Brother, I Love You

Brother, I Love You
233. Assalamu alaikum Ukhti Hani !



"Assalamu alaikum Ayah !"


"Walaikum salam sayang !" balas Bilal kepada putri pertamanya di dalam HP.


"Apa kabar Ayah ?" tanya Yasmin.


Sekarang putri pertama dari Bilal Albiruni itu sedang melanjutkan pendidikannya di Kairo.


"Alhamdulillah baik Nak !, bagaimana dengan putri Ayah ?" tanya balik Bilal, senyumnya tak luntur dari tadi.


"Alhamdulillah baik juga Ayah !" jawab Yasmin." Ayah !" panggil Yasmin." Apa Ayah ingin rujuk dengan Mama ?" tanyanya.


Bilal tidak langsung menjawabnya, ia memperhatikan wajah putri pertamanya itu. Wajah putrinya itu nampak berbinar senang. Ternyata Annisa putri keduanya sudah mengabari kakaknya terlebih dahulu.


"Iya sayang ! kalau Ibu kalian masih mau menerima Ayah !" jawab Bilal, kemudian menelan air ludahnya bersusah payah. Demi kebahagiaan putri putrinya, biarlah ia mengesampingkan kebahagiaannya.


"Ayah !" ucap Yasmin lembut, ia bisa membaca raut wajah Ayahnya yang nampak menyimpan beban hati di layar ponselnya." Apa Annisa yang memaksa Ayah untuk rujuk dengan Mama ?" tanyanya.


Bilal semakin mengembagkan senyumnya, meski itu terpaksa." Nggak sayang !, Ayah masih mencintai Ibu kalian !" dustanya.


Mungkin rasa cinta itu masih sedikit ada untuk mantan Istrinya. Tapi saat ini, hati seorang Bilal lebih terpaut dengan cinta pertamanya, Hani.


Yasmin terlihat menghela napasnya dilayar handphon ustadz Bilal. Putrinya itu dari dulu lebih mengerti dirinya, sifatnya lebih meniru ke sang kakek Arya, selalu memahaminya.


"Apa yang harus Ayah lalukan sayang ?." Akhirnya Bilal meneteskan air matanya, tidak dapat menyembunyikan kegundahannya kepada putrinya.


"Ayah !" tegur Yasmin lembut, kasihan melihat Ayahnya menangis, namun ia tidak dapat memeluknya untuk menenangkannya."Carilah kebahagiaan Ayah !, untuk masalah Annisa, biar nanti Yasmin yang mengurusnya !" ucap Yasmin.


Meski usia Yasmin baru sembilan belas Tahun. Yasmin sudah memiliki pemikiran yang dewasa. Mungkin karna dia anak pertama, Tuhan memberikan kelebihan kepadanya, untuk dewasa dalam menghadapi keadaan.


"Nggak Nak !, bagi ayah ! kebahagiaan putri putri Ayah yang lebih penting !" balas Bilal, menghapus air matanya. Kemudian kembali mengulas senyumnya, terharu dengan kedewaan putrinya itu dalam bersikap.


"Tapi bagaimana putri putri Ayah bisa bahagia, kalau Ayah kami tidak bahagia. Seperti barusan, Ayah menangis !" ucap Yasmin.


"Aku bisa melihat di mata Ayah, sepertinya Ayah sedang jatuh cinta. Kepada siapakah itu Ayah ?. Siapa yang berhasil merebut hati Ayah dari Mama ?. Pasti itu wanita, wanita yang hebat !" gurau Yasmin untuk menghibur sang Ayah.


"Apa putri Ayah sedang menggoda Ayah ?." Bilal semakin mengembangkan senyumnya, melihat putrinya mengedip ngedipkan mata kepadanya.


"Ayolah yah ! di jawab pertanyaan Yasmin !" ucap Yasmin penasaran, wanita seperti apa, orang yang berhasil menaklukkan hati Ayahnya itu.


.


.


Di pesantren


Hani menjumpai abangnya Amar di rumahnya. Setelah melewati pergulatan batin beberapa hari ini. Hani memantapkan hatinya untuk membuka lembaran baru hidupnya dengan pria lain.


Benar yang di katakan abangnya Ikbal. Jika Bilal bisa hidup dengan wanita lain. Kenapa ia tidak bisa ?. Hani pun siap menerima, jika ada laki laki yang ingin melamarnya. Tentu itu semua ia serahkan kepada kedua saudaranya. Karna Hani yakin, kedua saudaranya akan menikahkan pria baik baik kepadanya.


