
Queen memandangi wajah Boy yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
Kanapa kamu hadir dalam rumah tanggaku dan bang Orion Boy ?. Kenapa kamu harus menjadi anak dari bang Orion Boy ?. Kenapa Ibumu merampas hak milikku Boy ?. Kenapa kamu dan Ibumu merenggut kebahagiaanku Boy ?. Apa salahku kepadamu dan Ibumu ?. Bang Orion itu milikku !, kenapa kalian mendahuluiku ?. Batin Queen
Kamu tau Boy !, bersusah payah aku untuk mendapatkan bang Orion. Melakukan banyak hal untuk mendapatkan hatinya. Mengorbankan masa kecilku demi dapat memilikinya. Menahan rindu bertahun tahun, demi memperjuangkan apa yang sudah berhasil ku dapatkan. Tanpa tau salahku, kamu dan Ibumu merampas hakku. Merampas hak anak yang masih berada di dalam perutku. Batin Queen lagi
Katakan Boy !, kenapa aku harus menerimamu sebagai anakku ?.Batin Queen lagi, tak terasa air matanya keluar dari sudut matanya.
Aku tau Boy ! kamu tidak bersalah di sini. Tapi setiap melihatmu, aku tidak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi antara bang Orion dan Ibumu. Sampai kamu terlahir ke Dunia ini. Dan hadir di tengah tengah pernikahanku dan bang Orion. lanjut Queen lagi membatin.
"Momy...!, Boy mencintaimu Mom !" gumam Boy dengan mata terpejam, satu tangan dan kakinya terangkat seperti mencari cari tubuh Queen untuk di peluknya.
Melihat itu, Queen kembali mendekap tubuh Boy ke dalam pelukannya.
Baiklah Boy !, Momy akan menerimamu menjadi anak Momy. Tapi berjanjilah untuk menjadi kakak yang baik dengan anak yang berada di dalam perut Momy ini. batin Queen lagi
.
.
Pagi hari
Mama Vani keluar dari dalam kamarnya, berjalan ke arah dapur untuk memasak, menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak anaknya.
Saat melintasi ruang keluarga, Mama Vani mengerutkan keningnya, melihat Orion tertidur pulas di atas sofa.
Kapan ini bocah datang ke sini ?, batin Mama Vani, mendekati Orion di atas sofa.
"Orion ! bangun ! sudah pagi" Mama Vani mengoyang lengan Orion agak kuat.
Orion langsung terbangun, dan mengerjapkan matanya." Ma ! Queen sama Boy dimana Ma ?" gumam Orion tanpa membuka matanya.
Mama Vani mengerutkan keningnya, mengira Orion mengigau. Kenapa bisa Boy bersama Queen ?, pikirnya.
"Queen ada di kamarnya, Boy Mama gak tau !. Kapan kamu datang ke sini ?" tanya Mama Vani.
"Tadi malam bersama Boy Ma !. Boy di bawa Queen masuk ke kamarnya. Apa mereka belum keluar Ma ?" tanya Orion lagi.
"Belum !, ini masih subuh, mungkin Queen belum bangun" jawab Mama Vani.
"Ma ! bantu Orion membujuk Queen, supaya mau lagi sama Orion Ma !" Orion membuka kelopak matanya, menatap Mama Vani yang berdiri di sampingnya dengan tatapan mengiba.
"Mama sudah sering mencobanya, tapi tidak berhasil. Berusaha lah lebih keras lagi Orion. Buktikan kalau kamu benar benar mencintai putri Mama" balas Mama Vani.
"Bagaimana Orion mau berusaha Ma ?, kalau Queen tidak mau bertemu denganku !"
Mama Vani menghela napasnya." Seharusnya kamu mencegahnya saat akan meninggalkan rumah kalian. Bukan malah membiarkannya pergi begitu saja. Sekarang kamu sendiri yang susah membujuknya. Kamu sudah tau sendiri Queen itu keras kepala."
