
Queen dan Sirin masuk ke dalam rumah, mereka melihat suami mereka sama sama berbaring di lantai, dengan wajah nampak lelah.
"Bang Orion !"
"Arsen !"
Kedua gadis remaja itu sama sama mendekati suami mereka yang terbaring di lantai.
"Kalian kenapa ?" tanya Queen kawatir.
"Kalian dari mana Ha ?" Orion langsung menjewer telinga Queen. Gemas dengan istrinya yang pergi jalan jalan tanpa ijin darinya.
"Tadi dede bayinya pengen jalan jalan sebentar" Queen berucap manja dengan bibir mengerucut. Supaya Orion tidak memarahinya.
"Kaki abang sakit Queen, pijatin ya !. tadi abang terpaksa berlari karna ketemu dengan cicitnya anakonda" ucap Orion. Ia benar benar merasa kakinya sidikit sakit.
"Tunggu sebentar, biar Queen buatin air hangat buat rendam kaki bang Orion" Queen langsung berdiri dari samping Orion berjalan ke arah dapur untuk memasak air.
"Arsen tertidur, karna baru minum obat. Tadi dia merasa dadanya sedikit nyeri !" ucap Orion kepada Sirin." Mungkin karna tadi kami berlari cukup jauh !" ucap Orion lagi.
Wajah Sirin meneduh memandangi wajah Arsenio yang terlelap di lantai. sirin merasa bersalah karna sudah memaksa Arsenio memenuhi ke inginannya.
Kalau berlari saja dia tidak kuat, bagaimana kalau untuk bekerja ?, Batin Sirin.
"Trimakasih bang Orion !" ucap Sirin tersenyum.
"Apa ?" Orion mengerutkan keningnya.
"Amplop !, sering sering saja !" jawab Sirin sumiringah.
Orion mengulurkan tangannya mengusap kepala Sirin." kamu juga adik abang, abang juga menyayangimu seperti adik adik abang yang lain. Jangan sungkan meminta bantuan abang" ucap Orion, Sirin menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian Queen datang dari dapur membawa ember kecil berwarna hitam, berisi air hangat yang sudah di campur dengan garam.
"Bang Orion ! pindah ke sofa !" suruh Queen.
"Iya cintaku sayangku !" Orion langsung bangun dari lantai duduk di sofa. Setelah Queen meletakkan air hangatnya di lantai, Orion langsung memasukkan ke dua kakinya.
Malam hari ke dua pasangan suami istri itu sudah duduk lesehan di lantai ruang tamu rumah Sirin dan Arsenio. Masakan baby bambu itu pun sudah tersaji di atas mangkok. Queen dan Sirin memakannya dengan lahap, sangat enak menurut mereka. Lebih enak dari daging atau ayam.
"Bang Orion ! besok ambil lagi ya ke hutan !" ucap Queen terdengar kumut kumur, karna mulutnya penuh dengan rebung.
"Ia sayang ! makanlah yang banyak, besok sekalian abang akan memindahkan rumputnya ke belakang rumah kita" jawab Orion santai, tak ingin merusak suasana makan malam mereka yang begitu nikmat bagi kedua remaja tekdung itu.
Kalian pikir gampang mengambilnya ?, orang hapir setengah mati ketakutan karna ketemu cicit anakonda, sama kekek jin di hutan itu. Batin Orion
"Makannya pelan pelan aja sayang !"tegur Arsenio, melihat Sirin makan dengan begitu lahap,tapi Arsenio senang melihatnya.
"Sisain buat besokku pagi ya !" ucap Sirin kumur kumur karna mulutnya penuh makanan.
"Pasti basi sayang !, apa lagi ini kuah santan, kita gak punya kulkas untuk mengawetkannya" balas Arsenio. Wajah Sirin langsung sedih dan menundukkan kepalanya.
Melihat itu Orion dan Queen menghela napasnya, kasihan dengan Sirin. Coba saja Arsenio mau kembali pulang ke rumah orang tua mereka, hidup Sirin tidak akan memprihatinkan seperti sekarang ini. Dan Arsenio juga terlalu gengsi dan keras kepala, tidak mau sama sekali menerima uluran tangan dari orang tua atau saudaranya. Jika bandelnya menurun dari Mama Bunga, keras kepalanya menurun dari Papa Arya. Sering kali kemauannya tak terbantahkan.
Arsenio menarik Sirin ke dalam pelukannya, mengusap usap pungngung Sirin." Aku akan menyuruh Pak mandor di kebun, untuk mengambilkannya" ucap Arsenio.
