak ada tamu undangan yang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat. Sesekali Reyhan mengecup punggung tangan Yumna.
Senyum keduanya tak luntur dari tadi. Meski mereka belum begitu saling mengenal, tapi menikah adalah keputusan mereka. Meski di jodohkan, tapi mereka menikah bukan di paksa.
"Habiby ! malu di lihat orang" tegur Yumna, karna Reyhan terus terus mengecup tangannya.
"Kenapa malu Almira sayang ?, tanganmu sangat halus dan lembut sayang, aku menyukainya" balas Reyhan.
"Nanti setelah acaranya selesai habiby bisa memengang dan menciumnya sepuas habiby" ucap Yumna lembut.
"Aku sudah gak sabar Almira, aku sudah ingin memelukmu dan menciumi mu" bisik Reyhan tersenyum penuh arti ke telinga Yumna. Dan satu tangannya ia lingkarkan ke pinggang Yumna dari belakang.
Sontak membuat wajah Yumna memerah salah tingkah di balik nikapnya.
Di bawah pelaminan, terlihat Queen, Sirin dan Diana mencicipi semua hidangan di meja prasmanan. Mereka sama sama terlihat sangat rakus. Mereka tidak peduli dengan penilaian orang terhadap mereka. Yang penting bagi mereka perut mereka kenyang. Dan mereka tidak peduli dimana suami mereka berada. Mereka benar benar ingin menikmati pesta hanya mereka bertiga tanpa di dampingi suami.
"Hai kak Queen ! kak Sirin ! kak Diana !" sapa seorang cowok berwajah tampan yang sangat mereka kenal.
"Dhikra !" ujar Queen, Sirin dan Diana berbarengan.
"Kok kamu ada di sini ?" tanya Queen lagi, tadi ia tidak terlalu memperhatikan ke tujuh pria yang menandu pengantin wanitanya.
"Pengantin wanitanya kan kakak Dhikra. Kalian juga kok bisa di sini ?. Dan itu perut kak Queen dan kak Sirin, kenapa bisa bengkak ?, gak mungkin kan karna kalian makan banyak ?" tanya balik Dhikra anak ke tujuh dari Pak Yudhi dan Bu Tika. Ia tidak tau kalau Queen dan Siri sudah menikah. Saat masih sekolah, perut ks duanya belum terlihat besar.
"Kebanyakan makan burung !" jawab Sirin terdengar kumur kumur karna mulutnya penuh makanan. Memang setelah bergabung dengan grup gosib di komplek perumahan tempatnya tinggal, mulutnya rada rada lemes dan bocor.
"Makan burung ?" tanya Dhikra, tidak paham dengan burung yang di maksud Sirin.
"Hm..!" Sirin menganggukkan kepalanya." itu bang Reyhan adalah Saudara dari suami kami" jawab Sirin.
"Pak Reyhan !" ulang Dhikra." berarti kak Sirin sudah nikah sama Arsen ?" tanya Dhikra lagi.
"Sudah !" jawab Sirin.
"Dan kak Queen nikah sama pria pincang itu ?" tanya Dhikra lagi.
"Apa kamu bilang ? Hm..!"
"Aw !" keluh Dhikra, tiba tiba Orion datang menjewer telinganya.
"Kamu bilang aku pria pincang ?, Hm..! kamu mau di buat tinggal kelas ?" gemas Orion. Enak sekali bocah tengil berwajah tampan itu, mengatainya pria pincang.
"Ampun Pak Orion !, ampun !" ucap Dhikra, menarik tangan Orion dari telinganya.
Orion pun melepas tangannya dari telinga mantan gebetan istrinya itu, yang berani mengejeknya secara langsung.
"Sayang ! sudah makannya, ayo istirahat, aku gak mau kamu kecapean" ajak Orion. Ia gak mau bocah tengil itu mendekati istrinya.
"Ikh ! bang Orion, Queen masih mau di sini. Bang Orion aja sendiri pergi istirahat" tolak Queen, ia masih ingin menikmati pesta.
"Nanti bayi kita bisa kecapean sayang !" bujuk Orion.
"Queen gak mau !" cetus Queen, melongos pergi menjauhi Orion, di ikuti Sirin dan Diana.
"Emang enak di tolak istri !, kasihan ! uwek !" cibir Dhikra, memeletkan lidahnya ke arah Orion lalu pergi.
Membuat Orion mengeram, gemas dengan bocah tengil murid sekolah milik orang tuanya itu.
.
.
#Dua hari ke depan othor gak up dulu ya !. Othor ada kesibukan lain, jadi gak sempat ngetik.