Brother, I Love You

Brother, I Love You
50. Pingsan



"Oh ! ternyata kamu di sini brengs*k ?" monolog Orion,menyunggingkan senyumnya ke samping, melihat bocah brengs*k itu terbaring lemah tak berdaya di atas brankar. Orion memutar pandangannya ke seluruh ruangan mencari benda apa yang jatuh sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Orion tidak menemukan apa apa terjatuh ke lantai.


"Bagaimana rasanya peluru panas itu melesat menembus jantungmu Ismail Marjuki ?, sakit tidak ?. Kemarin itu aku berharap supaya kamu mati saja. Tapi doaku tidak terkabul !" monolog Orion lagi, berharap Ismail bisa mendengarnya.


"Lihatlah ! aku bisa bebas meski aku sudah menembakmu !" Orion menjeda kalimatnya, memandang wajah Ismail dengan menyipitkan sebelah matanya. Ada amarah dan dendam di hati Orion, karna tidak terima istrinya di lecehkan. Orion merasa harga dirinya di injak injak oleh bocah itu, karna sudah menyentuntuh istrinya." Ingin rasanya aku menghabisimu sekarang juga !. Ah ! tapi sayang.. aku bukan pembunuh" tambah Orion.


"Aku akan menuntutmu dengan pasal berlapis, sehingga kau akan terkurung lama di dalam penjara, sampai kau membusuk." Orion menjeda kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi."Dan setelah kau keluar, aku akan membalas semua perbuatanmu !. Aku tidak akan membuat hidupmu bisa tenang selama kamu masih hidup." Orion berbicara dengan menekan nada setiap katanya. Sungguh ! Orion sangat membenci bocah yang terbaring lemah di atas brankar itu.


Kemudian Orion pun membalik badannya, melangkahkan kakinya keluar.


Off


.


.


Tangan Orion sudah di borgol polisi yang menjemputnya. segera membawa Orion keluar dari rumah itu.


"Bang Orion..!"


Tangis Queen berlari ke arah Orion dan langsung memeluknya.


"Suamiku gak mungkin membunuh pak !..Kenapa dia di bawa ?." Queen menahan tubuh Orion yang akan di bawa pergi.


Orion yang tidak bisa membalas pelukan Queen karna tangannya di borgol pun, hanya bisa mencium kening Queen.


"Jaga dirimu dan anak kita baik baik ya !" hanya itu kata yang bisa Orion ucapkan.


"Bang Orion jangan tinggalkan Queen lagi !" tangis Queen terisak. Orion tidak bisa menjawab, ia pun menumpahkan air matanya, tidak tega melihat istrinya.


"Maaf saudari Queen !, kami harus membawa suami anda !. Karna kami tidak bisa memberikan toleransi lagi kepada saudara Orion !. Kami harus melakukan pemeriksaan kepada saudara Orion, Jika saudara Orion nantinya terbukti tidak bersalah, maka kami pun akan membebaskannya" ucap Polisi itu, menarik tubuh Orion membawanya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil polisi.


Untuk saat ini, tidak ada yang bisa melakukan pembelaan kepada Orion. Karna mereka tidak punya bukti dan saksi.


Brukk !


"Mama !" Elang langsung berlari mendekati Mama Bunga yang pingsan terjatuh ke lantai. Begitu juga dengan Papa Arya.


"Sayang !" panggil Papa Arya, langsung mengangkat tubuh istrnya ke pangkuannya.


"Elang ! ambilin obat Mama di mobil Papa" suruh Papa Arya. Tanpa menjawab, gegas Elang pun berlari keluar masuk ke dalam mobil Papa Arya.


"Queen !"


Papa Gandi langsung menangkap tubuh Queen yang limbung dan hampir terjatuh. Lalu mengangkatnya membaringkannya ke sofa. Nampak Queen pingsan tak sadarkan diri. Mama Vani Pun langsung mendekati Queen yang sudah di baringkan di atas sofa.


"Queen !" tangis Mama Vani, mengusap kepala putrinya. ia tau putrinya itu shok dengan penangkapan Orion yang tiba tiba. Kenapa begitu berat cobaan putrinya itu yang mencintai Orion. Lagi dan lagi, cinta Queen mendapat ujian. Mereka sudah berpisah cukup lama, apakah putrinya itu akan berpisah lagi ?.


Melihat itu, Papa Arya menghela napasnya, kepalanya terasa pusing, menghadapi masalah yang menimpa anaknya. Dan melihat istri dan menantunya pingsan bersamaan. Papa Arya pun membawa istrinya masuk ke salah satu kamar yang berada di lantai bawah rumah Orion. Dan membaringkannya perlahan di atas kasur.