Sirin menganggukkan kepalanya, ia tak ingin menyuruh Arsenio lagi langsung mengambil sendiri dari hutan. Karna sudah membuat Arsenio merasakan nyeri di bekas operasinya.
.
.
Hari pun sudah berganti, Queen dan semua murid murid kelas tiga SMA HARAPAN sudah selesai melaksanakan ujian kelulusan, mereka pun sudah di liburkan, tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Dan Hari ini Queen dan Orion akan berangkat ke luar Negri, untuk menjemput buah hati mereka, Boy Angkasa.
"Sayang !, baju di bawa beberapa stel aja untuk jaga jaga di perjalanan. Di sana masih banyak bajuku tertinggal. Bajumu juga, bawanya sedikit aja, nanti kita bisa beli di sana" ujar Orion, kepada Queen yang sibuk berkemas.
"Iya ! ini gak banyak kok !" jawab Queen, tanpa menoleh ke arah Orion.
Orion yang duduk di sofa, beridiri dan melangkahkan kakinya memdekati Queen yang sibuk menuyun barang barang ke dalam travel bag. Dan langsung memeluk Queen yang membungkuk dari belakang, kedua tangannya mere*** kedua gundukan Queen.
"Ikh ! bang Orion !" risngis Queen.
"Cepat selesaikan sayang !, abang ingin satu ronde, sebelum kita berangkat" bisik Orion kr telinga Queen.
"Makanya bantuin !" sungut Queen, dari tadi bang Orionnya itu membiarkannya membereskan barang barang bawaan mereka semua.
"Abang 'kan sudah bilang, jangan bawa banyal baju, cukup lima stel aja, tapi itu koper sudah hampir penuh" ucap Orion lagi, melepas pelukannya, kemudian memeriksa isi koper mereka, dan mengeluarkan sebagian isinya yang kira kira tidak perlu. Setelah selesai, Orion pun langsung menutup koper itu.
"Ayo sayang ! selama ujian aku sudah membebaskanmu dari tugas seorang istri. Sekarang ayo lakukan tugasmu lagi." Orion menarik tangan Queen, membawanya naik ke atas tempat tidur, dan langsung menyambar bibir Queen, menciumnya dalam dan sesekali melepaskan pagutannya.
Setelah puas berciuman, Orion pun membuka bajunya, dan juga baju Queen sampai tak ada yang tersisa. Dan pagi menjelang siang itu, terjadilah pergulatan panas antara suami istri yang sudah saling mencintai dari jaman dahulu kala itu.
waktu berlalu
Kini sepasang suami istri itu, sudah keluar dari dalam kamar mandi, hanya dengan memakai handuk di tubuh mereka.
Wajah Queen nampak cemberut, dan terlihat ke kelelahan. Bang Orionnya itu benar benar keterlaluan. katanya tadi satu ronde, tapi malah meminta jatah sampai tiga ronde setelah di kamar mandi. Queen merasa lututnya sudah lemas, dan sedikit gemetaran.
"Nanti abang akan kasih upah setelah kita sampai di luar Negri" ucap Orion memeluk Queen dari belakang, mengecup pipinya dari samping.
"Apa ?"
"Nonton konser, aku sudah menyuruh Jhon membeli tiketnya" jawab Orion.
"Serius bang Orion ?" wajah Queen langsung berbinar cerah. Ia akan menonton konser di Negara Hollywood itu, bermimpi saja Queen tidak pernah.
"Iya cintaku !" ucap Orion tersenyum, mengeratkan pelukannya ke tubuh Queen.
Queen memutar tubuhnya ke arah Orion, membalas pelukannya."Aku mencintai bang Orion..!" seru Queen tersenyum senang, wajahnya nampak polos di mata Orion. Seperti wajah Queen di waktu masih kecil.
"Abang juga mencintaimu sayang !" balas Orion, mencium kening Queen." Ayo kita cepat berpakaian, biar kita segera berangkat ke bandara" ucapnya, Queen menganggukkan kepalanya dan langsung melepas pelukannya.
.
.
"Sirin ! kamu dapat duit dari mana sebanyak ini ?, siapa yang memberikannya padamu ?" tanya Arsenio. Menunjukkan amplop tebal berwarna coklat berisi uang di selipan baju Sirin di dalam koper, saat ia mencari jaket Sirin di dalamnya.
"Siapa yang memberikanmu uang Sirin ?, apa itu Queen ?" tanya Arsenio lagi menekan setiap katanya.
"Iya !" jawab Sirin hampir tak terdengar.
