Brother, I Love You

Brother, I Love You
191. Bershadaqoh



"Sayang !"


Queen dan Nimas langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


"Apa ?" cetus Queen


"Kamu melukai Angle ?"tanya Orion, berjalan mendekati Queen.


"Angle itu sebenarnya siapanya bang Orion ?. Kenapa dia bisa langsung melapor kepada bang Orion ?, bukan melapor sama dosen ?" tanya balik Queen.


"Tidak seharusnya Angle langsung melaporkan hal sepele kapada bang Orion bukan ?" tambah Queen lagi.


"Angle itu putri Om Farhan, sahabat Papa !" jawab Orion tersenyum, melihat wajah cemburu Queen. Orion pun mendudukkan tubuhnya di samping Queen.


"Abang hanya ingin memastikannya, kalau Queen tidak melakukan tindak kekerasan kepadanya sayang !" ucap Orion mengusap kepala Queen dari belakang.


"Queen akan benar benar melukainya, jika dia terus terusan menggaggu ketenanganku !" cetus Queen.


Orion malah tertawa cekikikan.


"Apa kamu sudah lupa dengan Angle ?" tanya Orion lagi.


"Aku gak mengenalnya sama sekali !" cetus Queen.


"Yakin ! kamu gak mengenalku ?"


Queen langsung mengalihkan pandangannya ke arah Angle yang datang kembali ke kebun Bunga miliknya.


"Ngapain lagi kamu datang kesini ?" ketus Queen menatap tak suka kepada Angle.


"Ngapain lagi kalau bukan untuk menggoda suamimu !" jawab Angle, mendudukkan tubuhnya di samping Orion.


Hidung langsung saja mengembang, dan langsung memberikan baby Syauqi kepada Orion. Queen berdiri dari tempat duduknya, mendekati Angle dan langsung menarik rambutnya.


"Dasar pelakor !" maki Queen, berbicara merapatkan gigi giginya.


"Bukankah dulu kamu juga merebut bang Orion dari pacarnya ?" balas Angle, menarik balik rambut Queen.


"Apa masalahmu ?, aku merebutnya bukan darimu !" ucap Queen lagi.


"Nimas ! tolong pegangin Syauqi, bisa bahaya kalau keduanya di biarkan saling menarik rambut" Orion memberikan baby Syauqi kepada Nimas.


Kemudian Orion langsung memeluk Queen, dan berusaha melepas tangan Queen dari rambut Angle.


"Lepas sayangku ! cintaku !, Angle itu temanmu waktu kecil masa kamu lupa ?" tanya Orion.


"Iya Queen !, sakit tau !, ternyata kamu gak berobah !, masih aja posesif sama bang Orion" ucap Angle yang sudah melepas tangannya dari rambut Queen.


"Rasain ! kenapa membuatku kesal !" cetus Queen, melepas tangannya dari rambut Angle.


Kemudian Queen tersenyum, dan langsung memeluk Angle."Aku kangen sama kamu tau !, kenapa gak pernah datang kesini lagi ?" tanya Queen.


"Papa gak ngijinin, katanya aku masih kecil untuk di lepas sendiri !" jawab Angle membalas pelukan Queen.


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, masih suka membuatku kesal" ujar Queen melepas pelukannya.


"Masa kamu gak bisa mengenali aku ?" tanya Angle.


"Beda tau wajah asli sama di foto !" jawab Queen.


Angle berdecak," Apa bedanya ?, aku aja bisa mengenalimu !."


"Kamu tinggal dimana ?, kenapa gak datang ke rumah ?" tanya Queen.


"Aku tinggal di rumah Nenek, aku ingin memberikan kejutan untukmu" jawab Angle tersenyum.


"Jadi kalian bekerja sama untuk mengerjaiku ?" sungut Queen.


"Kami berhasil 'kan ?"


"Kamu seriur hanya mengerjaiku 'kan ?. Takutnya kamu benaran ingin jadi pelakor seperti tante Frisilia" ujar Queen tak berperasaan.


Angle memutar bola matanya malas," Aku naksirnya sama Syauqi, dia lebih tampan dari bang Orion !"balas Angle naik ke atas gajebo, mengambil baby Syauqi dari gendongan Nimas.


"Iya dong !, Syauqi kami ciptakan dari lubuk tubuh kami yang paling dalam !" celetuk Orion bangga.


Ketiga gadis remaja itu sama sama memutar bola mata mereka malas.


"Dari lubuk hati Pak Orion !" Nimas membenarkan kalimat Pak Direk tampan itu.


"Kalau dari lubuk hati hanya bisa mengeluarkan kata kata. Tapi kalau dari lubuk tubuh, bisa mengeluarkan anak !" sangkal Orion.


"Terserah bang Orion ajalah !" ucap Angle.


"Bagaimana kabar Om Farhan dan Tante Winda ?" tanya Queen.


"Mereka baik baik aja !" jawab Angle.


"Sayang ! abang kembali keruangan ya !" pamit Orion, mengecup pipi Queen dari samping, lalu pergi.


"Bang Orion ! kok aku gak di cium ?" sungut Angle.


Orion memutar tubuhnya kembali ke arah gajebo." Minta di cium Syauqi aja sebagai gantinya" jawabnya.


Angle langsung mengerucutkan bibirnya.


"Gak usah sok imut, nih ! biar Syauqi yang cium !" ujar Queen, mendekatkan wajah Syauqi yang sudah berada di gendongannya ke wajah Angle.