"Ini obatnya Pah !" Elang memberikan obat dan air minum kepada Papa Arya. Yang langsung di terima Papa Arya.


"Pergilah menyusul abangmu ke kantor polisi, untuk mendampinginya. Setelah keadaan di sini membaik, Papa akan menyusul" perintah Papa Arya kepada anak ke tiganya.


"Iya Pah !, kalau begitu Elang pergi dulu" pamit Elang, menyalam tangan Papa Arya, menempelkannya ke keningnya.


"Hati hati ! jangan ngebut !" seru Papa Arya, setelah Elang melangkahkan kakinya.


Papa Arya memandangi wajah istrinya yang terlelap. Membungkukkan tubuhnya lalu mencium kening wanita yang sudah menemaninya itu selama 28 Tahun.


"Sampai kapan kamu seperti ini sayang ?. Kuatkanlah hatimu !, jangan lemah seperti ini. Karna hidup tidak akan luput dari cobaan dan ujian" ucap Papa Arya, dengan mata berkaca kaca.


Selalu seperti itu, jika tidak pingsan dan diam saja, istrinya itu akan menangis berjam jam, setiap ada masalah yang menimpa mereka.


Di ruang tamu, Queen membuka matanya perlahan, setelah Papa Gandi mengoleskan minyak kamu pituh ke hidung Queen. Dan Queen pun langsung menangis terisak mengingat Orion yang di bawa polisi.


"Papa ! Bang Orion Pah !. Queen yakit bang Orion tidak mungkin membunuh Pa !" tangis Queen.


"Tenanglah !, ingat ada cucu Papa di dalam perutmu. Nanti dia ikut sedih, melihat Ibunya menangis. Papa akan membantu menyelidikinya, Papa juga yakin, Orion pasti tidak bersalah" balas Papa Gandi, menghapus air mata yang membasahi pipi putrinya.


Tidak sanggup menerima kenyataan, lagi..Queen pingsan lagi. Sepertinya ia merasa lelah, jika harus berpisah lagi dengan Orion, laki laki yang sangat di cintainya.


"Assalamu alaikum Om ! Tante !"


Mama Vani, Papa Gandi, dan ke tiga sahabat Queen, langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.


"Ghissam ! kenapa bisa Orion sebagai tersangka ?" tanya Papa Gandi langsung. Melihat Dokter Ghissam lah yang datang.


"Ghissam juga gak tau Om !, semua masih proses penyelidikan. Tapi menurut Ghissam ada yang janggal di ruangan perawatan Ismail itu Om. jawab Ghissam.


"Queen pingsan, tolong periksa keadaannya !" pinta Papa Gandi kepada anak sahabatnya itu.


"Baik Om !" balas Dokter Ghissam, melangkahkan kakinya mendekati Queen yang terbaring di sofa.


.


.


Di kantor polisi Orion pun menjelaskan, dari awal kenapa bisa ia masuk ke ruang perawatan Ismail. Dan membantah tuduhan polisi kepadanya, kalau dia tidak membunuh dan bahkan tidak menyentuh Ismail meski hanya seujung kuku.


"Bukti visum memang tidak menemukan stik jari saudara Orion di tubuh korban atau di selang oksigen korban. Tapi dari rekaman cctv, mengatakan dengan jelas, saudara Orionlah yang terakhir kali masuk ke ruangan itu" jelas polisi itu lagi.


"Saya tidak membunuhnya !" bela Orion meyakinkan.


"Maaf saudara Orion !, kami harus tetap menahan saudara sampai keluarga saudara Orion bisa mencari bukti, kalau saudara Orion terbukti tidak bersalah. Dan untuk mempermudah proses penyidikan"ucap Polisi yang mengintrogasi Orion itu.


Orion hanya bisa menghela napas pasrah, dia dan istrinya adalah korban bocah brengs* k itu. Kenapa menjadi dirinya yang menjadi tersangka. lagian ia sama sekali tidak membunuh, dan polisi pun tidak menemukam jejaknya di tubuh korban. Kenapa ia harus di tahan.


.


.


Di rumah sakit, di ruangan Dokter Aldo,Reyhan pun terus melakukan peretasan pada seluruh rekaman cctv di seluruh lingkungan rumah sakit itu. Untuk mencari orang yang mencurigakan, masuk ke dalam rumah sakit itu. Reyhan tidak percaya, jika abangnya Orion melakukan hal sekeji itu.


"Bagaimana Reyhan ?" tanya Dokter Aldo, masuk ke dalam ruangannya.


"Ada yang janggal Om !" jawab Reyhan. Dokter Aldo pun mendekati Reyha yang duduk di sofa ruangannya. Mendudukkan tubuhnya di samping Reyhan, melihat ke arah layar laptop di atas meja.


.


.