Arsenio menghela napasnya," kamu tidak menghargaiku Sirin. Ya ! sekarang aku belum mampu memberikan kehidupan yang layak untukmu. Tapi tidak bisakah kamu bersabar ?, memberikanku kesempatan ?. Haruskah kamu jadi pengemis untuk merasakan hidup enak ?" cerca Arsenio.
"Aku tidak memintanya Arsen !"
"Kamu menerimanya begitu saja !"
"Kita tidak punya uang, apa salahnya aku menerimanya Arsen ?. Aku menerimanya karna mereka keluarga kita, jika itu orang lain yang memberikannya, aku juga pasti menolaknya" cerca Sirin. Kenapa suaminya itu tinggi hati sekali, pikir Sirin.
"Aku tidak suka kamu menerima bantuan uang dari siapapun Sirin. Aku akan mencarinya untukmu !. Dan juga apa kamu tidak paham, kenapa Papa mengusir kita ?. Papa ingin melihat seberapa mampu aku bertanggung jawab kepadamu. Bukan hanya sekedar hukuman Sirin. Papa ingin aku berusaha sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Apa kamu tidak mengerti Sirin ?, Papa mengusir kita dengan memblokir atm kita. Papa ingin kita menanggung resiko dari kesalahan kita, dengan sengaja menjauhkan hidup kita dengan kemewahan yang selama ini orang tua kita berikan. Apa kamu tidak mengerti itu ?. Dan..mengertilah posisiku Sirin !, hargai aku sebagai suamimu. Ya ! memang sekarang aku belum mampu, tapi aku akan berusaha membahagiakanmu Sirin. Kita harus punya harga diri Sirin, meski pun kita miskin" ucap Arsenio dengan berlinang air mata.
Hatinya masih terluka, di usir Papa Arya dari rumah dalam keadaan tidak baik baik saja. Hati Arsenio sangat sakit untuk itu, merasa menjadi anak yang terbuang. Arsenio ingin menunjukkan kepada orang tua dan keluarganya kalau dia mampu.
"Cukup ini yang terakhir kamu menerima uang dari keluargaku atau keluargamu" ucap Arsenio, meletakkan amplop uang itu ke tangan Sirin." Itu jaketnya, pakailah !, aku tunggu kamu di mobil." Arsenio langsung keluar dari dalam kamar, setelah menunjuk jaket yang dia ambil dari dalam koper.
Hari ini mereka akan pergi chek up kandungan Sirin. Tapi tidak ke rumah sakit, melainkan ke tempat praktek Dokter kandungan, supaya biayanya lebih murah.
Arsenio masuk ke dalam mobilnya, menutup pintunya dengan kencang, melampiaskan kekecewaannya ke pintu mobil itu. Di dalam mobil, Arsenio mengusap kasar wajahnya, kemudian menyugar kasar rambutnya ke belakang.
Sirin masuk ke dalam mobil, duduk di samping Arsenio. Dan tanpa bicara, Arsenio langsung melajukan kenderaannya keluar dari komplek perumahan sederhana tempa tinggal mereka.
Hanya perjalanan kurang lebih sepuluh menit, tujuan mereka sudah sampai. Arsenio menghentikan laju kenderaannya di sebuah rumah Dokter yang menerima pasien, untuk chek kandungan dan lain sebagainya.
Arsenio keluar dari dalam mobil, begitu juga dengan Sirin mengikuti langkah Arsenio masuk ke rumah Dokter praktek itu. Di dalam orang sudah banyak yang mengantri, Arsenio pun berjalan ke meja pendaftaran, untuk mengambil no antri.
Sirin diam saja, dan menghela napasnya, karna dari tadi Arsenio mendiamkannya. Sirin pun mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu di ruangan yang tidak terlalu luas itu. Melihat pasangan suami istri yang mengantri, Sirin bisa menilai, kalau Dokter yang membuka praktek di rumah sendiri itu, sepertinya Dokter bagus dan berpengalaman.
Setelah mendapat no antri, Arsenio menyusul Sirin duduk di bangku tunggu. Mengecup pelilis Sirin dari samping.
"Mamaf !" ucap Arsenio
Sirin mengarahkan pandangannya ke wajah Arsenio.
"Aku mencintaimu !" bisik Arsenio sembari terseyum.
"Aku tau itu ! meski pun kamu sering menyebalkan dan tidak ada romantisnya" Sirin berbicara dengan mengembangkan seyumnya.
"Kamu bilang, aku tidak ada romantisnya !. Tapi lihat ini !" Arsnio meletakkan tangannya di perut Sirin." Di sini sudah ada hasil keromantisanku" ucapnya." Kalau aku tidak romantis ?, apa menurutmu ?, kamu akan terbuai waktu itu, sehingga kau tak mampu menolak belaianku" bisik Arsenio lagi ke telinga Sirin.