"Assalamu alaikum !" ucap Hani


"Walaikum salam !" balas Ustadz Amar yang duduk di kursi teras rumah sambil membaca buku dan minum kopi yang di buat istrinya.


Hani mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong.


"Ada hal apa gerangan yang membawa adik abang ke sini ?" tanya Ustadz Amar, menutup buku di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja di sampingnya.


"Hani siap menikah lagi bang !" jawab Hani santai. Tanpa ijin mencomot pisang goreng bekas gigitan Ustadz Amar dari atas piring di atas meja.


Ustadz Amar mengulas senyumnya," kenapa kamu harus memakan bekas gigitan abang ?" tanyanya.


"Karna itu lebih nikmat !" jawab Hani sambil menguyah gorengan di mulutnya. Kemudian mengambil gelas kopi milik Ustadz Amar, lalu menyesapnya perlahan.


Ustadz Amar pun geleng geleng kepala melihat tingkah adik sepupunya itu.


"Abang tidak bisa mencarikanmu calon suami !. tapi jika ada yang datang melamarmu, abang bisa membantu, menilai laki laki itu apakah baik atau tidak untuk menikahi adik abang !" ucap Ustadz Amar.


"Hani ingin laki lakinya tampan ! mapan ! dan masih gagah !" ucap Hani ngaur.


"Kemana pikiranmu ? hm...!" gemas Ustadz Amar menarik telinga Hani yang tertutup hijab.


"Untuk mengobati luka yang parah, butuh obat yang mahal dan pastinya mujarap" jawab Hani tersenyum.


Ustadz Amar ikut tersenyum. Entah apa yang membuat adiknya itu berubah pikiran. Melihat senyum dan wajah ceria adiknya itu. Ustadz Amar merasa seperti melihat Hani waktu masih anak anak dulu.


"Baiklah ! apa masih ada kriteria lainnya ?" tanya Ustadz Amar.


"Tentunya soleh, baik dan cinta samaku !" jawab Hani.


Hani menganggukkan kepalanya.


"Sekarang buatkan kopi untuk abang !, karna kamu sudah menghabiskan kopi ku !" ujar Ustadz Amar, melihat kopi di dalam gelasnya hanya tinggal ampasnya.


"Minta sama kakak ipar aja !, Hani mau pergi sekarang !, assalamu alaikum !." Hani lansung kabur dari teras rumah abangnya itu. Karna malas di suruh membuatkan kopi.


Ustdaz Hamzah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat sifat manja adik perempuannya itu.


Sampai di rumahnya, Hani masuk ke dalam kamarnya. Hani mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur menghadap jendela kamarnya. Hani menghela napasnya dengan keputusan dirinya yang siap menikah lagi, jika ada laki laki yang melamarnya. Mungkin dengan cara menikah lagi, beban yang menghimpit dadanya selama ini bisa hilang. Ia mempunyai teman untuk mencurahkan hatinya. Tidak seperti sekarang, ia memendam sendiri perasaannya.


Hani meletakkan kedua telapak tangannya ke kasur yang berada di belakangnya, lalu menengadahkan wajahnya dengan mata terpejam ke arah langit langit kamarnya.


Tuhan ! jika aku menikah lagi, aku berharap itu pernikahanku yang terakhir !, batin Hani.


Usianya sudah tak muda lagi, kalau pernikahan berikutnya bukan pernikahan terakhir. Lantas berapa kali lagi dia akan menikah ?. Itu berarti dia belum mendapatkan kebahagiaannya.


.


.


Hani mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja nakas, pertanda ada pesan masuk. Hani membuka layar ponselnya untuk membaca pesan tersebut.


📩Nanti malam ada seorang laki laki yang akan mengkhitbahmu. Selesai shalat isya bersiap siaplah, abang akan menjemputmu ke rumah.


Begitu pesan yang di kirim Ustadz Ikbal abangnya ke HPnya.


Sontak jantung Hani berdegub sangat kencang. Kira kira siapa yang datang mengkhitbahnya ?. Hani mendadak bingung dan gelabakan sendiri di kamarnya. Jawabana apa yang akan dia berikan nanti, apakah dia akan menerima lamaran orang itu atau tidak.


Ya Allah ! bagaimana ini ?, batin Hani menggigit bibir bawahnya, sambil mondar mandir, berpikir keras di dalam kamarnya. Bagiaman jika laki lakinya tidak sesuai dengan kriteria yang di katakannya kepada abangnya ?. Bagaimana jika laki laki itu tidak srek di hati Hani ?. Apakah Hani akan menerima lamaran dengan terpaksa lagi ?. Karna menjaga perasaan kedua abangnya.