"Maaf Ma !, Saat itu Orion juga masih shok dengan kenyataan yang ada. Hati Orion juga terpukul Ma !. Orion juga merasa hina dengan apa yang sudah pernah terjadi dengan Orion dan Ibunya Boy Ma !. Belum lagi kenyataan Boy yang ku anggap anak angkat, ternyata darah dagingku sendiri. Orion juga sebenarnya sering merasa tak pantas lagi untuk Queen Ma. Tapi karna cinta, membuat Orion menjadi egois Ma !. Ini yang kutakutkan selama ini Ma !, jika Orion memberitahu keberadaan Boy lebih awal. Mungkin sudah sejak lama, rumah tangga kami sudah hancur Ma. Apa lagi, saat itu pernikahan kami tidak memiliki pondasi yang kuat, status kami hanya menikah sirih, dan LDR an. Mungkin benihku tidak akan tumbuh di rahim Queen, jika aku tidak menyembunyikan Boy sebelumnya" ungkap Orion jujur dari hatinya yang terdalam.
"Mama akan mengerti posisi kamu, tapi Queen, dia tidak akan mengerti itu. Seorang perempuan akan lebih mendahulukan perasaannya dari pada pikirannya. Lihatlah, meski dia marah, tapi dia masih mau membawa Boy tidur bersamanya. Tau kenapa ?, itu karna naluri keibuanya. Amarahnya langsung runtuh, melihat seorang anak kecil, mengemis kasih sayang darinya. Lebih sabarlah menghadapinya, Mama yakin, Queen masih mencintaimu. Dia hanya butuh waktu sendiri untuk merawat hatinya yang terluka" jelas Mama Vani.
"Orion minta maaf Ma !, sudah menjadi menantu yang mengecewakan. Tapi percayalah Ma !, sedikit pun tidak pernah terlintas di hati Orion untuk menghianati Queen Ma !. Orion sangat menyayangi Queen Ma !, Orion sangat mencintai Queen Ma !." ucap Orion, dengan uraian air mata.
Mama Vani mengulas senyumnya, mendudukkan tubuhnya di samping Orion yang terbaring di sofa. Kemudian mengusap kepala Orion. Sudah sangat lama ia tidak membelai kepala anak yang ikut besar di bawah asuhannya itu.
"Mama tau itu nak !, Jangan pernah lelah untuk memperjuangkan rumah tangga kalian" ucap Mama Vani.
Orion mengambil tangan Mama Vani yang membelai rambutnya. Membawanya ke bibirnya, lalu mengecupnya." Orion janji Ma !, Orion akan mempertahankan rumah tangga kami. Orion janji Ma ! Orion akan menyanyangi dan mencintai Queen selamanya. Orion janji akan setia selamanya Ma !. Orion janji akan menjaga putri Mama dengan baik" ucap Orion menempelkan tangan Mama Vani ke pipinya.
"Sekarang ayo ! bantu Mama menyiapkan sarapan pagi. Karna meladenimu, Mama terlambat untuk memasak!" ujar Mama Vani, karna kelamaan menghabiskan waktu bersama Orion.
"Siap Mamaku sayang !, tapi Orion melaksanakan kewajiban Orion dulu" balas Orion tersenyum sambil menghapus air matanya, dengan semangat mendudukkan tubuhnya, dan langsung berdiri, meninggalkan mama Vani yang duduk di sofa, setelah terlebih dahulu mengecup ujung kepalanya.
.
.
"Daddy !" panggilnya kepada Orion, yang ikut menyajikan sarapan di meja makan, di rumah mertuanya itu."Boy sudah mandi, tapi bajunya tidak ada !" ucapnya.
Orion pun tersenyum, lalu tertawa cekikikan melihat Boy yang seperti orang oragan sawah.
"Sebentar lagi, pak Ahmad akan mengantarnya kesini !" balas Orion. Mengangkat tubuh Boy, mendudukkannya di atas meja makan." Bagaimana dengan Momy ! apa kamu berhasil membujuknya ?" tanya Orion kepada bocah polos itu.
Boy diam sambil berpikir, mencoba memutar memorinya, kira kira apa yang ia lakukan tadi malam. Seperkian detik, Boy pun menggelengkan kepalanya. Karna mengingat Momy nya yang mengajaknya tidur tadi malam, dan tidak mengatakan apa apa selain merindukannya.
"Tadi malam Boy bilang apa sama Momy ?" tanya Orion lagi.