Wajah Sirin memerah karna malu, ia pun mencubit pinggang Arsenio, membuat Arsenio tiba tiba menringis.
"Aw sayang ! kok di cubit ?."
"Jangab bicara sembarangan !" tegur Sirin. Kan malu kalau sampai ada pengunjung yang mendengarnya.
"Ibu Sirin !" seru asisten Dokter dari pintu ruang pemeriksaan.
Arsenio dan Sirin pun langsung berdiri dari tempat duduk mereka, berjalan masuk ke ruangan periksa.
Tanpa mereka sadari, mereka menjadi pusat perhatian pengunjung rumah praktek itu. Karna melihat wajah mereka yang masih remaja, tapi sudah akan segera punya anak. Pikiran pikiran buruk tentu berhasil menyingahi kepala mereka.
"Silahkan duduk Pak ! Bu !" ucap asisten Dokter itu kepada Arsenio dan Sirin. Meski dalam hati bingung bertanya tanya, apa benar kedua remaja itu suami istri yang akan memeriksakan kandungan.
"Trimakasih suster !" balas Arsenio, setelah mendudukkan Sirin, ia pun mendudukkan tubuhnya di samping Sirin, berhadapan dengan seorang Dokter wanita yang tak muda lagi.
"Sudah pernah periksa ?" tanya Dokter wanita itu.
"Sudah Dok !" jawab Sirin.
Dokter itu mengangguk saja," Ayo ibunya berbaring di sana, biar kita periksa kesehatan janimnya" suruh Dokter itu, kemudian berdiri dari kursinya.
Begitu juga dengan Sirin dan Arsenio, mereka berjalan ke arah bad pemerisaan. Arsenio pun membatu Sirin naik dan membaringkan tubuhnya.
Suster tadi langsung menutup bagian bawah tubuh Sirin, kemudian menyibak baju Sirin sampai menampakkan permukaan perutnya, lalu mengoleskan jel ke pemukaan perut bagian bawah Sirin.
"Kita melakukan USG ya !" ucap Dokter itu, kemudian meletakkan alat usg ke perut Sirin dan menggerak gerakkannya.
"Kandungannya sudah berusia sembilan minggu ya Pak ! Bu !. Sehat dan semuanya normal" jelas Dokter itu.
Arsenio dan Sirin yang berpegangan tangan dari tadi, berpandangan. Sama sama tersenyum dengan wajah berbinar.
Usai melakukan USG, Sirin langsung turun dari atas bad pemeriksaan. Mereka kembali duduk ke kursi tadi, untuk mendengarkan penjelasan Dokter selanjutnya.
"Apa Ibunya ada keluhan seperti mual dan muntah ?" tanya Dokter itu.
"Iya Dok !" jawab Sirin.
"Di kehamilan trimester pertama itu bisaya ya !. Saya akan meresepkan vitamin buat ibunya, supaya bayinya tambah sehat" ucap Dokter itu sambil menulis resep vitamin di sebuah kertas kecil." Silahkan ditebus di farmasi ya !" ucapnya lagi, memberikan kertas resep itu kepada Arsenio.
"Trimakasih Dok !" balas Arsenio, mengambil kertas dari tangan Dokter itu.
"Sama sama" balas Dokter kandungan itu.
Arsenio dan Sirin pun segera keluar dari ruang pemeriksaan itu. Setelah menebus vitamin untuk Sirin, mereka langsung pulang.
"Sirin ! aku antar kamu ke rumah, aku langsung pergi ya !" ucap Arsenio, setelah melajukan setelah melajukan kenderaannya.
"Kemana ?" tanya Sirin.
"Cek lokasi untuk membuka usaha" jawab Arsenio, menghela napasnya, seperti masih enggan untuk menggunakan uang bantuan dana dari Papa Arya. Jika bukan karna Mama Bunga, Arsenio tidak akan mau menerima bantuan dana dari Papanya itu.
"Iya gak apa apa, tapi cepat pulang" jawab Sirin.
"Iya sayang !" Arsenio mengangkat satu tangannya mengusap kepala Sirin dari belakang, dan satunya lagi sibuk mengendalikan setir.
Di rumah sakit, sudah seminggu ini Dokter Ghissam menunggu kedatangan Sirin dan Arsenio untuk mengecek kandungan. Namun sampai hari ini adik dan adik iparnya itu tak kunjung datang.
Sepertinya kedua anak itu marah, karna di kasih hukuman. Batin Dokter Ghissam
.
.