Meminta jodoh !, kok cepat banget ya terkabulnya ?, batin Hani lagi. Entah sudah berapa lama ia mondar mandir di kamarnya.


Kenapa tidak semudah ini Tuhan mengabulkan doaku, meminta Ustadz Bilal menjadi jodohku ?. Batin Hani lagi


Astagfirullohal 'azim !, lanjut Hani lagi membatin.


Hani pun berjalan ke arah kaca meja riasnya. Hani memandangi wajahnya di kaca cermin. Hani melihat, wajahmya sudah tak muda lagi. Wajahnya sudah mulai bergaris garis halus, terutama di bawah mata dan sudutnya. kulit wajahnya juga sudah mulai mengendur, tidak sekencang dulu lagi. Mungkinkah pria yang akan melamarnya itu masih muda ?, jawabannya tidak !. Hani bisa menebak pasti pria yang melamarnya itu pria yang jauh di atasnya, alias sudah tua.


Baru juga dua minggu Hani mengatakan kepada Abangnya Amar. Kalau ia siap menikah lagi, ini sudah langsung ada yang datang melamar.


Selesai shalat isya dari masjid, Hani pun bersiap siap seperti yang di suruh abangnya. Di depan cermin Hani terus memandangi wajahnya dan menempel nempelkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya. Hani merasa sangat gugub saat ini, sampai telapak tangannya menjadi dingin. Malam ini Hani akan membuka pintu kehidupan barunya. Malam ini Hani akan menerima lamaran seorang laki laki. Setelah itu, itu artinya Hani akan bersuami lagi setelah dua puluh Tahun lebih menyandang status janda.


"Hani ! kenapa lama sekali !" sahut Uztadz Ikbal dari luae kamar, karna sudah setengah jam menunggu Hani belum juga keluar kamar. Gak mungkin 'kan adknya itu sedang merias wajahnya dengan make up ?, pikir Ustadz Ikbal.


"Iya Bang !" sahut Hani dari dalam.


Hani pun meralikan jilbabnya sebentar, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya, lalu membukanya.


Ustadz Ikbal tersenyum, satu tangannya terangkat mengusap kepala Hani. Wajah adiknya itu nampak sedikit pucat, karna terlalu gugup. Ustadz Ikbal pun menarik tubuh Hani ke dalam pelukannya. Mungkin adiknya itu butuh kekuatan darinya.


"Kamu boleh menolaknya, jika nanti tidak cocok di hati !" ucap Uztadz Ikbal tersenyum sembari mengusap usap punggung Hani.


Hani hanya diam saja dan menggigit bibir bawahnya.


Ustadz Ikbal menautkan satu tangannya ke selah jari Hani. Tangan adiknya itu terasa sangat dingin, seperti baru memegang es batu. Ustadz Ikbal pun melangkahkan kakinya, membawa Hani keluar dari rumah peninggalan Kakek mereka itu tanpa melepas rangkulannya.


Sampai di depan rumah Ustadz Ikbal, Hani menghentikan langkahnya, mendongakkan kepalanya ke wajah Ustadz Ikbal. Hani menghela napasnya, Hani benar benar sangat gugup melihat banyaknya sendal dan sepatu di depan rumah Ustadz Ikbal.


"Laki laki itu membawa sebagian keluarganya !" jawab Ustadz Ikbal mengerti akan tatapan adiknya itu." Keluarganya sekalian ingin berkunjung ke pesantren ini, melihat lihat pesantren ini apakah cocok untuk anak anak dan cucu cucu mereka" lanjut Ustadz Ikbal lagi, tersenyum.


Ustadz Ikbal menuntun Hani kembali melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Saat akan melangkah masuk ke dalam rumah, Hani menghentikan langkahnya lagi. Melihat orang orang yang berada di dalam rumah.


Dug dug dug dug....!


Jantung Hani langsung berdetak lebih kencang lagi, sampai rasanya mau copot. Hani melepas tubuhnya dari rangkulan Ustadz Ikbal, dan menajatuhkan tubuhnya ke lantai, Hani menangis, Entah ? apa yang membuat dia menangis melihat salah satu sosok yang berada di ruang tamu itu.


Ustadz Ikbal pun, langsung membantu adiknya itu berdiri, membawanya ke dalam pelukannya, memeluk tubuh itu dengan erat.


"Assalamu alaikum Ukhti Hani !" sapa seseorang itu sudah berdiri di depan Hani dan Usradz Ikbal.


.


.