Bayi berusia satu bulan lebih itu, pun tersenyum mengeluarkan air liurnya. Seperti senang di kasi mencium cewek cantik.


"Ganjeng !" gemas Queen menarik hidung baby Syauqi, yang selelu murah senyum kepada siapa pun.


Angle tertawa cekikikan," Sepertinya sifatnya mirip dengan bang Orion !" ucapnya.


"Dia mirip sepertimu ! suka menyebalkan !" sungut Queen dengan wajah berbinar.


.


.


"Berapa hari baru Habib kembali ke sini ?" tanya Yumna cemberut manja.


"Tiga hari sayang !" jawab Reyhan, memakaikan baju kemeja berwarna abu abu ke tubuhnya.


Yumna yang duduk di pinggir kasur, berdiri menghampiri Reyhan untuk membantu Reyhan mengancing baju kemejanya.


"Janji Habib gak ngelirik cewek lain di luar sana !" ucap Yumna.


Reyhan menarik pinggang Yumna merapat ke tubuhnya." Wanita seperti apa lagi yang habib inginkan ?. Jika semua yang kuharapkan ada pada diri wanitaku ini !" tanya Reyhan.


Reyhan mengangkat dagu Yumna dengan jari telunjuknya."Wajah cantikmu ini sudah berhasil mengendalikan Duniaku sayang !."


Bukh !


"Aw !" keluh Reyhan, karna Yumna memukul dadanya.


"Gombal !"


Reyhan memutar tubuh Yumna, lalu memeluknya dari belakang, dan menjatuhkan dagunya di bahunya."Menggombal istri itu pahala sayang !" ucap Reyhan, mengecup pipi Yumna dari samping.


Yumna melepas tangan Reyhan dari perutnya, kemudian memutar tubuhnya kembali ke arah Reyhan."Habib pengen tau pahala apa yang lebih besar dari menggombal ?" tanyanya tersenyum.


"Apa ?"


Yumna pun menjinjitkan kakinya, mendekatkan bibirnya ke bibir Reyhan, dan langsung mengecupnya.


"Menciumnya !" jawab Yumna.


"Yang lebih besar lagi ?" tanya Reyhan lagi, mengecup ngecup singkat bibir Yumna.


"Bershadaqoh di atas ranjang !" jawab Yumna tersenyum penuh arti, sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Oh sayang ! jangan sekarang ! Habib harus segera berangkat !"ucap Reyhan, semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Yumna.Yumna selalu saja berhasil meruntuhkan imannya.


"Yumna hanya menjawab pertanyaan habib, tapi kalau Habib ingin bershadaqoh sekarang, Yumna dengan senang hati menerimanya" ucap Yumna.


"Kamu itu sangat menggemaskan Almira sayangku !. Selalu berhasil menggoda Habib !, coba habib gak harus berangkat sekarang. Pasti habib sudah memakan istri habib yang cantik ini sampai habis tak tersisa" balas Reyhan.


"Sungguh sangat di sayangkan !" ucap Yumna melingkarkan kedua tangannya ke leher Reyhan." Tapi untuk sementara bagaimana kalau kita melakukan hal yang kecil saja ?" ucapnya lagi. Yumna pun mengecup bibir Reyhan.


"Dengan senang hati sayang !" balas Reyha, kemudian membalas mengecup bibir Yumna, menciumnya mesra, yang langsung di balas Yumna tidak kalah mesranya. Hingga bibir keduanya terasa kaku, baru mereka melepas pagutan mereka.


Reyhan dan Yumna sama sama tersenyum, saling berpandangan dengan memancarkan sinar cinta dari mata masing masing. Reyhan pun mengangkat satu tangannya, melap sudut bibir Yumna yang basah bekas ciumannya.


"Ayo antar Habib !" ajak Reyhan, kemudian berjalan ke arah kasur, mengambil kain nikap Yumna yang terletak di atas kasur. Kemudian kembali ke arah Yumna, mengikatkan kain penutup wajah itu ke kepala Yumna.


Setelah selesai mengikatkannya, Reyhan pun melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Yumna, menuntunnya berjalan ke arah pintu.


Sampai di lantai bawah, tak lupa Reyhan untuk berpamitan kepada Ibu mertuanya.


"Bu ! Reyhan berangkat dulu !, titip istri Reyhan Bu !, dan salam kepada adik adik dan Papa mertua !" pamit Reyhan, menyalam tangan Ibu Tika.


"Iya Nak !, trimakasih juga sudah mengijinkan Yumna untuk tinggal lebih lama lagi di sini !" balas Ibu Tika.


"Yumna adalah putri di rumah ini, akan selamanya seperti itu Bu !. Reyhan akan selalu memberi ijin Yumna untuk melepaskan rindunya kepada rumah ini" balas Reyhan tersenyum.


"Trimakasih Nak !" ucap Ibu Tika lagi.


"Sama sama Bu !, kalau begitu Reyhan pergi dulu Bu !" balas Reyhan sekalian pamit sekali lagi.


"Momy ! Yumna antar Habib dulu ke bandara !" pamit Yumna, menyalam tangan Ibu Tika.


"Iya nak ! hati hati di jalan !" balas Ibu Tika tersenyum.


Yumna pun mengantar Reyhan ke bandara, untuk tebang ke kota lain mengechek proyek yang sedang berjalan.


.


.