"Boy merindukan Momy !, Boy mencintai Momy !" jawab Boy.
"Itu aja ?, gak ngajak Momy pulang sama kita ?" tanya Orion lagi, dan Boy menggeleng gelengkan kepalanya, membuat Orion bernapas lemah.
Mengajak balita kerja sama, sudah di pastikan tidak akan berjalan mulus. Tapi Orion tidak punya teman, yang bisa di ajak kerja sama untuk membujuk Queen, selain Boy.
"Cih ! kamu pikir Queen akan semudah itu luluh ?, tanpa kamu berusaha sendiri langsung, dasar pengecut !" cibir Papa Gandi, baru datang ke ruang makan, sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki.
"Putri Om itu aja yang sok jual jual mahal !" dengus Orion.
"Kau itu memang tidak ada sopannya. Aku ini mertuamu, tapi masih saja kau memanggilku Om !. Dasar menantu durhaka !" maki Papa Gandi.
"Gitu aja marah !, sensitif amat !" cibir Orion.
Papa Gandi mendengus kesal, seharusnya ia mencekik sampai mati, menantu durhakanya itu waktu masih kecil.
"Selamat pagi Pa !" sapa Ghaisan yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Selamat pagi juga jagoan Papa !" balas Papa Gandi.
" Eh bang Orion di sini rupanya ?" ucap Ghaisan lagi, sambil mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong, melihat Orion berada di rumah mereka.
Orion diam saja, mengabaikan sapaan adik iparnya itu.
"Selamat pagi Papa !, muah ! muah !" sapa Arcilla mencium kedua pipi Papa Gandi bergantian, anak ke tiga Mama Vani dan Papa Gandi.
"Selamat pagi juga sayang !" balas Papa Gandi, mengusap kepala putrinya yang ketularan gesrek dari istrinya. Yang tidak pernah lupa mencium kedua pipinya setiap pagi.
Tak lama kemudian, Orion melihat seorang wanita cantik berperut besar, berjalan masuk ke ruang makan.
"Queen sayang !"
Orion langsung berlari ke arah wanita kecil yang sangat ia sayangi itu, dan langsung memeluknya.
"Abang merindukanmu Queen !, abang mohon !, jangan tinggalin abang. Abang minta maaf, maaf karna abang sudah lalai dan tidak bisa menjaga diri abang. Maaf karna sudah membuatmu kecewa. Maaf atas kebodohan abang. Abang sangat mencintaimu Queen, sungguh ! abang tak ingin membuatmu kecawa" tangis Orion, memeluk erat tubuh Queen.
Queen menghela napasnya, karna dadanya yang sesak. Menerima kenyataan, ada wanita yang mendahului haknya. Itu terjadi setelah mereka menikah.
"Queen tidak pernah meninggalkan bang Orion, seperti yang bang Orion lakukan" jawab Queen." Dan bukankah hari ini bang Orion akan pergi pindah dari kota ini ?" tanyanya.
"Pergilah ! aku tidak masalah, soal anak ini, biar aku yang mengurusnya nanti. Untuk masalah Boy, jika bang Orion mengijinkannya, biarkan dia tinggal bersamaku. Jujur ! waktu dua bulan, belum cukup untukku, bisa menata hati ini. Mungkin saat ini, biarkan kita berjauhan dulu. Karna untuk saat ini, aku tidak bisa kembali untuk tinggal bersama Bang Orion." ungkap Queen, ia sudah memikirkan itu semalaman. Karna tidak mungkin selamanya ia bisa menghindari Orion. Apa lagi sebentar lagi ia akan melanjutkan pendidikannya. Tentu ia tidak akan bisa mengurung diri lagi.
"Abang gak mau Queen, abang suamimu !, kamu harus patuh sama abang. Kamu harus ikut abang pulang. Kalau kamu gak mau ikut pulang, abang juga akan ikut tinggal di rumah ini" tolak Orion.
"Kalau kamu tidak mau menerima abang, abang akan bunuh diri di kamarmu. Biar roh abang gentayangan dan terus mengganggumu !" ancam Orion konyol.
Papa Gandi, Ghaisan dan Arcilla sama sama memutar bola mata malas, mendengar ancama unfaedah Orion.
.
.